First Kiss

First Kiss
Nenek lampir



Neli yang keluar dari vila dan mencari makan siang sendiri, tidak sengaja melihat beberapa temannya yang berjalan menjauh. Awalnya Neli tidak perduli tapi ketika ia sedang makan, tanpa sengaja matanya melihat siluet Aldi yang berjalan di antara mereka dan berada di belakang.


Dengan cepat Neli menyelesaikan makan siangnya dengan buru-buru hingga ia beberapa kali tersedak makanan. Sampai selesai makan ia langsung meluncur mengejar Aldi yang sudah mulai jauh.


Aldi yang mendengar namanya di panggil menoleh. Helaan napas panjang dan kasar terdengar dari laki-laki itu yang merasa kesal dengan kedatangan ulet keket itu.


"Kenapa?" tanya Karin saat Aldi menghentikan langkahnya dan melihat kebelakang.


Karin juga ikut melihat kebelakang tapi tidak jadi karena sudah di tarik oleh Aldi untuk kembali berjalan. Aldi merangkul bahu Karin kembali berjalan tanpa memperdulikan teriakan Neli yang berlari mengejarnya.


"Siapa itu yang manggil kamu?" tanya Karin penasaran karena Aldi sama sekali tidak memberikannya kesempatan untuk melihat.


"Ulet keket" sahut Aldi santai.


Kening Karin mengkerut bingung tapi juga berpikir. Sampai akhirnya Karin mengingat sesuatu yang pernah di dengarnya.


"Maksud kamu Neli! dia yang teriak-teriak itu?"


Aldi mengangguk malas.


"Kenapa dia harus lari-lari segala? memangnya kakinya gak capek apa lari-lari di turunan gini?" kata Karin yang hanya di jawab dengan kedikan bahu oleh Aldi.


Memang jalanan yang sedang di lalui oleh Aldi dan kawan-kawan sedikit menurun. Jika laari-lari cukup membuat langkah sulit juga untuk di hentikan.


"Abaikan aja dia Karin, anggap aja gak ada siapa-siapa di belakang sana" ucap Risti pada Karin yang ada di depannya.


Posisi ketiga perempuan itu memang sedang ada di belakang Aldi dan karin karena tadi Aldi yang membawa Karin berjalan cepat.


Devi, Mona dan Risti merasa empet sendiri melihat sikap Neli yang selalu saja muncul di mana Aldi berada.


"Wih nenek lampir dateng tuh!" seru Rudi saat ia menoleh kebelakang danmendapati Neli yang masih berlari mengejar mereka.


"Mana-mana?" tanya Boby kepo.


"Itu tuh di belakang yang lari-lari" sahut Bagas menunjuk arah jalan di belakang.


"Pasti mau ngejar Aldi tuh dia" tebak Boby.


"Pastilah apa lagi" kata Rudi sangat yakin.


"Emang udah gak punya urat malu kali tuh cewek, berkali-kali di tolak masih aja ngejar terus" ucap Boby geleng kepala.


"Tahu tuh, dia ngejar-ngejar terus lagi banyak stok bensin kali dia" celetuk Bagas membuat semua temannya melihat padanya.


"Apa hubungannya ngejar sama bensin, Bambang?" ucap Risti sedikit nyolot.


Bagas melihat Risti dengan cengirannya.


"Eh selow mbak e" ucapnya dengan tangan yang di angkat ke duanya di depan seakan menghalangi Risti yang akan maju padanya.


"Makanya kalo ngomong yang bener aja" kata Risti kesal.


"Sensi amat mbak e, lagi pms ya!"


"Iiihs" Risti memukul bahu Bagas tapi tidak kena karena Bagas langsung lari pelan menghindar hingga keduanya terlibat saling kejar.


Yang lainnya masih di belakang berjalan santai dan hanya melihat kedua orang yang lari-lari. Terkadang mengelilingi mereka yang masih berjalan.


"Ada-ada aja si Bagas, memang apa hubungannya ngejar sama bensin?" kata Mona masih bingung dengan kalimat Bagas tadi.


Boby yang mendengar itu tersenyum smirk.


"Ya adalah" sahut Boby santai menarik perhatian yang lainnya.


"Apa?" tanya Mona penasaran.


Boby mendekati Mona dan berdiri tepat di samping gadis remaja itu. Tinggi Mona hanya sebahu Boby membuat Mona harus mendongak untuk melihat Boby. Sedangkan Boby harus menunduk untuk melihat Mona.


"Kendaraan untuk bisa jalan pakai apa?" tanya Boby dengan wajah serius.


