
"Aku Didi, kamu lupa sama aku?" sedih Aldi tapi mencoba untuk tetap tegar demi kesembuhan Karin.
"Di..di" ucap Karin seraya menatap intens laki-laki di hadapannya.
"Bukannya nama kamu itu Aldi ya!" Aldi mengangguk mengiyakan.
"Iya nama aku memang Aldi semua orang juga manggil aku Aldi, tapi kamu gak, kamu manggil aku Didi trus aku manggil kamu Nana" jelas Aldi yang masih belum sadar akan sesuatu.
"Kenapa gitu?" heran Karin.
Aldi tersenyum menatap penuh cinta pada Karin yang memang di cintainya, entah sejak kapan mungkin sejak dulu. Rasa nyaman berganti jadi cinta mungkin.
"Karena dulu pertama kali kita kenalan aku panggil kamu Nana karena aku belum bisa bilang huruf R waktu itu, jadi aku panggil kamu Nana supaya aku gak malu, trus kamu juga jadinya manggil aku Didi kata kamu biar gampang manggilnya" Aldi membelai pipi Karin lembut.
"Benarkah? kamu gak bohongkan!"
"Gak, buat apa aku bohong kamu memang Nana yang selama ini aku cari" Aldi tersenyum pada Karin sembari menempelkan kening mereka.
"Kamu beneran Didi?"
"Iya" sahut Aldi yang masih dalam posisi sama.
"Bisa kamu kasih tahu aku lagi beberapa hal supaya aku lebih yakin" pinta Karin yang membuat Aldi mengangkat kepalanya masih tersenyum.
"Dulu kita tinggal di desa yang sama karena orang tua yang sibuk kerja, kamu di rumah nenek kamu dan aku di rumah nenek aku, kita sering main sama-sama dari pagi sampe sore, bahkan kalo waktunya makan siang kadang kita makan di rumah nenek kamu di temenin bude Isa atau nenek, sedangkan kalo di rumah nenekku kita lebih sering ngabisin makanan di meja sama di kulkas sampe nenek marah trus kita di hukum nyanyi tiga lagu anak-anak" senyum Aldi semakin merekah manis kala mengingat masa kecil mereka dulu.
"Kamu inget gak dulu kita juga sering ngumpet kalo mas Sapril marah karena bukunya yang kamu koyakin, nanti kalo ketahuan di mana kita sembunyi pasti bakalan di suruh ngitung satu sampe seratus sama dia" Aldi terkekeh di ikuti Karin yang juga tersenyum manis.
"Sekarang kita udah ketemu aku gak bakalan ninggalin kamu lagi Nana, maaf kalo dulu aku pergi gak pamit kamu, aku sempet balik ke desa waktu nenekku meninggal tapi kamu gak ada di desa, sejak saat itu aku berusaha nyariin kamu kemana-mana tapi gak pernah ketemu, maafin aku yang udah ninggalin kamu dulu Nana" sesal Aldi begitu tulus meminta maaf.
Aldi meraih tangan Karin lalu mengecup tangan itu lembut. Karin hanya diam saja mendengar semua cerita Aldi yang justru membuatnya sedih sekaligus lucu juga dengan cerita itu. Ternyata mereka dulu nakal juga ya.
Tidak lama setelah itu Aldi memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Karin sembari memanggil keluarga Karin yang sudah menunggu.
Keesokan paginya Karin sudah boleh pulang karena sakitnya memang tidak parah. Aldi menjemput Karin juga dengan membawa mobilnya karena Aldi yang akan menemani gadis itu ke dokter yang menanganinya sejak awal sekalian terapi untuk kaki Karin.
Tati dan Desi juga turut menemani keduanya karena mereka tidak punya kegiatan apapun. Sejak anak mereka tinggal bersama mereka, kedua ibu itu sudah tidak sibuk bekerja lagi. Hanya Tati yang baru beberapa bulan saja tidak bekerja demi bisa menarik Karin pulang bersama mereka ke kota.
