
Jam olah raga membuat para siswa kelas favorit merasa senang karena akan keluar dari kelas dan belajar di lapangan. Setelah semua berganti pakaian olah raga, guru mengarahkan mereka untuk berkumpul di gedung olah raga yang ada di sekolah itu juga.
Tapi sebelum itu mereka di arahkan untuk melakukan lari maraton dulu di lapangan sepak bola. Mereka semua berlari pelan mengelilingi lapangan itu.
Karin lari sendirian karena ia memang belum punya teman di kelasnya, semua perempuan di kelas itu menganggapnya harus di jauhi karena tidak sepadan dengan mereka yang sangat fasionable.
Bukan masalah bagi Karin tidak memiliki teman di kelasnya, ia masih memiliki buku yang bisa di jadikan teman mengisi kesendiriannya dan bekal dari mamanya yang akan mengisi perutnya di jam istirahat.
Di tengah-tengah acara lari itu ada seorang perempuan yang mendekati Karin dan berbisik padanya.
"Cupu norak" Karin sedikit terhuying akibat senggolan dari perempuan itu yang cukup kuat di ikuti beberapa perempuan lain di belakangnya.
"Ck, Sisi ke dua dah lahir" gumam Karin pelan saat para perempuan itu sudah berlalu.
"Jangan di perdulikan" ucap seorang di samling Karin.
Karin melihat Aldi di belakangnya dengan wajah kaget karena setahunya para laki-laki sudah berada di depan semuanya. Buat apa nih orang masih di belakang batin Karin dengan yang masih menatap Aldi di sampingnya.
Aldi yang merasa di lihatpun balik melihat Karin yang benar saja masih menatapnya, keduanya saling bertatapan walau masih berlari. Mata itu mirip dengan Nana pikir Aldi.
"Akh" teriak Karin karena jatuh kesandung akibat tidak melihat depan tapi malah melihat Aldi.
Aldi menghentikan larinya lalu menolong Karin yang berusaha bangkit. Banyak yang menertawakan jatuhnya Karin, bahkan ada yang terang-terangan mengatainya.
"Punya mata empatpun masih bisa jatuh, gimana kalo cuma dua pasti udah mati ketabrak di jalan dia" ejek perempuan yang tadi berbisik pada Karin.
"Pasti sengaja itu supaya di tolongin Aldi, modus banget cupu" teriaknya lagi.
Karin dan Aldi tidak memperdulikan teriakan itu, malah Aldi mengangkat Karin di kedua lengannya dan membawanya ke UKS. Melihat hal itu tentu saja membuat siswa lainnya bengong akan sikap Aldi yang begitu perhatian pada Karin.
Perempuan yang mengejek Karin tadipun semakin geram di buatnya, ia tidak rela melihat Karin yang begitu di perhatikan Aldi. Apa lagi bisikan beberapa siswa membuatnya semakin kesal.
"Apa mereka punya hubungan?"
"Aldi sangat perhatian pada si cupu"
"Aku rasa mereka memang punya hubungan"
Di UKS Karin di turunkan Aldi di salah satu tempat tidur, lalu dengan tangannya sendiri Aldi membolak-balik tubuh Karin. Mana tahu kelihatan sedikit bahunya batin Aldi sembari terus memeriksa tubuh Karin.
"Hey apa yang kamu lakukan?" kesal Karin yang hanya di putar-putar oleh Aldi sejak tadi.
"Mencari luka"
"Luka apanya? yang ada aku pusing karena di puter-puter terus, memangnya aku es apa"
"Bukan es, tapi komedi puter"
"Terserahlah, lepaskan aku" Karin menyingkirkan tangan Aldi lalu turun dari tempat tidur itu.
"Mau kemana?" tanya Aldi menahan tangan Karin yang akan keluar.
"Olah raga belim berakhir"
"Masih sakit gak"
"Gak ada yang sakit"
Dengan langkah lebar dan cepat Aldi mendahului Karin menuju ruang olahraga. Karin cuma melihat saja tanpa menyapa atau bertanya.
