
"Ya ampun sayang kamu kenapa nak?" panik si dokter yang langsung menyentuh wajah Kiko yang baru mendongak.
Kiko langsung saja menubruk tubuh wanita di depannya dan kembali menangis dengan tubuh yang bergetar hebat.
"Ada apa sayang? bukannya kamu di rumah papamu nak!" herannya memeluk dan mengelus tubuh bagian belakang Kiko.
Dan saat itu pula anak kecil itu melepaskan pelukannya dengan wajah yang kesakitan dan semakin deras air matanya keluar.
"Kenapa nak?" panik si dokter mendudukkan Kiko di tempat tidur pemeriksaan lagi.
"Tubuhnya penuh dengan lebam" ucap Kara datar walau tetap saja raut kaget di wajahnya sangat kentara. Apa dia mengenal Kiko? apa Kiko anaknyaa? pikir Kara heran.
"Astaga nak kenapa badan kamu kayak gini sayang?" histerisnya dengan air mata yang turut mengalir pula dari matanya juga wajah sedih yang teramat sangat. Saat pakaian Kiko di buka dokter muda itu dan terlihatlah semua lebam di tubuh Kiko yang tidak sedikit.
Hari Kara terasa terbakar hangus saat ia menyakini kalau memang benar dokter yang masih muda ini mamanya Kiko. Jadi dia sudah menikah dna punya anak? hah jadi ini alasannya meninggalkanku? batin Kara bergejolak.
"Katakan apa yang terjadi dengan anakku Kara? kenapa Kiko bisa seperti ini?" tanyanya menatap Kara menuntut ingin penjelasan.
"Aku gak tahu, kami ketemu baru tadi di taman dia sendirian gak mau main sama yang lain juga jadi ku datengin trus aja bicara, sampe akhirnya dia nunjukin semua lebamnya itu" jelas Kara masih dengan wajah datarnya yang sangat kecewa.
Dokter muda yang ternyata mamanya Kiko itu langsung saja meminta suster untuk menyiapkan yang ia butuhkan untuk mengobati Kiko.
"Sabar ya sayang, mama obatin dulu sakitnya ya" bujuknya saat mendapati wajah kesakitan dari Kiko.
Secara repleks tangan mungil Kiko yang sarunya mengulur pada Kara yang masih menatap kedua orang itu dengan datar. Kara belum menyadari uluran tangan Kiko dan masih dalam lamunannya sendiri.
Sampai Kiko menggerakkan tangannya beberapa kali barulah Kara tersadar dan menyambut uluran tangan mungil itu dan merapat pada Kiko. Mamanya Kiko hanya menatap sekilas bagaimana anaknya itu memegang kuat tangan Kara di genggaman kecilnya saat merasakan sakit kala lebam-lebamnya di obati.
Kara yang melihat ringisan dari Kiko hanya bisa mengelus lembut kepala anak kecil itu dan memberinya kata-kata semangat juga usapan lembut di rambut juga tangan Kiko yang menggenggam tangan besarnya.
Setelah mengobati semua lebam di tubuh anak kecil itu, Kiko tertidur di pangkuan Kara setelah di beri obat berupa sirup penurun panas karena suhu tubuhnya yang semakin naik akibat sakit yang di deritanya.
Dengan pelan Kara meletakkan Kiko di tempat pembaringan agar tidak membangunkan anak kecil yang sedang pulas itu. Apa lagi ada infus di tangannya yang menancap, Kara merasakan dejafu kala melihat infus di tangan Kiko.
Ingatan akan Karin yang di infus akibat kecelakaan waktu itu kembali terbayang di matanya. Seakan ikut merasakan sakitnya pada diri Kiko, Kara mengecup lembut kening anak gembul itu lalu membisikkan sesuatu.
"Cepat sembuh ya anak manis" bisiknya pelan di telinga kanan Kiko.
Setelah itu Kara berdiri tegak di samping tempat Kiko tidur. Kara menghela napas panjang sebelum akhirnya melangkah untuk pergi.
"Saya permisi dulu dokter" ucapnya melangkah hendak pergi tapi di tahan oleh dokter muda yang merupakan mamanya Kiko itu.
"Tunggu dulu!" langkah kaki pemuda itu terhenti.
