
Karin yang melihat orang-oramg di depannya hanya bengong jadi malas sendiri dan memilih untuk melanjutkan jalan kedalam kelasnya. Sampai di dalam kelas bel berbunyi bersamaan dengan Karin yang baru duduk di kursinya.
Dengan santainya gadis remaja itu meraih tasnya dan mengambil buku tanpa memperdulikan tatapan orang-orang diluar kelasnya yang sudah hendak menerkam.
Jes dan gengnya mengejar Karin untuk masalah tas mereka yang dibuang, tapi sayang sebelum mendapatkan Karin bel sudah berbunyi, sedangkan Karin sudah masuk kedalam kelasnya.
Kelas favorit itu tidak boleh di masuki oleh yang bukan anggota kelas, jadi tidak ada yang berani masuk kedalamnya jika bukan dari kelas itu sendiri.
"Ternyata yang benci kamu banyak juga ya!"ucap Sisi menatap remeh pada Karin yang hanya biasa saja melihatnya.
"Namanya juga orang cupu pasti banyaklah yang benci, apa lagi dia ini sok banget" kata Usi.
"Lagian ngapain juga dia di sini sekolahnya, gak mutu banget dia juga" sambung Yuni.
"Mungkin dia ju..."
"Selamat pagi anak-anak" ucap guru yang baru masuk menghentikan ucapan Sisi.
"Pagi bu" sahut semua siswa.
Pelajaran di mulai dengan segala ketegangan para siswa karena pelajaran yang kurang mereka sukai yaitu matematika. Meski pelajaran itu sepenuhnya selalu di lakukan dalam kehidupan sehari-hari tapi mereka merasa pelajaran matematika adalah pelajaran yang paling menegangkan.
Pelajaran berlangsung dengan keheningan semua siswa meksi guru bertanya mereka hanya menjawab apa yang mudah. Seperti pertanyaan 'paham' dan 'ada pertanyaan', maka sudah pasti jawabannya hanya 'iya' dan 'tidak'.
Entah mereka benar-benar memahami atau agar cepat selesai saja pelajaran yang memusingkan itu. 2 jam pelajaran matematika berlangsung dan masih menyisakan pekerjaan rumah bagi beberapa siswa yang belum selesia mengerjakan tugas saja.
Walau sulit tapi mereka tetap berusaha untuk mengerjakan, entah apa yang di jawab dalam buku mereka. Guru hanya akan memeriksa jika semua buku sudah terkumpul, dan sementara ini yang sudah selesai bukunya di kumpulkan agar tidak ada aksi pencontekan.
Saat pergantian jam pelajaran, bu Sari wali kelas sekaligus guru bp masuk kedalam. Mata wanita itu menelisik semua anak muridnya di dalam kelas dengan wajah garangnya karena ia memang terkenal killer oleh para murid di sekolah itu.
"Karina, ikut ibu ke ruangan bp" ucapnya kemudiian keluar kelas.
Karina berdiri dari duduknya dan menyusul bu Sari yang sudah bergerak. Semua mata siswa di kelas itu menatap Karin dengan heran sekaligus mengejek.
"Masih baru udah masuk bp"
"Ada masalah apa dia?"
"Dasar cupu, belum lama disini udah buat masalah"
Bisik-bisik itu tidak di hiraukan oleh Karin yang terus melangkah bahkan ucapan Sisi pun tidak dia hiraukan.
"Pasti udah ketahuan itu belangnya, yang suka godain orang makanya bisa masuk kesini dengan dalih beasiswa" ucap Sisi keras yang mengundah tatapan jijik teman lainnya.
Karin hanya terus melangkah keluar tidak perduli, selama apa yang mereka katakan tidak benar maka ia tidak akan perduli. Bak kata pepatah mengatakan, anjing menggonggong kapilah berlalu.
Aldi berdiri dengan kesal mendengar ucapan Sisi, dan dengan kasarnya ia menarik tangan Sisi keluar hingga membuat gaduh seluruh isi kelas mereka akan kejadian itu. Aldi yang tidak pernah menyentuh perempuan kini memegang tangan si kembang sekolah yang banyak di perebutkan siswa.
Sisi ingin mereka semua tahu kalau ia bisa menaklukan si datar dan dingin Aldi si mostwanted sekolah.
"Wah ada adegan pernyataan cinta dari mostwanted kita, ayo lihat" seru Usi dengan siara keras dan berlari keluar di ikuti yang lainnya.
