
"Nih bekalnya" ucap Tati memberi dua kotak bekal pada Karin yang masih sarapan.
"Masukin kedalam tas aja ma" sahut Karin di tengah kunyahannya.
"Banyak banget bekalnya dek? biasanya juga cuma satu" ucap Kara.
"Memang satukan" heran Karin.
"Itu mama bawain dua" ucap Kara sembari menunjuk bekal yang akan di masukkan Tati.
"Semalamkan adek mintanya dua bang, jadi mama bawain dua" sahut Tati santai.
"Memangnya Karin gak pernah makan di kantin nak?" tanya Banu.
"Gak pa, enakan masakan mama"
"Kamu juga belajar masak dek, kamu kan perempuan" ucap Kara.
"Karin bisa masak ya bang" protes Karin tidak terima.
"Oh iya! kalo gitu kamu buatin abang sesuatu dong sebagai buktinya"
"Nantilah kalo sempat"
"Bilang aja gak bisa"
"Bisa"
"Buktinya?"
"Lihat aja nanti"
"Males, mending ngerjain yang lain"
Saat Karin akan bicara lagi Banu sudah mengintrupsinya.
"Sudah cepat selesaikan sarapannya Karin, habis itu kita berangkat" ucap Banu.
Karin melanjutkan makannya dengan wajah kesal menatap sang abang yang tersenyum menang pada Karin. Satu kosong pikirnya.
Selesai makan Karin ikut papanya berjalan kearah depan menuju mobil yang sudah siap menunggu di depan pintu.
"Karin berangkat ma" Tati mengulurkan tangannya pada Karin untuk di cium anaknya, lalu mengambil tangan suaminya untuk ua cium pula.
"Papa berangkat juga ma"
"Iya, hati-hati ya pa, Karin juga belajar yang baik ya nak, sekolah kamukan tinggal beberapa bulan lagi"
"Iya ma" Karin masuk kedalam mobil di ikuti papanya di kursi belakang supir.
Mobil Banu melaju meninggalkan kediamannya, lalu tidak lama Kara juga muncul dan masuk kedalam mobilnya sendiri.
"Raka pergi juga ma"
"Iya selesai dari kampus langsung jemput adik ke sekolah ya, mama masih takut sama kejadian semalam"
"Iya ma, nanti Kara jemput Karin ke sekolah"
Kara langsung melajukan mobilnya menuju kampus untuk menyelesaikan urusannya sedikit lagi untuk wisuda.
Mobil Banu tidak berhenti di depan gerbang, melainkan masuk langsung kedalam dan berhenti di depan gerbang masuk ke gedung sekolah. Tepatnya di depan meja piket.
"Kok sampe sini sih pa? di depan sana aja tadi seharusnya" keluh Karin.
"Udah sana masuk, papa cuma gak mau anak cantik papa ini capek jalan dari gerbang sana ke sini, kan jauh dek" sahut Banu santai sembari tersenyum pada Karin.
"Karin sekolah dulu pa" salam Karin pada Banu yang di sambung hangat oleh pria paruh baya itu.
"Belajar yang rajin ya sayang, nanti kalo udah selesai ujian kita jalan-jalan lagi" ucap Banu memberi semangat.
"Tapi Karin maunya ke rumah nenek pa"
"Ya nanti kita kerumah nenek habis jalan-jalan"
Karin mengangguk lalu keluar dari mobil, Banu menurunkan kaca mobilnya dan melambai pada Karin sebelum mobil kembali melaju meninggalkan sekolah itu.
Kasak kusuk mulai terdengar dan gosip mulai menyebar di sana, mereka berspekulasi bahwa Karin pasti menggoda seorang pria tua demi bisa hidup mewah.
"Lihat tuh si Karin, selama ini dia selalu naik bus ke sekolah, tapi tadi dia turun dari mobil mewah"
"Iya, bahkan aku tadi sempat lihat orang yang ada di dalem, pria tua yang nganter dia"
"Gak nyangka ya, penampilan alim tapi kelakuan busuk"
"Simpanan om om dia"
"Rendahan banget sih, demi bisa sekolah disini dia sampe ngelakukan hal itu"
"Kok mau ya tuh om-om sama dia"
"Yang penting dapet enaknya"
"Cih simpanan om-om"
Gosip terus berhembus dan kebanyakan mereka mengatakan hal yang tidak baik pada Karin. Sampai mereka mengatakan Karin sudah tidak suci lagi karena memiliki sugar daddy tua.
