First Kiss

First Kiss
Usaha sia sia



Malam harinya di puncak cukup dingin suhunya. Karin yang malam itu hanya memakai kaos dengan celana pendek selutut jadi menggigil di buatnya, apa lagi gadis itu yang malah berdiri di luar melihat pemandangan.


Tiba-tiba sebuah selimut mampir membalut tubuhnya yang membuat Karin terkesiap kaget. Sontak saja ia menolehkan kepala ke belakang dan mendapati Aldi yang sudah mengambil tempat di belakangnya dan memeluk dengan hangatnya.


"Kenapa masih di sini hm?" tanya Aldi masih betah memeluk Karin.


"Lihat pemandangan aja" sahut Karin santai.


"Tapi udaranya dingin banget loh! masuk yuk!" ajak Aldi yang di angguki Karin.


Kini keduanya masuk ke dalam dan duduk di ruang tengah. Ruangan itu langsung menyala penghangat ruangannya yang membuat Karin merasa lebih baik lagi dari yang tadi.


"Besok jalan paginya kita belakangan aja ya, supaya kamu juga gak terlalu capek nanti" kata Aldi memecah keheningan di antara mereka karena Karin yang terlihat masih meresapi hangat di tubuhnya.


"Iyaa, nanti kita belakangan aja, aku juga mau dengerin cerita temen-temen aku lagi sekaligus lihat aksi ribut mereka" Karin terkekeh karena kalimat terakhirnya.


Bagaimana tidak terkekeh kala mengingat bagaimana teman-temannya itu yang bagai tom jerry tidak bis akur kalau bersama. Sedangkan tom dan jerry saja bisa akur walau kadang-kadanh. Tapi teman-teman Karin itu aneh dan lebih unik lagi.


Aldi terkekeh juga melihat Karin yang sepertu itu. Setelahnya Aldi mengajak Karin untuk istirahat karena malam yang semakin laut saja.


Ke esokan paginya mereka sudah berkumpul bersama di tempat yang lebih luar namun tetap dekat vila tempat menginapp mereka Guru memberikan beberapa pengarahan dan nadehat untuk mereka lalu lari pagipun di mulai.


Beberapa orang nampak bersama temannya masing-masing saling berkkelompok-kelompok. Begitu juga dengan teman-teman Karin yang langssung mendekati mereka yang memang berdiri di bagian paling belakang.


Aldi tidak ingin orang-orang melihat gadisnya yang cantik itu dan nantinya malah naksir pula batinnya.


"Kayanya film nya udah di mulai deh" seru Karin terkekeh pelan melihat pemandangan di depannya.


Aldi yang tidak paham langsung melihat Karin dengan kening yang berkerut.


"Maksud kamu apa?" tanya Aldi.


Karin menghena napasnya panjang, kenapa laki-laki di smapingnya itu tidak paham sih dengaan apa yang di katakannya.


"Kamu lambat banget sih mikirnya" kesalMica karena tidak kunjung mendapat tanggapi dari Aldi selalin tatapannya yang penuh tanya.


"Yang aku maksud itu mereka, tuh lihat udah ribut aja tuh dua mereka" guman Karin lagi pelan tapi masih di dengar Aldi yang tersenyum kala sudah memahami apa yang di maksud Aldi.


"Al kita jalan-jalan ke sana yuk" ajak Bagas saat mereka sudah dekat dengan Aldi dan Karin.


"Ya" sahut Aldi seadanya dengan wajah datarnya.


Bagas dan yang lainnya tidak memperdulikan wajah datar Aldi pada mereka yang penting mereka memiliki koleksi teman aneh satu lagi pikir bagas.


Kembali rombongan teman yang mulai dekat itu berjalan pagi sama-sama menuju tempat yang lain lagi. Tidak lupa pula Neli yang inginnya selalu bersama dengaan Aldi sudah mengintrupsi agar dia bisa ikut.


"Aku ikut ya Aldi" katanya dengan suara manja.


Devi yang tidak suka dengan suara manja Neli langdung saja menyahuti.


"Kalau mau ikut ya ikut aja asal gak buat keributan" ketus Devi yang balas tatapan kesal Neli.


"Heh! aku gak ngomong sama kamu ya, aku ngomong sama Aldi" ucap Neli pula.


