First Kiss

First Kiss
Momen abang adik



Kara menghembuskan napasnya pasrah, kali ini ia memang harus menuruti keinginan adiknya. Apa lagi ia sudah sering mementingkan pacarnya dari pada adiknya.


Biarlah malam ini ia membahagiakan Karin dengan menuruti apa maunya, dan urusan pacar tinggal di putusin kalau marah atau sebagainya pikir Kara.


"Ya udah tunggu di bawah dulu, abang ambil dompet sama kunci mobil" ucap Kara yang hanya di angguki Karin yang sudah berjalan di di dekat tangga.


Selagi menunggu Kara datang Karin menghampiri mama papanya yang menatap dirinya.


"Jadi perginya sayang?" tanya Banu yang melihat Karin hanya mengenakan celana training dan baju kaos lengan panjang.


Menurut Karin memakai celana training ke pasar malam akan lebih memudahkan dirinya bergerak. Kalau pakai celana jeans tidak bisa sedikit molor sedangkan celana training membuat Karin yang sangat lasak di pasar malam tidak merasa kesulitan apa lagi begah kala memakainya.


"Ayo" ajak Kara.


"Karin sama abang pergi ya ma pa?" pamit Karin menyalami orang tuanya.


"Iya, hati-hati ya nak" ucap Tati pada Karin yang di angguki gadis remaja itu.


"Kara pamit ma pa"


"Jaga adikmu Kara, dan jangan pulang terlalu larut malam" pesan Banu yang selalu mengingat kecerobohan Kara.


"Iya pa, Kara gak akan ninggalin Karin lagi"


"Awas aja kalau kamu ingkar, mama sunatin jadi perempuan juga kamu" ancam Tati yang membuat Kara ngeri.


"Iya ma iya" pasrah Kara dan cepat berlalu sebelum ada ancaman sesi kedua dari papanya.


Karin sudah duduk manis di kursi samping kemudi dan terlihat bermain ponsel, lebih tepatnya bermain game.


"Game aja yang di mainin, punya ponsel itu buat chatingan, telponan, foto, main sosmed atau pacaran, bukan sekedar game doang" ejek Kara sembari melajukan mobilnya meninggalkan rumah mereka.


"Terserah w dong" acuh Karin.


"Gini nih, anak kecil yang belum pubertas baru netas, abang kasih tahu ya, kamu itu harusnya cari pacar supaya ada yang bisa di ajakin malam mingguan gini bukan ngerusui abang terus"


"Kalau gak iklas bilang aja, Karin bisa ajak papa sama mama"


"Eh ngancem lagi bocil" ucap Kara sesekali melihat Karin namun tetap fokus pada jalanan.


"Abang itu bukan gak iklas nganterin kamu jalan-jalan, cuma kalau kamu punya pacarkan bisa slaing chatingan bi..."


"Karin masih sekolah bang gak boleh pacaran" sahut Karin memotong ucapan Kara.


"Ck, alasan bilang aja kamu gak bisa lupain Didi kamu itu" ejek Kara.


"Lagian dia juga ntah di mana kan? ngapain di inget-inget, kehidupan ini bukan cuma untuk mengenang masa lalu dek, tapi untuk menata masa depan"


"Ibaratnya nih kita naik mobil ini nih, kalau mau lihat ke belakang sesekali aja bukan di pandangin terus karena jalannya ke depan bukan mundur kebelakang, nah kalau masa depan gitu juga, boleh kita lihat ke belakang tapi sesekali aja buat jadi pelajaran hidup supaya jadi lebih baik lagi kedepannya"


"Karena masa lalu itu pelajaran untuk masa depan, bukan untuk jadi ratapan kaya anak tiri"


Kara menjelaskan panjang lebar pada Karin yang sedang melihat ke depan. Ucapan abanhnya memang benar adanya tapi untuk saat ini Karin belum mau memikirkan apapun tetang perasaan.


Karin hanya ingin menjalani semuanya sesuai alurnya berjalan, bagaimana nanti kedepannya masih misteri dan Karin akan menjalaninya sebagaimana misteri itu terjadi.


"Kapan carinya?" tanya Kara melihat Karin sekilas.


"Ntar kalo mau" Kara melongo mendengar jawaban adiknya yang begitu cuek itu.


"Hah, payah memang ngomong sama embrio bantet" pasrah Kara yang sudah berusaha membujuk adiknya tapi tidak bisa.


