First Kiss

First Kiss
Karma langsung



"Huh capek" gumam seorang pemuda yang baru saja duduk di kursinya yang ada di ruang kerjanya.


Selesai menghadiri meting tadi bersama sang papa dan yang lainnya di kantor untuk evaluasi bulanan yang memakan waktu cukup lama. Kara teringat akan adik perempuannya yang sangat di rindukannya.


Kara mengambil ponselnya lalu melakukan panggilan pada Karin, beberapa kali melakukan panggilan tak juga ada jawaban dari seberang. Kara menegakkan duduknya dengan kening mengkerut antara heran dan cemas.


Perasaan takut dan traumanya akan kecelakaan yang pernah mereka alami membuatnya selalu merasa takut kalau adiknya itu tidak bisa di hubungi. Apa lagi Kara tahu kalau hari ini juga Karin pulang dari puncak.


"Halo ma" ucapnya mengalihkan panggilan pada sang mama.


"Kenapa nak?" tanya Tati dari seberang dengan heran karena mendengar suara Kara yang terdengar khawatir.


"Karin udah pulang belum ma? kok Kara telpon gak di angkat-angkat"


"Udah kamu tenang aja, adek udah nyampe sekitar satu jam yang lalu mungkin lagi tidur makanya gak angkat telpon kamu" ucap Tati menenangkan anak laki-lakinya.


Kara menghela napas lega mendengar ucapan mamanya.


"Makan siang di luar yuk ma, bareng-bareng sama papa juga nanti Kara jemput deh"


"Kalo kalian yang pulang aja gimana! soalnya kasian adek yang baru pulang masih kecapean kayaknya dia"


"Ehm ok deh, Kara mau bilang dulu sama papa nanti kami pulang sama-sama"


"Ya jelas sama-sama kaliankan emang satu mobil tadi perginya"


Kara tertawa mendengar ucapan mamanya. Setelah menutup teleponnya Kara langsung berjalan keluar ruangannya dengan semangat. Saking semangatnya Kara yang sudah tidak sabar ingin bertemu dengan adiknya.


Pintu ruangan papanya du buka dengan cepat dan dengan cepat pula Kara masuk tanpa menyadari tubuh pria di depannya. Akhinya keduanya bertubrukan cukup keras hingga mundur beberapa langkah.


"Apa-apaan sih Kar? kalo mau masuk itu ketok dulu dong" gerutu Banu mengelus dadanya akibat kaget karena di tubruk oleh Kara begitu sajja.


"Maaf pa" cengir Kara mengusap lehernya merasa bersalah.


"Papa gak kenapa-kenapa kan? gak ada yang lecetkan?" tanya Kara mebdekati Banu lalu memutari tubuh pria itu sembari mengecek ke adaan sang papa.


"Kamu ngapain sih!" heran Banu.


"Ngecek pa, siapa tahu ada lecet di bada papa, ntar mama marah lagi kalo papa sampe lecet" ucap Kara kembali nyengir.


Banu geleng kepala mendengar ucapan anak sulungnya itu.


"Ada-ada aja kamu, gini-gini juga papa masih strong kali, tubrukan kamu tadi belum ada apa-apanya sama papa" ucap Banu bangga.


"Gak ada apa-apanya tadi mundur sampe jauh gitu dari pintu" ejek Kara tersenyum.


"Ya maklum lah namanya udah tua" kata Banu santai lalu berjalan keluar ruangannya.


Kara tertawa pelan mengikuti papanya keluar ruangan.


"Pa Karin udah pulang, kita makan siang di rumah yuk pa!" ajak Kara menghentikan langkah Banu yang melihat kearahnya.


"Telat kamu ngomongin papa, Karin udah nelpon papa tadi minta papa pulang katanya dia kangen sama papa" kata Banu kembali melangkah.


"Karin nelpon papa! kok Kara gak sih! malah tadi Kara yang nelpon gak di angkat" gerutu Kara.


"Itu mah derita kamu"


Banu tersenyum penuh kemenangan melihat wajah lesu anak sulungnya. Mereka memang selalu begitu jika menyangkut dengan orang tersayang, selalu ingin melakukan yang terbaik dan tidak ingin tertinggal kabar apapun dari orang tersayang.


