
"Kamu ada rencana kuliah gak nanti?" tanya Aldi saat mereka sudah masuk ke area perumahan Karin.
"Gak tahu, kalo kaki aku sembuh ya kuliah kalo belum kayaknya di tunda dulu" seru Karin.
"Kenapa di tunda? kan gak papa kalo kulaih pakek kursi roda, nanti aku yang bakal jagain kamu kita sampus aja nanti"
"Gak aku gak mau nyusahin kamu terus, kamu jugakan butuh privasi harus banyak bergaul sama bergerak bebas juga, bukan cuma nungguin aku yang gak bisa apa-apa"
Aldi menghentikan mobilnya setelah tiba di depan rumah Karin. Bukan langsung turun Aldi malah menatap Karin di sebelahnya.
"Aku gak pernah ngerasa di susahin kamu, bahkan sama kamu aja aku udah merasa cukup, kamu privasiku jadi aku pasti bakalan sama kamu terus" ucap Aldi.
Karin tidak menjawab ucapan Aldi, hanya tersenyum saja dan langsung membuka pintu mobil saat ada security yang mendekat.
"Pak tolong kursi rodanya di belakang" ucap Karin.
"Iya non"
Aldi keluar mendekati Karin yang masih menunggu kursi rodanya di keluarkan. Saat kursinya sudah di letakkan di dekat Karin, Aldi langsung mengangkat tubuh Karin begitu saja.
"Bawa masuk aja kursi rodanya pak, Karin biar Aldi yang gendong ke dalem" ucap Aldi pada security itu.
"Iya den" sahutnya mengambil lagi kursi roda nonanya dan membawa masuk mengikuti langkah Aldi yang sudah berlalu.
"Jangan gini Di, aku masih bisa ngurus diri sendiri" ucap Karin menatap wajah Aldi dari bawah karena dia di gendongan.
Aldi hanya tersenyum melihat Karin dan tetap melangkah.
"Di turunkan aku di ruang keluarga aja" Aldi menuruti ucapan Karin dan mengarah ruang keluarga.
Setelah mendudukkan Karin Aldi ikut duduk di sebelah perempuan itu.
"Besok kayanya kamu gak usah nemenin aku lagi deh" ucap Karin yang membuat Aldi heran.
"Kenapa? kamu muak ya lihat aku?" tanya Aldi dengan alis yang bertaut.
Karin menunduk.
"Bukan, tapi kami pasti punya pacar nanti pacar kamu marah lagi kalo kamu sering kesini setiap hari sama aku, tapi pacar kamu kamu lupain"
"Hey, pacar aku itu kamu Nana jadi wajarkan kalo aku kesini nemenin kamu" ucap Aldi mengangkat dagu Karin dengan tangannya.
Kening Karin mengkerut mendengar kalau dirinya pacar Aldi. Apa iya pikirnya.
"Masa sih? sejak kapan?" tanyanya.
"Sejak lama, mungkin nanti kalo kamu udah bisa inget lagi baru aku bakalan nanyain sama kamu kemana kalung yang dulu pernah aku kasih sewaktu kita kecil" ucap Aldi.
Karin berpikir sejenak sembari menatap Aldi.
"Kalung? kalung apa?" tanyanya.
"Kalung yang liontinnya bentuk bulan sabit warna merah delima"
Semakin berpikirlah Karin mendengar hal itu, dan Aldi yang melihatnya langsung membuyarkan pikiran Karin atau perempuan itu akan sakit kepala.
"Hey udah jangan di ingat lagi, nanti kamubpusing loh"
"Kayanya aku pernah lihat kalung itu" seru Karin.
"Dimana?"
"Ehm kayanya... papa pernah ngasih aku kalung kaya yang kamu nilang tadi waktu baru pulang ke rumah"
"Ya udah, jangan di paksain nginget kalo kamu lupa" Aldi mengelus kepala Karin pelan.
"Aku pulang dulu ya, udah sore"
Karin mengangguk pada Aldi yang langsung mengecup kening Karin lembut. Karin tidak pernah marah kalau Aldi mengecup keningnya, ia justru menikmati kelembutan kecupan itu.
Setelah itu Aldi pulang dan tinggallah Karin di ruang keluargaa. Karin melihat kearah lain mencari orang tuanya yang biasanya di rumah.
"Ma pa abang" panggilnya sembari melihat-lihat.
Tidak lama Tati datang membawa potongan buah di atas piring.
"Loh Aldi nya mana sayang?" tanya Tati yang ternyata di belakangnya ada pelayan yang membawa minuman.
"Udah pulang ma, inikan udah sore"
"Kok cepet sih, baru di buatin minum"
"Ya gak papa, lagian tante Desi tahu kok kalo anaknya disini nemenin anak cantiknya mama ini" Tati menjawil hidung Karin.
