First Kiss

First Kiss
Kotak bekal



Selesai jam olahraga sudah masuk waktu istirahat, Karin berjalan santai menuju lokernya untuk mengambil baju seragamnya. Sedangkan temannya yang lain memilih untuk langsung menuju kantin untuk makan siang.


Ingat akan bekal yang si bawanya belebih, Karin mengalihkan pandangannya mencari Aldi. Ia mengedarkan pandangan kesegala arah tapi tidak menemukan yang dicarinya.


"Kemana dia?" tanya Karin pada dirinya sendiri.


"Nanti ajalah di cari, ganti baju dulu" Karin mendekati lokernya dan mengambil baju seragam kemudian menuju toilet untuk ganti baju.


Selesai ganti baju Karin melangkah keluar, tapi di belum keluar dari pintu pertama sudah di halangi oleh Neli dan dua siswi lain yang sepertinya dari kelas lain. Karena Karin tidak pernah melihat mereka di dalam kelas.


"Ini so cupu yang udah buat kamu masuk UKS Nel?" ucap salah seorang dengan tangan di sedekapkan.


"Iya, belagu banget dia tuh, sok kecakepan di depan Aldi"


"Cih, penampilannya enggak banget sih" ejek yang satunya lagi.


Karin tidak perduli dengan ucapan ketiganya dan memilih untuk terus berjalan, datang lagi hamanya batin Karin.


"Hey hey hey cupu mau kemana hm?" ucap teman Neli memegangi tangan Karin.


"Siapa cupu? namaku Karin bukan cupu" sahut Karin santai menghempaskan tangan temannya Neli yang memeganginya.


"Wah berani ngelawan dia, pegangin dia biar kita kasih pelajaran" kedua teman Neli memegangi tangan Karin dengan kuat.


Sedangkan Neli bersiap untuk memukul dengan tinjunya yang sudah mengepal.


"Apa yang kalian lakukan?" tanya seorang guru yang kebetulan masuk.


Ketiganya kaget dan langsung pura-pura baik.


"Eh ibu, gak ngapai-ngapain kok cuma becanda aja" ucap Neli.


"Kalian pikir saya bodoh apa! tadi kalian berdua pegangin dia untuk apa? kamu juga maau mukul dia kan? mau jadi jagoan kalian bertiga" ucap guru itu menunjuk Neli dan temannya dengan wajah galak.


"Gak buk, ibu salah paham justru tadi si cupu ini yang mau mukul Neli makanya kita pegangin dia" sangkal temannya Neli.


"Memangnya saya buta gak bisa bedain posisi kalian, lagian mana ada satu orang mau mukul yang lain sementara yang di pukul bawa teman, gak masuk akal"


"Pergi dari sini sebelum saya kasih tahu guru BP kalian" pelotot guru itu.


Neli dan temannya langsung pergi dengan perasaan kesal karena tidak berhasil menyakiti Karin.


"Kamu gak di apa-apain kan?"


"Gak buk"


"Ya udah kamu kalo di ganggu lagi jangan takut ngelawannya, anak orang kaya kayak mereka itu cuma bisanya keroyokan aja, sendirian gak berani" guru itu menepuk pundak Karin lalu masuk ke salah satu bilik kamar mandi.


Karin keluar dari sana menuju kelasnya sembari melihat sekitarnya, kali aja dia bisa bertemu Aldi. Sampai akhirnya matanya menangkap sosok yang di carinya sedang berjalan santai sendirian.


Langkah Karin di percepat untuk mengejar Aldi, tapi karena langkah kaki Aldi yang lebar membuat Karin kesulitan mengejarnya.


"Ck, itu orang apa tiang listrik sih, udah tinggi jalannya cepat pula" gerutu Karin yang merasa kesal karena tubuhnya yang pendek dan jalannya tidak selebar dan secepat Aldi.


"Loh! kok hilang?" heran Karin yang sudah tidak melihat Aldi di depan.


Pada hal Karin cuma menunduk sebentar untuk menghilangkan lelah karena mengejar Aldi, tapi sekarang yang di kejar sudah menghilang.


"Mau cari kemana lagi nih?" Karin melihat sekitar yang sebenarnya sudah tidak jauh dari kelasnya.


"Apa dia udah di dalam kelas ya" Karin melangkah memasuki kelas yang ternyata kosong tanpa seorangpun karena memang masih jam istirahat.


"Kosong? trus dia kemana?" heran Karin menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Cari siapa?"


"Astaga" kaget Karin karena orang yang tiba-tiba muncul di belakangnya.