Perempuan itu tampak duduk di kursi belakang di mobil yang kacanya terbuka setengah. Saat lampu merah Kara dapat melihatnya dengan jelas karena mobil yang di naiki perempuan itu sedikit di depannya.


Ada perasaan marah dan kesal di hati Kara mengingat bagaimana waktu itu sebelum kecelakaan. Beby yang mendekati mobilnya lalu mengganggu dengan teriakannya, belum lagi posisi mobil yang sangat dekat.


Beby sempat di tahan oleh pihak berwajib saat itu karena ia di duga menjadi penyebab kecelakaan yang menimpa Kara sebelum di tabrak mobil lain.


Tapi tidak lama karena Beby hanya di penjara beberapa bulan setelah pengacaranya bisa membuktikan ke tidak bersalahannya dan ketidak terlibatannya dalam kecelakaan itu. Beby menjelaskan kalau saat itu ia hanya ingin menyapa Kara yang tidak pernah meresponnya sama sekali walau di dekati.


Beby juga mengatakan kalau ia memang melihat truk yang melaju masuk ke jallur berbeda itu menabrak sesuatu. Tapi tidak terpikirkan oleh Beby kalau mobil Kara yang menjadi korbannya.


Beby mengatakan dia langsung pergi saat truk itu menabrak sesuatu karena ia takut truknya meledak. Akhirnya Beby hanya harus membayar denda akibat menyalahi aturan lalu lintas dengan mengganggu pengendara lainnya.


Apa lagi sampai terjadi kecelakaan walau bukan maksudnya ingin mencelakai. Namun perempuan itu tetap harus menerima konsekuensinya.


Kara menghela napasnya kasar lalu melihat jalanan di depannya. Dalam hati Kara juga merutuki dirinya sendiri yang kala itu juga sangat teledor karena tidak mengabaikan saja teriakan dari perempuan itu. Dengan menutup kaca mobilnya.


Hah di selali juga sudah lewat pikirnya.


Tiba di rumah Kara hanya melihat mamanya yang menyambut mereka. Banu dan Kara kompak menanyai keberadaan Karin.


"Mana adek ma?" tanya keduanya.


Tati menatap kedua pria di depannya dengan kaget akan kekompakannya.


"Ada di dapur, katanya haus" ucap Tati.


"Ya udah kita langsung ke sana aja" kata Banu mengajak keluarganya untuk langsung menuju meja makan.


Memasuki area dapur yang gabung dengan ruang makan, mereka dapat melihat seorang perempuan yang sedang sibuk di depan kulkas tanpa menyadari kehadiran orang lain di sana.


Kara langsung mendekati perempuan itu dengan perlahan hendak mengagetkan, tapi yang terjadi malah.


DOR


BYUR


Kara yang ngagetin Karin harus menerima apesnya karena ia yang tersiram susu kemasan yang sedang di pegang Karin tapi sudah di buka. Karin yang kaget tanpa sadar memegang erat kemasan susu di tangannya dan mengarahkannya pada Kara.


HAHAHAHA


Suara tawa pecah di ruangan itu melihat bagaimana ekspresi wajah Kara yang di aliri susu berwarna pink dengan aroma strowbery itu.


"Rasain, siapa suruh ngagetin kenakan akhirnya" ucap Karin masih tertawa lalu meninggalkan Kara menuju meja makan.


"Bukannya dapet pelukan malah di siram, mana pakek susu strowbery lagi" gerutu Kara lalu berjalan mengambil tisue di meja untuk membersihkan wajahnya yang basah.


"Itu namanya karma langsung" sahut Karin.


Kara hanya mendengus sebal masih dengan tangan yang membersihkan wajahnya.


"Sudah sana ke kamar bersihin diri kamu sekalian ganti baju" ucap Banu yang sudah bisa menghentika tawanya.


"Nasib ya nasib" gumam Kara pelan sembari berjalan menuju kamarnya.


Yang lainnya kembali menertawakan Kara saat mendengar gumaman pemuda itu.