"Nih makan buahnya nanti mama anter kekamar kalo udah" lanjutnya.
Karin makan potongan buah dengan lahap di temani Tati.
"Papa sama abang kemana ma?" tanya Karin yang tidak melihat kedua orang itu.
Sedangkan keluarga dari desa sudah pulang tadi pagi karena pakde Beni harus kembali bekerja dan anak bungsu mereka juga harus sekolah. Bibi Karin dari mamanya juga tidak bisa datang karena pekerjaan yang tidak bisa di tinggal.
Adik Tati itu hanya mengirimkan obat untuk membantu pemulihan kesehatan Karin, juga untuk retak tulang yang di alami Karin. Obat-obatnya selain dari dokter juga di beli sendiri oleh adik Tati yang di luar negeri sebagai permintaan maafnya yang tidak bisa pulang langsung melihat keponakannya.
"Katanya tadi mau ke supermaket di depan komplek" sahut Tati sembari menonton tv.
"Nah tu dia pulang" Tati melihat dua laki-laki terbaik dalam hidupnya yang sedang berjalan mendekat pada mereka.
"Banyak banget pa belanjanya?" tanya Tati yang melihat tiga kantung besar di bawa ke dua laki-laki itu.
Banu meletakkan kantong kresek besar itu di atas meja lalu menghempaskan pantatnya di samping Karin.
"Halo anak cantik, gimana jalan-jalannya tadi hm?" tanya Banu menatap Karin yang masih makan buah potong.
"Kaya biasanya pa, memangnya kenapa?"
"Ya siapa tahu aja ada yang spesial"
"Apa yang spesial pa?" tanya Tati tidak paham, begitupun Karin dan Kara yang duduk di samping Banu.
"Yang spesialnya, anak gadis kita ini jadian sama Aldi ma" sahut Banu merapikan rambut Karin yang menutupi wajahnya sedikit.
"Kamu jadian sama Aldi dek?" kaget Kara dan Tati.
Karin menatap bingung keluarganya yang masih melihatnya penuh tanya.
"Jadian apa? kami gak jadi apa-apa masih tetep manusia" polos Karin yang gagal paham.
Kara menghembuskan napasnya panjang karena kepolosan adiknya itu. Sedangkan Bnau terkekeh mendengar jawaban Karin serta respon putra dan istrinya.
"Papa tahu dari mana kalo Karin sama Aldi jadian?" tanya Tati yang sudah penasaran.
"Cuma nebak aja" santai Banu yang mendapat lirikan tajam Tati yang sudah sangat serius malah di becandain.
Karin menatap orang tua dan abangnya.
"Dek kamu beneran pacarnya Aldi?" tanya Kara sekali lagi dengan kalimat yang lebih jelas.
"Gak tahu bang, tapi kata Aldi Karin memang pacarnya" santai Karin.
"Pa sebenernya nama aku itu siapa sih?" tanya Karin yang sangat penasaran tapi baru terucap.
Banu menatap serius wajah Karin yang melihatnya.
"Memangnya kenapa sayang?" kaget Banu akan pertanyaan itu.
"Kok panggilan untukku beda-beda sih, kalian panggil aku Karin, trus Aldi manggik aku Nana, jadi nama aku yang sebenernya siapa?"
Banu melirik Tati yang menahan senyumnya melihat wajah bingung Banu yang tidak tahu harus mengatakan apa karena memang tidak tahu apapun tentang kisah anaknya ini dengan Aldi.
"Nama kamu sebenernya ya Karina, tapi kalo Nana..mendingan kamu tanya aja langsung sama Aldinya nak, papa juga kurang paham sama masa lalu kalian" Banu menggaruk kepalanya yang tidak gatal melihat Karin.
Karin menunduk berpikir membuat orang tuanya juga Kara langsung memaanggilnya untuk mencegah Karin berpikir keras.
"Sayang kamu kenapa?" tanya Tati menyentuh pundak Karin membuat gadis remaja itu mengangkat kepalanya.
"Papa pernah ngasih kalungkan sama Karin yang liontinnya bulan sabit warna merah delima" Banu mengangguk.
"Iya, itukan kalung kamu sendiri, dari dulu kamu udah makek kalung itu waktu di desa sampe sini juga masih di pekek" ucap Banu.
"Dimana kalungnya ya, Karin lupa pa makeknya" lirih Karin mencoba mengingat dimana ia letakkan kalung itu.
"Kayanya mama lihat di atas nakas kamar kamu" ucap Tati yang membuat Karin langsung ingin beranjak.
"Mau kemana nak?" tanya Banu memegangi Karin.
"Mau ke kamar pa nyariin kalungnya, nanti kalo hilang Aldi marah"
"Marah kenapa?" tanya Kara bingung.
"Itu kalung dari Aldi dulu bang waktu kita kecil"