Sesampainya di ruangan olahraga itu mereka menjadi pusat perhatian yang lainnya yang sedang berbaris.
"Apa kamu baik-baik aja Karina?" tanya guru yang tahu Karin habis jatuh.
"Baik pak" jawab Karin seadanya.
"Ya baiklah orang targetnya makan umpan, rencananya dekati Aldi sukses, dasar ganjen" ucap Neli yang sejak tadi sinis pada Karin.
"Dasar mercon" ucap Karin balik saat melewati Neli yang semakin kesal karena di ejek balik oleh Karin.
"Cukup Neli, kalau kamu tidak bisa menjaga ucapanmu bapak akan beri kamu nilai merah" ucap guru olahraga itu.
"Maaf pak, tapi dia duluan"
"Diam atau saya keluarkan dan saya kasih nilai merah sekarang" ancam guru itu lagi yang merasa terganggu dengan keributan Neli.
Neli diam tanpa kata tapi dalam hatinya merasa sangat kesal pada Karin yang bahkan mendapat pembelaan dari guru olahraga genteng mereka.
Setelah guru memberi beberapa arahan pada para siswa, kelompok bermain bolapun di bentuk. Para perempuan bermain bola voli tanpa kelompok karena mereka hanya membentuk lingkaran dengan dua bola untuk di mainkan.
Sedangkan laki-laki bermain basket di luar lapangan mini dalam ruangan itu.
Permainan di mulai, semua murid mendapat giliran memukul bola. Tapi tidak satupun dari pada perempuan itu yang mau membagi lemparan bola pada Karin.
Sejak tadi Karin hanya berdiri diam saja tanpa memukul bola sekalipun. Guru yang mengawasi mereka terus menilai permainan siswanya.
"Hey kalian! beri Karina bola juga" ucap guru itu yang sejak tadi tidak melihat Karin mendapat bola.
Neli tersenyum smirk dan memberi kode pada yang lain untuk menyerang Karin melalui bola itu. Dan jadilah Karin terus di beri bola dengan pukulan keras berulang kali oleh teman-teman perempuannya.
Yang paling keras dan intens tentu saja dari Neli, kalau yang lain masih berbagi. Sedangkan Neli hanya mengincar Karin saja sembari mencari peluang saat guru lengah maka Neli alan menghajar Karin dengan bola.
Tapi harapan itu agaknya kurang mujur karena Karin selalu bisa membalikkan bola yang di lemparkan padanya. Bahkan pukulan keras dari Neli pun mudah di balikkan Karin tanpa kesakitan dan kesulitan.
Satu pukulan paling keras di berikan Neli pada Karin yang juga menerima bola dari yang lain, senyum Neli muncul walau kecil karena ia menganggap bahwa sasarannya pasti kena.
Bamun Karin yang menyadari bola meluncur keras ke arahnya langsung meninju bola yang lebih dulu datang dari Neli itu baru memukul bola dari yang lain. Yang seharusnya di pukul dengan lengan Karin pukul dengan tinju yang sukses mengenai perut Neli cukup keras.
"Akh aw sakit" teriaknya sekeras mungkin untuk menarik perhatian yang lain.
Sontak saja semua teman mereka berkumpul melihat Neli yang berguling di lantai memegangi perutnya.
"Kenapa Neli?" tanya guru yang audah mendekat.
"Karina mukul bolanya terlalu keras pak, dia sengaja mau celakain aku" tuduh Neli dengan air mata yang menetes.
"Seharunya kamu pukul kembali bolanya kalau mengarah ke kamu, bukan di biarkan karena dalam permainan apapun bisa saja terjadi di sengaja atau tidaknya kita tidak tahu, yang perlu kita lakukan hanya fokus saat bermain bola" ucap guru itu tidak mau menyalahkan siapapun, hanya memperingatkan Neli untuk lebih fokus dan berhati-hati.
"Tolong bawa Neli ke UKS" beberapa siswi mendekati Neli dan memapahnya keluar ruangan.
Permainan terus berlanjut meski Neli kesakitan, jangan sampai satu siswa yang kesakitan membuat yang lainnya kehilangan nilai pikir si guru.