
Setelah dari rumah sakit tadi, Aldi dan Karin memutuskan untuk pulang saja. Apa lagi hari juga sudah semakin sore.
Sesampainya di rumah Karin, mereka masuk dan di sambut Tati dengan senyuman hangatnya.
"Aduh anak-anak mama udah pulang, gimana jalan-jalannya? seru!" ucap Tati mendekati Karin.
"Seru ma" sahut Karin lalu menatap Aldi memberi isyarat untuk tidak mengatakan perihal dirinya yang tadi kembali mengalami truma.
Namun Aldi menggeleng, bagaimanapun juga orang tua Karin harus mengetahui apa yang terjadi pada anak mereka. Setelah duduk di ruang keluarga, Aldi menatap mama Tati dan mulai buka suara.
"Tante ada yang ingin Aldi sampaikan" ucap Aldi lalu melihat Karin yang berwajah cemberut, tapi Aldi hanya memberinya senyuman tipis saja.
"Apa nak? katakan saja" ucap Tati.
"Maaf tante tadi Aldi gak bisa jagain Karin dengan baik" ucap Aldi seraya menatap Tati yang juga menatapnya dengan wajah bingung.
"Tadi ada orang yang dekati motor kita di jalan dan itu buat Karin jadi trauma lagi" lanjutnya.
Tati mengangguk paham sekarang namun juga ada rasa khawatir di hatinya akan anaknya yang kembali truma. Pandangan wanita paruh baya itu beralih pada anaknya yang ada di sampingnya.
"Masa sih anak mama yang cantik ini trauma! kayaknya biasa aja ini!" ucap Tati yang bingung antara khawatir dan kurang percaya dengan apa yang di katakan Aldi.
Pasalnya yang terlihat di matanya anak gadisnya itu baik-baik saja dan tidak terlihat mengalami trauma.
"Iya ma tadi tuh Karin trauma lagi, tapi udah di tenangin sama Didi kok" ucap Karin yang membuat Tati bernapas lega mendengarnya.
"Ya sudah kalo kamu sudah baikan, tapi ingat ya sayang pesan mama, rasa takut dan trauma itu akan selalu menghantui kita kalo kita semakin menghindari, tapi kalo kita coba untuk tetap tegar dan melawan rasa takut dan trauma itu, perlahan dia akan hilang dengan sendirinya, karena bagi mama yang bisa menyembuhkan penyakit itu bermula dari diri kita sendiri, semangat kita untuk sembuh dan di dukung lingkungan sekitar kita seperti orang tua dan orang-orang terdekat, lalu di tambah obat-obatan kalo di butuhkan, jadi mama harap kamu tetap semangat untuk terus melawan rasa trauma kamu itu ya" ucap Tati seraya mengelus kepala anaknya sayang yang di angguki oleh Karin.
"Karin bakalan inget terus pesan mama itu" ucap Karin memeluk Tati sayang.
"Sudah-sudah, gak malu apa sama Aldi! udah besar masih peluk-peluk" canda Tati.
Aldi hanya tersenyum tipis saja menyaksikan adegan di hadapannya.
"Kalo gitu Aldi permisi dulu tante, udah sore" ucap Aldi berpamitan.
"Oh iya nak, hati-hati di jalan ya, salam untuk ayah sama bunda juga" sahut Tati tersenyum.
"Iya tante nanti Aldi sampaikan"
Setelahnya Aldi berlalu keluar rumah di ikuti Karin di sampingnya yang terlihat memegangi lengannya manja.
"Aku pulang ya" pamit Aldi mengelus rambut Karin lembut.
Karin mengangguk dengan tersenyum manis.
"Malam minggu besok kita jalan-jalan ke taman hiburan yuk!" ajak Karin.
"Malam minggu! ok, nanti kabari kalo datang ya"
Karin kembali mengangguk senang karena keinginannya untuk ke taman hiburan bersama cintanya akan terwujud.
"Hati hati, nanti kabari aku kalo udah sampe rumah"
"Iya"
"Papa" ucap Karin saat melihat Banu turun dan mendekatinya.
"Ya ampun anak gadis papa udah di depan aja nyambut papa, jadi terharu deh" kata Banu memeluk Karin yang sudah lebih dulu memeluknya sayang.
