First Kiss

First Kiss
Ulet keket



"Buat apa sih dek beli itu? kamu gak butuh jugakan" ucap Kara yang berada di belakang Karin sedang melihat adiknya itu memilih baju kaos.


"Berisik banget sih bang kaya ibu-ibu komplek aja" ucap Karin santai masih memilih baju kaosnya yang di sukainya.


"Bukan berisik dek, abang cuma ingetin aja loh, kalo di beli gak di pakek kan sayang bajunya"


"Kepakek kok tenang aja"


Huh awas aja kalo gak ya"


Karin tidak lagi menggubris apa yang di katakan abangnya itu dan masih asik memilih baju-bajunya. Bahkan bukan cuma satu baju yang di ambil Karin, ada tiga baju kaos dan dua kemeja sertaa tiga celana yang seperti celana gunung dan dua celana trainingnya.


"Udah?" tanya Kara saat Karin mendekatinya.


"Astaga dek! banyak banget itu, kamu borong semua baju di sini?" kaget Kara kala melihat yang di pegang Karin.


"Oh jadi Karin harus borong semua ya, ok" gadis remaja itu berbalik hendak kembali memilih baju tapi di tahan oleh Kara.


"Eh siapa yang suruh borong? orang abang cuma nanyak kok" cegah Kara menahan lengan Karin.


"Oh cuma nanyak, kirain abang mau Karin borong semua yang ada di toko ini" cengir Karin polos.


"Udah itu ajakan?" tanya Kara berharap.


"Udah" senyum Kara terbit karena sepertinya ia tidak akan mengeluarkan uang terlalu banyak, tapi itu tidak lama karena..


"Tapi makan sama jajannya belum, main di time zone nya juga belum" ucap Karin melunturkan senyuman Kara.


"Kamu kan udah gede, masa masih mau main di time zone sih"


"Terserah Karin lah, orang Karin yang mau main kok, tapi abang jangan coba-coba kabur" Karin melangkah menuju kasir di ikuti Kara yang hanya pasrah saja.


Sepertinya ia selalu mendapat masalah kalau menjahili adiknya itu, bagaimana tidak, jika Karin marah besar akibat ulahnya yang jahil maka Karin tidak segan-segan akan menyiksanya seperti menarik rambutnya, atau memukulinya dengan bantal.


Walau Kara sangat menikmati momen seperti itu dengan adiknya, tapi akhirnya ia harus menguras isi dompetnya demi mendapatkan pengampunan dari adiknya yang tidak pernah main-main dengan pukulannya.


Tapi Kara tidak pernah merasa kalau apa yang di lakukannya itu salah, karena dengan menjahili Karin mereka jadi bisa banyak bermain bersama jika waktu luang. Bahkan Kara dan Karin akhirnya akan jalan-jalan begini meski banyaj uang Kara yang keluar karena permintaan Karin yang beraneka ragam.


Huh memang kalau anak kesayangan, apapun pasti di lakukan dmei kebahagiaannya. Tapi Karin yang di manja dan sayangi keluarganya tidak pernah bersikap manja dan seenaknya hingga ia bersikap dan akhirnya menunjukkan siapa orang tuanya dan seberapa hebat kekayaan orang tuanya.


Karin lebih suka menghadapi masalahnya sendiri kalau masih bisa di hadapinya, seperti ejekan dan perlakuan buruk teman-temannya. Atau sikap kasar mereka yang tidak pernah di perdulikan Karin dan baru akan di balas kalau sudah kelewat batas tanpa menyebutkan nama besar keluarganya.


"Mau makan apa dekk?" tanya Kara.


Karin berpikir sejenak sembari menatap beberapa tempat makan yang ada di mall itu, karena mereka yang masih berjalan menuju area makan itu jadi Kara bertanya lebih dulu pada Karin.


"Karin mau makan seafood bang"


"Ok, kita makan seafood" Kara mengelus kepala Karin pelan dengan tangan kanannya karena tangan kirinya membawa dua paper bag berisi belanjaan Karin di lantai dua tadi dan sekarnag mereka ada di lantai satu.


