
Karin yang sudah pulih kini sudah berada di rumah, setelah beberapa hari di rawat kesehatannya semakin membaik. Hanya tinggal ingatannya dan kakinya yang belum pulih.
Setiap seminggu sekali Karin akan kerumah sakit untuk terapi, atau jika kakinya terasa sakit bisa pergi periksa. Sedangkan untuk amnesia Karin, semua orang tidak memaaksanya untuk mengingat apapun selain memberinya ketenangan.
Mereka berusaha membantu Karin ingat dengan cara yang halus. Seperti sekarang ini Aldi membawa Karin ke mall tempat dulu mereka bertemu tidak sengaja saat Karin baru masuk sekolah.
Aldi mendorong kursi roda Karin karena gadis remaja itu yang belum di perbolehkan berjalan dengan kakinya yang masa pemulihan. Tentunya Aldi membawa Karin atas ijin kedua orang tua Karin juga Kara yang jadi begitu protektif pada adiknya.
"Kenapa kita ketoko ini? kamu mau beli baju?" tanya Karin heran karena Aldi mendorongnya memasuki toko baju dan mengarah pada kaos.
"Kita lihat-lihat dulu, kalo ada yang bagus ya di beli" sahut Aldi yang di angguki Karin.
Aldi menghentikan kursi roda Karin di antara jajaran baju kaos yang menggangtung itu lalu mengambil satu kaos berwarna hitam.
"Ini bagus gak?" tanya Aldi.
"Bagus, kamu suka?" Karin melihat Aldi yang tersenyum manis.
Belakangan ini Aldi memang jadi lebih sering tersenyum, apa lagi sejak mengetaahui kalau Karin itu Nana. Aldi sering datang mengunjungi rumah keluarga Banu hanya untuk menemui Karin. Aldi sering membawa Karin jalan-jalan, entah itu di taman rumah Banu atau taman komplek yang tidak jauh dari rumah Banu.
Aldi sangat bersemangat dan bahagai bersama Karin, walau wajah Karin tidak semulus dulu karena masih ada bekas-bekas luka yang belum hilang. Aldi tidak perduli dengan itu, mengetahuk Karin sudah sembuh dan bisa pulang saja Aldi sudah sangat bersyukur.
"Kamu suka gak?" tanya Aldi balik.
"Kok aku? kan kamu yang mau beli!" heran Karin.
"Memang aku yang beli, tapi baju ini tuh buat kamu, kamukan suka baju kaos begini"
"Masa sih" alis Karin bertaut.
"Iya, waktu itu juga kamu pernah aku beliin baju kaos di sini, sama baju kemeja yang sama kaya punyaku"
"Maaf aku gak inget" sedih Karin menunduk.
Aldi yang melihat itu mengembalikan baju kaos pada tempatnya dan memilih jongkok di hadapan Karin sembari memegang kedua tangan perempuan itu.
"Gak usah minta maaf, aku bakalan bantu kamu mengingat lagi pelan-pelan ok" Karin menagngguk seraya tersenyum yang di balas Aldi dengan senyuman pula.
"Mau es krim?" tawar Aldi yang mengembangkan senyuman Karin.
"Mau mau" sahutnya semangat.
"Ok lets go" Aldi mendorong kembali kursi roda Karin keluar dari toko itu dan menuju kedai es krim tempat mereka pertama kali makan bersama.
Aldi memklih tempat yang sedikit jauh dari pengunjung lainnya, setelahnya Aldi mengangkat tubuh Karin untuk di pindahkan pada kursi. Kursi rodanya sendiri di dorong masuk ke bawah meja.
"Kamu mau rasa apa?" tanya Aldi.
"Rasa...semua rasa deh kayanya enak" seru Karin membuat Aldi tersenyum lalu mengelus kepala Karin lembut.
"Tunggu sebentar ya aku pesen dulu" Karin mengangguk.
Setelah Aldi pergi Karin mengambil ponselnya di dalam tas kecil yang sengaja di bawanya. Karin melihat ponselnya yang sudah terdapat banyak pesan chat dari Kara.
*Kamu udah sampe dek?
Kalian di mana?
Gak ada yang gangguin kamu kan?
Aldi jagain kamu kan*?
Begitulah sekiranya pesan yang di kirimkan Kara pada adiknya. Kara takut kalau terjadi apa-apa pada Karin kalau adiknya tidak memberikan kabar, bagaimanapun juga rasa trauma akan kecelakaan mengerikan yang hampir merenggut nyawa Karin itu membuat Kara sangat takut.
Bahkan ujianpun soal miliknya di antarkan salah satu guru ke rumahnya untuk di kerjakan. Walau lupa akan masa lalunya, Karin tetap ingat akan isi ujian itu karena selama mengisi jawaban Karin tidak merasa kesulitan sama sekali karena yang terlupa hanya kenangan masa lalu saja.
