First Kiss

First Kiss
Memaksa



Liburan beberapa hari di puncak pun berakhir dan kini saatnya semua akan kembali ke kota. Bus yang akan membawa mereka kembali juga sudah menunggu penumpangnya.


Seperti sebelumnya bus yang mereka naiki masing-masing kelas berbeda bus.


Bedanya sekarang Aldi dan Karin tidak ikut naik bus melainkan menaaiki mobil pribadi yang di bawa pengawal Karin waktu itu. Awalnya Karin ingin ikut naik bus lagi, tapi karena Aldi melarang dengan alasan Karin yang nampak kelelahan jadilah mereka pulang lebih dulu menggunakan mobil pribadi itu.


Bagaimana tidak kelelahan kalau sebelumnya jalan-jalan mereka ke kebun teh Karin sangat senang berkeliling bersama teman-temannya. Bahkan Aldi saja sampai di lupakannya yang keasikan berfoto ria dengan ke tiga teman perempuannya.


Aldi tidak mempermasalahkan kalau Karin bersenang-senang dengan teman-temannya, selama tidak melakukan sesuatu yang berbahaya dan masih di sekitarnya. Aldi terus melihat apapun yang di lakukan Karin di tengah kegiatannya juga dengan ketiga temannya pula.


Malam harinya mereka juga membuat acara perpisahan karena saat selesai wisuda nanti pasti tidak semua bisa berkumpul. Ada yang akan langsung pulang, pergi melakukan sesuatu sendiri, atau pergi mengurus yang lainnya. Jadi acara perpisahan di lakukan di malam hari sebelum mereka pulang.


Berbagai kegiatan mereka lakukan, dari mulai dangdutan bersama dan bernyanyi, melakukan perlombaan sederhana seperti tahan tidak berkedip. Dan masih banyak lagi kegiatan yang mereka lakukan. Karin yang sangat bahagia juga larut dalam kesenangan malam itu bersama yang lain.


Hanya saja Aldi tidak sedetikpun menjauh dari Karin yang sangat aktif karena ia takut sewaktu-waktu bisa saja kaki Karin sakit. Jadinya Aldi tak luput juga ikut menikmati semua yang Karin lakukan. Bahkan saat Karin ikut berjoget dangdut dengan yang lainnya Aldi berada di belakang Karin hanya bergerak ke kanan dan kiri saja dengan gerakan teratur.


Pagi ini jadilah Karin sangat sulit di bangunkan akibat terlalu lelah. Saat barang-barang mereka sedang di masukkan oleh para pelayan ke dalam mobil, Karin menyempatkan diri tidur lebih dulu di kursi empuk yanh ada di teras itu.


Aldi yang memang berdiri di dekat mobil memperhatikan pekerjaan pelayan dan pengawal belum melihat ke arah Karin. Sampai ketika semuanya sudah selesai dan akan jalan, barulah Aldi melihat Karin yang sudah terlelap dalam tidurnya dengan posisi duduk.


Aldi geleng kepala sembari menghembuskan napasnya pelan melihat Karin. Tidak ingin membangunkan Karin, akhirnya Aldi memilih untuk mengangkat saja Karin dalam gendongannya dan membawa gadis itu masuk ke dalam mobil.


Baru saja Karin di dudukkan oleh Aldi di kursinya, ulat keket pengganggu sudah muncul lagi dengan koper besar di tangannya. Apa lagi suaranya yang berisik benar-benar mengganggu ketentraman.


"Aldi.. aku ikut kamu ya!" pintanya mendekat dan menerobos pengawal yang ada di sana yang sedang bersiap untuk jalan.


Aldi memutar bola matanya malas dengan kedatangan manusia satu itu. Kenapa juga dia harus datang batin Aldi.


Tanpa menjawab Aldi memasukkan Karin di kursi sampingnya yang akan ia tempati nanti. Pengawal Karin juga sudah siap sedia membantu kalau-kalau di butuhkan.


"Cih manja" decih Neli pelan yang tidak di dengar Aldi karena masih di dalam mobil menaruh Karin dengan hati-hati.


Setelah posisi Karin di rasa sangat nyaman dengan kursi yang sedikit di turunkan, juga beberapa boneka yang sudah menemani Karin di kursi. Aldi keluar dan melihat para pengawal yang masih di dekat sana.


"Apa kalian sudah cukup istirahat?" tanya Aldi.


