First Kiss

First Kiss
Berkelahi



Aldi mengetuk pintu ruang guru yang langsung mendapat perhatian dari seluruh guru yang sedang istirahat.


"Ada apa Al?" tanya salah satu guru di sana.


"Ambil air" sahut Aldi langsung menuju galon yang ada di ruang guru untuk mengisi botol Karin.


Para guru kembali pada kegiatan masing-masing tanpa perduli dengan keberadaan Aldi di sana. Selesai mengisi botol Aldi langsung pergi dari sana.


"Permisi" ucapnya tetap sopan pada yang lebih tua.


"Iya" sahut mereka serentak walau masih fokus pada apa yang di kerjakan.


Aldi berjalan menuju kelasnya yang tidak jauh dari ruang guru, itu sebabnya Aldi lebih memilih kesitu dari pada kekantin yang lumayan jauh. Karin yang sudah haus bisa-bisa marah lagi padanya karena lama.


TUK


Botol milik Karin di letakkan di atas meja oleh Aldi tepat di depan si pemilik yang langsung menyambar botol minumnya. Karin minum sampai habis setengah botol baru ia kembali menutup botolnya dan menyimpannya tanpa menawari Aldi.


"Untukku" ucap Aldi menatap Karin.


"Apa?"


Minumnya"


"Bukannya tadi udah minum"


"Habis buat jalan"


"Yang benar aja" Karin mengeluarkan botolnya dan memberikannya pada Aldi yang langsung di habiskan isinya.


"Kok di habisin lagi sih!" kesal Karin karena botolnya kosong lagi.


"Buang aja botolnya"


"Ck, ngeselin, besok-besok mending bawa galon aja biar gak di habisin kamu" gerutu Karin.


"Ide bagus"


"Huh, diem deh jangan bikin tambah kesel" gerutu Karin melihat Aldi.


"Tukang gerutu"


"Gak dengar gak dengar" Karin menutupi wajahnya dengan buku.


Aldi hanya geleng kepala melihat hal itu dan memutuskan untuk tidur karena sudah kenyang juga. Nasi goreng yang di bawa Karin sangat enak, kalau minta di bawakan bekal lagi besok malu-maluin gak ya gumam Aldi dalam hati.


----------------


Bel pulang sekolah sudah berbunyi, semua murid keluar kelas hendak pulang. Ada yang naik motor, ada yang di jemput ada pula beberapa yang membawa mobil sendiri.


Mobil keluaran terbaru sering terlihat di parkiran sekolah itu, siswa yang anak seorang pengusaha atau pekerjaan orang tuanya mendapatkan banyak uang. Membuat mereka bisa gonta ganti mobil dan motor keluaran terbaru setiap tahunnya.


Hanya Karin seorang diri saja yang pulang pergi naik bus, tapi kali ini Aldi terus mengikuti langkah Karin yang keluar kelas sampai hampir keluar gerbang.


"Aku antar" ucap Aldi menahan tangan Karin.


"Gak makasih"


"Gak terima penolakan"


"Hey hey tuan pemaksa lepas, orang gak mau juga" Karin menarik tangannya berusaha lepas dari Aldi.


Tapi pegangan tangan Aldi yang kuat membuat Karin tidak bisa pergi.


"Lepasin Di, pada ngeliatin tuh"


Mendengar Karin menyebutkan namanya dengan kata 'Di' saja membuat tubuh Aldi diam membeku. Rasanya panggilan ini sangat familiar di telinganya dan semakin membuatnya merasakan perasaan akrab.


Melihat peluang kabur sangat memungkinkan karena Aldi yang terdiam, dengan cepat Karin menarik tangannya dan lari secepat kilat menjauhi Aldi.


Saat sadar Karin kabur Aldi langsung berusaha meraih tangan gadis remaja itu lagi, tapi yang di jangkau sudah menjauh.


"Kaki boleh pendek larinya kencang juga" gumam Aldi pelan sembari mendekati motornya di parkiran.


Karin berhenti di halte yang sudah terdapat tiga orang di sana. Karin mendudukkan dirinya sembari mengatur napas yang tersengal.


"Huh lain kali kalo dia maksa lagi ku tendang dia" gumam Karin masih mengatur napasnya.


"Capek ya neng habis lari-lari" ucap seorang pria yang memang ada di sana saat Karin datang.


Karin hanya melihat sejenak dan kembali melihat kedepan tanpa perduli dengan ketiga pria yang menatapnya dengan sangat berminat.


"Sombong amat neng" pria itu menyentuh dagu Karin yang langsung di tepia oleh gadis remaja itu.


"Jangan kurang ajar ya bang" marah Karin berdiri dan menyingkir di pinggiran halte.


"Sini neng jangan di pinggir nanti kesaber bus loh" goda mereka.


"Sini-sini sama abang biar di temani ngobrol" mereka menarik Karin untuk mendekat.