Dan apa reaksi Karin mendengar semua ucapan mereka?, Karin tidak perduli dengan semua ucapan mereka. Baginya hal yang tidak benar tidak perlu di permasalahkan.
Dan Aldi justru semakin nempel pada Karin karena takut gadis remaja itu mengalami bully yang lebih sadis lagi. Tentunya Aldi tahu siapa yang di maksud oleh para murid di sana yang kata mereka sugar daddynya Karin itu.
Sebab saat sedang memarkirkan motornya Aldi melihat mobil mewah Banu lewat. Tentu Aldi mengenali mobil itu karena sama dengan milik ayahnya.
Kedua pria paruh baya itu memang membeli mobil dengan mereka yang sama dan warna yang sama. Bahkan plat mobilnya pun memiliki nomor yang unik karena perpaduan nama anak mereka.
Jika milik Banu platnya K 4 121 NA. Maka milik Dudi lain lagi yaitu A 1 DI. Dan Aldi pernah melihat plat mobil milik Banu itu saat mereka sering berkunjung kerumah Aldi dulu.
Saat Karin akan ke toiletpun Aldi mengikutinya dan menunggu di depan, hal itu pula yang membuat Karin kesal pada Aldi sampai marah-marah terus.
"Ngapain sih Di ngikutin terus? udah kaya buntut aja" gerutu Karin kesal untuk yang kesekian kalinya.
"Aku dari.." Aldi menunjuk toilet laki-laki yang ada di sebelahnya karena memang toilet laki-laki dan perempuan berdekatan.
Karin menghembuskan napasnya panjang mencoba bersabar walau sudah di batas ambang kemarahannya. Dengan cepat Karin melangkang meninggalkan toilet itu.
Aldi tetap mengikuti langkah Karin di belakang gadis remaja itu dan jarak mereka hanya dua langkah saja.
"Hey Aldi, ngapain kamu ngikutin si sugar baby itu? dia itu udah punya sugar daddy jadi jangan mau sama perempuan kayak gitu" ucap seorang siswa laki-laki yang kebetulan melihat Karin dan Aldi yang jalan bersamaan.
Terlebih Aldi yang terlihat mengikuti langkah Karin dari belakang.
Karin yang mendengar itu langsung melangkah semakin cepat mendekati para laki-laki yang semakin terlihat menghinanya.
"Wah dia marah, kamu harus hati-hati nanyi dia ngadu sama sugar daddynya" ucap teman yang menghina Karin tadi.
"Iya ya benar kamu, kok ada ya yang mau sama si cupu itu"
Karin mendekat dan dengan sengaja menendang tulang kering kaki kedua laki-laki yang mengejeknya.
DUK
DUK
"Akh..sakit dasar culun bodoh" maki mereka.
"Ups sorry kakiku suka nakal kalo ada mulut culas, untung aja mulut kalian di atas kalo di bawah pasti udah jadi sebesar balon karena kaki nakalku ini" ucap Karin datar dan tanpa merasa bersalah.
Karin meneruskan langkahnya bersama Aldi di belakangnya, namun saat melewati dua ornag tadi Aldi mengatakan sesuatu yang membuat keduanya bergidik ngeri.
"Kalau masih mau hidup jaga sikap kalian, dan kalau masih mau pendidikan jaga lisan kalian"
Aldi melanjutkan langkahnya mengejar Karin yang sudha dekat kelas, lalu masuk dan duduk di kursinya yang ada satu meja dengan Karin. Walau banyak yang menggosipi dirinya, Karin tidak perduli, bahkan para guru hanya diam saja karena mereka tidak mau ikut campur dengan urusan luar.
Apapun yang di lakukan siswa di luar sekolah bukan urusan mereka selama tidak membawa nama sekolah. Dan siapa yang mengantar siswa mereka kesekolah tidak penting selama anaknya datang.
Apa lagi mobil yang masuk tadi mirip dengan milik bos besar mereka, dan peenah datang dengan bos besar mereka untuk mendaftarkan siswa baru yang tak lain adalah Karin sendiri.
Tapi semua itu hanya pihak sekolah dan guru yang tahu, karena para guru tidak mau mengatakan apapun di lingkungan sekolah sembarangan jadilah murid di sana tidak tahu akan kejadian penting di sekolah selain urusan kesiswaan sendiri.