First Kiss

First Kiss
Karin manja



Bugh


Bugh


Bugh


Karin yang sudah merasa lebih baik dan sudah sadar dari tidurnya sepenuhnya langsung melayangkan pukulan pada Kara di samping kirinya menggunakan bantal.


Karin yakin kalau Kara lah yang sudah mengganggunya dan membuatnya kaget.


"Rasain rasain rasain" ucap Karin terus memukul Kara yang mencoba menghindar.


"Ampun dek ampun, pa tolong" Kara bersembunyi di balik tubuh Banu.


Tapi Karin dengan cepat menarik rambut Kara lebih dulu dari pemuda itu yang akan bersembunyi.


"Argh sakit dek ampun" jerit Kara sembari memegangi tangan Karin yang menarik rambutnya.


"Siapa suruh gangguin Karin hah!" geram Karin masih menarik rambut abangnya.


"Gak lagi dek janji deh"


"Gak ada janji janji"


"Maaf adek cantik" rayu Kara masih berusaha melepaskan tangan Karin dari rambutnya.


"Gak mempan rayuan busukmu kisanak"


Tati dan Banu hanya menghela napas panjang melihat apa yang di lakukan kedua anak mereka itu. Tadinya mereka yang sedang berjalan menuju meja makan sangat kaget mendengar teriakan Karin dari kamarnya.


Mereka takut terjadi sesuatu pada Karin, tapi ternyata yang terjadi malah membuat mereka gelemg kepala. Karena penyebab Karin berteriak adalah ulah Kara yang mengganggu tidurnya.


Bukan sekali dua kali hal itu terjadi, tapi sudah berulang kali, jadi Tati dan Banu hanya melihat saja apa yang di lakukan kedua anak mereka itu tanpa berniat memisahkan walau Kara babak belur akibat perbuatan bringas Karin yang memukulinya meski dengan bantal.


Karin baru melepaskan jambakannya pada Kara setelah pemuda itu menjanjikan jalan-jalan lagi pada Karin malam ini dan berjanji akan mentraktir Karin sampai puas.


"Haduh sakitnya, untung gak lepas kulit kepalaku" Kara mengusap-usap kepalanya yang panas dan sakit karena jambakan Karin tidak main-main.


"Makanya bang, jangan suka jahil sama adeknya" peringatan dari Tati untuk yang kesekian kalinya pada sang putra.


"Kamu jangan suka ganggu adek tidur bang, tahu adeknya kalo tidur trus kaget pasti njerit, masih aja suka ganggu" kesal Banu melotot pada Kara yang seakan tidak ada kapoknya dengan ulahnya yang akhirnya hanya akan membuatnya kesakitan seperti sekarang.


"Repleks pa, soalnya kalo gak gangguin Karin itu ibarat upil di hidung yang di bersihin, rasanya gatel-gatel risih" ucap Kara masih mengelus kepalanya sembari menatap orang tuanya.


"Abang tuh upil" kesal Karin yang di peluk Tati dan elus punggungnya.


"Bisa aja i.."


"Udah bang jangan ganggu adek lagi, mandi sana trus makan kalo belum makan" ucap Tati yang tidak ingin mendengar keributan kedua anaknya lagi.


"Adek juga belum makan siangkan" ucap Tati melihat Karin yang kembali memejamkan matanya.


"Adek belum makan? kok bisa sih dek! kan udah sering papa ingetin dek jangan sampe telat makan" ucap Banu menatap Karin yang masih tampak nyaman di pelukan Tati.


"Makan sana dek, mandi dulu tapi malu sama ilernya tuh banyak" ejek Kara kemudian berlari pergi meninggalkan kamar Karin sebelum mendapat timpukan lagi.


"Awas aja ya bang" ucap Karin keras melotot pada abangnya yang sudah keluar.


Karin kembali memejamkan matanya dan bersandar pada sang mama yang kembali mendekapnya dengan elusan lembutnya.


"Makan siang dulu Karin" ucap Banu.


"Ntar pa Karin lagi mager" ucapnya manja memeluk sang mama.


Tati dan Banu tersenyum melihat Karin yang manja. Putri kecil mereka yang sejak datang ke desa sang nenek lebih memilih tinggal di sana dari pada kembali kekota bersama mereka.


Sekarang putri kecil mereka sudah menjelma menjadi gadis remaja yang sangat cantik, dan juga pintar. Belum lagi sikap cueknya jika di luar membuat mereka tidak habis pikir dengan putri mereka ini, sudah banyak waktu yang tertinggal untuk melihat perkembangan Karin sejak kecil.


