First Kiss

First Kiss
Disegi tiga



Sesampainya di rumah Kara turun dari mobil di ikuti Karina di belakangnya. Suasana rumah sepi dan tidak terlihat Tati yang biasanya menyambut anak-anaknya pulang.


"Kemana semua orang?" tanya Karin heran.


"Mama masih ada acara di luar, papa juga masih sibuk, jadi jangan kemana-mana, ganti bajumu trus makan siang" ucap Kara meninggalkan Karin yang masih diam di tempatnya.


Karin kembali menghembuskan napasnya dan berjalan menaiki tangga menuji kamarnya, karena merasa gerah dan lelah. Akhirnya Karin memutuskan untuk mandi lebih dulu untuk menyegarkan dirinya.


"Ah segarnya" ucap Karin setelah selesai mandi.


Selesai ganti pakaian Karin berjalan keluar kamarnya untuk makan siang. Di meja makan sudah ada Kara yang sedang menunggunya, melihat adiknya sudah datang Kara langsung menyambar makanannya.


"Jam berapa mama pulang bang?" tanya Karin sembari mengambil makanannya.


"Sore nanti mama pulang sama papa"


"Kok sama papa? pak Nanang kemana?"


"Pulang kampung, papa juga yang mau jemput mama sendiri"


Karin menganggukkan kepalanya sembari terus makan, keduanya makan dalam diam tanpa bersuara. Selesai makan Karin mengambil ponselnya dan berjalan ke arah taman belakang rumah.


Di sana Karin mendengarkan musik menggunakan headseat blutootnya, Karin juga duduk di ayunan kayu semabri membaca buku novelnya.


Kara yang baru kembali dari kamar mandi melihat kesegala arah di rumahnya mencari Karin tapi tidak melihatnya di dalam. Langkahnya hendak naik kelantai atas tapi tertahan.


"Mana Karin bi?" tanyanya pada seorang pelayan.


"Tadi jalan kearah taman belakang den"


"Oh, ya udah" Kara mengayunkan langkahnya ke taman belakamg untuk melihat sendiri apa yang sedang di lakukan adiknya.


Saat sudah memastikan keberadaan Karin di taman barulah Kara kembali masuk kedalam rumah.


Disisi lain, seorang Aldi lagi-lagi memikirkan Karin yang terasa sangat familiar baginya jika memanggilnya 'Di'. Dengan di temani segelas jus wortelnya, Aldi duduk di dekat kolam renang.


"Mungkinkah Karin yang selama ini ku cari? tapi apa iya? dulu Nana nama lengkapnya siapa ya?" Aldi mencoba mengingat siapa dulu nama Nana saat mereka kenalan hingga akhirnya Aldi memutuskan memanggilnya Nana.


"Ais, lupa lagi, apa jangan-jangan Nana juga udah lupa sama aku ya?, kayaknya aku harus lebih merhatiin Karin lagi sekalian cari tahu masa lalunya gimana dulu" Aldi menatap foto di dinding kamarnya tanpa merasa bosan.


Sembari pikirannya yang terus melayang menyamakan panggilan Karin dan Nana yang sama. Bahkan jantungnya berdebar setiap kali Karin memanggilnya begitu, jika di dekat Karin pun Aldi selalu merasakan hal yang nyaman dan sama seperti saat bersama Nana dulu.


"Eh! tapi tadi dia jago juga berantemnya, jarang-jarang cewek di ganggu preman ngelawan kayak gitu, biasanya juga teriak-teriak"


"Bikin semakin penasaran aja" gumam Aldi membayangkan saat tadi ia melihat Karin yang berkelahi melawan pada preman itu.


Untung saja Akdi memiliki kebiasaan baru kalau pulang sekolah, yaitu memperhatikan Karin lebih dulu baru jalan. Dan ketika tidak mendapati Karin di halte, Aldi sedikit heran karena bus baru datang dan tidak terlihat Karin di sana.


Akhirnya Aldi melajukan motornya dengan kecepatan sedang sembari melihat-lihat sekitar, dan hasilnya ia mendapati Karin yang sedang berkelahi. Tanpa pikir panjang Aldi langsung menghentikan motornya dan membantu Karin, yang ternyata di saat bersamaan ada pula abangnya Karin.


"Siapa kamu sebenarnya?" gumam Aldi pelan.


 


Selesai makan malam keluarga Banu duduk bersama di ruang keluarga. Saat ini Karin menunduk takut karena papanya yang menatapnya serius, begitupun dengan mamanya.


"Apa yang mau di ceritakan bang? Karin kenapa?" tanya Tati membuka pembicaraan.


