
"Aku sudah mendapatkan apa yang kamu inginkan" ucap Kara setelah kedua orang dewasa itu terdiam cukup lama akibat canggung yang baru saja melanda beberapa menit yang lalu.
Mendengar ucapan Kara membuat perasaan Salsa jadi senang dengan pandangan mata yang berbinar.
"Benarkah! lalu bagaimana? siapa yang menyakiti anakku?" tanyanya penasaran walaupun ia sudah ada gambaran pelakunya.
"Sebelum aku menjawabnya, aku punya pertanyaan untukmu"
Kening Salsa mengkerut lalu memangguk tanda ia mempersilahkan Kara untuk bertanya dulu sebelum menjawab pertanyaannya.
"Apa kamu dan dia sudah resmi bercerai?" tanya Kara dengan wajah serius.
"Ya, kami sudah resmi bercerai dua tahun lalu" jawab Salsa pasti.
"Lalu apa hak asuh Kiko jatuh padamu sepenuhnya?"
"Iya"
Kara mengangguk dengan mata yang menatap bicah kecil yang masih asik dengan dunianya menonton kartun.
"Orang yang melukai Kiko adalah wanita yang Yuni, kamu pasti tahu siapa dia bukan!" pandangan Kara beralih lagi pada Salsa yang terlihat mengangguk.
Namun sangat terlihat jelas kekesalan dan rasa marah di wajahnya juga matanya. Wajar jika Salsa marah, ibu mana yang tidak akan marah kalau anak sendiri yang di lahirkan dengan bertaruh nyawa harus kembali padanya dalam keadaan kesakitan bahkan tanpa di sang papa.
"Lalu apa papanya Kiko tahu kalau anaknya di sakiti?" tanya Salsa penasaran.
"Kemungkinan tahu karena Kiko di pukul di tempat yang gak jauh dari posisi laki-laki itu duduk, tapi gak ada respon apapun selain melihat sebentar"
"Bahkan sewaktu anaknya menangis kesakitanpun dia tetap diam?" tanya Salsa tidak percaya yang hanya mendapat anggukan dari Kara.
Salsa mengusap wajahnya tidak habis pikir dengan sang mantan suami. Papa macam apa yang tega membiarkan darah dagingnya sendiri di sakiti orang lain, sesayang apapun dia pada sang istri tapi anak tidak seharusnya di biarkan untuk di pukuli sampai begitu parahnya.
"Aku akan menuntut wanita itu dan si bedebah bodoh itu" geram Salsa yang sangat marah mengetahui hal tidak mengenakkan itu.
"Tenanglah, aku punya usulan yang lebih baik" ucap Kara membuat Salsa menatapnya bingung dan penasaran.
"Usulan apa?"
"Biarkan saja mereka bebas jangan di laporkan ke polisi, tapi jangan pernah kamu berikan ijin pada mereka kalau ingin bertemu dengan Kiko lagi apapun alasannya mereka, kamu berikan saja alasan apapun pada mereka supaya gak bawa Kiko pergi"
"Tapi mana mungkin mereka mau pergi Kar kalo alasannya gak kuat" ragu Salsa dengan ucapan Kara.
"Kamu ibunya dan kamu pasti lebih tahu apa yang harus kamu lakukan untuk mempertahankan anakmu" ucap Kara lagi yang membuat Salsa diam.
"Jangan bilang juga kalau kamu punya bukti atas kejahatan mereka sama Kiko yang udah buat Kiko ke sakitan, orang macam mereka itu pasti akan melakukan sesuatu yang bakalan buat mereka memiliki sepenuhnya apa yang mereka inginkan, jadi biar bukti itu nanti jadi senjata kita untuk mempertahankan Kiko" jelas Kara lagi.
Yah, kini Salsa paham maksud dari Kara. Sudah dua tahun lebih Salsa dan mantan suaminya itu bercerai dan tidak memiliki keturunan, sedangkan keluarga mantan suaminya sangat menginginkan keturunan untuk meneruskan bisnis mereka.
Walaupun dulu mereka membuangnya dan Kiko setelah mendapatkan wanita yang lebih kaya. Apa lagi wanita itu merupakan seorang wanita karir yang sangat mementingkan keindahan tubuhnya, pasti akan berpikir berulang kali untuk memiliki anak.
Jadi tidak menutup kemungkinan kalau bisa saja ia meminta suaminya untuk mengambil hak asuh Kiko jatuh pada mereka. Apa lagi dengan uang mereka yang banyak, walaupun hak asuh Kiko sudah di milikinya sejak lama dan sudah sah tapi apapun bisa terjadi hanya karena uang.