"Hehehe sebenernya tadi gak ada niatan buat nyambut papa pulang sih, tapi nganterin Aldi yang mau pulang" cengir Karin.
"Yah, padahal papa udah seneng banget loh tadi, jadi lemes lagi deh" ujar Banu pura-pura sedih, padahal ia tahu kalau tadi ada Aldi yang datang karena sempat berpapasan dengannya saat akan masuk.
"Jangan lemes dong pa, tadi juga mau masuk gak jadi karena lihat papa pulang jadinya ya nyambut papa sekalian hehehe" lanjut Karin lagi yang membuat Banu gemas dan menarik hidung Karin pelan.
"Bisa aja kamu buat hati papa seneng, ayo masuk" ajak Banu.
Ayah dan anak itupun berlalu masuk ke dalam rumah yang kembali mendapat sambutan dari sang istri.
"Papa udah pulang" ucap Tati menyalami suaminya dan meraih tas kerjanya.
"Iya, lagi gak banyak kerjaan" sahut Banu.
"Trus abang mana?" tanya Karin yang tidak melihat Kara ada bersama papanya. Biasanya pemuda itu selalu bersama papa mereka kalau pulang, tapi kenapa hanya papanya saja pikir Karin.
"Oh abangmu tadi habis makan siang gak balik ke kantor, bahkan akhir-akhir ini abang sangat celat menyelesaikan pekerjaannya, habis itu pergi entah kemana" jelas Banu.
Kening Karin mengkerut mendengar ucapan papanya, tidak biasanya abangnya itu pergi tanpa mengatakan tujuannga pada sang papa. Terserahlah, mungkin abang lagi kejar gebetannya batin Karin tidak ingin terlalu memusingkan masalah abangnya.
Bagaimanapun juga abangnya butuh pendamping, dan Karin juga ingin abangnya itu bahagia bersama pasangannya.
Di tempat lain...
Salsa duduk dengan perasaan marah dan kesal yang menjafi satu di hatinya. Saat ini anaknya Kiko masih tidur setelah lelah bermain bersama Kara.
Ya Kara tadi siang datang mengajak Salsa dan Kiko untuk makan siang, walaupun masih merasakan kekecewaan akibat masa lalu tapi Kara tidak ingin mengingat itu lagi. Ia ingin maju dengan masa depan yang bahagia, apa lagu sekarang wanita yang di cari dan tunggunya sudah ada di depan mata, Kara ingin mencoba untuk kembali merajut cinta bersama wanita yang masih di cintainya.
Walau sudah ada buntutnya tapi itu tidak masalah bagi Kara. Memiliki anak se imut Kiko! siapa yang akan menolaknya pikir Kara.
"Berani-beraninya dia menuntut hak asuh Kiko lagi setelah apa yang di lakukannya sama anaknya sendiri" geram Salsa sembari memegangi kertas di tangannya.
"Aku sudah pernah bilang bukan kalo mereka pasti bakalan nuntut hak asuh Kiko walaupun kamu udah dapetin hak asuhnya waktu cerai" ucap Kara.
"Lalu sekarang gimana? aku gak mau pisah sama Kiko" sedih Salsa yang sangat tidak ingin kehilangan anaknya.
"Tenanglah aku akan menjamin kalo Kiko tetap sama kita, aku yang bakalan cari bukti supaya Kiko gak bisa di ambil mereka" yakin Kara.
"Aku bakalan kasihkan bukti visum Kiko sama pengadilan biar tahu rasa dia" geram Salsa.
"Besok aku datengin dia ke kantornya, kalo dia gak mau cabut perkara itu ku habisi dia" lanjut Salsa dengan tangan yang menggenggam di depan wajahnya.
"Jangan sakiti dia walaupun kamu marah, karena itu bisa buat dia semakin punya bukti untuk ngambil Kiko, apapun pasti mereka lakukan buat dapetin Kiko ssebagai pewaris" kata Kara.
"Huh aku yakin pasti perempuan itu yang minta dia ngambil Kiko, percuma di kasih rahim tapi gak mau hamil, brengsek" marah Salsa.
Kara hanya melihat tanpa menyahuti lagi ucapan Salsa. Walau terlihat lemah lembut tapi Salsa tidak bisa di anggap remeh, ia akan melibas siapa saja yang berani mengusik ketenangannya apa lagi ini putranya.