
"Kamu yakin mau ikut ke puncak besok pagi dek?" tanya Kara menatap adiknya serius.
"Iya, kok abang tahu?" ucap Karin santai.
Saat ini keluarga Banu sedang duduk di ruang tv setelah makan malam bersama tadi.
"Tadi Aldi sempet bilang sama abang sama papa" kata Kara.
"Tapi kamu gak takut memangnya?" tanya Kara lagi memastikan.
"Gak" santai Karin menanggapi abangnya.
"Kayaknya gak usah deh dek, bahaya, apa lagi kamu baru mulai pulih kakinya" cemas Kara.
"Tapi Karin pengen ke puncak bang" sahut Karin.
Pandangan Karin berlaih pada kedua orang tuanya yanga masih diam.
"Boleh ya pa, ma, Karin pengen ke sana sama yang lainnya biar seru" manja Karin menatap kedua orang tunya penuh harap.
"Mama ragu nak, kayaknya kamu jangan pergi deh, nanti aja ya seminggu lagi perginya kita sekeluarga kesana" bujuk Tati pula yang masih takut dengan kejadian kecelakaan anaknya.
"Pleasss" Karin mengedipkan matanya beberapa kali hingga membuat Banu yang melihatnya tidak tega.
"Boleh ya pa" rayu Karin lagi pada papanya, karena hanya tinggal Banu yang belum angkat suara.
Walau hanya papanya yang akan menyetujui, itu sudah cukup bagi Karin untuk bisa pergi.
Banu menghela napas panjang melihat bujuk rayu anaknya itu.
"Baiklah, kamu boleh pergi" ucap Banu yang langsung di sambut sorakan senang Karin.
"Tapii.." Karin diam dan menatap papanya heran.
"Kenapa pa?" tanyanya dengan alis yang menyatu.
"Kamu gak boleh nolak apa yang papa kasih buat kamu besok, ok" ucap Banu.
"Memangnya apa pa?" penasaran Karin.
"Udah besok aja kamu tahunya, sekarang pergi istirahat ya" Banu mengelus rambut Karin.
Karin tersenyum dan akan bangun dari duduknya tapi di tahan oleh Banu.
"Kenapa pa?" herannya.
"Mana janjinya dulu" Banu mengangkat kelingkingnya pada Karin untuk meminta janji anaknya yang akan menurutinya besok.
"Janji" Karin menyatukan kelingkingnya dengan kelingking papanya.
"Sudah sana tidur, jangan lupa yang mau di bawa di siapkan" ucap Banu di angguki Karin.
Karin pergi meninggalkan ruang tv dengan perasaan senang. Akhirnya setelah beberapa minggu duduk di kursi roda, sekarnag Karin sudah bisa berjalan lagi. Dan gadis itu ingin ikut teman-temannya untuk jalan-jalan. Untung saja perginya tidak terlalu jauh, jadi Karin bisa ikut.
Apa lagi ada Aldi yang selalu bersamanya, walaupun nanti Karin tidak ikut keliling punjak bersama yang lain. Setidaknya ia bisa menikmati kesejukan udara di puncak bersama Aldi tentunya, hihihi.
"Papa yakin biarin ijinin Karin ke puncak? mama kok ngerasa gak enak ya pa!" seru Tati setelah anak gadisnya tidak terlihat.
Banu tersenyum pada istrinya juga Kara yang menatapnya.
"Kalian tenang aja, papa udah siapkan semuanya" ucap Banu santai.
"Kara masih ngerasa takut deh pa, ngebiarin Karin pergi ke sana dengan kakinya yang baru sembuh" ucap Kara penuh keraguan dengan kepergian adiknya.
"Papa gak akan ngijinin Karin pergi kalo gak ada persiapan apapun Kara, jadi kalian tenang aja dan lihat besok ok" kata Banu meyakinkan kedua orang yang nampak berat melepaskan Karin.
Tati dan Kara mengangguk mendengar ucapan Banu. Bagaimanapun juga tidak mungkin Banu akan melepaskan Karin pergi tanpa adanya persiapan.
"Ya udah deh kalo gitu pa, papa atur aja semuanya mama mau ke kamar Karin dulu bantui beresin barangnya" seru Tati beranjak dari duduknya setelah mendapatkan anggukan dari Banu.
Setelah tinggal kedua laki-laki itu di ruang tv, mereka melanjutkan obrolan dengan hal lainnya. Sedangkan Tati naik ke kamar Karin lalu mengetuk pintu sembari melihat ke dalam karena pintu yang tidak di tutup rapat.
"Udah selesai ya! mama mau bantuin loh pada hal" sahut Tati duduk di samping Karin yang mulai berdiri mengambil sesuatu di lemari pakaian, karena memang posisinya duduk du depan lemari itu.
