First Kiss

First Kiss
Foto



Aldi menatap Desi serius dan mencoba mencadi kebohongan dari raut wajah wanita yang masih santai dengan makanannya itu.


"Bunda serius?" tanya Aldi dengan wajah yang teramat sangat serius.


"Iya lah, tante Tati juga pernah bilang gitu sama bunda, bahkan kmai sempet ketemu dulu di desa nenek makanya sampe sekarang masih bisa komunikasi, padahal dulu sempat hilang kontak" seru Desi lalu minum setelah makanannya habis.


"Tapi kita kok gak pernah ketemu sama Karin ya bun kalo ke desa, apa lagi waktu jemput Aldi dulu, padahal tetanggaan" ujar Dudi.


"Waktu pertama bunda ketemu sama Tati di desa dulu, Karin nya lagi sakit jadi gak kemana-mana, pas bunda mau jengukin, eh ayah ngajak pulang cepet-cepet waktu itu" terang Desi.


"Trus waktu mama meninggal juga kita gak ngeliat Karin di sana"


"Tiga hari sebelum mama meninggal itu Karin di jemput kekota sama Tati juga Banu karena masa liburan jadi mereka ajakin Karin jalan-jalan" jelas Desi lagi.


"Tapi kok ayah gak pernah ketemu sama Karin kecil waktu di desa dulu ya bun" heran Dudi yang masih penasaran.


"Memangnya ayah berapa lama sih kalo di desa? paling satu hari doang, bahkan baru dateng udah pergi lagi"


"Namanya juga ayah lagi sibuk-sibuknya waktu itu bun"


"Makanya jangan terlalu sibuk terus yah, bahkan waktu yang lainnya libur ayah malah masih kencan sama kertas dan laptop, kalah cantik bunda sama mereka" keluh Desi.


"Cie elah cemburu si bunda sama kertas dan laptop" goda Dudi pada istrinya.


"Serah deh" ucap Desi lalu menatap anaknya yang ternyata sedang bengong dengan pandangan kosongnya.


Aldi yang mendengar semua ucapan orang tuanya mulai menerka-nerka apa mungkin Karin adalah Nana teman kecilnya yang dulu pernah dia beri janji akan kembali saat akan pergi.


"Kamu kenapa Al?" tanya Desi mengangetkan Aldi.


"Ah gak ada bun" ucap Aldi tersenyum kecil yang hanya di angguki oleh Desi tanpa merasa hal lainnya pada anaknya.


"Bunda pernah kerumah tante Tati kan?" tanya Aldi tiba-tiba.


"Ya pernah dong, bahkan sering apa lagi waktu kamu kecil dulu, kamunya aja yang gak pernah mau bunda ajakin pergi dan malah lebih suka sama buku" keluh Desi kala mengingat betapa sulitnya ia dulu membujuk Aldi untuk ikut dengannya jalan-jalan waktu kecil.


Aldi baru mau di ajakin pergi setelah kembali dari desa setelah meninggalnya sang nenek. Tapi itu hanya berlaku jika pergi jalan-jalan saja, kalau Desi dan Dudi mengajaknya berkunjung kerumah kerabat atau teman mereka maka Aldi akan menolaknya mentah-mentah dan tidak ingin ikut.


"Bunda pernah lihat foto Karin waktu kecil gak?" Aldi mengabaikan keluhan bundanya dengan bertanya hal lain.


"Kamu ini gimana sih Al, namanya juga bunda sama tante Tati itu teman dekat ya pasti pernah bunda lihatlah foto kecilnya Karin"


"Apa lagi kalo bunda di sana gak inget pulang kalo gak di jemput" gerutu Dudi melirik istrinya sekilas.


"Ayah juga sama kan kalo udah ketemu sama Banu! jangan suka nyalahin orang deh kalo sendirinya aja kaya gitu" kesal Desi.


Aldi menghela napas melihat perdebatan orang tuanya, Aldi yang bertanya tapi kenapa kedua orang tuanya yang beradu argumen jadinya.


"Kamu penasaran ya sama Karin wkatu kecil?" tanya Dudi melihat Aldi dan tidak mau meneruskan perdebatannya dengan snag istri untuk menghindari kekalahan akibat para wanita yang selalu benar pikirnya.


"Gak juga" elak Aldi beranjak dari duduknya.


"Ngaku aja kamu hey, bocah tampan tapi kaku! anak siapa sih dia" ucap Dudi melihat Aldi yang menaiki tangga.


