First Kiss

First Kiss
Sadar



Setelah tiga hari berlalu Kara sudah pulih dan bisa pulang, dengan sangat senang Kara berlari keluar begitu dapat ijin pulang. Bahkan dokter yang memeriksanya belum selesai bicara tapi pemuda itu langsung pergi.


Kakek dan nenek yang menemani Karin sampai kaget saat mendengar suara pintu di buka dengan kerasnya dari luar.


"O walah le le, ngagetin aja" ucap nenek menggunakan logat jawa sembari mengusap dadanya.


"Maaf nek" ucap Kara lalu mendekati Karin yang belum sadarkan diri.


Kara sangat kaget sewaktu masuk dan mendapati tubuh adiknya penuh alat medis juga monitor yang terus menunjukkan grafik bergerak tanpa henti.


"Karin, kamu kenapa dek?" tanya Kara mendekati Karin lalu melihat semua alat yang di pasang pada tubuh adiknya.


"Dek bangun dek, ini abang maafin abang yang gak bisa jagain kamu, bangun dek" ucap Kara mengguncangkan tubuh adiknya.


Rasa takut dan bayangan tentang kecelakaan itu melintas di benaknya hingga membuatnya banyak berspekulasi yang tidak-tidak.


"Dek bangun dek, buka mata kamu" paksa Kara masih mengguncang tubuh Karin berharap adiknya membuka mata.


"Apa yang kamu lakukan Kara?" kakek menarik tubuh Kara agar tidak mengguncangkan tubuh Karin yang belum sadar.


"Jangan lakukan itu nak, kasihan adikmu" ucap nenek pula.


"Kek bangunkan Karin kek, nek bangunkan adikku nek" ucap Kara menatap kakek neneknya bergantian.


"Sabar Kara, biarkan adikmu istirahat dulu dia masih capek" ucap kakek yang di balas gelengan oleh Kara.


"Gak kek, Karin gak boleh tidur dia harus bangun kek" pandangan Kara beralih pada Karin lagi.


"Dek bangun dekk, bangun" ucap Kara masih berusaha membangunkan Karin.


Banu dan Tati yang sudah selesai dengan urusan mereka dengan dokter yang menangami Kara. Betapa kagetnya mereka saat mendapati Kara menangis karena adiknya yang masih belum sadar.


"Kara, jangan nak biarkan adikmu istirahat dulu" ucap Banu menahan tubuh Kara yang kembali mengguncang tubuh Karin.


"Pa Karin pa, Karin gak mau bangun dia masih marah sama Kara pa karena gak nolongin Karin waktu itu" adu Kara Banu yang memeluknya.


"Tenanglah Kara, adekmu itu masih capek makanya belum bangun nanti kalo diaa udah enakan pasti bangun kok, sabar ya kita tunggu adik bangun" ucap Banu.


Kara diam dengan air mata yang masih menetes, tentu ia tahu apa yang terjadi pada adiknya kini. Adiknya itu sedang koma bukan tidur tapi ia tetap mencoba membangunkan siapa tahu adiknya bisa bangun.


Kini Tati memeluk tubuh lemah Kara yang masih kaget melihat keadaan Karin. Apa lagi pemuda itu sendiri baru pulih dan masih harus banyak istirahat.


"Kamu istirahat dulu ya sayang, kamu juga belum pulih sepenuhnya, jangan sampe nanti adek bangun trus lihat kamu sedih, kita harus kuat untuk adek ya" ucap Tati menepuk pelan pundak Kara.


"Ini salah abang ma, seharusnya abang lebih jaga adek lagi, abang salah ma" lirih Kara di sela matanya yang mulai berat akibat kantuk hingga akhirnya ia tertidur di pelukan mamanya.


Kakek dan nenek yang mendengar Kara terus menyalahkan diri sendiri sejak mereka datang menemuinya waktu itu jadi ikut sedih. Tapi mereka semua mencoba untuk tetap kuat dan menghiburnya supaya Kara tidak semakin drop.


"Gimana ini pa? kalo sampe Karin gak sadar juga Kara pasti terus nyalahin diri sendiri" ucap Tati yang mengkhawatirkan anak sulungnya ini.


Belum lagi si bungsu yang tak kunjung bangun walaupun dokter mengatakan perkembangan kesehatan Karin sangat bangus. Tapi sampai saat ini pun anaknya itu tidak kunjung sadar juga.


Sore hari tiba, tinggal Tati di sana yang masih menjaga Karin. Kakek dan nenek pulang kerumah Banu bersama Kara, tadinya Kara menolak tapi karena nenek yang membujuknya akhirnya pemuda itu ikut pulang.


