First Kiss

First Kiss
Koma



"Kok lama ya pa? apa Karin luka parah?" tanya Tati yang sudah menunggu lama.


Bahkan jam sudah hampir menunjukkan angka 4.30 pagi dan Karin mulai di tangani jam 1 tadi. Tati dan Banu bahkan sudah bergantian kesana kemari melihat menjaga anak mereka, kalau Banu menunggu Karin yang masih di periksa Tati akan melihat Kara begitupun sebaliknya.


"Sabar ma, kita berdoa aja supaya semuanya baik-baik aja" kaata Banu menenangkan istrinya yang sudah terlihat sangat lelah.


"Mama pulang ya istirahat, biar papa telpon supir buat jemput mama"


"Gak pa, mama belum tenang kalo belum tahu kabar Karin" tolak Tati.


"Tapi mama udah lelah"


"Gak pa, mama di sini aja nemenin papa, kita sama-sama lelah nungguin anak kita nanti istirahat juga sama-sama kalo udah ada kabar kedua anak kita"


"Ya udah nanti papa suruh supir anterin makanan sama pakaian kita aja kalo gitu"


Tati mengangguk setuju dengan usulan suaminya dan kembali merapalkan doa untuk kedua anaknya. Terlebih Karin yang belum juga selesai di periksa.


30 menit kemudian barulah seorang dokter keluar dari ruang UGD, Banu dan Tati yang sudha menunggu sejak tadi langsung mendekati dokter itu.


"Bagaimana dengan anak kami dok?" tanya Tati.


Dokter itu menghela napas lebih dulu karena lelah.


"Anak bapak dan ibu sudah kami tangani, bahkan kami sudah melakukan operasi untuk mengeluarkan gumpalan darah di kepalanya dan menghentikan pendarahan supaya tidak terjadi lagi, luka benturan di kepalanya juga membuat anak bapak dan ibu bisa mengalami gejala amnesia sementara" jelas dokter itu yang membuat Tati menutup mulutnya tidak percaya.


"Lalu bagaimana lagi dok?" tanya Banu yang ingin tahu lagi.


"Untuk lebih pastinya kita bisa tunggu sampai anak bapak dan ibu sadar, kita juga akan melakukan beberapa pemeriksaan lagi untuk mengetahui gejala lainnya yang mungkin bisa saja terjadi"


"Trus kondisi anak saya sekarang gimana dok?" tanya Tati lirih.


"Anak bapak dan ibu masih kritis untuk waktu yang belum pasti, tapi kami juga akan terus memantau perkembangannya dan melakukan pengobatan terbaik untuknya"


"Lakukan apapun untuk anak kami dokter, tolong" ucap Tati menangkup kedua tangannya di dada menatap dokter itu penuh permohonan.


"Kami akan melakukan yang terbaik sebisa kami buk pak dan untuk saat ini anak bapak ibu belum bisa di jenguk sampai masa kritisnya berlalu, kalau gitu saya permisi pak buk"


Banu dan Tati mengangguk mempersilahkan dokter yang sudah bekerja keras menolong anak mereka itu pergi untuk istirahat.


"Pa, ibu sama bapak di desa udah di kabari?" tanya Tati.


"Papa udah kirim pesan sama mas Beni, mungkin nanti sore mereka baru sampe sini" Tati mengangguk dan mendudukkan dirinya di kursi tunggu di depan UGD itu.


Ibu dua anak itu merasa lelah tubuh tapi hatinyalah yang lebih lelah saat harus menghadapi kenyataan kesakitan kedua anaknya yang terbaring di rumah sakit tanpa kepastian hidup.


"Papa gak kekantor?" tanya Tati.


"Gak ma, papa cuti seminggu ini, asisten sama sekretaris papa yang bakalan selesaikan semuanya" Tati kembali mengangguk saja.


Pagi menjelang, matahari menyinari bumi dan menghangatkan segala yang ada. Tapi tidak bagi kedua orang tua yang menatap anak laki-laki mereka terbaring di bangkar ruang rawat.