"Bagaimana?" tanya Kara yang masih melihat keterdiaman Salsa.
"Aku setuju dengan saranmu, terimakasih karena sudah mau membantuku dan memberi saran" ucap Salsa tulus dengan senyum manisnya.
Kara yang kembali melihat senyuman manis yang dulu miliknya dan selalu di dapatkannya kinj diam mematung. Ia tidak percaya kalau akan melihat senyuman yang biasanya hanya menjadi bunga tidurnya saja.
"Iya" sahut Salsa yang tadinya juga merasa berdebar karena di tatap oleh pemuda yang hingga kinipun masih menempati hatinya di lain sisi.
"Om pergi dulu ya anak tampan, jangan nakal sama mama ok" Kara mengecup pipi kanan dan kiri Kiko yang di balas senyuman ceria anak gembul itu.
Tak lupa pula Kiko balas mengecup kedua pipi Kara lalu melambaikan tangannya dengan senyuman.
"Ya ampun gemasnya! jangan bikin om gak bisa pergi deh ya akibat kelucuan kamu" gemas Kara lalu mengelus rambut Kiko dan pergi.
Salsa menatap kepergian Kara yang semakin menjauh dari pandangannya.
"Kamu gak pernah berubah Kara, masih sama seperti dulu sangat perhatian dan lembut, hanya saja wajah kamu semakin tampan dan semakin berwibawa, tapi sayang kita gak mungkin bisa bersama lagi" sendu Salsa yang tidak ingin terlalu berharap akan kembali merajut cinta dengan pemuda yang pernah ia tinggalkan demi ornag tuanya dulu.
Di rumah keluarga Banu..
Karin baru saja turun ke lantai bawah setelah seleaia ganti pakaian. Ya hari ini Aldi datang dan akan mengajaknya untuk pergi jalan-jalan katanya.
"Ya ampun anak mama cantik banget" puji Tati saat melihat anak gadisnya sudah turun dengan pakaian santai namun tetap cantik dengan rambut yang di kuncir satu dan setelan rok selutut dan baju kaosnya.
"Cantikan juga mama" ucap Karin sembari memeluk mamanya.
"Ya jelas mama lebih cantik orang mama udah laku sampe bisa ada kamu sama abang" canda Tati membuat dua anak muda di dekatnya terkekeh.
"Kalo gitu Aldi pamit dulu ya tante dan ijin juga buat bawa Karin pergi" ucap Aldi berpamitan.
"Iya, tante titip Karin ya Al jagain anak tante yang cantik ini" kata Tati tersenyum.
"Iya tante Aldi pasti jagain Karin kok" senyum tipis Aldi pada Tati.
"Ya udah ma Karin pamit"
Kedua anak muda itu langsung menyalami tangan Tati sebelum pergi sebagai hormat yang muda pada yang lebih tua.
"Hati-hati di jalan ya sayang" ucap Tati sembari melihat pasangan itu berlalu keluar rumah karena Tati memang tidak mengantar sampai luar.
"Iya ma" sahut Karin.
Sampai di luar Karin melihat ke sana sini masih mengikuti langkah kaki Aldi di sampingnya.
"Mana mobil kamu Di?" tanya Karin menatap laki-laki di sampingnya.
"Kita naik itu" tunjuk Aldi pada sebuah motor yang terparkir di depan garasi mobil.
Mata Karin membulag kaget dengan apa yang di lihatnya. Bukan karena motor itu sangat keren atau sangat berkelas, tapi motor yang di bawa Aldi adalah motor vespa jaman dulu yang terlihat masih sangat terawat.
"Kamu serius mau ajakin aku naik itu?" tunjuk Karin pada motor di depannya sembari menatap Aldi meyakinkan.
"Iya, kamu gak suka?" tanya Aldi dengan perasaan yang sedikit menyesal karena tidak menanyakan lebih dulu apakah Karin mau naik motor antik itu atau tidak.
"Suka banget malah, udah lama rasanya gak pernah naik vespa" semangat Karin langsung menyentuh motor itu dengan senyum yang terkembang.
Aldi merasa lega saat ternyata Karin tidak keberatan dengan motor yang dia bawa. Malah gadis itu terlihat sangat senang.
"Ayo kalo gitu kita langsung meluncur" ucap Aldi mulai meraih helm dan memakainya kemudian memakaikan pada Karin helm satu lagi.
Setelahnya mereka mulai melaju bersama motor vespa dengan di ikuti oleh pengawal Karin yang sudah tampil dengan pakaian santai juga supaya lebih nyaman dan tidak mencolok