
Sesudah Fefe sampai kerumah ia segera memasukan montornya ke garasi dan cepat-cepat menutup pintu, Ia segera naik ke lantai atas menuju kamarnya karena ia sudah tidak tahan buang air kecil.
brukkk suara kunci yang dilemparnya ke atas alamarinya. "akhirnya gue bisa rebahan," sambil mengambil Hp yang berada di sampingnya untuk mengecek apakah ada pesan atau tidak.
Setelah ia membuka Hp Fefe terkejut karena ia mendapati Digo memujinya.
"Fe kamu cantik tadi pakai baju warna pink aku jadi suka liatin kamu terus wkwkwk"
"apaan sih lo, emang gue cantik kelez lo baru tau ya?," mengetik dengan salting gengzzz
"kamu udah sampai rumah Fe?"
"udah kok baru aja"
"yaudah istirahat dulu gih, selamat malam semoga mimpi indah"
"oke"
Fefe merasa aneh karena pasalnya Digo tidak pernah seperhatian ini ke Fefe sebelumnya. "ni anak nyadar ga sih gini in gue, ntar kalo gue berharap lagi sama dia, dia ngga mau tanggung jawab.", Memang perasaan Fefe mencintai Digo tapi ia masih belum melupakan bagaimana cara Digo memutuskan hubungannya begitu saja tanpa alasan dan tau apa penyebabnya.
" udah lah jangan berharap, siapa tau dia cuma becanda, ngga mungkin juga dia
***
Dirumah Lia seperti biasa, sendirian. Lia membuka whatsapp untuk mengucapkan trimakasih padanya, namun ada pesan dari nomer yang tidal dikenal.
" hay"
"maaf siapa ya?"
"aku Dimas temannya Digo"
"owh iya"
"save ya"
"okedeh".
" Gue kira siapa ternyata Dimas, gue pandang-pandang Dimas ganteng juga dibanding dengan Ruben,"pikir Lia.
Lia yang dari tadi hanya memainkan Hpnya ia sudah mulai ngantuk, segera ia mematikan lampu tidurnya dan berdoa berharap bisa mimpi indah bersama Ruben.
***
masak iya gue belum bisa nglupain Fefe, dipikir-pikir gue jahat juga sih ninggalin dia, tapi gimana lagi gue waktu itu juga bingung antara suka Fefe apa suka Nisa (teman SMK), gue bodoh sih ninggalin Fefe yang bener-bener tulus sama gue malah gue pilih Nisa yang cuma manfaatin gue sebagai ojek nya dia, kalo gue ngajak balikan si Fefe dia mau ngga ya apa dia udah punya doi baru?," pikir Digo. hufftt menghelai nafas panjang-panjang agar perasaanya tenang.
Fefe adalah teman SMP Digo, mereka berpacaran waktu mereka duduk dikelas ix. Banyak siswi yang menyukai Digo sehingga banyak yang tidak menyukai Fefe. mereka menjalankan hubungan berpacaran cukup lama.
"nama kamu siapa? dari kelas mana," Tanya Digo. "owh aku Fefe dari kelas 8c, kalo kamu?," tanya Fefe. "Aku Digo dari kelas 8e", jawab Digo.
Setelah berkenalan mereka menjadi dekat, bahkan dengan berjalanannya waktu mereka semakin jatuh hati.
Setelah tiga bulan mereka sudah semakin dekat banyak teman Digo menginginkan mereka untuk berpacaran, bagaimana tidak mereka membuat teman-teman baper dari tingkah mereka. Suatu ketika teman-teman Digo menjebak Digo dan Fefe dalam kelas sendirian, semua orang riuh di luar kelas, kini Digo canggung untuk menyatakan perasaanya kepada Fefe, Fefe hanya diam dan malu karena semua mata dari siswa yang dari lantai atas semua melihatnya dengan Digo, bahkan mereka sampai berteriak, " tembak, tembak, tembak," ucap mereka.
Kini Digo mulai menyatakan perasaanya kepada seseorang yang berada di depannya saat itu. seketika keadaan hening.
"Fe aku sayang sama kamu, mau ngga jadi pacarku, ucap Digo kepadanya. aku pun menjawab dengan menganggukan kepala. sontak mereka yang melihat kami sudah resmi jadian tertawa bahkan aku tidak menyadar bahwa disana ada Risky orang yang juga memiliki perasaan juga kepadaku, benar aku mencintai Digo tapi aku juga merasa bersalah kepada Risky sudah membuat perasaannya hancur, Vina yang malah keliatan sedih itu ia bertanya.
" mengapa kamu malah sedih Fe, harusnya kamu bahagia dong kamu udah pacaran sama orang yang kamu suka."
"aku ngga enak sama Risky ia sudah bilang akan menungguku, tapi aku malah jadian sama Digo," jawab Vina.