"Masa bodoh sih, yang penting ada yang jawab ucapanmu dari pada enggak, toh juga Aldi nya diem aja tuh gak nanggapi" ejek Devi kemudian berlalu karena teman-temannya yang mulai melangkah pergi.


Neli cemberut lalu menghentakkan kakinya kesal karena selalu saja ada orang yang menjawab ucapannya kalau bicara dengan Aldi.


Aldi merangkul bahu Karin yang ada di sampingnya. Karena cuaca yang masih terbilang dingin itu lumayan buat kedinginan juga.


Karin hanya diam mendapat perlakuan manis itu dari Aldi. Ia sama sekali tidak keberatan dengan apa yang di lakukan Aldi karena memang ia juga sangat nyaman di dekap oleh laki-laki itu.


Walaupun Karin memakai pakaian tebal tapi masih terasa juga dinginnya. Dan dekapan hangat Aldi membuatnya semakin merasa hangat dan juga nyaman saja.


Karin merangkul pinggang Aldi sebagai balasan untuk rangkulan di bahunya. Jadinya posisi Aldi dan Karin saat ini berjalan sembari berangkulan saling berbagi kehangatan.


Aldi melihat Karin lalu tersenyum tipis dan memberi sedikit kecupan mesra di keningnya yang hanya di balas Karin dengan senyumannya yang manis hingga membuat Aldi kembali memberi kecupannya.


"Ih baper" ucap teman lainnya yang tidak terlalu jauh di belakang rombongan Aldi.


"Sweet banget sih"


"Mau juga"


"Andai itu aku"


Neli yang mendengar bisik-bisik itu karena ia berada di antara dua rombongan yang berjarak itu jadi geram dan juga iri. Ya Neli sangat iri dengan Karin yang selalu mendapatkan perhatian juga perlakuan manis dati Aldi.


"Aduh kaki aku capek benget nih! siapa ya yang bisa gendong aku" ucap Neli dengan suara keras berharap di dengar Aldi.


"Kakiku sakit banget loh jalan, gendong aku dong" ucap Neli dengan mata yang melihat Aldi terus.


Tidak mendapat respon apapun dari Aldi yang di harapkannya, justru ada seorang pria yang datang mendekat pada Neli.


"Ayo sama saya saja" ucap pria berkumis tebal itu dengan senyum manisnya.


Neli bergidik ngeri melihat kumis pria itu yang sangat tebal. Belum lagi kulitnya yang hitam semakin menambah kesan seram pada pria itu.


"Gak gak gak, pergi sana ngapain sih om ini ganggu aja" ketus Neli mengusir pria itu.


"Tadi teriak-teriak minta di gendong sekarang malah galak, dasar labil" ejek pria itu kemudian pergi.


Mendengar itu membuat Neli mendengus karena memang bukan pria itu yang di harapkannya akan menawarkan diri padanya.


"Malunya" ucap suara dari belakang Neli yang tidak lain adalah teman dari kelas lain yang memang ada di belakangnya.


"Harapan yang sia-sia"


"Kenapa di usir tuh si omnya Nel? tadikan kamu minta di gendong"


"Tuh ada yang mau malah di usir"


"Maunya tuh Aldi ngerti gak sih"


Tapi doi gak perduli karena sudah punya tambatan hati"


Suara tawa dari arah belakang menggema karena ejekan mereka pada Neli. Teman-teman yang di barisan depan menghentikan langkah mereka dan melihat apa yang di tertawakan yang lainnya, hanya sesaat kemudian kembali berjalan lagi.


Neli menghentak-hentakkan kakinya marah karena di ejek teman-temannya. Sedangkan Aldi sama sekali tidak perduli, laki-laki itu hanya terus mendekap Karin dan tidak mengijinkan gadis itu untuk melihat kebelakang.


Karin juga malas melepaskan pelukan hangat Aldi walaupun tadinya ia sangat ingin melihat juga. Tapi dekapan erat Aldi yang membuatnya tidak bisa berbalik arah akhirnya membuatnya diam dan justru menyandarkan kepalanya pada Aldi sembari terus berjalan.


Dengan sengaja Aldi mengecup kepala Karin lama sembari berjalan. Berharap agar Neli atau siapapun yang melihat itu bisa mengerti kalau dirinya milik Karin dan Karin miliknya.-