Tapi Karin memukul tangan mereka dengan keras kemudian lari meninggalkan halte. Rupanya para pria tadi mengejar Karin juga hingga membuat gadis remaja itu berdecak kesal.


"Cepek neng lari-lari"


"Dari pada lari-lari mending ikut kita senang-senang yuk"


"Lebih menyenangkan loh neng dari lari-larian"


Saat tangan mereka akan meraih tangan Karin, Karin sudah lebih dulu menendang salah satu dari mereka. Hal itu membuat yang lainnya murka.


"Dasar perempuan gak tahu di untung" geram mereka menyerang Karin bersamaan.


Perkelahian antara satu lawan tiga membuat Karin sedikit kualahan, sampai datang dua pertolongan lain membantu Karin melawan ketiga pria itu.


"Hah hah haduh capeknya, lama gak ikut tarung badan jadi sedikit kaku barantem lagi" gumam Karin mengatur napas dan melihat mereka yang berkelahi.


"Ampun mas ampun" teriak para pria yang menyerang Karin tadi.


"Ampun mas gak berani lagi deh, buat mas berdua aja tuh cewek cupu"


BUKH


"Berani-beraninya brengsek kaya kami bilang adikku cupu, kamu bahkan lebih rendah dari gembel di jalan" marah Kara karena adiknya dihina.


"Pergi" ucap Aldi dengan nada dinginnya.


Ketiga pria itu berlari dengan tergopoh-gopoh, bahkan pria yang tadi di pukul lagi oleh Kara di papah oleh kedua temannya akibat lukanya yang lebih parah.


"Kamu baik-baik aja kan dek?" Kara membolak-balikkan tubuh Karin memeriksa sang adik.


"Mana yang sakit? mana yang luka? mana yang di sentuh mereka?" cecar Kara panik.


"Udah kali bang, lebay banget" ucap Karin agar abangnya berhenti memutar tubuhnya.


Kalau tidak di gitukan Kara bisa terus bertanya dan sangat panik, bahkan menghubungi orang tua mereka.


"Kamu ini, abang lagi khawatir juga"


"Tapi jangan selebay itu juga kali"


Pandangan Karin beralih pada Aldi yang sedang menatapnya intens.


"Makasih Di udah nolongin" ucap Karin tersenyum kecil pada Aldi yang masih menatapnya.


"Lain kali jangan bandel" Aldi menarik hidung Karin kemudian berlalu begitu sajaa dari sana.


"Thaks bro udah ikut nolongin Karin" teriak Kara pada hal Aldi belum jauh dari mereka.


"Jangan teriak-teriak kali bang! kayak di hutan aja" gerutu Karin.


Kara tidak menanggapi ucapan adiknya karena masih menatap Aldi yang mulai melaju membawa motornya pergi.


"Ayo pulang" ucap Kara ketus.


Karin menghela napasnya pasrah, kalau sudah begini pasti ia akan mendapat ceramahan panjang kali lebar dari abangnya. Belum lagi dari kedua orang tuanya yang pastinya akan semakin protektif padanya nanti.


Selama perjalanan pulang, Kara hanya terdian fokus pada jalan, sedangkan Karin yang merasa penasaran akan kehadiran abangnya langsung bertanya karena sudah penasaran.


"Abang kok bisa datang nolongin Karin? memangnya dari mana?"


"Ada kerjaan tadi di tempat yang kemaren, lagian kalo abang gak dateng udah habis kamu di buat mereka bertiga"


"Kan ada Aldi tadi yang nolongin" gumam Karin pelan.


"Oh jadi maksudnya kamu sengaja lakuin itu supaya di tolongin sama si laki-laki dingin tadi? heh bocah, kalo suka itu di bilang bukan cari perhatian dengan cara yang kayak tadi" kesal Kara.


"Siapa juga yang suka sama si bunglon itu? abang kali tuh yang suka sama dia sampe nengoin dia gak kedip"


"Heh abang masih normal ya, masih doyan tempe goreng"


"Ya iyalah orang setip mama masak tempe goreng abang yang habisin, Karin gak di kasih"


"Udah ah jangan bahas itu, pokoknya nanti abang mau kasih tahu papa sama mama tentang yang tadi" ucap Kara membuat Karin gelisah.


"Yah jangan dong bang, nanti Karin gak di bolehin lagi naik bus ke sekolah"


"Masa bodo"


"Abang kok gitu sih"


"Terserah" acuh Kara yang tidak ingin mendengar rengekan adiknya yang bisa membuatnya luluh.


"Ple.."


"Gak ada pleas pleasan pokoknya abang bilang sama papa mama, keputusan abang udah final, kamu diem aja di situ"


Karin akhirnya bungkam karena sudah tidak memungkinkan baginya untuk membujuk abangnya agar bungkam dan tidak memberitahukan orang tuanya.


Pasrah saja pikir Karin.