Karin mengelus dadanya kaget sembari menarik napas lalu menghembuskannya lagi.


"Kalo gak ngagetin bisa gak sih, bikin jantungan aja" omel Karin menatap kesal Aldi yang menatapnya tanpa rasa bersalah sedikitpun.


remaja itu mendapati Karin yang sedang mencondongkan tubuhnya dengan kedua tangan bertumpu pada lututnya sembari menggerutu. Aldi yang mendengar gerutuan Karin hanya tersenyum kecil saja karena posisi mereka yang sudah tidak terlalu jauh.


Saat Karin sedang menggerutu itulah Aldi menggeser tubuhnya dan bersembunyi du balik tiang yang ada di depan kelas merekaa. Saat Karin kembali mengangkat kepalanya dan mulai menggerutu lagi, Aldi terus mengintip dan memperhatikan.


Sampai gadis remaja itu berdiri du depan kelas dan menggerutu, apa hobinya menggerutu pikir Aldi.


"Kamu udah makan belum?" tanya Karin ingin memastikan lebih dulu sebelum memberikan bekal yang di bawanya.


Aldi yang mendengar ucapan Karin langsung melihat gadis remaja di sampingnya dengan kening mengkerut dan alis yang bersatu.


"Jangan di kerut-kerutin tuh kening, keriput beneran baru tahu rasa" ucap Karin kesal karena tidak mendapat jawaban dari Aldi tapi tatapan aneh yang di berikan laki-laki itu.


"Kenapa?" tanya Aldi masih menatap Karin dengan alis bertaut tanpa kening yang mengkerut.


"Apanya? ngomong jangan pelit" ucap Karin yang tidak mengerti dengan maksud Aldi.


"Nanyak?" ucap Aldi lagi yang gagal di pahami Karin.


"Nanyak apa?" Karin menatap Aldi semakin bingung.


"Belum"


"Heh, aku bukan paranormal ataupun psikolog yang mungkin bisa tahu maksud bahasamu, bahkan psikologpun bisa langsung game over kalo di kasih pasien modelan kayak kamu itu" gerutu Karin kesal melotot pada Aldi.


"Tukang gerutu" ucap Aldi santai lalu hendak tidur dengan bantalan tasnya.


Karin menghela napasnya sejenak, butuh kesabaran dan pemahaman ekstra agar bisa memahami segala yang dikatakan laki-laki di sampingnya ini.


Dua kotak bekal di keluarkan Karin dari tasnya beserta botol minumnya di atas meja. Dengan santainya gadis remaja itu membuka salah satu kotak bekal untuk dia santap isinya.


"Tadinya aku bawa dua bekal untuk di kasih ke kamu sebagai bentuk ucapan terimakasih untuk boneka tadi malam, tapi karena kamunya udah makan trus sekarang tidur ya udah aku habisin a..." ucapan Karin terhenti karena kotak yang satunya berpindah tempat.


Aldi menyambar satu kotak bekal yang belum di buka lalu dengan cepat membukanya dan menyantap isinya. Nasi goreng dengan suiran ayam dan potongan sosis membuat Aldi tidak menoleh pada Karin yang menatapnya heran.


"Bukannya kamu udah makan ya?" tanya Karin sembari menyuapkan makanannya sendiri.


"Kata siapa?" tanya Aldi di tengah kunyahannya.


"Kataku"


"Sok tahu"


"Aku sukanya tempe goreng bukan tahu"


"Terserah"


Karin memajukan bibirnya menatap kesal Aldi yang begitu irit bicara, tapi tingkahnya sangat menyebalkan dan di luar dugaan. Tanpa mau memikirkan hal itu lagi, Karin juga memakan bekal miliknya karena lapar.


Selesai makan bersama, Karin membereskan meja dan memasukkan kedua kotak bekal kedalam sebuah wadah tas kecil tempat kitak bekal. Lalu memasukkan bungkusan kotak bekal itu ke dalam tas belajarnya.


"Kok di habisin" protes Karin saat melihat Aldi menghabiskan air minumnya.


"Cuma sedikit" kata Aldi memberikan botol ari itu lagi pada pemiliknya.


"Ganti airnya, aku belum minum"


"Ambil aja di kantin"


"Kamu lah, kan kamu yang ngabisin"


"Mager"


"Ambil" teriak Karin kesal karena ia baru minum sedikit dan sekarang tempatnya kosong.


"Ganti airnya"


"Iya iya" mau tidak mau Aldi bangkit dari duduknya membawa botol kosong milik Karin untuk di isi lagi.