First Kiss

First Kiss
Menceritakan semuanya



Karin duduk di belakang Aldi di atas vespa dengan tangan yang berada di pinggang laki-laki itu. Tadinya Karin sangat malu melakukan hal itu, tapi Aldi memaksa Karin untuk tetap meletakkan kedua tangannya di pinggang laki-laki itu dengan erat.


Pada hal motor tua itu melaju tidak kencang tapi tetap saja Aldi tidak ingin Karin melepaskan pegangangannya dari pinggangnya. Keduanya merasa sangat bahagia dengan kebahagiaan sederhana mereka itu.


Motor Aldi berhenti di sebuah taman yang tidak terlalu ramai karena saat ini masih jamnya sibuk di hari senin. Tapi hari tidak menjadi penghalang bagi kedua orang yang sedang jatuh cinta buka! apa pun harinya dan bagaimanapun keadaannya selama masih bisa di tempuh untuk bertemu maka mereka akan bertemu dan menciptakan momen indah.


"Kok ketaman?" heran Karin melihat keadaan yaman yang bahkan sekarang hanya ada mereka berdua juga beberapa penjaganya saja.


"Gak papa kita duduk di sini dulu, nanti siangan baru kita makan siang bareng trus ngukur jalan lagi" ucap Aldi seraya terus melangkah membawa Karin menuju kursi yang dekat danau buatan yang ada air mancurnya.


"Buat apa ngukur jalan?" tanya Karin bingung.


Aldi tersenyum lalu duduk dan menarik Karin duduk di sampingnya. Setelah mereka duduk Aldi mencubit lembut hidung Karin gemas.


"Jalan jalan keliling keliling muter muter di jalan apa namanya kalo bukan ngukur jalan!" ucap Aldi menatap Karin yang mulai nampak berpikir.


"Orang gila" seru Karin dengan tampang polosnya membuat Aldi tergelak di buatnya.


"Jadi kamu mau di panggil orang gila?" goda Aldi.


"Enak aja kamu, yang ngajakin ngukur jalan kan kamu ya kamu aja lah sana yang gila jangan ngajak ngajak" ucap Karin sedikit cemberut.


"Aku memang udah gila dari dulu kok" ucapan Aldi membuat Karin menatapnya dengan kening mengkerut antara bingung dan tidak paham.


"Maksud kamu?"


Aldi menatap serius pada Karin namun sarat akan cinta yang besar dan kerinduan yang mendalam dari matanya.


"Kamu tahu kalo aku itu udah nyariin kamu dari dulu sewaktu aku gak bisa nemuin kamu di desa, waktu aku ke sana kata uwak Kasim kamu udah gak pernah lagi kelihatan di rumah nenek kamu, sejak hari itu aku merasa sangat kehilangan dan bodoh karena udah ninggalin kamu terlalu lama" Aldi menghentikan ucapannya lalu meraih kedua tangan Karin untuk dia genggam namun masih tetap menatap kedua mata yang begitu indah di dekatnya.


"Aku selalu berusaha untuk mencari kamu bahkan aku udah coba berbagai cara untuk bisa nemuin kamu di kota, mungkin aku akan jadi satu satunya anak kecil yang minta di carikan orang kepercayaan sama orang tuanya dengan alasan supaya jagain aku, pada hal sebenarnya aku suruh dia buat nyariin kamu di seluruh penjuru kota tapi tetap hasilnya gak ada juga karena rupanya kamu balik lagi ke desa dan bodohnya aku karena gak menyadari kalau kamu itu anaknya om Banu yang merupakan sahabatnya ayah sama bunda" Aldi terkekeh pelan menertawakan dirinya sendiri yang sangat tidak teliti dan mengabaikan hal hal kecil yang justru sangat berharga.


"Pada hal orang tua kita sering ketemu dan sering saling dateng kerumah untuk saling mengunjungi tapi aku yang terlalu fokus sama sekolah dan kamu gak pernah mau ikut dan pernah kepikiran sampe situ karena memang dulu aku gak pernah ketemu sama orang tua kamu"


Aldi menunduk namun tetap tersenyum hanya saja senyumnya kali ini maish tetap senyuman mengejek dirinya sendiri atas kebodohannya.