Mengetahui teman-temannya mengikuti di belakangnya, Sisi berjalan melenggak-lenggok seakan mereka sedang bermesraan hingga sakit di tangannya tidak ia hiraukan. Pada hal Aldi hanya memegang lengan Sisi yang lebih seperti menyeret bukan bermesraan.
Tapi Sisi yang sepertinya pandai berakting membuat semuanya seperti bermesraan saja.
Sampai akhirnya semua siswa itu heran dengan arah yang di tuju oleh Aldi dan Sisi karena itu menuju ruangan bp.
Sedangkan di ruangan bp yang baru di masuki Karin, sudah terlihat di sana Jes dan gengnya yang menatap Karin mengejek. Tidak perduli dengan itu, Karin hanya berdiri menghadap bu Sari yang sudah duduk di kursinya.
"Sekarang katakan aduan kalian, tentang apa yang kalian jelaskan tadi di dalam kelas" ucap bu Sari menatap Jes dan teman-temannya.
"Jadi gini buk, semalam sewaktu kita pulang sekolah ada yang hentikan langkah kita, karena kita gak kenal jadi kita tanyain dia siapa, katanya dia anak baru, pas kita tanya dia mau apa katanya dia mau duit dari kita" jelas Jes mengarang.
"Iya buk, karena gak kita kasih dia rampas tas kita dan buang ke tempat sampah buk, kita jadi gak bisa ngerjain tugas dan buku-buku kita rusak" ucap teman Jes ikut mengarang dan bersandiwara sedih akan apa yang terjadi.
"Dan siapa pelakunya?" tanya bu Sari.
"Dia buk!" tunjuk Jes pada Karin. "Dia yang udah ngerampas tas kita dan di buang ke tempat sampah"
Pandangan bu Sari beralih pada Karin yang terlihat biasa saja, bahkan tidak terlihat kaget akan ucapan Jes dan yang lain. Karin hanya menatap datar dan jutek adegan di hadapannya yang tidak benar itu.
"Benar begitu Karina! apa yang mereka katakan itu sungguhan?" tanya bu Sari heran akan kesantaian Karin yang tidak takut masuk ruangannya.
Biasanya para murid yang masuk ke dalam ruangan bp itu akan diam dan terlihat takut juga berkeringat dingin benar salahnya mereka. Tapi ini siswi yang satu ini malah santuy saja dan terlihat jutek.
Saat Karin akan menjawan pintu ruangan terbuka dengan kerasnya dari luar membawa masuk Aldi dan Sisi. Bu Sari yang awalnya ingin marah jadi meredamnya saat melihat wajah tidak bersahabat dari Aldi yang sepertinya akan menerkam sesuatu yang mengusiknya.
"Fitnah dan ucapan pencemaran nama baik hingga menimbulkan pikiran buruk orang lain yang akan merugikan orang lain pula, surat panggilan atau skors, bila perlu keluarkan supaya gak jadi parasit" ucap Aldi dingin menatap tajam bu Sari yang sudah merasakan hawa tidak enak.
Sulit mengetahui maksud Aldi memang yang selalu tiba-tiba berbicara panjang jika ada sesuatu yang tidak cocok baginya. Kepala sekolah bahkan sampai kaget saat pertama kali mendengar Aldi bicara panjang ketika ada masalah yang di lihatnya dan meminta kepala sekolah langsung yang menindak dan Aldi yang memberi pilihan.
Dan itu jarang terjadi, tapi hal itu pula merupakan suatu kode juga peringatan agar tidak berbuat aneh-aneh di sekolah yang memang famous itu. Sulit menjaga kepercayaan orang dan mempertahankan gelar yang di dapat sekolah itu sebagai favorit dan berkelas, karena mempertahankan tidak semudah mendapatkan.
Jika mendapatkan saja sulit maka mempertahankan harus rela berkorban dan lebih waspada lagi.
Bu Sari menghela napas panjang menatap Sisi yang memang sering kali ia dengar tentang kelakuannya yang suka menghina teman lainnya. Tapi bu Sari tidak bisa menindak jika tidak ada bukti dan tidak mendengarnya langsung.
Kali ini bu Sari yakin akan tindakannya dan langsung mengeluarkan surat panggilan orang tua dengan kertas berwarna merah yang artinya sudah sangat darurat panggilannya.
"Pastikan surat cinta ini sampai di tangan orang tuamu atau kamu tahu resikonya jika dalam tiga hari orang tuamu tidak hadir" bu Sari menyerahkan amplop putih pada Sisi yang sudah sangat tegang karena tidak menyangka kalau di bawa ke ruangan bp dan di beri peringatan keras.