First Kiss

First Kiss
Pengganggu



Perempuan yang baru datang itu menatap Karin dengan wajah ilfielnya karena Karin memakai kacamatanya juga rambutnya yang di kepang satu.


"Sayang siapa dia?" tanyanya pada Kara sembari memegang lengan pemuda yang sudah memasang tampang malas itu.


Kara tidak menjawab sama sekali bahkan tidak merespon ucapan perempuan yang masih saja menatap sepele pada Karin dan menatap manja pada Kara.


"Sayang kok diem aja sih! siapa dia? jelek banget sih" ejek perempuan itu lagi.


"Kamu sendiri siapa? datang gak di undang duduk gak di suruh main serobot aja duduk di situ, berisik lagi" ucap Karin dengan wajah juteknya.


"Seharusnya aku yang nanya kamu itu siapa? ngapain dekat-dekat sama yayank aku"


Pfttt


Karin menahan tawanya saat mendengar ucapan perempuan itu yang begitu pedenya, sedangkan Kara langsung menepis tangan ulet keket yang semakin lengket itu.


"Apa sih Beby! pergi sana ganggu aja" usir Kara yang membuat perempuan bernama Beby itu cemberut.


"Kamu kok gitu sih yank, aku itu kangen sama kamu, kamu jarang dateng lagi ke kampus sejak mau wisuda" manjanya.


Huwek


Beby dan Kara menatap Karin yang memperagakan ala orang muntah di depan wajah Beby.


"Kok ada ya orang lebay modelan begitu" ucapnya.


"Heh, jorok banget sih jadi cewek, peegi sana jauh-jauh" ucap Beby menatap jijik pada Karin.


"Mbak, ada orang gila nih disini ganggu, kita jadi gak nyaman mau makan" ucap Kara pada pelayan yang datang mengantarkan pesanan mereka.


Dua pelayan itu saling pandang heran, setahu mereka tidak ada orang gila yang masuk ke dalam kafe mereka. Apa lagi kafe mereka itu berada di mall besar, jadi pihak keamanan pasti akan menghalangi orang gila kalau mau masuk.


"Maaf mas, tapi gak ada orang gila di sini" pelayan itu melihat seluruh penjuru kafe, siapa tahu memang ada pikirnya.


"Aduh, ini nih mbak orangnya, ganggu banget dia ini, saya gak nyaman mau makan" ucap Kara menunjuk Beby di sebelahnya membuat perempuan itu melotot kaget.


"Apa? maksud kamu aku orang gila gitu yank! ya ampun perempuan secantik aku kamu bilang gila" ucap Beby dengan gaya lebay.


"Tolong dong mbak nih perempuan saya gak tahu siapa dia nih, ganggu aja, saya peegi juga nih gak jadi makan" Kara hendak duduk tapi di tahan oleh pelayan yang ketakutan pelanggannya pergi karena makanan sudah di hidangkan.


"Eh jangan dong mas ini makanannya gimana?" ucap pelayan itu.


"Mbak tolong tinggalkan meja ini, kalau mau cari ribut jangan di sini karena mbak mengganggu ketenangan pelanggan kami" lanjutnya.


Beby bangkit dari duduknya tidak terima di usir oleh pelayan bahkan dia sudah jadi bahan bisik-bisik yang lainnya.


"Heh siapa kamu bernai ngusir saya hah! saya ini anak orang kaya tahu gak, bahkan kafe kecil ini bisa saya beli, orang tua saya juga bisa hancurin hidup kamu" marah Beby.


"Walaupun mbak kaya tapi gak seharusnya mbak buat keributan di sini" kata pelayan masih sopan.


"Kalian ber...hmppp"


Karin menatap Beby dengan senyum evilnya.


"Enakkan mbak babi, makanya jangan berisik" puas Karin karena berhasil memasukkan kepala ikan gurame asam pedas kedalam mulut perempuan berisik itu.


Baby mengambil kepala ikan itu dengan kepedasan.


"Pedas pedas pedas" ucapnya sibuk melihat meja mencari air.


Karin langsung menyodorkan air yang bercampur kulit lemon potong. Beby menerima mangkuk air itu dan meminumnya hingga habis.


"Ah lega" ucapnya setelah merasa lebih baik.


Karin dan Kara serta kedua pelayan itu menahan tawa mereka melihat perempuan yang terlihat bingung melihatnya.


"Apa yang kalian tertawakan? belum pernah lihat orang kepedesan ya!" sewotnya.