Kini Banu dan Tati ingin menjaga dan melihat perkembanhan Karin dan menyaksikan langsung gadis kecil mereka itu tumbuh dewasa sampai akhirnya menikah nantinya.


Tapi belum sempat tangan Banu meraih benda itu, Tati sudah berseru hingga menghentikan tangannya yang akan meraih bingkai itu.


"Makan dulu yuk nak, nanti kamu sakit loh" kata Tati masih dengan tangannya yang membelai lembut rambut Karin.


"Ntar ma" sahut Karin seadanya.


"Nanti kamu sakit loh, perut kamu juga udah bunyi-bunyi tuh minta di isi"


"Bentar lagi"


"Makan sekarang Karina" ucap Banu tegas agar Karin mau turun untuk makan.


"Mager pa" rengeknya.


Tanpa bicara lagi Banu langsung mendekati Tati di sisi kiri tempat tidur dan langsung meraih tubuh Karin dari istrinya. Banu mengangkat Karin di kedua lengannya dengan mudah dan membawa putri mereka itu keluar kamar.


"Mau kemana pa?" tanya Karin tanpa membuka matanya dan malah menyandarkan kepalanya di pundak kokoh papanya.


"Turun, kamu harus makan siang"


Karin hanya mengangguk dan semakin memeluk papanya yang masih menggendongnya menuruni tanggan.


"Putri kecil papa ini udah tambah berat dan besar ya ternyata, dulu waktu papa gendong kayanya masih kecil dan ringan deh, tapi sekarang udah beda" ucap Banu mengingat masa kecil Karin.


"Gak kerasa ya pa kalau Karin sekarang udah gede, mama aja sampe ngerasa gak percaya kalo putri kecil mama udah gede bahkan mau kuliah bentar lagi" ucap Tati pula sembari tangannya yang mengelus rambut Karin.


"Gak lama lagi juga bakalan nikah putri kita ma, trus kita di tinggal lagi deh"


"Huh rasanya mama masih gak percaya Karin udah segede ini"


"Ya gimana lagi ma, waktu terus berjalan, kita gak bisa cegah pertumbuhan Karin, justru harus bersyukur karena putri cantik kita ini tumbuh sehat dan normal"


"Iya pa" kedua ornag tua itu tersenyum seraya berjalan menuju meja makan.


"Wah wah wah kenapa nih pake acara gendong-gendongan" seru Kara yang berjalan cepat menghampiri orang tuanya.


"Gak ada acara apa-apa, papa pengen aja gendong adek kamu" ucap Banu hendak menurunkan Karin di kursinya.


Tapi bukannya turun Karin malah tertidur di dekapan papanya itu.


"Loh kok malah tidur lagi sih dek?" heran Banu terkekeh.


"Gini nih anak manja, di suruh makan malah tidur" ucap Kara lalu mengambil satu potong ayam goreng.


"Mau ngapain bang? jangan buat adek marah lagi nanti rambut kamu lepas dari kepala baru tahu rasa" ucap Tati mengingatkan lagi.


"Gak ma, tenang aja" ucap Kara lalu mengarahkan ayam goreng itu ke hidung Karin.


Karin mulai bereaksi di gendongan Banu, hidungnya mulai mengendus dengan mata yang perlahan terbuka.


"Ayam goreng, laper ma mau ayam goreng" gumam Karin mengikuti arah ayam goreng itu.


Kara tertawa kencang melihat betapa lucunya snag adik yang mengikuti kemana arah ayam goreng itu di buatnya. Dengan mata yang setengah terbuka itu membuat Karin terlihat menggemaskan.


Mata Karin baru terbuka sepenuhnya setelah mendengar tawa Kara yang kencang itu, setelah sadar di kerjai abangnya baru Karin mengeram kesal dan merampas ayam goreng yang masih di depan wajah Karin itu lalu memakannya.


Banu menuru kan Karin dari gendongannya dan menarik kursi untuk anaknya. Saat Karin sudah dusuk baru Banu berjalan menuju kursinya sendiri.


"Kucingnya udah kepancingkan ma makanya langsung nyamber aja di suguhin ayam goreng" kekeh Kara.


Karin melirik abangnya lalu tersenyum tipis.


"Malam ini abang harus temeni Karin sampe puas main, trus beliin Karin banyak barang yang Karin mau, tanpa penolakan" tekan Karin yang kesal.


Kara melongo karenanya, alamat dompet kempes batinnya.