
Karin menatap heran pada kerumunan cewek yang begitu antusias melihat keluar tapi tidak melangkah keluar. Ada pula yang saling menautkan tangan mereka dengan pandangan terpesona.
"Kepana nih?" heran Karin melangkah menerobos kerumunan karena ia hendak pulang.
"Di jemput" ucap Aldi sebelum kaki Karin melangkah.
"Iya" sahut Karin saat tahu siapa yang bicara di belakangnya.
"Mereka ini kenapa? kayak lihat artis aja" ucap Karin berharao dapat jawaban dari Aldi.
Tapi bukannya jawaban yang di berikan Aldi, laki-laki itu malah pergi begitu saja meninggalkan Karin yang masih belum menyadari kepergiannya. Karena tidak mendapat jawaban juga Karin melihat kebelakangnya dan baru di sadarinya kalau yang di harapkan sudah pergi.
"Memang gak bisa di harapkan tuh orang" gerutu Karin lalu melangkah.
Dan betapa terperangahnya Karin saat mengetahui objek kekaguman para perempuan di sekolahnya sampai mereka tidak pulang dan memadati gerbang.
Kara berdiri di samping pintu mobilnya menggunakan kacamata dengan gaya kerennya. Tidak lupa pula wajahnya yang menatap kedalam gerbang sekolah mencari sesuatu.
Bukan hanya itu saja, Kara bahkan tidak segan-segan menggoda para siswi dengan menurunkan kacamatanya lalu mengedipkan matanya. Sontak saja para siswi berteriak senang akan ulahnya, dan godaan lainnya tidak hanya sanpai situ saja yang membuat para siswi semakin menggila di depan gerbang.
Karin menepuk keningnya frustasi akibat ulah abangnya yang suka sekali tebar pesona dan sok keren. Walau memang keren dan wajah tampan Kara selalu membuat para cewek suka karena tipe wajahnya yang soft juga orangnya yang friedly.
Karin mendekati abangnya bersamaan dengan seorang siswi di sekolah itu yang juga mendekati abangnya dengan sangat bahagia. Karin bahkan dapat mendengar bagaimana cara cewek itu bicara dengan abangnya.
"Halo mas, nama mas siapa?" tanyanya genit.
"Mau tahu?" Kara kembali menurunkan sedikit kacamatanya yang membuat cewek itu semakin senang.
"Iya, supaya nanti kalo kita ketemu lagi kita bisa ngobrol bareng atau jalan bareng, jadian juga boleh" ucapnya manja.
Kening Karin mengkerut karena ia tahu siapa pemilik suara manja dan genit itu. Neli terus mengatakan apa yang ingin di katakannya pada Raka tanpa menyadari ada orang yang sudah berdiri di belakangnya.
Raka yang melihat keberadaan Karin akan angkat suara tapi adiknya itu sudah lebih dulu maju menabrakkan dirinya pada Neli hingga terdorong. Dengan sengaja pula Neli mendekatkan dirinya pada Raka dan pura-pura akan jatuh.
"Aduh maaf ya mas, gak sengaja soalnya ini temen-temen suka jahil" ucapnya manja memegangi tangan Raka yang langsung melepaskan tangannya.
"Ayo supir" ucap Karin dengan suara keras saat membuka pintu mobil.
Raka menghela napas akan ucapan adiknya yang menjatuhkan imagenya dengan mengatakan itu. Dengan cepat Raka masuk kedalam mobil di samping supir yang ada di balik kemudi.
Neli yang dapat mendengar jelas apa yang diucapkan orang yang masuk kedalam mobil itu merasa shok. Ternyata pemuda tampan yang di godanya hanya supir, antara percaya dan tidak Neli masih terus melihat mobil yang sudah melaju itu.
"Masa orang sekeren itu supir? tapi siapa yang manggil dia tadi? kalo baru masuk itu artinya dia sekolah disini kan!" Neli terus berargumen pada dirinya sendiri yang masih tidak habis pikir dengan supir sekeren dan setampan itu.
