
Kemudian mereka bersiap-siap untuk nanjak, Mereka berjalan berpasangan, masing-masing pasangan hanya satu senter saja untuk menghemat, mereka nanjak lewat via sawit karena jalur ini yang paling mudah untuk pemula. Sesampai nya jalan tangga Fefe dan Lia sudah kelelahan "istirahat bentar dong gue capek,"ucap fefe. "nih,"balas adit sambil ngasih air mineral. " makasih,"senyum pepsodent ke arah adit.
5 menit berlalu kini mereka melanjutkan perjalanan, selama perjalanan sepi, horor, rasanya seperti ada orang yang ngikutin sampai-sampe bulu kuduk mereka berdiri, tapi mereka tidak begitu peduli karena Tuhan menyertai mereka. Saat ini mereka di buat bingung oleh Adit yang mengatakan,"Ini lewat jalur baru atau jalur lama?,kalo jalur baru jalannya enak santai tapi waktu nya lama banget buat sampe ke puncak, kalo jalur lama buat sampe ke puncak cepet tapi jalannya batu-batuan yang lumayan besar, gimana yang mana gaes?". "lewat jalur lama aja biar bisa sampe puncak jadi kita banyak waktu buat istirahat," usul Dimas. "udah gue sama Lia terserah kalian aja," ucap Fefe. "yaudah kita lewat jalur lama aja ya," jawab Adit tenang
Via sawit memiliki 3 pos saja, jarak pos satu ke pos lainnya lumayan jauh. Mereka sudah melalui pos ke dua, pos ini batu-batuan lebih banyak dibanding pos satu. Ketika setengah perjalanan antara pos dua ke pos tiga Lia terpeleset karena ia memakai sepatu kets "udah gapapa terpelesat emang itu harus kok, wajar lah xixixi,"ejek Dimas sambil mengulurkan tangannya. "kepleset kok wajar, dasar bodhong," menghempaskan tangan Dimas. "udah jangan pacaran terus wkwkwk", ucap Adit yang sedari tadi pegangan tangan dengan Fefe. "apaan sih amit-amit pacaran sama Dimas, yang ada itu lo gandengan tangan mulu," sahut Lia. Fefe yang melihat tingkah temannya hanya membalas senyuman.
Satu jam berlalu kini mereka tengah sampai puncak Fefe dan Lia rasanya ingin muntah karena sekelilingnya bau tak sedap seperti kencing orang. tapi mereka menghiraukannya baginya bau itu tidak lebih besar dari keinginnya untuk melihat sunrise. rasa dingin menyelimuti mereka ketika mereka berhenti beristirahat setelah sampai pada keinginan. "Puji Tuhan," ucap Fefe. "kalian cewe-cewe istiraht aja duduk disini," menunjuk batu yang di sampingnya, "biar aku sama Dimas yang mendirikan tendanya," lanjut Adit. Fefe dan Lia yang mendengar hanya membalas anggukan, mereka sangat kelelahan karena ini first time nanjak gunung.
Mereka hanya membawa satu tenda saja karena mereka bertubuh kecil jadi bagi mereka cukup untuk 4 orang. Setelah selesai Adit dan Dimas menata barang-barang yang dibawanya, kemudian disusul oleh Fefe dan Lia menata tempat untuk tidur supaya nyaman. "gue cape banget nih kayanya gue ga bakalan naik lagi deh bagi gue ini udah tinggi banget," ucap Fefe ngngeluarkan sleeping bag nya. "udah lah ayo kita ganti baju buruan tidur," balas Lia yang sudah menyiapkan baju gantinya. "okelah," jawab Fefe. Kini mereka membersihkan diri memakai tisu, "Gila hidung gue banyak banget kotorannya padahal gue ga selama perjalanan ga nglepas buff loh," kaget Fefe.
"gue juga anjirrr,"sahut Lia.
***
" kita berdoa aja mah biar mereka selamat, ga ada badai, ga ada hujan..."
"yaudah pah disana juga ada Adit kok semoga Adit bisa menjaga Fefe."
Diwarung gunung
Gunung andong memang memiliki warung diatas puncak, bahkan ada 2 warung. Adit dan Dimas berada disalah satu warung yang lebih dekat dengan tendanya, mereka membeli kopi dan gorengan untuk perut mereka yang sedari perjalanan cacing diperutnya minta jatah makan.
Sesudah selesai makan mereka segera bergegas dan tak lupa membawakan kopi untuk Fefe dan Lia. Setelah Fefe dan Lia menerima kopi mereka menyruput dan menghabiskannya seperti orang yang tidak pernah minum 3 hari. Selanjutnya mereka memposisikan tidur menggunakan sleeping bag.