"Salah satu bahan bakar apa?"


"Bensin"


"Trus"


Ya kalo kendaraan mau jalan ya pake bensin"


Senyum Boby makin terlihat mencurigakan.


"Salah!" kata Boby membuat Mona semakin bingung.


"Kok salah! ya bener lah kendaraan yang pake bensin ya butuh bensin untuk bisa jalan" kata Mona kesal.


"Ya salah lah, kendaraan biar bisa jalan ya harus di hidupkan dulu mesinnya, ada bahan bakar, ada bensin kalo gak di hidupkan mana bisa jalan kendaraannya" kata Boby santai sambil tertawa puas.


Apa lagi wajah Mona langsung terlihat semakin kesal karena merasa di bodohi oleh Boby.


"Boby! dasar buntelan kentut! kamu ngerjain aku ya" bertambah satu pasangan lagi yang saling kejar-kejaran di sana.


"Dasar pendek galak! gitu aja gak tahu malah marah-marah" ucap Boby sambil berlari menghindari Mona.


"Kamu buntelan kentut kurang ajar! awas kalo sampe kena ya! aku kempesin perut kamu" ancam Mona yang malah membuat Boby tertawa karena berhasil mengerjai Mona si pendek galak.


Karin tersenyum melihat interaksi teman-temannya. Walau terlihat saling kesal tapi mereka tidak slaing menyakiti.


"Aldi" ucap Neli yang sudah berhasil mengejar rombongan Aldi dan kawan-kawan.


Neli mencoba menghentikan langkahnya yang sudah terlanjur melaju cukup cepat karena jalan turunan itu. Alhasil bukannya berhenti di dekat Aldi, Neli malah terus berlari dengan terlihat mencoba menghentikan langkahnya sendiri.


"Aduh aduh aduh gimana nih?" paniknya.


"Aldi tolongin akuuu" teriak Neli yang masih berusaha berhenti.


"Akhhh"


Neli berhenti dari larinya dengan sangat tidak etisnya. Neli menabrak tanaman bunga yang di jadikan pembatas jalan di taman yang ada di sana.


"Ah haaaahaa mama aku jatuhhh, sakit maaa" rengek Neli menangis aaat bokongnya mendarat di tanah setelah terjungkal.


Sontak saja pemandangan itu membuat yang lainnya tertawa. Bukan hanya teman-teman yang bersama Aldi saja, tapi juga pengunjung lainnya.


"Kalian jahat! kalian jahat" rengek Neli sembari melempari apa saja yang ada di dekatnya ke arah orang-orang yang menertawainya.


Karin yang bisa lepas dari rangkulan Aldi karena menahan tawanya langsung berjalan pelan mendekati Neli. Karin mengulurkan tangannya pada Neli yang masih menangis dan merengek.


Aldi yang melihat itu tentu saja dengan sigap langsung mendekat karena takut Neli akan menyakiti Karin. Orang yang memiliki obsesi akan lebih berbahaya dari penjahat bahkan bisa membunuh target yang tidak di sukainya.


"Gak butuh bantuanmu" teriak Neli memukul keras tangan Karin yang terulur padanya.


"Heh nenek lampir! Karin itu niat baik mau nolongin kamu, bukannya di sambut malah di teriakin lagi" kesal Bagas melihat sikap kasar Neli yang tidak mau di tolongin.


Aldi yang sudah mendekati Karin langsung menarik gadis remaja itu kedalam dekapannya. Tak lupa pula Aldi meraih tangan Karin yang tadi di pukul Neli lalu mengusapnya lembut.


"Jangan deket-deket dia Karin, biarin aja si nenek lampir itu di tanah, masih betah dia" ketus Devi juga yang ikut marah dengan perlakuan Neli.


"Namanya juga nenek lampir, mana mau dia di tolongin baik-baik" sambung Risti.


"Di kutuk jadi cacing aja tuh dia kaya cacing tanah yang ada di pahanya itu" celetuk Boby terkekeh.


Neli yang mendengar kata cacing tanah langsung berdiri dan kembali berlari-lari tidak karuan.


"Mama papa tolong ada cacing" teriaknya lagi.


"Iiihhhh jijik" kata Neli lalu mendekati Aldi yang masih menatap Karin.


"Aldi tolongin aku dong, kamu tolong buangin cacingnya" manja Neli menerobos dekapan Aldi pada Karin hingga hampir saja tubuh Karin terjatuh kalau tidak di tahan Devi yang ada di dekat Karin.