Sedangkan di dalam mobil, Raka sudah mengajukan protes pada Karin yang hanya di tanggapi santai oleh adiknya.
"Tega banget sih dek manggil abang supir di depan umum gitu, mana banyak lagi tadi fans abang, bisa jatuh image abang kalo gini" ucap Kara menatap sebal Karin.
"Siapa yang manggil abang supir?" tanya Karin dengan wajah polosnya.
"Itu tadi kamu manggil abang supir waktu masuk mobil"
"Memang Karin ngomong sama pak Heru tadi" tunjuk Karin sebentar pada pria paruh baya di samping abangnya yang membawa mobil.
"Ngarang kamu, tadi jelas-jelas abang dengar kaamu manggil abang supir kok"
"Kuping abang sehat ya, kamu tuh yang kurang ajar jadi adek"
"Sayang ganteng-ganteng kuping seken"
"Heh jangan sembarangan ya" Kara menatap kesal pada Karin yang mengejeknya.
"Memangnya kenapa sih bang? tadikan aku cuma bilang 'ayo supir' bukan manggil abang supir"
"Ya kalo cewek tadi dengar kan malu abang dek"
"Biar aja dia dengar, gak ada untungnya juga dia tahu abang siapa, yang ada makin jadi parasit nantinya"
"Gak boleh ngomong gitu dekk"
"Dia itu temen sekelas aku bang, dan dia itu bukan perempuan baik, jadi biar dia menilai abang sebagai supir yang penting di yang lain abang keren" ucap Karin.
Kara tidak menjawab ucapan adiknya lagi dan lebih memilih diam menatap depan. Kalau Karin tidak menyebutkan namanya dalam membahasakan dirinya, itu artinya gadis remaja itu serius dan tidak main-main dengan ucapannya.
Kara menghela napas membenarkan ucapan adiknya, buat apa juga dia pikirkan apa yang orang katakan tentangnya. Sekalipun ia di anggap supir sungguhan oleh orang yang penting ia sangat keren di mata yang lain, itukan tadi kata penghibur dari adiknya.
"Tumben abang di anterin pak Heru? biasanya juga bawa mobil sendiri" ucap Karin yang baru menyadari keanehan di sana yang tidak biasanya.
"Mobil abang masuk bengkel, jadi tadi nelpon mama suru pak Heru jemput di bengkel"
Karin hanya menjawabnya dengan O saja lalu diam yang membuat Kara melihat adiknya di belakang.
"Memangnya kenapa kalo abang di anterin pak Heru?" tanya Kara.
"Gak biasa aja pakek supir, biasanya kan bawa mobil sendiri kekampus, trus nanti pulangnya jalan dulu sama the ladys abang yang bejibun itu" ucap Karin.
"Pak Heru gak kaget waktu mama ngasih tahu buat jemput abang?" tanya Karin pada supir yang sejak tadi diam itu.
"Ya kagetlah non, apa lagi tadi pagi saya lihat den Kara bawa mobil sendiri, eh tahu-tahu di suruh jemput, mana saya lagi kamar mandi" jelas pak Heru.
"Seharusnya bapak bilang aja sama mama kalo lagi ada urusan alam yang gak bisa di tunda, jadi abang nunggu lama, atau naik taksi, atau lagi biar dia minta jemput gebetannya" kekeh Karin.
"Iya ya non, saya gak kepikiran kesitu tadi"
"Lain kali gitu aja pak biar abang tahu rasa"
"Siap non"
Kedua orang itu tertawa bersama tanpa perduli dengan wajah masam Kara yang mereka gibahin.
"Jangan ikutan rese kayak Karin deh pak, cukup dia aja yang gitu bapak gak usah" ucap Kara kesal.
"Bilang aja abang gak suka nunggu lama kalo minta di jemput, jadi cowok kok irit usaha"
"Udah dek, jangan bikin abang semakin kesel ya"
Karin hanya mengangkat bahunya acuh dan tidak perduli dengan wajah kesal juga masam abangnya. Sedangkan pak Heru sudah diam saja tidak ingin semakin terlibat dengan pembicaraan keduanya lagi.!!!!