"Aku kelihatan konyol gak sih menurut kamu ngelakuin hal itu?" Aldi kembali menatap Karin yang masih diam dengan pandangan yang tidak putus dari laki-laki di hadapannya.


"Aku bahkan pernah berpikir mungkinkah kamu udah ada yang punya sekarang? atau mungkinkah kamu maish inget sama aku, inget sama kenangan kita! aku menyesal kenapa baru tahu kalo ternyata kamu Nana yang selama ini ku cari-cari setelah kamu lupa ingatan gini, maaf aku gak bisa jagain kamu sebelumnya dan gak mengenali kamu" ucap Aldi penuh sesal.


Kedua pasang mata itu saling menatap dengan perasaan yang sama namun pikiran yang berbeda. Aldi yang belum sadar juga kalau Karin sudah ingat semuanya maish mengira Karin lupa ingatan. Bahkan panggilan Karin yang terkadang memanggilnya dengan panggilan kecil mereka namun laki-laki itu tetap juga belum ngeh ternyata.


"Kamu tahu!" ucap Karin mulai buka suara setelah sejak tadi diam saja mendengarkan semua ucapan laki-laki di sampingnya, bahkan tangan Karin sudah terangkat untuk memegang wajah Aldi.


"Aku selalu menunggu kamu di bawah pohon mangga tempat dulu kita sering ketemu, tempat di mana dulu kamu pamit sama aku mau pergi, dan tempat di mana kamu dulu janji sama aku kalo kamu bakalan balik lagi, sampe akhirnya yang dateng jemput aku itu papa bukan kamu, papa dateng ngajakin aku pulang ke kota karena mama selalu kesepian, anehnya aku gak merasa keberatan untuk ikut papa walau sempet nolak, hatiku merasa begitu bahagia sewaktu mau berangkat dan selalu berdebar begitu sampe kota"


"Aku juga gak tahu apa sebabnya bisa kayak gitu perasaanku, tapi aku gak pernah mikirkan hal itu juga dan sekarang aku baru tahu alasannya, yaitu karena ada kamu juga di sini dan ternyata selama ini kita sangat dekat dan selalu ketemu, walaupun kita gak saling mengenal awalnya tapi aku gak pernah menyesali semua yang udah terjadi, aku justru bahagia karena ternyata kamu gak melupakan aku" lirih Karin dengan mata yang mulai berkaca-kaca karena terharu.


Sama seperti Aldi, Karin juga selalu berpikir mungkinkah laki-laki itu melupakannya atau sudha punya kekasih lain?. Tapi ternyata mereka masih sama-sama menyimpan perasaan yang sama dan tidak saling melupakan hanya sudah tidak mengingat wajah masing-masing karena bertemu dalam keadana sudah remaja dan pertemuan terakhir mereka masih kecil.


Aldi yang mendengar ucapan Karin menatap tidak percaya pada gadis itu. Ia masih mencoba mencerna semua ucapan Karin tadi hingga akhirnya ia menyadari sesuatu.


"Kamu..kamu sudah ingat semuanya?" tanya Aldi dengan wajah yang berbinar bahagia.


Karin mengangguk dengan senyuman manisnya yang langsung di sambut dengan pelukan hangat dari Aldi dengan perasaan yang sangat sangat bahagia.


"Terimakasih tuhan sudah mengabulkan doa-doa ku, terimaksih sudah menyembuhkan Nana ku" ucap Aldi tulus berdoa hingga tanpa sadar air matanya menetes dari salah satu matanya.


Karin melepaskan pelukan mereka dan menghapus air mata Aldi yang si empunya sendiri tidak menyadari kalau ia menangis. Hingga saat Karin menghapus air matanya ia merasa malu sendiri.


"Ternyata Didi ku jadi setampan ini saat besar" ucap Karin seraya menatap Aldi penuh cinta.


"Ternyata Nana kecilku juga jadi secantik ini saat sudah besar, eh tapi kamu tetap mungil" kekeh Aldi yang membuat Karin sedikit cemberut karena ucapan terakhir Aldi yang benar adanya.