
"Kita mau kemana lagi?" tanya Aldi saat keduanya baru keluar dari tempat bioskop.
Karin nampak berpikir sejenak, lalu menggelengkan kepalanya tidak tahu.
"Aku ngikut kamu aja" sahut Karin santai dengan tangan yang menggandeng Aldi mesra.
"Ya udah kita jalan-jalan aja dulu ya, nanti di mana ada tempat yang kira-kira enak buat nongkrong kita berhenti" ucap Aldi menatap Karin yang mengangguk mengiyakan.
Keduanya berjalan keluar dan menuju tempat motor vespa Aldi di parkir. Keduanya melesat dengan vespa itu melalui jalanan beraspal. Tidak lupa pula iringan mobil pengawal Karin yang berada di jarak beberapa meter di belakang motor yang di naiki nona mereka.
Sepanjang perjalanan santai itu, Karin memeluk Aldi dari belakang dengan mesra. Walau tidak bisa melihat wajah Aldi karena sedang fokus mengendara, juga terhalang helm yang mereka gunakan.
Walaupun hanya jalan-jalan biasa dan tidak jauh tapi keselamatan tetap yang utama bagi Aldi. Apa lagi mengingat Karin yang masih sedikit trauma akan kecelakaan jadi Aldi berusaha memberikan kenyamanan bagi Karin.
Aldi juga tidak mengabaikan Karin begitu saja, sesekali tangan Aldi akan memegang tangan Karin yang ada di pinggangnya dan mengelusnya lembut. Wajah datar Aldi juga tidak terlihat oleh Karin karena Aldi tidak menoleh saat melakukan hal itu.
Sedang asik menikmati jalan-jalan mereka berdua, sebuah mobil tiba-tiba mendekat pada motor yang sedang di kedarai oleh Aldi juga Karin. Aldi tidak memperdulikan mobil itu namun ia sesekali melirik tajam pada mobil yang semakin mendekat itu, hingga mobil yang mengikuti mereka juga mendekat di belakang tuannya.
"Aldi sayanggg, kamu mau kemana naik vespa begitu? aku ikut dong!" teriak seorang perempuan dari dalam mobil yang kacanya sudah di turunkan.
Karin memutar bola matanya malas melihat siapa yang berteriak itu, begitupun dengan Aldi yang terlihat semakin malas dan tidak memperdulikan lagi keberadaan orang itu.
"Aldi sayang aku mau di boncengin kamu naik vespa dong! masa dia yang di boncengin!" ucap perempuan itu lagi.
Mobil yang di kendarai Sopia bersama supirnya semakin mepet pada motor Aldi hingga Aldi terpaksa harus semakin menepi. Terdengar juga klakson dari mobil belakang yang memberi isyarat pada mobil Sopia untuk menyingkir.
Namun bukannya menyingkir mobil Sopia justru semakin merapat hingga hampir menyenggol motor Aldi. Sopia mengeluarkan tangannya dan berusaha menyentuh Aldi.
"Aldi sayang tunggu aku dong, aku mau di boncengin juga" teriak Sopia masih dengan tangan yang berusaha meraih Aldi.
Karin yang melihat mobil Sopia mendekat langsung ketakutan dan memeluk perut Aldi erat. Bayangan kejadian sebelum kecelakaan dulu kembali melintas di benaknya dan membuatnya ketakutan. Apa lagi posisi mereka yang semakin ke pinggir aspal.
Tubuh Karin berkeringat dingin dan menegang ketakutan. Rupanya bayangan akan kejadian itu belum sepenuhnya hilang bersamaan dengan traumanya akan kecelakaan.
Menyadari keadaan Karin yang tidak baik di belakangnya membuat Aldi kesal dan semakin menatap tajam pada Sopia yang masih saja berteriak memanggil namanya.
Bahkan suara klakson di belakang semakin melengking juga suara makian dari pengawal Karin terdengar yang menyuruh supir Sopia untuk pergi. Tapi tidak di hiraukan.
Untung tidak lama setelahnya Aldi langsung membelokkan kendaraannya ke jalan yang memang sudah belokan itu. Melihat hal itu membuat Sopia dengan cepat meminta supirnya untuk belok juga mengikuti Aldi. Tapi karena mereka sudah kelewatan jadi harus memutar lebih dulu.
