
"Selamat pagi menjelang siang pak, bisa kita bicara sebentar" ucap petugas polisi yang menghampiri Banu.
"Bisa pak silahkan" Banu mengajak polisi itu duduk di kursi panjang yang ada di depan ruangan anaknya.
"Ada apa ya pak? apa ada perkembangan dari kasus kecelakaan anak saya?" tanya Banu yang memang menyerahkan segala urusan pada polisi, sedangkan ia dan istrinya akan fokus pada kesehatan anak mereka.
"Begini pak, setelah kami menyelidiki kasus kecelakaan yang menimpa anak bapak dan dari keterangan beberapa saksi yang kami dapat juga rekaman cctv di jalan sekitar, kronologisnya terjadi dari mobil besar pengangkut barang yang menerobos jalur berlawanan arah, dan kebetulan saat itu pula ada dua mobil yang melintas di depannya, satu mobil anak bapak dan satu lagi mobil lain yang masih kami cari tahu pemiliknya, kami juga sudah menetapkan tersangka dari kecelakaan itu yang merupakan kedua supir monil barang itu yang memang sewaktu mengemudi sedang dalam kondisi mengantuk"
"Sedangkan mobil yang searah dengan anak bapak kami belum bisa menetapkannya sebagai tersangka juga, walau dari rekaman terlihat mobil itu mendekati mobil anak bapak sebelum kecelakaan terjadi dan ketika kecelakaan terjadi mobil itu juga menghindar tapi bisa selamat lalu pergi, jadi kami minta waktunya lagi untuk menyelesaikan semuanya pak" jelas polisi itu.
"Iya pak silahkan, tapi kalau boleh saya ingin melihat rekaman saat kecelakaan itu pak" pinta Banu yang penasaran bagaimana tragedi yang menimpa kedua anaknya.
"Kalau rekaman cctv kami tidak memberikannya pak, karena itu sudah kami jadikan berkas barang bukti, tapi saya bisa memberi bapak gambarannya karena kami sudah membuat ilustrasinya juga agar lebih mudah di pahami" polisi itu nampak membuka sesuatu di ponselnya lalu menyerahkannya pada Banu.
Banu melihat setiap kejadian dalam ilustrasi itu, setiap kejadian yang di lihatnya semakin membuat hati Banu ngilu dan sangat sakit karena itu adalah bagaimana kejadian gang menimpa anaknya.
Saat tiba di bagian mobil yang terjatuh dari jalan tol yang memang di atas itu lalu mobil meledak, saat itu pula air mata Banu kembali menetes. Pria paruh baya itu menyerahkan kembali ponsel milik polisi itu sebelum semua adegan selesai karena ia sudah tidak sanggup lagi melihatnya.
"Saya serahkan semuanya pada pihak kepolisian saja pak, bagaimana baiknya, kalau ada masalah yang harus saja selesaikan juga bapak bisa menghubungi saya atau mencari saya disini" ucap Banu lirih setelah menghapus air matanya.
"Baik pak, kalau begitu kami permisi dulu, saya harap bapak tetap kuat dan semangat demi kesembuhan kedua anak bapak" ucap polisi itu ramah yang di angguki Banu dengan wajah lesunya.
Kedua polisi itu pergi meninggalkan Banu dan pada saat yang bersamaan dokter yang sudah memeriksa Karin setelah di pindahkan keluar sari ruangan.
"Apa saya sudah bisa masuk dokter?" tanya Banu yang sangat ingin melihat Karin.
"Sudah pak, saya sangat salut dengan semangat hidup anak bapak, walaupun dia sedang koma tapi perkembangan kesehatannya sangat bangus dan saya rasa putri bapak itu tidak akan koma dalam waktu yang lama" jelas dokter membuat Banu tersenyum senang.
"Benarkah dokter? syukurlah" bahagia Banu.
"Iya pak, saya dengar juga anak bapak sempat sadar saat di perjalanan ke rumah sakit dan berbicara dengan bapak, apa itu benar pak?"
"Iya dokter, tapi sepertinya dia sudah sadar dari sebelum di temukan, karena saya bisa menemukan keberadaannya kala mendengar suaranya memanggil walaupun pelan, kalau saya tidak mendengar panggilannya itu mungkin dia belum kami temukan karena jaraknya jauh dari lokasi kebaran mobil itu" jelas Banu yang membuat sokter itu mengangguk dengan senyum senang juga.