Kara sengaja menganjak Karin pergi ke mall tanpa bertanya pada adiknya yang sudah mengajaknya ke bazar untuk jalan-jalan mereka kali ini. Karin awalnya sempat protes pada Kara yang mengajaknya ke mall karena ingin ke bazar.


Tapi Kara mengancam akan pulang kalau adiknya itu tidak mau di ajak ke mall.


"Bang, Karin mau pesen banyak ya!" ucap Karin seraya memegang buku menu yang sudah di berikan pelayan.


"Tiga ya bang"


"Dua aja"


"Pokoknya tiga, mbak kalo nanti gak habis boleh di bungkuskan sisa makanannya?" Karin melihat pelayan yang berdiri di dekat meja mereka.


"Boleh dek, nanti di bungkus kalau ada masih ada gak kemakan" sahut pelayan itu membuat Karin tersenyum senang.


Sedangkan Kara hanya geleng kepala saja dengan keberanian adiknya menanyakan hal itu. Padahal biasanya para perempuan muda jarang ada yang mau melakukan itu, bahkan mereka lebih suka memilih makanan sesuai porsi dan langsung di habiskan dengan gaya malu-malu kalau makan di luar.


"Kalo gitu aku mau, cumi asem pedas, sotong bakar, sama sup ikan guramenya ya mbak, trus minumannya jus wortel sama air biasa aja satu" ucap Karin yang langsung di tulis oleh pelayan itu.


"Ah nasinya jangan lupa ya mbak, laper soalnya" cengir Karin membuat pelayan itu tersenyum juga.


Kara hanya geleng kepala saja mendengar ucapan Karin itu lalu memesan miliknya sendiri.


"Saya gurame asam pedas aja mbak sama jus apel, tapi nasinya juga jangan lupa ya, laper soalnya" kekeh Kara saat melihat Karin menatap kesal padanya akibat ucapan Karin yang di ulangnya.


"Mohon tunggu sebentar ya mas dek" ucap pelayan itu tersenyum manis pada kedua pelanggannya yang lucu itu.


Setelah pelayan itu pergi, Karin langsung mengajukan protes pada abangnya.


"Abang apaan sih ikutan Karin ngomongnya!" ucap Karin.


"Gak apa-apa sih, cuma lucu aja kamunya dek, tanpa kamu mintapun mereka pasti bakalan kasih nasi" kekeh Kara.


"Ck, Karin kan cuma ngingetin aja siapa tahukan mereka gak kasih nasi kalo gak di pesen" ucap Karin sedikit cemberut.


"Kalo mereka gak kasih nasi kita ambil sendiri di dapur mereka dek"


"Memangnya bole bang?" polos Karin membuat Kara semakin terkekeh.


"Ya gak lah dek, tapi kalo mendesak bolehlah" ucap Kara sembari menatap wajah adiknya yang masih menampakkan tampang polosnya.


Tidak tahan lagi melihat kepolosan Karin, Kara tertawa puas walau masih di tahan karena ingat tempat.


"Apa yang lucu?" tanya Karin masih dengan wajah polosnya.


"Gak ada dek, nanti jadikan mainnya?" alih Kara supaya adiknya tidak marah kalau tahu ia menertawakannya.


"Jadi, abang temenin tapi ya! ajarin Karin mainnya juga nanti, Karin kan belum terlalu paham sama permainan yang ada di sini"


"Iya nanti abang temenin sampe adek puas mainnya baru kita pulang" Kara mengelus kepala Karin sayang dengan senyuman manisnya.


Sampai seseorang berseru membuat Karin dan Kara kaget akibat suara cemprengnya yang keras.


"Kara my honey my sweety my suami, OMG" heboh orang itu mendekati meja Kara dan Karin lalu duduk begitu saja di samping Kara yang berhadapan dengan Karin.


Dari mana datengnya nih ulet keket, ganggu aja gumam Kara dalam hati dengan perasaan kesal karena kedatangan perempuan itu yang langsung nyosor duduk di samping Kara tanpa permisi.


Dan apa ucapannya tadi, oh astaga memalukan sekali, sudah datang tidak di undang teriak-teriak lagi kesal Kara.


"Sayang siapa dia?"