"Sudah tuan muda, tidur kami juga cukup tadi malam jadi kita bisa langsung jalan dan kami sudah sangat fit" sahut pria di dekat Aldi.


"Bagus kalau begitu, jadi perjalanan kami bisa lebih menangkan kalau kalian fit, dan jangan sampai kalian lengah yang bisa menyebabkan kami celaka ya! kalau sampai itu terjadi maka nyawa kalian taruhannya"


Bukan Aldi yang biacara melainkan Neli, dengan kedua tangan yang di sedekapkan di dada dan mata yang terpejam perempuan itu biacara dengan suara sombongnya. Seakan dirinya adalah nona muda yang harus di patuhi.


Ketika Neli masih saja bicara hal yang entah apa, Aldi memilih masuk ke dalam mobil. Para pengawal juga ikut masuk saat tuan muda mereka juga masuk.


Neli baru sadar kalau dia di tinggalkan saat suara mobil di hidupkan. Dengan paniknya Neli mengetuk kaca mobil Aldi dan berusaha menahan laju mobil yang sudah akan melaju.


"Aldi aku ikut jangan tinggalin aku dong" rengek Neli dengan wajah pura-pura sedih.


Dengan kesal Aldi menurunkan kaca mobilnya dan menatap Neli dingin.


"Apa?" tanya Aldi ketus dengan suara datar.


"Aku ikut ya! pleass aku buru-buru banget soalnya" manja Neli.


"Ada bus"


"Busnya masih lama jalannya karena mereka belum siap, aku iku ya Al" rengek Neli lagi yang membuat Aldi pusing.


Aldi berdecak kesal melihat pengawal yang ajan jadi supir di depan. Karena di dalam mobil Aldi hanya ada tiga orang termasuk supir.


"Antar dia" ucap Aldi mengkode agar Neli di bawa ke mobil di belakang.


"Maaf tuan muda, tapi mobil di belakang sudah penuh di tambah dengan barang-barang" sahut pengawal itu dengan sopan memutar tubuhnya melihat Aldi.


Dengan malas akhirnya Aldi membiarkan Neli ikut dengan mobil mereka. Pengawal mengambil koper milik Neli dan di bawa ke mobil belakang di mana pengawal lainnya yang membawa barang-barang tuan dan nona muda mereka.


Dengan perasaan yang sangat senang karena di ijinkan ikut bersama dengan Aldi. Neli langsung berjalan cepat ke arah sisi penumpang tepat di sebelah Aldi di belakang supir.


Neli memasang wajah sombongnya saat melihat pengawal yang baru datang setelah menyimpan kopernya.


"Tolong bukakan pintu untuk nona mudamu ini pengawal" ucapnya dengan cara bicara yang mentel tapi angkuh.


Pengawal itu tidak menjawab dan lebih memilih masuk ke tempat supir lalu kembali memutar tubuhnya menghadap Aldi.


"Teman tuan muda itu mau duduk di tempat non Karin" ucapnya.


Kembali Aldi menghela napas panjang.


"Suruh dia duduk di depan, kalau tidak mau tinggalkan" ucap Aldi lalu memilih untuk memposisikan kursinya seperti Karin dan ikut memejamkan matanya.


Pengawal itu mengangguk lalu menekan satu tombol hingga sebuah tirai membantang di antara kursi penumpang dan supir. Bahkan tirai yang di jendela juga sudah tertutup dan penyejuk lewat ac yang membuat Aldi jadi ikut mengantuk juga.


Sedangkan Neli yang di beritahu harus duduk di depan terus saja bersungut tidak terima dan memaki si pengawal habis-habisan. Hingga akhirnya jurus paling ampuh untuk membungkam Neli pun di keluarkan oleh si pengawal yang sudah sangat malas berurusan dengan perempuan berisik itu.


Apa lagi cara bicara Neli yang sombong dan tidak sopan membuat si pengawal jadi kesal juga tapi di tahan.


"Kalau mau ikut di depan kalau gak sudah" ucap pengawal itu ketus lalu masuk ke dalam mobil dan menutup pintunya.


Neli yang tidak di gubrispun akhirnya mengalah dan memilih masuk duduk di dekat supir. Neli juga berencana akan mengadukan si pengawal itu dengan Aldi nanti pikirnya.


Saat sudah masuk dan duduk Neli dengan wajah cemberutnya melihat ke belakang di mana Aldi berada. Tapi yang di dapati Neli hanyalah sebuah tirai berwarna gold yang menutup bagian belakang.