"hey kamu ngga perlu merasa bersalah, kamu ga salah, kan cinta tidak harus memiliki, kalo kamu ngga nerima Digo kamu malah salah udah ngorbanin perasaanmu selain itu kamu juga buat perasaan Digo hancur, udah jangan sedih sekarang temenin duduk Digo sana," ucap Vina menyakinkan. Segera Fefe duduk di sebelah Digo.
"makasih ya udah mau nerima aku jadi pacarmu?," ucap Digo. "iya sama-sama," jawab Fefe pelan. "kok loyo gitu sih, jangan bilang kamu kepaksa jadi pacarku," mencolek hidung Fefe pelan. "ihh apaan sih, aku ga kepaksa hm,"memasangkan wajah cemberut. "trimakasih," sambil memegang tangan Fefe erat-erat.
Mereka yang sejak tadi pegangan tangan banyak orang yang menggerutu melihat mereka
"udah jadian mojok terus, yaelah dari tadi pegangan tangan terus mau nyebrang?," ucap salah satu siswa yang sirik dalam hubungan kami, karena siswa itu yang bernama Sari menyukai Digo sejak kelas tujuh. "bodo amat," sahut Digo sinis.
Hubungan mereka berjalan cukup lama hingga pada akhirnya mereka lulus dan sekolah mereka berbeda, mereka memang saling ketakutan jika ada orang lain yang menggantikan posisi mereka, pada akhirmya mereka berjanji untuk selalu menjaga komitmen, Akan tetapi seseorang merenggut kebahagian Fefe. Seseorang itu bernama Nisa. Nisa adalah teman SMK yang satu jurusan dengan Digo, setiap kemana pun Digo pergi ia selalu bersama Nisa karena menurutnya teman terbaiknya hanyalah Nisa, begitu pun dengan Nisa ia merasakan begitu nyaman berada dekat Digo.
Suatu ketika Digo berfikir apakah ia benar-benar mencintai Fefe apa tidak?apakah ia malah mencintai Nisa aaaarrghhh teriak Digo pada dirinya.
"apa aku mutusin hubungan sama Fefe aja ya, lagian udah beda sekolah mungkin juga Fefe udah nyaman sama orang di sekolanya juga,"pikir Digo.
***
"aduh kangen Digo nih, tumben dia ngga main kerumah hubungin aku aja ngga apa lagi dia juga ga ngasih kabar ke aku,"nada sebal dengan melihat foto dirinya bersama Digo.
Tiba-tiba bel rumah berbunyi, Fefe segera membuka pintu dan ia terkejut saat Digo yang datang.
" aku kangen banget sama kamu,"peluk erat. "aku minta maaf ngga ngabarin kamu,"jawab Digo. " ngga apa-apa aku tau kamu pasti juga sibuk ngurusin ekstrakurikuler mu,"semakin erat memeluk Digo. "aku dateng kesini cuma bilang aku pengen kita udahan," melepas pelukan Fefe. "kenapa?kamu pasti bohong,"rengek Fefe dengan mata yang sudah berkaca-kaca. "aku pengen sendiri aku minta maaf, trimakasih selama ini kamu udah menjalankan komitmen kita, aku tidak bisa ngelanjutin hubungan kita," melangkah mundur ngejauhin Fefe. "kamu ga punya hati, pergi sana," derrrrr menutup pintu dengan sangat keras.
Sesaat itu juga mereka ingin saling melupakan, mereka tidak ingin bertemu lagi. Fefe sudah sangat hancur, sedangkan Digo sudah bersama dengan Nisa. Setelah satu minggu Digo putus dengan Fefe, ia langsung menyatakan perasaannya kepada Nisa dan mereka pun resmi berpacaran.
Fefe merasa sangat sedih setelah kehilangan orang yang ia cintai. Karena menurutnya Digo adalah cinta sejatinya. Dan berharap mereka bisa saling menjaga komitmen.
Hari paskah pun tiba, kini Digo berfikir untuk mengajak Fefe beribadah bersama. Digo mencoba datang kerumah Fefe untuk minta maaf dan mengajak untuk beribadah. Saat itu juga Fefe mengiyakan ajakannya. Pasalnya setelah mereka putus Fefe belum bisa moveon. Banyak juga yang mendekati Fefe hanya saja Fefe menolak karena ia ingin bersama dengan Digo kembali.
Setelah paskah berakhir Digo memutuskan hubungannya dengan Nisa karena Digo lelah dengan sikap Nisa yang kekanak-kanakan.
Setiap ada persekutuan siswa Digo selalu mengajak Fefe sehingga setiap hari kamis mereka bertemu.
Saat itu juga Digo merasa sangat menyesal telah menghancurkan kepercayaan yang selama ini ia yakinkan kepada Fefe.