Tentu Raka tahu kalau adiknya sangat berharap bertemu dengan teman kecilnya dulu di tempat sang nenek. Raka yang memang tidak pernah tinggal di desapun tidak tahu siapa sebenarnya yang di maksud Karin selama ini.


Karena Karin juga hanya ingat dengan nama Didi dan selembar foto yang dulu sempat di ambil. Kara tidak mengenal siapa anak kecil itu, karena dulu dia sempat tinggal di asrama sewaktu sekolah dasar.


Setibanya di pasar malam, Kara memarkirkan mobilnya di seberang jalan tempat parkiran mobil. Setelahnya abang adik itu berjalan bersama menyeberangi jalan menuju pasar malam yang ada di seberang parkiran itu.


"Wah rame ya bang" ucap Karin senang.


"Iya, ayo mau main apa?" Kara mengelus kepala Karin sayang, sudah lama dia tidak melihat binaran bahagia adiknya ini karena ia yang terlalu sibuk dengan pacarnya yang banyak.


"Kita main itu dulu bang, baru kesana, kesana, kesana pokonya Karin mau naikin sama cobain semua permainan yang ada" senang Karin menunjuk semua permainan yang di angguki Kara dengan senyuman.


Keduanya mulai permainan dengan gembira, walau Kara sempat takut saat naik permainan kora-kora yanh berayun. Tapi demi Karin ia melakukan semua permainan juga menemani adiknya.


"Bentar dek bentar, kepala abang pusing nih" ucap Kara memegang kepalanya yang keliyengan setelah turun dari kora-kora.


"Ya abang cemen, gitu aja pusing, di desa nenek malah lebih ngeri ayunan kora-koranya" ucap Karin.


"Kamu mah udah biasa, lah abang lebih sering di asrama dulu bahkan abang lebih sering di rumah kalo liburan"


"Gimana gak di rumah kalau mama papa datang ke desa abang kencan sana sini, mainnya di mall besar sama klub mana tahu permainan kayak gini" ejek Karin membuat Kara melotot tidak percaya dengan ucapan adiknya.


"Kok kamu tahu?" herannya menatap Karin penuh tanya, padahal adiknya baru beberapa bulan di sini kenapa tahu apa yang di lakukannya.


"Heheh, waktu itu Karin gak sengaja dengar papa marahin abang gara-gara gak mau di ajak liburan sewaktu Karin di sini, papa marahin abang gara-gara lebih milih kencan dari pada ikut liburan sama keluarga" cengir Karin polos yang hanya di jawab ******* lelah Kara.


Sepertinya memang salahnya yang lebih mementingkan pacar dari pada keluarga sampai ia tidak bisa menikmati kebersamaan dengan keluarga terutama adiknya.


"Maaf, dulu abang masih labil bahkan sekarangpun abang masih sukak gitu, tapi kali ini ayo kita senang-senang" ucap Kara semangat di akhir kalimatnya.


Kara ingin membuat momen bahagia dengan adiknya di pasar malam ini yang baru pertama mereka datangi bersama. Walau Karin sering datang bersama orang tuanya tapi tanpa Kara, kali ini keduanya bersenang-senang di pasar malam.


Meski di beberapa permainan Kara mengalami mual dan pusing tapi tidak masalah baginya, mereka akan istirahat sejenak kalau Kara mengalami hal itu dan melanjutkan permainan lagi setelahnya.


Sampai akhirnya mereka tingga mencoba permainan yang terlihat mudah tapi sulit di lakukan. Yaitu lempar gelang dan teman-temannya yang permainannya hampir mirip.


"Ayo bang, Karin mau boneka kelinci besar itu" tunjuk Karin pada boneka kelinci berwarna putih.


"Ok, lihatlah kehebatan abang Kara yang tampan" ucap Kara percaya diri dan mulai bermain.


Tapi yang ada malah gagal berulang kali hingga menghilangkan keceriaan Karin.


"Yah kok gagal terus sih bang" cemberut Karin putus asa.


"Tenang, abang coba sekali lagi"


Kara kembali mencoba peruntungannya dengan harapan besar bisa memberikan apa yang di inginkan adiknya. Kara fokus pada permainannya dengan Karin yang menatapnya penuh harap, dan seseorang yang sudah berdiri di samling Karin menatap wajah Karin.