
Keheningan di dalam perpustakaan membuat siapa saja yang menyukai suasana seperti itu akan merasa sangat tenang. Begitupun dengan Karin dan Aldi yang sangat anteng duduk di salah satu kursi di sana.
Di tangan Karin ada buku yang sedang ia tekuni untuk di baca. Sedangkan Aldi hanya menjadikan buku sebagai pegangan saja dan asal di buka.
Matanya fokus menatap Karin tanpa berkedip, kalau gadis remaja itu melihatnya maka Aldi akan pura-pura melihat bukunya. Tapi kalau Karin tidak melihatnya maka Aldi akan terus memandanginya.
Wajah yang begitu tenang itu terlihat manis dan cantik di mata Aldi, walaupun tertutup kacamata dan rambut kucir duanya. Tidak membuat kecantikan Karin berkurang bagi Aldi.
Satu sisi hatinya mengatakan ingin mengenal Karin lebih jauh, tapi sisi hatinya yang lain mengatakan kalau tidak ada yang lebih baik dari Nana.
Bahkan hati Aldi sering merasa gelisah akan sikapnya pada Karin selama ini, Aldi tidak ingin menyimpulkan apapun tentang perasaannya. Ia hanya ingin menikmati momen kebersamaan mereka saja, sembari terus berusaha mencari di mata Nana.
Karin menutup bukunya dan menatap Aldi yang sedang melihat bukunya yang di pegang berdiri.
"Kayaknya harus cari reperensi lain deh buat persiapan ujian" gumam Karin pelan sembari melihat-lihat buku yang ada di sampingnya.
"Kenapa?" tanya Aldi tanpa melihat Karin dan masih pura-pura membaca dengan serius.
"Gak kenapa-kenapa, pengen aja" sahut Karin santai.
Karin berdiri dari duduknya menuju rak buku yang berjajar rapi di sana. Setiap buku ia perhatikan dengan baik untuk mendapatkan buku yang diinginkannya.
Sampai satu buku menjadi pilihan Karin dan kembali duduk di depan Aldi. Menyadari kehadiran Karin, Aldi melirik buku apa yang diambil perempuan itu.
Kening Aldi mengkerut saat melihat sampul buku yang terlihat berwarna namun ada gambar yang tidak bisa di tebak Aldi.
"Buku apa?" tanyanya penasaran.
"Novel" Karin menunjukkan sampul buku yang di pegangnya pada Aldi sejenak lalu kembali membacanya.
"Kenapa?"
"Biar gak bosen, gantian-gantian yang dibaca"
Aldi hanya memutar bola matanya saja mendengar jawaban Karin. Kenapa para wanita senang sekali sama buku jenis itu pikir Aldi merasa heran, bundanya di rumah juga suka membaca novel dan sekarang perempuan di depannya juga membaca novel.
"Kenapa harus novel?" tanya Aldi yang ingin tahu alasan Karin membaca buku itu.Padahal banyak buku lain batinnya.
"Ngehalu dulu bentar sebelum meras otak lagi buat mikirin ujian nanti" santai Karin yang membuat Aldi melongo.
Alasan yang sama yang Aldi dapatkan juga dari bundanya yang katanya ingin ngehalu bersama cerita di dalam novel yang jarang atau tidak mungkin terjadi di dunia nyata. Hah wanita dengan kehaluan luar biasa gumam Aldi geleng kepala saja lalu benar-benar fokus pada buku di tangannya.
Selang beberapa jam kemudian, Aldi dan Karin keluar dari perpustakaan, bahkan Karin masih terlihat menghapus bawah matanya.
"Kenapa?" tanya Aldi melihat Karin menangis.
"Sedih"
"Kenapa?"
"Cerita di novel tadi sedih banget tahu, masa ada ibu tiri yang tega jual anaknya sendiri, seklipun anak tiri yang dijual tapi itu gak pantes, diakan manusia bukan barang dagangan" komen Karin mengingat isi novel yang di bacanya tadi.
"Apa alasannya?"
"Demi uang, huh kalo aja ada di kenyataan yang begituan, aku pukul tuh ibu tiri sampe bonyok" geram Karin mengepalkan kedua tangannya di depan.
"Segitunya"
"Iya dong, ibu tirii gak tahu terimakasih harus di kasih pelajaran, anaknya udah baik, rajin, penurut, bahkan kalo kerja uangnya di ambil ibu tirinya diam aja lagi, tapi masih aja kurang, dasar wanita tua matre" marah Karin sepanjang jalan mereka.
