
"Mama kenal sama bundanya si bunglon datar dari mana ma?" tanya Karin saat mereka sedang bersantai di ruang keluarga sehabis makan malam.
"Siapa si bunglon datar?" tanya Banu danKara bersamaan.
Sedangkan Tati geleng kepala mendengar panggilan Karin untuk Aldi anaknya Desi.
"Namanya Aldi Karina, bukan bunglon datar" ucap Tati meralat ucapan Karin yang hanya mengangkat bahunya acuh.
"Aldi siapa ma? anaknya Dudi sama Desi!" tanya Banu yang di angguki oleh Tati.
"Heh asal kamu tahu aja Rin, Aldi itu yang punya sekolahan tempat kamu belajar"
"APA?"
Karin menyemburkan snak yang ada di dalam mulutnya saat mendengar ucapan Kara. Bagaimana mungkin bisa sekolah itu miliknya, apa sekaya itu Aldi sampai bisa punya yayasan terkenal begitu.
"Jorong banget sih Rin" kesal Kara karena ia terkena semburan dari Karin.
"Habisnya abang ada-ada aja sih, iya kali tuh bunglon datar masih sekolah udah punya sekolah aja, kan gak mungkin banget" kata Karin setelah membersihkan mulutnya dari snak yang berserakan.
"Belum punyanya sih, tapi akan karena dia satu-satunya pewaris om Dudi"
"Om Dudi! kaya pernah dengar" gumam Karin pelan tanpa ada yang mendengar karena sibuk dengan kegiatan masing-masing.
"Masuk kamar sana udah jam 9 malam tuh" ucap Tati pada Karin yang langsung di angguki gadis remaja itu.
Karin naik kelantai atas rumahnya dimana kamarnya berada di sana.
Sedangkan di kediaman keluarga Aldi, mereka masih duduk santai di ruang keluarga. Sama halnya seperti keluarga Karin yang selalu menyempatkan diri untuk kumpul bersama, begitu pula keluarga Aldi.
"Gimana di sekolah Al?" tanya Dudi pada anaknya yang membeku itu.
"Baik" sahut Aldi singkat.
"Ada masalah?"
"Gak"
Dudi menghela napasnya sejenak mendengar jawaban Aldi yang datar dan dingin. Bukan karena membenci orang tuanya, Aldi bersikap demikian sejak ia di bawa kembali oleh orang tuanya pulang dari rumah neneknya dulu sewaktu kecil.
Karena sang bunda yang sempat sakit-sakitan karena berpisah jauh dari Aldi jadilah Aldi kecil ikut pulang ke kota demi kesembuhan bundanya yang tidak bisa berpisah jauh dengan anak satu-satunya itu.
Meski berat dan tidak ingin tapi Aldi tidak punya pilihan lain selain ikut, dalam hatinya Aldi pernah berjanji kalau ia akan pulang lagi ke rumah neneknya itu untuk menemui seseorang yang dia tinggalkan di sana dulu.
Sejak nenek Aldi meninggal tiga tahun lalu, mereka tidak pernah lagi pulang ke desa itu. Terakhir kali Aldi kesana ia sama sekali tidak bertemu dengan seseorang yang ingin di temuinya itu.
Hingga salah seorang tetangga yang mengenalnya mengatakan kalau yang di carinya sudah pergi kekota dan tidak tahu kapan akan pulang lagi.
Hati Aldi sangat sedih mengetahui berita itu, sudah kemana mana Aldi mencoba mencari tapi tidak pernah ia temukan keberadaan yang di carinya. Dari sana pulalah sikap Aldi yang dulunya ceria jadi berubah sejak berpisah dengan gadis kecil yang selalu membuatnya gemas dan tersenyum akan tingkahnya.
Sikap datar Aldi semakin menjadi dingin sejak tidak pernah lagi bisa menemukan gadis kecil yang selalu menemaninya sewaktu kecil di desa sang nenek dulu. Teman pertamanya yang mengulurkan tangan pada Aldi ketika sedih saat kehilangan adik yang dikandung bundanya.
Remaja itu berdecak ketika bayangan gadis kecilnya berubah jadi Karin yang berwajah jutek padanya. Dalam hati Aldi seperti merasakan sesuatu yang familiar ketika berdekatan dengan Karin, tapi ia tidak yakin apa yang dirasakannya.
