
Di depan gerbang sekolah sudah terdapat beberapa bus pariwisata yang menanti. Sedangkan para siswa yang akan pergi sudah berkumpul di halaman tidak jauh dari gerbang utama sekolah.
Ternyata tidak hanya kelas Aldi saja yang akan pergi jalan-jalan. Kelas lainnya juga akan pergi jalan-jalan, oleh sebab itu semua siswa di kumpulkan di lapangan.
Mobil yang di kendarai Aldi berhenti di depan gerbang. Alldi dan Karin turun dari mobil langsung menuju lapangan di mana sudah banyak siswa.
Semua pasang mata menatap pasangan yang baru saja datang itu. Aldi dan Karin mendekat lalu tapi tidak ikut kumpul dengan yang lainnya. Aldi membawa Karin menepi tempat lain yang masih bagian dari lapangan itu juga.
"Rame juga yang ikut" ucap Karin melihat teman-teman yang lainnya.
"Iya yang lain juga mau jalan-jalan ke puncak" sahut Aldi.
"Sama dong kaya kelas kita"
"Hm, kepala sekolah cuma kasih ijin jalan-jalan ke puncak aja untuk semua kelas yang mau jalan-jalan"
"Kenapa gitu? kalo ada kelas lain yang mau jalan-jalan ketempat lain gimana? yang mau keluar provinsi misalnya"
Aldi mengangkat kedua bahunya.
"Pihak sekolah lepas tanggung jawab kalo ada apa-apa karena terlalu jauh"
"Memangnya pada mau ke mana mereka?" penasaran Karin.
"Yang pasti pada mau ke luar pulau Jawa, bahkan ada yang minta keluar negeri, kaya kelas kita waktu itu" ucap Aldi.
Karin menatap Aldi intens membuat laki-laki itu menyadari sesuatu.
"Ah maaf, waktu itu kelas kita juga pernah diskusi tentang masalah jalan-jalan, mereka juga mau jalan-jalan jauh bahkan ulet keket mintanya keluar negeri, tapi akhirnya di putuskan untuk ke Bogor aja" jelas Aldi yang ingat kalau Karin lupa ingatan.
Kening Karin mengkerut akan satu hal yang menimbulkan tanya.
"Siapa ulet keket?" tanya Karin bingung.
Aldi tersenyum tipis lalu mengusap lembut rambut Karin.
"Gak perlu aku jelasin nanti juga kamu ta..."
"ALDIII"
Ucapan Aldi terhenti karena teriakan dari Neli yang datang mendekat dengan tergopoh-gopoh. Di tangan kanannya terlihat menggeret koper besar sedangkan tangan kirinya memegangi tas selempangnya.
"Dateng dia" gumam Aldi malas.
"Siapa?" tanya Karin yang mendengar gumaman itu.
"Ulet keket"
"Dia ulet keket" tunjuk Karin pada Neli yang mulai mendekat.
Aldi mengangguk lalu menarik pelan tangan Karin untuk pergi mendekati bus yang sudah di beri tanda. Dari bus 1 sampai 6 sesuai jumlah kelas mereka yang pergi bersama.
Karin hanya menurut saja di bawa pergi oleh Aldi. Perempuan itu justru semakin mengeratkan pegangan mereka dengan senyuman manisnya yang mampu membuat Aldi melepaskan senyumannya pula.
"Aldi tungguin aku" ucap Neli yang menghentikan langkahnya saat melihat laki-laki itu pergi.
"Aldi tunggu dong" Neli melangkah lagi sedikit cepat mengejar pasangan yang ada di depan.
"Cupu lepasin Aldiku" teriak Neli cukup keras hingga menarik perhatian yang lainnya.
"Aldiii kamu jangan mau sama dia"
Teriakan Neli tidak di hiraukan sama sekali oleh Aldi maupun Karin. Bahkan dengan sengaja Aldi melepaskan pegangan tangannya lalu beralih merangkul mesra bahu Karin di depan semua orang.
"Ih kesel, kenapa harus si cupu sih yang di peluk" kesal Neli sembari menghentak-hentakkan kakinya.
"Gak salah lihat kan ini!" ucap siswa yang masih kurang percaya kalau Aldi mau di dekati bahkan memeluk perempuan.
Selama sekolah Aldi tidak pernah terlihat bersama perempuan. Tapi kini ia malah memeluk dan bersikap manis dengan perempuan cantik di pelukannya.
"Aku juga mau" iri para pengagum Aldi.
"Kok bukan aku ya!"