"Itu menandakan kalau putri bapak sadar cukup lama hingga bisa memangil bapak meski ia mengalami pendarah di kepala sampai menggumpal, biasanya orang tidak akan sadar kalau dalam kondisi seperti itu tapi putri bapak bertahan dan bisa sadar walau jatuh dari atas jalan tol tinggi itu, putri bapak benar-benar tangguh dan kuat, teruslah berdoa untuknya pak supaya dia bisa segera sadar dan kita bisa melakukan pengobatan lainnya" jelas dokter itu lagi.
"Iya dokter terimakasih banyak, kalau begitu saya masuk dulu" ucap Banu yang di angguki dokter itu lalu pergi.
Saat Banu akan masuk ke dalam kamar rawat Karin, terdengar suara teriakan histeris dari kamar di sebelahnya yang tak lain kamar yang di tempati Kara. Dengan cepat Banu memasuki kamar itu untuk melihat keadaan anak laki-lakinya itu.
Teelihat pula Tati yang memeluk Kara erat sambil menangis dan mencoba menenangkan anak sulungnya.
"Karin maafin abang dek jangan tinggalin abang" teriak Kara.
"Sabar bang sabar" ucap Tati.
"Karin ma Karin, Karin di dalem mobil itu, badannya ngantung ma, dia pingsan Kara harus selamatkan Karin"
"Adek udah di sini bang adek udah selamat"
"Gak ma, gak, abang lihat sendiri adek jatuh sama mobil itu trus mobilnya kebakar di bawah, adek kebakar ma adek kebakar, Karin kebakar ma, abang gak becus jaga adek" tangis Kara terdengar memilukan bagi siapa saja yang mendengarnya.
Banu mendekati Kara yang masih menangis sembari memanggil adiknya yang dia kira sudah mati karena kebakaran itu.
"Kara lihat papa nak" ucap Banu menangkup wajah tampan anaknya yang sekarang pucat dan sangat lusuh akibat terus menangisi adiknya.
"Adek selamat bang, Karin udah papa temukan, sekarang adek kamu ada ruangan sebelah lagi di rawat juga, jadi kamu harus sembuh kalo mau ketemu adek kamu ya" bujuk Banu yang malah mendapatkan tatapan tajam dari Kara yang masih belum percaya.
"Gak pa, papa jangan bohongin Kara, mobil Kara jatuh pa sama Karin juga, trus mobilnya meledak pa mobilnya kebakar Kara lihat sendiri pa" teriak Kara marah.
"Memang mobilnya kebakar nak, tapi adek kamu selamat karena dia jatuh duluan sebelum mobil itu, kata polisi orang yang mau nolongin adek itu buka sabuk pengaman adek, yang bersamaan mobilnya goyang mau jatuh, pas orang itu di tarik yang lain keluar adek juga jatuh baru mobilnya jatuh, posisi adek juga jauh dari kebakaran mobil itu, papa sendiri yang nemuin adek karena dek manggilin papa tadi malam" ucap Banu tersenyum bahagia agar putranya tenang dan percaya dengan apa yang di jelaskannya.
"Papa gak bohongin Kara kan pa? Papa gak bohong cuma untuk buat Kara tenangkan?" tangis pemuda itu sedih yang langsung di tarik oleh Tati kepelukannya.
"Papa gak bohong nak, nanti kalo kamu udah di mendingan kita lihat adek si kamar sebelah ya" bujuk Banu.
"Beneran pa?" tanya Kara menatap senang papanya.
"Iya sayang, sekarang kami makan ya supaya cepet sembuh trus bisa ketemu sama adek" bujuk Tati pula yang memang tadi ingin memberikan makanan pada anaknya.
Kara mengangguk semangat mendengar kalau ia akan bertemu dengan adiknya yang selamat, apa lagi papanya sendiri yang mengatakan kalau adiknya di temukan oleh papanya sendiri.
Banu mendekati Tati dan membisikkan sesuatu pada istrinya yang di balas anggukan karena ia masih menyuapi Kara.
"Papa keluar sebentar ya bang, mau lihat adek kamu yang lagi tidur" ucap Banu.
"Iya pa, nanti kalo dia bangun nanyain Kara bilang aja Kara bakalan dateng sebentar lagi" Banu hanya mengangguk dengan senyumannya lalu keluar untuk keruangan sebelah.