Aldi masih saja berharap kalau gadis kecil senyum manisnya itu bisa bertemu dengannya, pastinya gadis kecil itu sudah remaja seperti dirinya sekarang. Senyuman manisnya pasti lebih menawan sekarang, andai kita bisa bertemu batin Aldi penuh harap.
"Karin satu kelas sama kamu ya Al?" tanya Desi menatap sedih pada Aldi yang masih merasa kehilangan.
"Iya" sahut Aldi.
"Gimana anaknya kalau disekolah? dia cantikkan?" ucap Desi menatap Adli dengan mata berbinar.
Aldi balik menatap bundanya dengan heran, tidak biasanya bundanya bertanya tentang perempuan. Biasanya bundanya malah terlihat malas kalau ada teman arisannya ataupun anak mereka yang bersikap genit padanya, atau sekedar tanya-tanya mengenai dirinya.
Tapi kenapa sekarang malah bundanya yang terlihat bahagia membahas Karin yang baru ditemuinya, aneh pikir Aldi.
"Jutek yang ada, berisik lagi, penampilannya ya gak beda jauh sama yang bunda lihat tadi" ucap Aldi masih melihat bundanya.
"Masa sih! bunda gak yakin ah sama kamu, Karin itu anak yang cantik dan manis tahu, bunda aja yang perempuan sampai naksir sama dia, apa lagi laki-laki pasti bakalan berebut untuk dapetin dia"
"Ngarang aja bunda, di sekolah aja gak ada yang tertarik sama dia malah dia di bully yang ada" gumam Aldi.
"Apa di bully? siapa yang bully? bilang sama ayah, bisa gawat kalau Banu tahu anak kesayangannya di bully" ucap Dudi panik mendengar kalimat Aldi tadi.
Bagaimana tidak panik kalau Banu sangat mengerikan jika marah, bahkan Dudi yang temannya saja lebih memilih diam karena bagaimanapun anak gadis Banu itu bagaikan permata berharga yang sangat di jaga. Dudi yang juga menyayangi Karin seperti anaknya juga tidak rela sebenarnya.
"Kenapa sih yah, gitu banget sama si cupu"
"Heh, cupu apanya? ayah pernah ketemu sama Karin dan dia itu anak yang cantik dan manis walaupun masih cantikan bunda" Dudi menatap menggoda pada Desi di sampingnya hingga membuat wanita itu tersenyum malu.
"Ayah bisa aja ih" ucap Desi memukul manja suaminya.
Aldi menghela napasnya melihat keromantisan orang tuanya yang sering kali ia lihat, bahkan kedua sejoli itu seakan tidak persuli dengan keberadaannya di sana.
"Aldi masuk dulu yah bun" Dudi hanya mengangkat jempolnya pada Aldi sebagai persetujuan karena Dudi masih asik menggoda istrinya.
Langkah Aldi sampai di kamarnya yang besar dan luas, pandangan pertama yang selalu di lihat olehnya adalah sebuah pajangan foto dengan bingkai lumayan besar. Bingkai itu yang selalu dilihat oleh Aldi setiap akan menutup matanya hingga ketika ia membuka mata.
"Dimana kamu Nana? apa kamu gak kangen aku Didi mu" lirih Aldi menatap bingkai foto dua anak kecil laki-laki dan perempuan yang tersenyum manis itu.
"Aku kengen kamu Nana" air mata Aldi hampir saja menetes jika ia tidak segera menahannya sekuat tenaga.
Aldi memiliki panggilan panggilan sendiri untuk gadis kecil itu, begitupun dengan gadis kecil itu yang memiliki nama panggilan sendiri untuknya. Didi dan Nana begitulah nama panggilan mereka berdua yang berbeda dengan yang lainnya dan hanya keduanya saja yang mengetahui hal itu.
Dengan perasaan yang sedih Aldi berbaring di ranjangnya dengan posisi menatap foto yang selalu di pandanginya setiap di dalam kamar itu.
"Selamat malam Nana" lirih Aldi tersenyum manis lalu menutup matanya.
Hanya setiap mengucapkan itu dan mengenang semua masa indah kecilnya saja Aldi bisa tersenyum manis. Perpisahan yang tak kunjung mempertemukan mereka itu membuat Aldi selalu menjauh dari para perempuan yang menggodanya, bagi Aldi yang pantas untuknya hanya Nana seorang dan Aldi yakin suatu saat nanti mereka pasti akan bertemu.
"Selamat malam Didi" ucap seorang gadis remaja tersenyum manis juga sembari menatap foto kecil di nakas samping ranjangnya.