Aldi kembali setelah memesan lalu duduk di hadapan Karin yang langsung mengangkat kepalanya dari ponsel.
"Mana pesenannya?" tanya Karin.
"Nanti di anterin, udah gak sabar ya?"
"Iya, tadi ngeliat orang di sana makan es krim enak banget" ucap Karin sembari melihat yang di maksudnya yang memang terlihat baru menghabiskan es krimnya.
"Sabar ya nanti punya kamu dateng juga kok" Aldi kembali mengusap kepala Karin lembut yang selalu di balas senyuman manis perempuan itu.
"Oh iya, kata bu Sari yang ngaterin soal itu, kalian mau pergi ke puncak ya habis ujian?" ucap Karin.
"Iya, kenapa?" tanya Aldi menatap Karin dengan bertopang dagu menggunakan kedua tangannya.
Sejak kecelakaan Karin tidak peenah lagi memakai kacamatanya, bahkan rambut kuncir duanya sudah tidak ada lagi. Karin sering menggerai rambutnya atau menyanggulnya saja jika panas.
Hal itu membuat Karin semakin terlihat cantik di mata Aldi dan selalu membuat jantungnya berdebar.
"Kalo aku ikut boleh gak ya sama papa mama" seru Karin berpikir.
"Ya gak boleh dong, kamu kan masih belum pulih kakinya"
"Tapi aku pengen ikut kesana, gimana dong?"
"Nanti aja kalo kaki kamu udah sembuh, kita ke sana"
"Beneran!"
"Iya Nana"
Karin menatap Aldi intens saat di panggil Nana, Karin memang merasa tidak asing dengan segalanya apa lagi Nana dan Didi. Tapi Karin tidak bisa mengingat apapun, kalau di paksa maka kepalanya sakit.
"Kenapa?" tanya Aldi heran karena Karin yang terus menatapnya hingga membuatnya salah tingkah.
"Rasanya aku gak asing sama semua ini, bahkan panggilan-panggilan yang kalian sebutkan juga tapi aku gak bisa inget sama sekali" lesu Karin.
Aldi meraih tangan Karin untuk dia pegang lalu di elusnya lembut punggung tangan Karin.
"Hey lihat aku" Karin mengangkat kepalanya melihat Aldi yang menatapnga serius.
"Kamu gak usah sedih cuma karena gak inget apapun, kamu haru tetap rileks supaya bisa cepet sembuh, kami semua sayang kamu, kami bakalan usahain supaya kamu bisa inget lagi walaupun lama yang penting kamu nanti bisa sembuh, tapi inget untuk gak maksain nginget apapun ya" kata Aldi lembut pula.
Hal yang hanya Aldi tunjukkan belakangan ini membuat Karin semakin merasa nyaman dan senang bertemu dengan Aldi. Apa lahi perasana akrab yang di rasakannya membuatnya senang saja bersama Aldi yang sangat perhatian juga lembut padanya.
"Permisi ini pesanannya" pelayan datang menghentikan adegam romantis yanh Aldi ciptakan melalui tatapan lembut dan penuh kasihnya pada Karin.
Setelah pelayan pergi, Karin dan Aldi saling melemparkan senyuman manis mereka lalu menyantap hidangan.
"Kok ada rotinya juga? kamu pesen ya?" tanya Karin yang tidak merasa minta roti.
"Ini namanya roti sandwich sama cheescake, aku sengaja pesen untuk tambahan supaya perut gak cuma di isi es krim aja, roti ini juga sehat loh karena isinya sayur yang ini keju" tunjuk Aldi lalu mengambil satu di arahkan pada Karin.
"Ayo coba dulu nanti baru makan es krimnya kalo udah habis ini" Aldi menyuapkan roti sandwich sepotong pada Karin yang di terima gadis remaja itu dengan senang hati.
Aldi tersenyum karena Karin tidak pernah menolak perlakuan manisnya, mereka menikmati kebersamaan itu sembari sesekali bercanda.
Setelah di rasa cukup Aldi mengajak Karin pulang, ia tidak ingin Karin terlalu lama di luar lagi apa lagi hari mulai sore. Aldi mengankat tubuh Karin dan di letakkan di kursi rodanya, sebenarnya Karin bisa sendiri duduk di kursi roda.
Karena kaki kanannya sehat biasanya Karin menggunakan kaki kananya untuk bertumpu kalau mau duduk di kursi roda. Tapi jika bersama Aldi akan berbeda, laki-laki itu tidak mengijinkam Karin berdiri dan lebih suka menggendong Karin untuk duduk di kursi rodanya