"Bisa kita bicara sebentar? ada yang mau aku tanyakan padamu" ucapnya sedikit ragu kalau-kalau pemuda itu menolak.
"Tentang apa?"
"Tentang Kiko, aku ingin tahu lebih jelas tentang ucapan kamu tadi"
Tapi kalau kenyataannya lebih menyakitkan seperti ini, apalah gunanya Kara selalu mengharapkan selama ini juga mencari kemana-mana kalau hasilnya wanita itu sudah milik yang lain.
"15 menit" ucapnya pada akhirnya karena ia pun penasaran apa yang sebenarnya terjadi pada si kecil Kiko.
"Duduklah" ucapnya.
Kara balik badan dan kembali duduk di kursi yang ada di depan meja wanita yang seorang dokter juga mamanya Kiko.
"Kamu bilang kalo kamu ketemu sama Kiko di taman trus dia nunjukin badannya yang udah lebam itu! apa lagi yang Kiko bilang sama kamu selain itu?" tanyanya penasaran.
"Katanya tante jahat yang buat dia lebam gitu" ucap Kara seadanya.
"Trus?" penasaran wanita di depan Kara itu dengan hati yang sudah berdebar karena dugaan yang tiba-tiba membuatnya marah.
"Dia nangis"
"Trus" gemas wanita cantik itu karena jawaban Kara yang singkat itu. Apa lagi pemuda tampan itu sama sekali tidak menatapnya dan lebih memilih untuk melihat Kiko yang masih tidur.
"Trus ke sini" helaan napas panjang nan kesal terdengar dari depan Kara.
Ya mamanya Kiko kesal juga lama-lama mendengar jawaban dari Kara yang begitu. Tapi apa boleh buat, sadar dengan kekurangan anaknya dalam berkomunikasi, wanita itu tidak bertanya lagi melainkan melamun dengan pemikirannya sendiri.
Kara yang tidak mendengar petanyaan lagi dari wanita di depannya melirik dan mendapati tatapan kosong tapi penuh amarah dari wanita itu. Wajah cantiknya yang terlihat semakin cantik dan dewasa itu malah membuat Kara semakin merasakan sakit saja.
"Kalo gak ada lagi aku pergi" ucapnya berduru dari duduk.
"Boleh aku meminta bantuanmu?" tanyanya menatap Kara memohon.
"Apa?" tanya Kara balik tanpa melihat wajah yang malah akan semakin membuatnya kecewa dan sakit hati namun justru rindu di hatinya semakin menumpuk saat dapat melihat tapi tidak bisa menyentuhnya apa lagi memilikinya.
"Bisakah kamu selidiki apa yang terjadi pada Kiko anaku? aku mohon hanya kamu yang bisa menolongku saat ini" lirihnya sedih seraya mendekati Kara.
Tatapan Kara kini beralih pada wanita cantik yang sudah di dekatnya dengan wajah yang sedih juga marah.
"Kenapa gak suruh papanya aja?" ucap Kara masih dengan wajah datarnya.
Wanita itu menunduk seraya menggeleng.
"Aku punya firasata kalau tante jahat yang di maksud Kiko pastilah wanita itu, pasti dia yang sudah menyakiti anakku dan laki-laki bodoh itu pasti cuma diem aja lihat anaknya di siksa, untuk apa dia mengambil Kiko kalo gak bisa ngurus baik-baik" air mata mebetes dari wanita itu dengan suara bergetar menahan amarah.
Jelas sekali dari suara mamanya Kiko kalau ia sangat marah dan tidak terima kala anaknya di sakiti sampai separah itu. Ibu mana yang akan diam saja melihat sang buah hati tercinta sampai luka di hampir sekujur tubuhnya begitu.
Pada hal belum satu hari Kiko di ambil oleh papanya dengan alasan rindu. Tapi kini lihatlah sendiri bagaimana kondisi anaknya yang sampai demam tinggi begitu akibat menahan sakit di tubuhnya.
"Aku mohon, tolonglah aku Kara sekali ini saja" lirih sedihnya.
Kara menghela napas sejenak, tidak tega juga ia melihat wanita tercintanya yang begitu terluka. Apa lagi rasa cinta di hatinya masih cukup kuat pada wanita di sampingnya. Juga Karaa ingin mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada bocah lucu itu.