Setelah belok ke simpang di mana Aldi belok tadi, Sopia meminta supirnya melaju cepat dan mengejar Aldi. Ia yakin kalau Aldi belum jauh mengingat motor vespa tidak bisa terlalu kencang dan masih bisa di kejar.
Saat melihat apa yang di carinya Sopia meminta supirnya untuk lebih cepat.
Dengan semangat membara Sopia kembali berteriak memanggil Aldi.
"Aldi sayang aku ikut dong nemenin kamu, dari pada sendirian kan gak enak" ucap Sopia kembali mengulurkan tangannya untuk menyentuh Aldi.
Bahkan mobilnya kembali merapat pada motor Aldi, dengan senyuman manisnya Sopia terus memanggil Aldi. Namun senyuman itu tidak berlangsung lama saat melihat siapa sesungguhnya orang yang ada di atas motor vespa itu.
Dua orang pria dengan wajah sangarnya menatap tajam dan datar pada Sopia, belum lagi tangannya yang di gerakkan seperti memotong di bagian lehernya.
Sontak saja hal itu membuat Sopia menelan ludahnya dengan susah payah.
"Ayo pergi pak" ucapnya pada supirnya yang langsung melaju dengan cepat. Bahkan kaca mobilnya juga langsung di tutup rapat.
"Kenapa orang itu? kayaknya itu vespanya Aldi deh, helmnya jugakan! mana mungkin aku salah ngenali apapun milik Aldi" gumamnya pelan semabari terus berpikir.
Sopia memang selalu memperhatikan Aldi secara mendetail setiap kali mereka bertemu. Dari itu pula Sopia selalu hapal dan tahu apa saja yang di kenakan Aldi dan bagaimana penampilan pemuda itu. Tapi kenapa tadi dia salah orang ya! padahal ia yakin kalau motor itu milik Aldi.
Tanpa Sopia ketahui kalau motor vespa itu memang milik Aldi. Hanya saja tadi saat sudah belok dan sedikit jauh dari simpang itu, Aldi menghentikan vespanya yang di ikuti oleh mobil pengawal Karin.
Aldi meminta mereka untuk membawa vespanya pulang, sedangkan dia bersama Karin masuk ke dalam mobil karena tubuh Karin yang dalam kondisi kurang baik.
Setelah bertukar tadi mobil yang di naiki Aldi langsung melaju dengan cepat menuju rumah sakit untuk memeriksakan kondisi mental Karin yang masih truma. Karin tidak melepaskan pelukannya dari Aldi, bahkan badannya masih gemetaran.
Aldi mengelus punggung Karin dengan lembut dan sayang berusaha memberikan ketenangan pada gadis itu. Hingga tidak lama mereka tiba di salah satu rumah sakit tempat dulu Karin di rawat.
Setelah mendaftar pada salah satu dokter, keduanya langsung masuk karena sedang tidak ada pasien lainnya. Begitu sampai di dalam mereka di sambut oleh seorang dokter psikolog pria yang sudah menunggu.
Aldi mengatakan semuanya yang di alami Karin pada dokter itu, karena Karin sendiri masih memeluknya dan belum mau lepas. Dokter itu menangguk memberi beberapa saran pada Aldi. Saat akan membuat janji bertemu lagi untuk melihat perkembangan kondisi Karin nantinya, gadis itu justru menolak dengan manjanya.
Dokter itu yang melihat Karin sangat manja langsung saja mengeluarkan kata-katanya untuk membujuk Karin agar mau kembali lagi menemuinya.
"Adek cantik belum sehat jadi besok kesini lagi ya kita ketemu lagi" ucap dokter itu dengan suara yang sangat lembut juga pandangannya yang nampak mendamba pada Karin.
Melihat hal itu tentu saja membuat Aldi meradang, memang pesona Karin sangat tidak bisa di elakkan. Walau baru bertemu tapi dokter muda itu sepertinya tertarik pada kekasihnya. Gak bisa di biarkan batin Aldi.
"Kita pulang ya" ucap Aldi pelan pada Karin yang langsung di angguki gadis itu.
Karin bahkan hanya melihat sekilas saja pada dokter di hadapannya lalu melihat Aldi lagi.
"Permisi" ucap Aldi dengan wajah datarnya, tadi dia masuk dengan wajah cemas sekarang sudah tidak lagi karena keadaan Karin yang sudah lebih baik.