"Gimana kita ngasih tahu sama Kara pa kalo Karin udah di temukan? sedangkan Kara gak mau ngomong sama sekali, bahkan kehadiran kita gak dapet respon apapun" lesu Tati.


"Nanti kalo Kara bangun lagi papa yang akan ngomong pelan-pelan sama dia"


"Iya pa, mama cuma berharap anak-anak kita cepat sembuh"


Pintu terbuka oleh pembantu dan supir mereka yang rupaya saat datang tadi ikut menunggui majikan mereka. Mereka juga turut sedih akan kabar tidak mengenakan dari majikan mereka.


"Pak buk, di cariin sama dokter yang nanganin non Karin" ucap pria yang merupakan supir keluarga Banu itu.


Banu langsung melihat kearah Tati yang terlihat terkejut.


"Mama tetap di sini jaga Kara, papa yang akan kesana lihat Karin" Tati mengangguk dengan terus berdoa yang terbaik buat Karin anaknya.


Air matanya juga kembali menetes dengan ketakutan di hatinya.


Banu terus berlari bersama supirnya menuju ruang UGD. Sesampainya dj sana ia melihat pelayan wanitanya yang tak lain istri supir itu.


"Bapak di minta ke ruangan dokter pak, di sebelah sana" tunjuk wanita itu pada sebuah arah.


Banu mengangguk dan langsung berlalu pergi, sampai di ruangan dokter Banu melihat ada tiga dokter di sana dengan dua dokter yang baru di lihatnya.


"Silahkan duduk pak" setelah Banu duduk dokter yang menangani anaknya angkat bicara lagi.


"Bagini pak, kami telah melakukan serangkaian pemeriksaan lainnya dan hasilnya menunjukkan jika memang anak bapak bisa saja mengalami amnesia sementara karema benturan kerasnya yang lama mendapat penanganan, juga kami menemukan ada retakan di tulang kaki kiri anak bapak"


"Selebihnya bagus untuk luka separah itu pak, anak bapak juga sudah melewati masa kritisnya tapi masih dalam keadaan koma dan selama masa koma itu kita bisa terus mengobati luka-luka di tubuh anak bapak supaya nanti kalau dia sadar luka-lukanya sudah berkurang dan tidak sakit lagi" jelas dokter itu.


"Trus bagaimana dengan tulangnya yang rerak dokter? apa masih bisa di obati?" tanya Banu dengan wajah sedih.


"Bisa pak, nanti kami dari bagian ortopedi akan memberikan beberapa obat oles lebih dulu, dan kalau adek itu sudah sadar baru kita bisa lakukan terapi"


"Kalau amnesianya pak?"


"Amnesianya bisa di sembuhkan pak, bapak dan keluarga hanya harus mengajaknya ketempat-tempat yang pernah di datanginya, tempat yang memberinya banyak ketenangan dan kenangan, jangan paksa dia untuk mengingat apapun, apa lagi kalau sudah ada keluhan pusing"


"Bapak bawa aja anak bapak ketempat biasa dia bermain, biasanya itu lebih efektip untuk amnesia sementara"


Banu mendengarkan semua penjelasan dokter-dokter itu dengan seksama.


"Walaupun anak bapak koma tapi dia bisa dengar apa yang kita ucapkan, jadi ajak dia bicara juga ya pak supaya saraf motoriknya memberi respon dan anak bapak bisa cepat sadar"


"Baik dokter, terimaksih" ucap Banu.


Banu keluar dari ruangan dokter itu setelah mendengarkan beberapa penjelasan lagi. Banu juga melihat tubuh Karin yang di dorong keluar dari UGD menuju ruang perawatan selama Karina koma.


Pria paruh baya itu mengikuti kemana brangkar itu di bawa, senyum Banu sedikit terukir saat melihat ruangan Karin ternyata bersebelahan dengan Kara.


Saat akan masuk ke dalam ruangan Karin, ada beberapa polisi yang menghentikan langkah Banu.