"Udah ma, tingga beberapa barang pribadi aja" ucap Karin kembali duduk dengan beberapa kain yang di maksudnya.
Tati mengamati wajah anak gadisnya yang terlihat sangat bahagia. Pada hal hanya akan pergi ke puncak tapi kebapa sebahagia itu? begitu sederhanakah membuatmu bahagia sayang batin Tati masih betah melihat wajah Karin yang sedikit tersenyum.
"Bahagia banget sih anak mama, pada hal cuma mau ke puncak" ucap Tati akhirnya yang tidak bisa menahan peranasarannya.
"Apa karena ada Didi nya kamu ya, makanya seneng banget" goda Tati membuat Karin sedikit salah tingkah.
"Apaan sih ma? biasa aja tuh" elak Karin masih pura-pura sibuk menatap pakaiannya di tas, pada hal hanya tinggal menarik resnya saja.
"Aduh salah tingkah anak gadis mama yang cantik ini, pada hal baru di bilang gitu aja loh" goda Tati semakin gencar.
Timbul kemerahan di pipi Karin yang putih bersih. Tati yang melihat itu terkekeh geli.
"Mama ngomong apa sih?, siapa juga yang salah tingkah! setiap hari juga ketemukan sama Aldi, gak cuma besok aja" gerutu Karin bangkit dari duduknya menuju kasur.
Tati mengikuti langkah anaknya masih dengan kekehan kecilnya.
"Justru yang setiap hari ketemu dan berduaan itu malah bisa jadi timbul lope lope loh" gencar Tati menggoda Karin.
"Lope lope apa sih ma?, ngadi ngadi aja mama ini" Karin merebahkan tubuhnya miring membelakangi Tati karena malu.
Bahkan ia menahan senyumnya saat membelakangi mamanya.
"Oh iya mama lupa" seru Tati membuat Karin penasaran dan langsung berbalik melihat mamanya.
"Lupa apa ma?" tanya Karin penasaran.
Tati melirik jahil pada Karin yang penasaran lalu terkekeh lagi.
"Anak cantik mama ini kan daru dulu sampe sekarang memang udah deket banget sama Aldi, bahkan punya panggilan khusus lagi, kalo di film-film biar romantis gitu ya dek, yang cowok Didi yang cewek Nana, kalo nanti kalian punya anak cocok tuh di kasih nama Dina, singkatan nama panggilan sayang kalian berdua"
Tati tertawa senang akan pemikirannya yang justru tiba-tiba terpikirkan hal itu. Pati lucu nanti pikirnya.
Karin yang mendengar kalimat terakhir mamanya melotot sempurna karena kaget.
"Mama apa-apaan sih ngomongnya? Karin baru aja lulus sekolah masa udah bahas anak sama Karin sih! malu tahu ma" Karin menelungkupkan tubuhnya menyembunyikan rona merah yang semakin kentara di wajahnya.
"Hey dek! kuping kamu merah tuh! sampe segitunya yang blusing"
"MAMA" teriak Karin sedikit keras di balik bantal yang menutupi wajahnya.
Karin benar-benar merasa malu dengan ucapan mamanya, antara malu dan senang sih sebenarnya. Entahlah, Karin sendiripun tidak tahu bagaimana perasaannya untuk Aldi sekarang.
Karin hanya ingin menjalani semuanya saja dulu. Masih ada ketakutan akan kehilangan lagi seperti dulu dalam diri Karin.
Tati tertawa dan berjalan keluar kamar Karin sembari mengusap sudut matanya yang berair.
"Eh ada Aldi ya pa? dek ada Aldi tuh!" ucap Tati di depan pintu.
"Dimana ma?" tanya Karin langsung duduk saat mendengar ucapan mamanya.
Tawa Tati kembali mendera karena merasa senang mengerjai anaknya. Apa lagi melihat wajah merah Karin yang lucu benar-benar menggemaskan bagi Tati.
"Cie cie yang kangen tante Desi sama om Dudi, siapa sih namanya? oh Aldi ya! Aldi atau Didi dek! mau yang mana" goda Tati.
"Ish mama resek ya!" Karin kembali menutupi wajahnya dengan bantalnya.
Tati tertawa lagi lalu menutup pintu kamar Karin.
"Mama kenapa?" tanya Kara yang baru sampai atas dan meblndapati mamanya tertawa bahagia.
"Gak kenapa-kenapa, udah sana tidur mama juga mau tidur" sahut Tati berlalu sembari terkekeh kecil mengingat ekpresi Karin tadi.
"Aneh banget si mama" heran Kara melihat mamanya turun lalu dia sendiri beranjak ke kamarnya setelah melihat sebentar ke kamar Karin dan mendapati adiknya sudah tertidur.