"Ya anakmu yah, anak siapa lagi" Desi melenggang pergi meninggalkan meja makan dengan suaminya sendirian di sana.


"Huh dasar wanita" keluhnya lalu menyeruput minumannya.


Sedangkan Aldi yang sudah masuk ke dalam kamarnya langsung memandang foto besar di dinding itu dengan pikiran yang semakin menduga-duga.


"Apa bunda bakalan bilang kalo Nana itu Karin kalo lihat foto ini" gumam Aldi.


"Bunda pernah lihat foto Karin kan, itu artinya kalo memang dia Nana filing perasaanku selama ini benar, aku sering merasa dekat kalo sama Karin, waktu pertama jumpa juga terasa familiat dan akrab"


"Hah semoga kamu benar-benar ada di dekatku Nana" senyum Aldi.


Selama ini Desi memang tidak pernah tahu kalau di kamar Aldi ada sebuah foto besar berisi anak berumur empat tahunan. Aldi tidak pernah mengijinkan siapapun masuk ke kamarnya termasuk orang tuanya.


Aldi membersihkan kamarnya sendiri jika akhir pekan, Desi saja tidak pernah tahu menahu bagaimana dalam kamar anaknya itu. Aldi selalu disiplin dengan bangun pagi sendiri.


Dudi yang memang pernah membingkaikan foto itupun sudah tidak ingat lagi kalau dia pernah mencetakkan foto besar dan memajangnya di kamar sang putra dulu sewaktu Aldi pulang ke rumah itu.


Ketika melihat foto kedua anak kecil itupun Dudi tidak mengenalinya siapa si gadis kecilnya selain teman Aldi. Karena di foto itu si anak perempuan sedang di tutupi matanya oleh Aldi.


"Tapi apa bunda bisa tahu ya kalo fotonya aja matanya ketutup gitu, hah kenapa juga aku cuma punya foto yang ini, ayah sih dulu waktu dateng di waktu yang gak pas" ucap Aldi kala mengingat masa itu.


Ayahnya datang sewaktu ia sedang bermain dengan Nana dan ayahnya sendiri sednag buru-buru. Jadi ayahnya hanya membidik begitu saja anaknya yang sedang bermain itu lalu pergi.


"Tapi kalo ayah gak ambil foto ini pasti gak ada lagi kenangan apapun dari Nana"


Aldi memutuskan untuk mengistirahatkan tubuhnya saja dari pada terus memikirkan hal yang akhir-akhir ini semakin membuatnya bingung.


Perasaannya untuk Karin atau Nana, Aldi sangat bingung di buatnya sekarang. Lebih baik tidur sebentar pikirnya.


Sedangkan di kediaman Banu keributan kembali terjadi kala Kara pulang bersama Banu dan langsung membuat keributan dengan masuk ke kamar Karin yang sedikit terbuka.


Kara yang suka usil pada adiknya itu sudah memulai aksinya sejak masuk tadi. Di mulai ia menarik boneka beruang pink yang sedang di peluk Karin sampai menjauhkan boneka kelinci yang di gapai-gapai Karin meski tidur.


Tidak mendapatkan apa yang inginkannya membuat Karin meraih bantal gulingnya. Tapi itu juga langsung di tarik begitu saja oleh Kara sampai Karin kaget dan terbangun dari tidurnya.


Karena bangun dengan keadaan kaget membuat jantung Karin berdegup cepat dan pandangannya yang masih belum jelas.


"MAMA PAPA" teriak Karin yang kaget.


Kebiasaan Karin memang kalau terbangun dalam keadaan kaget selama di kota, maka Karin akan berteriak memanggil orang tuanya begitu saja secara repleks.


"Eh eh kenapa teriak-teriak sih dek? ini abang" panik Kara kala mendengar gelegar suara asiknya itu yang masih memegangi kepalanya.


Tidak lama pintu terbuka dengan keras di ikuti kedatangan Tati dan Banu yang panik.


"Kenapa sayang?"


"Karin kenapa nak?"


Tati dan Banu duduk di dekat Karin yang masih memegangi kepalanya yang pusing itu.


"Kenapa sayang? apa yang terjadi Kara? kenapa adikmu?" tanya Banu beruntun.


"Gak tahu pa..aduh aduh" ucap Kara kala bantal melayang di wajahnya berulang kali.