Karena sebelumnya Kara sudah memberitahu orang tuanya kalau ia akan mengatakan sesuatu yang berkaaitan dengan Karin. Jadilah orang tua mereka kini menatap Karin serius, takut terjadi sesuatu pada anak perempuan mereka ini.


"Tadi waktu Kara pulang dari ketemu klien, Kara sengaja ambil jalan lewat sekolah Karin supaya bisa pulang sama-sama, tapi waktu lewat sekolah Kara gak lihat Karin bahkan di halte juga gak ada, tapi rupanya waktu Kara pergi gak jauh dari halte itu Kara ngeliat Karin lagi berantem ngelawan tiga preman"


"Apa? Karin ngelawan tiga preman? kamu gak papa kan nak? mana yang sakit? mana yang di pukul?" panik Tati saat mendengar penjelasan Kara tadi.


"Apanya yang jagoan? kalo tadi gak ada abang sama si Aldi Aldi itu udah habis kamu di buat mereka bertiga, sekuat apapun kamu, kamu itu perempuan yang pastinya bakalan kalah tenaga sama laki-laki, apa lagi tadi mereka tiga orang" geram Kara pada Karin yang terlihat cemberut.


"Jadi bener kalo kamu di keroyok preman Karin?" tanya Banu memastikan dulu.


"Hehehe iya pa, abisnya mereka gangguin Karin sih" ucap Karin manja mencoba mencari belas kasih papanya.


"Hah, untung aja abang tadi dateng bantuin kamu nak, kalo enggak pasti bakalan lebih bahaya lagi" lanjut Banu mengelus rambut Karin sayang.


"Iya Karin, yang di bilang abang itu benar nak, kamu anak gadis sekuat apapun tetap akan kalah sama laki-laki, kalo satu atau dua mungkin kamu masih bisa ngelawan tapi kalo tiga, bahaya nak, kamu bakalan lebih cepat kehabisan tenaga" ucap Tati mengusap punggung Karin.


"Mulai besok kamu papa antar kesekolah dan pulangnya di jemput abang atau mama" ucap Banu.


"Tapi pa..."


"Gak ada tapi-tapian Karina, keputusan papa udah bulat gak bisa di lonjongin atau di kotakin lagi" ucap Banu.


"Di segi tiga?" tanya Karin negosiasi.


"Gak"


"Papa" panggil Karin menggoyang-goyangkan tangan Banu manja agar bisa negosiasi lagi.


"Papa mau ke ruang kerja dulu" Banu pergi meninggalkan Karin yang sudah menekuk wajahnya.


"Ingat ya, anak baik gak boleh ngebantah" ucap Tati ikut pergi.


"Semua ini kami lakukan untuk keselamatanmu dek, abang gak mau lagi kejadian tadi terulang, jadi abang harap kamu ngerti" Karin mengangguk dengan wajah cemberutnya.


Memangnya apa lagi yang bisa di lakukan Karin saat ini selain menurut karena negosiasipun sudah gagal.


Merasa malas naik kelantai atas, Karin merebahkan tubuhnya di sofa dan meraih remot tv. Karin menyetel acara yang menurutnya menarik dan menontonnya.


Tidak lama muncullah Tati dengan wajah penasarannya duduk di sofa singel dekat sofa yang di gunakan Karin.


"Oh iya Karin, tadi abang bilang selain abang kamu juga sempat di selamatkan sama si Aldi Aldi, Aldi siapa yang di maksud abangmu?" tanya Tati kepo.


"Oh itu Aldi teman sekolah Karin ma" sahut Karin santai.


"Apa dia Aldi anaknya tante Desi?"


"Tante Desi siapa ma?"


"Itu teman mama yang pernah ketemu kita di mall waktu kamu sama Aldi anaknya dari kedai es krim"


"Oh, iya dia orangnya"


"Beneran!"


Karin mengangguk pelan menatap bingung mamanya yang terlihat senang dengan jawabannya.


"Kenapa ma?" tanya Karin penasaran dengan ekspresi mamanya.


"Ah gak ada sayang, oh iya kamu jangan malam-malam tidurnya ya, mama mau kekamar dulu" Tati pergi begitu saja dengan wajah berbinar bahagianya.


"Aku harus telpon Desi trus bilang makasih karena anaknya udah nolongin Karin" gumam Tati sembari berlalu.


Karin menatap mamanya cengo.


"Kesambet apa si mama? bahagia banget perasaan cuma dengar nama si bunglon datar aja" gumam Karin lalu kembaali melihat tv yang masih menyiarkan acaranya.