"Cuma di novel"
"Tapi tetap aja aku gemas bacanya, kalo aja itu buku punya ku udah habis tuh buku ku remas"
"Endingnya gimana?"
"Bersambung season dua" sedih Karin yang tidak mengetahui ending ceritanya.
"Padahal seru, gimana sih tuh pencetak bukunya? pakek acara di putus lagi ceritanya ke buku selanjutnya, mau dapet uang banyak tuh mereka pasti" gumam Karin.
Aldi hanya bisa menghela napas saja mendengar perempuan di sampingnya yang terus menggerutu tidak mau diam. Bahkan beberapa siswa yang berpapasan dengan mereka menatap Karin heran.
Mungkin mereka berpikir kalau Karin sedang marha pada Aldi, atau Karin memang sedang ada masalah besar yang menyebabkan perempuan itu terus berbicara tanpa henti.
"Loh kok kesini?" tanya Karin heran menatap Aldi yang juga menatapnya dengan wajah datarnya.
"Es jeruk dua, bakso kuah dua" pedagang yang mendengar pesanan Aldi mengangguk.
Setelahnya Aldi kembali membawa Karin masuk kedalam lagi mencari tempat duduk, dan mereka duduk di sudutan kantin itu.
"Ngapain kesini sih?" heran Karin.
"Lapper" sahut Aldi singkat membuat Karin memutar bola matanya malas.
"Tadi baru juga makan"
"Laper lagi"
"Terserahlah, aku balik kelas aja" Karin hendak bangkit tapi di tahan Aldi.
"Sini aja"
"Gak betah aku di lihatin mereka" bisik Karin yang memang menjadi pusat perhatian sejak masuk kantin.
Karin yang tidak pernah datang kekantin dan Aldi yang tidak pernah makan di kantin sekarang duduk salah satu kursi dan menunggu pesanan. Itu yang membuat siswa lain yang masih ada di sana menatap heran keduanya.
"Biar aja"
"Ta.."
"Jangan perdulikan"
Karin menghela napas sejenak, benar juga apa yang di katakan Aldi, buat apa peruduli dengan mereka pikir Karin.
"Silahkan nak Aldi" ucap wanita tua yang datang mengantarkan dua mangkuk bakso dan dua gelas es jeruk.
"Terimakasih bu" sahut Karin tersenyum tipis pada wanita itu.
"Sama-sama neng cantik" ucap wanita tua itu.
Setelah wanita itu pergi, Karin menyambar satu gelas es dan meminumnya dengan semangat, kemudian menarik satu mangkuk bakso untuknya.
Aldi masih diam melihat Karin yang terlihat begitu semangat mulai memakan baksonya.
"Siapa yang suruh?" tanya Aldi terus melihat Karin yang sudah mulai makan.
"Apanya?" tanya Karin balik tanpa melihat Aldi.
"Makan baksonya"
"Gak ada"
"Jadi"
"Kamu pesen aja lagi kalo kurang, aku udah laper" ucap Karin santai di tengah kunyahannya.
"Ehm enak baksonya" Karin memejamkan matanya saat merasakan nikmatnya bakso yang dimakannya.
Rasa kuah yang pas, bakso yang enak membuat Karin sangat senang dan ketagihan. Perempuan itu bahkan tidak mengangkat kepalanya saking nikmatnya makan bakso.
Aldi yang melihat cara makan Karin yang seperti itu jadi merasa lapar juga dan akhirnya ikut makan. Keduanya makan dalam diam sampai Karin bangkit dari duduknya.
"Kemana?" tanya Aldi yang melihat Karin berlalu tapi tidak mendapat jawaban.
Aldi terus menatao Karin yang mendekati penjual bakso tadi, tidak lama Karin berjalan kembaali dengan satu mangkuk bakso di tangannya.
"Apa dia belum kenyang?" tanya Aldi pada dirinya sendiri saat melihat Karin mendekat mambawa bakso lagi.
"Kamu mau?" tawar Karin pada Aldi yang melihatnya.
Aldi hanya geleng kepala saja.
"Ya sudah" Karin makan bakso kembali dengan lahapnya tanpa perduli dengan orang yang menatapnya sinis di seberang meja saja.
"Makan pelan-pelan" ucap Aldi saat melihat cara makan Karin yang begitu semangat.
"Hm" gumam Karin menyahut.
Aldi kembali makan baksonya sembari sesekali melihat Karin yang makan dengan lahap, itu menjadikan Aldi lebih selera makan pula melihat napsu makan Karin yang wah itu.