HAHAHAHAHA


Tawa menggema di kafe itu bersama pengunjung lainnya, bukan hanya Kara dan Karin serta pelayan. Beby semakin kebingungan dan menatap seluruh orang heran.


"Ppfftt mbak babi tahu gak.."


"Beby bukan babi, kamu pikir aku binatanga apa!" marahnya karena Karin salah mengucapkan namanya.


"Oh sorry tapi yang barusan mbak minum itu air kobokan, alias air cuci tangan" mata Beby melotot tidak percaya dengan apa yang di ucapkan Karin.


Sontak saja Beby menjadi bahan tertawaan yang lainnya lagi, karena malu perempuan itu langsung pergi dari sana dengan menunduk.


"Astaga bisa aja kamu ngerjainnya dek" ucap Kara yang di balas Karin hanya mengangkat bahu acuh saja.


"Maaf atas ketidak nyamanannya mas, dek, kami akan kasih kompensasi, mas sama adek mau minum apa lagi kami akan gratiskan sebagai permohonan maaf" ucap pelayan itu.


"Nanti aja mbak, nanti saya panggil lagi kalo mau yang gratisnya" kata Kara yang di angguki pelayan itu.


Setelah pelayan itu pergi Karin langsung menyantap makanannya, begitupun dengan Kara yang sudah merasa tenang karena pengganggu sudah pergi.


"Siapa dia tadi bang?" tanya Karin di sela-sela makannya.


"Penggemar panatik" sahut Kara santai sambil makan.


"Penggemar apa salah satu korban ke playboyan mu"


"Ck, habiskan makananmu nanti gak keburu main ke playstasionnya"


Karin mengangkat bahunya tidak perduli, mau sempat main atau tidak terserah saja yang penting sudah kenyang pikir Karin.


Keduanya makan dengan lahap hingga hidangan habis, makanan Karin yang tiga porsipun habis karena itu memang kesukaan gadis remaja itu.


"Loh, mau kemana? gak jadi mainnya!" heran Kara yang melihat Karin justru berjalan kearah keluar.


"Udah gak mood" santai Karin.


Syukur lah gak keluar duit lagi batin Kara senang.


Saat menuruni anak tangga terakhir di lantai dasar, Karin di senggol seseorang sampai hampir jatuh kalau saja Kara tidak reples cepat memegangi adiknya.


"Hampir aja" ucap Kara lega adiknya tidak jatuh.


"Heh kalo jalan itu pakek mata dong" marah perempuan yang menabarak Karin.


Kara dan Karin melihat siapa yang marah itu.


"Heh, lain kali kalo jalan itu pakek mata ya, lihat nih baju mahal aku jadi lecet" sewot Sopia.


Ya yang menabrak Karin adalah Sopia yanng sedang berada di mall itu bersama dengan seorang pria yang di gandengnya.


"Heh jalan itu pakek kaki, ngelihat baru pakek mata, gitu aja gak tahu" jutek Karin melihat Sopia.


"Ngelawan lagi nih cupu kere"


"Siapa yang kamu bilang cupu kere? hati-hati kalo ngomong kamu ya" marah Kara yang tidak terima adiknya di hina.


"Hey bos, pasanganmu itu norak dan kampungan gak cocok di sini jadi jauhin dia dari tempat elite gini" ucap pria yang di gandeng Sopia.


"Dia adikku, dan adikku ini cantik alami gak kayak pasanganmu itu, tebal bedak" kata Kara membuat Sopia kesal.


"Apa maksudmu hah? aku ini cantik tahu gak kayak dia nih cupu" tunjuk Sopia pada Karin.


Karin masih diam tapi tangannya merogo sesuatu dari kantong celananya lalu mengeluarkannya. Karin tersenyum tipis melihat kedua orang di depannya.


"Oh jadi kamu cantik ya, mari kita lihat" tangan Karin yang ternyata memegang tisu basah yang baru di ambilnya dari kantong tadi ke wajah Sopia begitu saja.


Separuh wajah Sopia tersapu dengan tisu basah bahkan tidak rata, hingga wajah Sopia tersisa bekas make up yang membuat wajahnya jadi aneh. Bulu mata palsu yang di pasang juga lepas dari mata Sopia karena di tarik pula oleh Karin.


"Wah ada badut pancoran" seru Karin dengan suara keras hingga beberapa pengunjung melihat kearah mereka dan langsung tertawa melihat wajah Sopia.


Karin langsung menarik tangan Kara dan meninggalkan mall dengan tawa puas.