Banu sendiri tadi pamit keluar untuk mencari minuman dan makanan ringan. Tati memegang ponselnya, sejak kejadian tiga hari lalu ia memang tidak memegang ponsel sama sekali karena terlalu mengkhawatirkan anaknya.


Kini hatinya sudah sedikit lega karena Kara sudah baik-baik saja tinggal pemulihan. Hanya Karin yang masih mereka tunggu kesadarannya.


Tati melihat banyak pesan chat dari teman-temannya terutama Desi yang sudah sangat berisik menayakan kabar dan keberadaannya.


Tati mengirim pesan pada Desi dan menjelaskan apa yang terjadi sampai ia sama sekali tidak ada kabar dan tidak bergabung dengan yang lainnya.


Sedang asik bermain ponsel mata Tati tidak sengaja melihat layar monitor yang bergerak tak beraturan. Dengan panik Tati bangkit mendekati anaknya hingga membanting ponselnya pada sofa begitu saja.


"Karin" ucap Tati.


Di lihatnya mata Karin perlahan bergerak dan terbuka. Tati sangat melihat hal itu hingga ia tersenyum bahagia.


"Sayang kamu bangun" ucapnya memegang tangan Karin.


"Ibu siapa?" tanya Karin lirih dan pelan karena ia yang memakai alat bantu napas.


"Sayang, ini mama nak" air mata Tati menetes.


"Ma..ma" lirih Karin menatap lurus langit-langit kamarnya.


"Iya mama, ini mama sayang" ulang Tati.


Karin hanya diam saja lalu memejamkan matanya membuat Tati langsung menekan tombol panggil untuk memanggil dokter.


Tidak berapa lama dokter masuk bersama beberapa suster dan Banu yang terlihat panik juga khawatir.


"Ma ada apa?" tanyanya.


"Maaf pak buk silangkah tunggu di luar dulu kami akan memeriksa anak ibu bapak" ucap suster.


Banu dan Tati keluar membiarkan dokter memeriksa Karin. Tati masih menangis di pelukan suaminya.


"Kenapa ma?" tanya Banu.


"Karin udah sadar pa" lirihnya menangis.


"Benarkah! lalu kenapa mama nangis?"


"Karin amnesia beneran pa, dia gak inget mama"


Banu menghela napas dan memejamkan matanya, hatinya juga sakit mengetahui kalau anaknya sungguh amnesia seperti ucapan dokter. Tapi ia bisa apa kalau itu semua sudah terjadi.


"Tenang ma, dokter jugakan udah pernah bilang kalo Karin bakalan amnesia kalo sadar nanti" ucap Banu mengingatkan.


"Tapi mama tetap sedih pa, mama gak sanggup rasanya pa ngelihat anak kita amnesia"


"Iya sabar ma, kita harus kuat untuk kesembuhan anak-anak" Tati mengangguk.


Dokter keluar dan menemui Banu juga Tati yang sudah menanti.


"Gimana dok?" tanya Tati.


"Anak bapak ibu sudah sadar dan semuanya baik, hanya saja amnesia yang saya katakan tidak bisa kita hindari, sekarang tinggal bagaimana ibu bapak membantunya untuk mengingat kembali dan melakukan terapi untuk kaki kirinya"


"Iya dokter terimakasih banyak" ucap Banu.


Dokter pergi, Banu dan Tati masuk ke ruangan di mana Karin hanya menatap kearah keluar jendela. Pandangannya kosong dan tidak menyadari kalau ada yang masuk.


Banu dan Tati mendekat pada Karin hingga membuat Karin kaget.


"Maaf papa sama mama ngagetin ya" ucap Banu lembut menatap Karin yang bingung.


"Papa mama" ucap Karin lalu terlihat berpikir.


"Iya ini papa ini mama" Banu menunjuk dirinya dan Tati bergantian.


"Kalian papa mamaku? lalu siapa aku?"


"Kamu anak kami, anak perempuan kami satu-satunya, anak Banu Aji Arnanda dan Tati Widiastuti, abang kamu namanya Kara Aji Arnanda, sedangkan kamu sendiri Karina Aji Arnanda" jelas Banu memberitahukan nama keluarga mereka dulu.


"Namaku.."


"Nama kamu Karina" tuntun Tati karena Karin masih sulit mengingat.


"Karina"


"Iya Karina, Karina Aji Arnanda" eja Tati pelan-pelan.


"Karina Aji Arnanda" ucap Karin pelan-pelan pula.


Banu dan Tati tersenyum lega melihat Karin sadar. Kini mereka akan kembali mengulang masa perkenalan Karin lagi dari awal.


Tati dan Banu tidak akaan memaksa Karin mengingat masa lalu, biarlah semuanya mengalir apa adanya. Hanya waktu yang bisa menjawab kapan Karin akan pulih.