Sekarang Karin di dudukkan oleh Banu di kursi belakang bersama Tati, sedangkan Aldi dan Desi duduk di depan karena Aldi yang menyetir dan Desi menemani anaknya di depan.
"Hati-hati ya Al, Karin masih suka takut kalo lihat mobil kebut-kebutan, mungkin rasa traumanya gak ilang walau ingatannya bermasalah" ucap Banu.
"Iya om, Aldi udah tahu kok harus gimana bawa Karin" sahut Aldi yang memang selalu santai kalau sedang bersama Karin.
"Iya om percaya sama kamu" ucap Banu tersenyum.
"Gak usah takut la Nu, kan ada kita berdua juga ya gak Ti" ucap Desi mencoba menenangkan Banu yang terlihat cemas.
"Iya papa percaya ma, ya sudah kalian semua hati-hati" peehatian Banu beralih pada Karin yang masih menatapnya.
"Semoga hasil pemeriksaannya bagus ya sayang, kaki kamu juga mudah-mudahan sudah sembuh" doa Banu mengecup kening Karin sayang.
"Maaf dek, abang sama papa gak bisa nemenin kamu cek kesehatan, mungkin lain kali nanti ya" kata Kara pula ikut mengelus rambut adiknya.
Karin hanya tersenyum melihat kedua orang itu yang begitu mengkhawatirkannya.
"Saya papa sama abang" ucapnya kemudian yang membuat Banu terharu.
Kembali Banu mengecup kening Karin dengan sedih karena tidak bisa menemani anaknya kedokter. Pekerjaan yang sudah lama di tinggalkannya juga kantor yang tidak ia kunjungi selama Karin sakit membuatnya mau tidak mau harus hadir.
Selama beberapa minggu Karin sakit Banu hanya bekerja dari rumah saja atau sekedar mampir ke kantor mengambil pekerjaan dan rapat yang tidak bisa di wakilkan.
"Sudah pa, kami cuma mau ke dokter bukan mau ke bulan yang gak balik lagi" gerutu Tati karena suaminya itu akan terus seperti itu kalau tidak di hentikan.
"Iya ma, iri aja sama anak padahal baru kemarin di ka.."
"Mulutnya ya pa! jangan sembarangan ngucap" pelotot Tati sembari menutup mulut suaminya itu.
Banu diam dan memilih pergi setelah mengelus rambut Karin sesaat sebelum istrinya marah lebih dari ini lagi.
"Huh dasar orang tua" gerutu Tati membuat Desi tersenyum.
"Memangnya kamu masih muda Ti, sama aja kan udah tua, yang muda itu anak-anak kita" ucap Desi.
"Sudahlah ayo kita pergi, keburu siang" kata Tati masuk ke dalam mobil di mana anaknya sudah menunggu bersama Aldi.
Aldi sejak tadi hanya terus memandangi Karin saja tanpa perduli dengan orang tua yang sedang bercanda atau berdebat, terserahlah pikirnya.
Setelah semua naik Aldi melajukan mobilnya menuju rumah sakit untuk memeriksakan Karin. Di dalam mobil hanya terdengar suara kedua ibu yang justru membahas masalah arisan mereka.
Tiba di rumah sakit Aldi membantu Karin duduk di kursi roda dengan mengangkat tubuh gadis itu.
"Terimakasih" ucap Karin tersenyum.
"Gak perlu terimakasih, aku seneng melakukannya" sahut Aldi tersenyum pula seraya mengelus kepala Karin.
Tati dan Desi yang melihat itu tersenyum haru lalu saling lirik. Kita bakalan besanan begitulah sekiranya isi hati mereka.
Aldi mendorong kursi roda Karin masuk ke dalam rumah sakit dan langsung menuju ruangan dokter yang sudah membuat janji dengan mereka. Bertepatan saat mereka melewati satu pintu ruangan dokter seseorang membuka pintu juga.
"Itu Aldi bukan sih? siapa yang di dorongnya itu?" gumam orang tersebut yang tidak sengaja melihat orang-orang yang baru lewat dan ia mengenali postur tubuh Aldi.