"Andai itu aku, pasti bajunya gak bakalan aku cuci"
"Kalo di cuci aromanya bis ilang, itukan belas pelukan Aldi pasti ada bekas aroma parfumnya" sahut perempuan itu membuat tercengang.
"Itu sih kamu yang jorok" ejek laki-laki itu kemudian pergi.
Aldi meminta Karin naik lebih dulu baru dirinya naik juga.
"Di sini aja duduknya" ucap Aldi mengarahkan Karin pada kursi paling depan dekat pintu
"Enakan di belakang sana" tunjuk Karin pada bagian paling belakang sembari melihat Aldi di belakangnya.
"Jangan di sini aja" tegas Aldi membuat Karin sedikit cemberut.
Karin duduk di pinggir lalu Aldi di sampingnya.
"Jangan cemberut, adek manis kalo cemberut terus nanti di halalil abang loh" goda Aldi menarik pelan hidung Karin.
"Ish" malu Karin melihat kearah keluar di mana para teman mereka mulai mendekat ke bus yang sudah mereka masukin.
Neli masuk dan langsung menatap manja pada Aldi yang masih sibuk dengan tas yang di bawanya.
"Kamu kok ninggalin aku sih Aldi" manjanya berdiri di depan Aldi.
"Ayo sama aku aja kita naik mobil spot punya aku, jangan naik bus nanti kamu alergi, badan kamu bisa gatel-gatel loh nanti, ayo keluar" ajak Neli ingin menyentuh Aldi tapi tidak jadi.
Aldi menatap dingin dan datar pada Neli yang langsung menarik tangannya kembali sebwlum menyentuh Aldi.
"Pergi sendiri" ucapnya.
Neli cemberut dan akan kembali mengeluarkan kalimatnya tapi tidak jadi karena suara bu Sari.
"Masuk kalo mau ikut, kalo gak keluar sana mobil spot kamu lumutan tuh" ketus bu Sari yang sedikit mendengar ucapan Neli karena ia tadi memang berdiri di dekat pintu bus.
Neli berdecak kesal lalu mengangkat kopernya yang ada di dekat kakinya. Neli mendekati kursi di sebelah Aldi untuk ia duduk.
"Koper di bagasi, jangan di bawa masuk" ucap bu Sari lagi.
"Gak ah bu, nanti baju-baju mahal aku rusak lagi"
Mendengar itu bu Sari menghela napas malas.
"Kalo takut baju mahalmu rusak ya naik mobil spotmu aja sana, katanya ada mobilnya di sini, ya silahkan gak saya larang loh" ucap bu Sari menyindir karena ia sama sekali tidak melihat adanya mobil spot.
Neli berdecak lagi lalu turun membawa koper besarnya dengan susah payah sendirian tanpa ada yang mau membantunya. Setelah Neli turun bu Sari memberi jalan pada siswa lainnya yang akan masuk.
"Bu saya duduk di depan ya" ucap seorang siswa.
"Iya, duduklah dulu" sahut bu Sari.
Siswa itu pun duduk di tempat Neli tadi, kursi yang tepat di belakang supir. Bersama seorang laki-laki dari kelasnya juga yang merupakan kekasihnya.
Tidak lama Neli naik dan langsung melotot protes karena tempat yang di inginkannya di duduki yang lainnya.
"Heh! siapa yang suruh kalian duduk di situ?" marahnya.
Neli berdiri dengan galak di samping laki-laki yang sudah duduk manis itu.
"Memangnya ada larangan mau duduk di mana?" ucap laki-laki itu santai.
"Tahu tuh Neli, kita bayarnya juga sama jadi suka-sukalah mau duduk dimana" sahut perempuan di sampingnya.
"Tapi ini tuh tempat dudukku tadi tahu" kesal Neli yang benar-benar tidak terima.
"Hilang pantat hilang tempat" ucap laki-laki itu santai dan tidak perduli dengan wajah marah Neli.
"Ka.."
"Kamu sama saya aja duduknya dari pada buat ribut terus" sela bu Sari menarik Neli kebelakang untuk duduk karena bus akan jalan sebentar lagi.
"Tapi saya maunya di situ bu" ucap Neli masih protes.
"Duduk atau saya taruh kamu di atas atap sekalian" tegas bu Sari melotot seraya melirik ke atas bus.
Dengan kesal Neli duduk di kursi yang tersisa lumayan jauh dari depan. Neli cemberut dengan mata yang tidak lepas dari Aldi yang masih terlihat sibuk di depan sana.