First Kiss

First Kiss
Bercerita



"Sejuknya" gumam Karin menutup matanya dan menghirup udara segar di pinggir kolam buatan yang cukup luas di taman sekolah.


"Kamu suka?" Karin mengangguk tanpa membuka matanya.


Aldi menatap Karin dengan tersenyum manis. Tidak pernah Aldi menyangka kalau perempuan yang menjadi murid baru di sekolahnya beberapa bulan lalu itu adalah orang yang selama ini di carinya.


Bolehkah Aldi menganggap kalau mereka memang di takdirkan bersama dan Karin adalah jodohnya. Membayangkan mereka hidup bersama membuat Aldi semakin tersenyum lebar.


Karin membuka mata lalu melihat Aldi yang masih tersenyum menatapnya. Kening Karin mengkerut melihat itu, kenapa dia? pikirnya.


"Di, kamu kenapa Didi?" tanya Karin menepuk lengan Aldi pelan membuat laki-laki itu tersentak.


"Eh kenapa?" tanyanya.


"Kamu itu loh yang kenapa? senyum-senyum sendiri gak jelas gitu" sahut Karin membuat Aldi menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Didi seneng aja lihat kamu senyum kaya gitu, makin kelihatan cantik tahu gak"


"Apa sih Di? receh" Karin menatap samping karena malu.


"Kalo gombalan bisa di jadikan receh, Didi mau gombal banyak-banyak lah biar dapet uang receh banyak kan lumayan jumlahnya kalo di kumpulin semua"


Karin menatap Aldi dengan alis bertaut bingung.


"Memangnya buat apa uang receh banyak-banyak?" tanyanya.


"Buat modal nikahin kamulah" Aldi mengedipkan satu matanya pada Karin.


"Ish genit, lagian buat apaku uang receh, gak bisa buat beli" kata Karin.


"Siapa bilang uang receh gak bisa buat beli?" tanya Aldi.


"Aku barusan" sahut Karin menunjuk dirinya sendiri.


"Ini nih anak sekolah yang gak pernah lihat berita" ucap Aldi seraya menjawil hidung Karin.


"Apa hubungannya coba?"


"Ya ada lah, di berita itu pernah nanyangin tentang orang yang beli barang mewah pake uang receh" kata Aldi menbuat Karin menatapnya tidak percaya.


"Masa sih?"


"Iya sih" canda Aldi.


"Ihs serius Di, memangnya ada? apa yang di beli emang?" penasaran Karin.


"Tergantung kemauan orangnya sih dia nyimpen uang receh buat apa, ada yang buat beli motor dari yang harganya 20an juta sampe 40an juta juga ada, bahkan ada yang beli mobil lagi yang harganya 100 juta lebih" ucap Aldi.


Karin melongo mendengar cerita Aldi itu,Karin yang lebih suka membaca buku ketimbang melihat tv memang tidak pernah tahu akan adanya hal seperti itu. Apa lagi jaman sekarang uang receh sudah tidak laku lagi, bahkan jarang ada di masyarakat kecuali di supermarket untuk kembalian. Bahkan terkadang orang lebih suka di beri permen dari pada uang receh.


"Itu uang receh semua? yang logam itukan! gopean sama seribuan" Aldi mengangguk.


"Tapi kan di kota itu gak ada lagi, bahkan gak laku, pada hal di desa itu masih laku bahkan dapet permen" gumam Karin menatap Aldi masih ragu.


"Mungkin ia di kota uang logam atau recehan udah gak laku lagi kalo seribu sama gopean, tapi buktinya memang udah ada loh yang bisa beli kendaraan pake uang receh itu, dari uang logam sampe kertas yang seribu dua ribu, paling besar uangnya lima ribulah"


Karin diam dan nampak berpikir sejenak, Aldi langsung menyentuh pundak Karin guna menghentikan gadis itu supaya jangan terlalu memikirkan kenyataan yang di katakannya tadi.


"Udah gak usah di pikirin, nanti kalo kita pulang kampung punya uang receh buat beli permen" ucap Aldi.


"Gak ah, aku mau nyimpen uang recehnya buat beli sesuatu juga" ucap Karin.


"Kamu mau beli apa memang?" tanya Aldi penasaran.


"Belum tahu sih mau beli apa, mungkin di simpen dulu aja kali ya uangnya"


"Banyak uang logam kamu memangnya?"


"Gak sih, cuma dua ribu, itu gopean 4 biji" cengir Karin menatap Aldi.


Aldi tersenyum mengusap kepala Karin gemas, ia mengira gadis remaja itu sudah punya banyak uang logam tapi ternyata cuma ada 4 biji gopean.


"Kamu punya gak uang receh?" tanya Karin melihat Aldi.


Aldi mengkerutkan keningnya berpikir.


"Kayanya..." Karin menatap penuh harap pada Aldi. " Gak" harapan Karin hancur sudah mendengarnya.


"Ck, kirain punya" ucap Karin dengan wajah datarnya.


Aldi memeluk Karin yang mduduk di sampingnya, karena mereka memang duduk di kursi yang ada di pinggiran kolam itu.


"Bukannya dulu sewaktu kita di desa udah habisnya kita pakek buat beli segala jenis permen, ada yang manis, ada asam, ada yang sedikit pedas ada yang rada pahit, yang pasti semua rasa permen itu kita cobain" ucap Aldi.


Karin tersenyum memegang tangan Aldi yang memeluknya.


"Masa sih! tapi aku kok gak ngerasa ya kalo suka permen" ucapnya menyandarkan tubuh pada Aldi yang semakin memeluk tubuh Karin erat.


"Itu karena dulu kita di marahin sama bude Isa karena terlalu banyak permen yang kita beli, bahkan nenek aku juga marah waktu itu karena uang tabungan aku habis buat beli itu sampe pecah celengan ayam aku, itu kamu yang buat demi beli permen" kekeh Aldi yang di ikuti Karin.


"Kayaknya dulu kita nakal banget ya waktu kecil? sampe buat yang lain marah cuma karena permen" ucap karin di angguki Aldi.


"Ya gimana gak marah kalo permennya sampe ada 7 bungkus, belum lagi yang di toples besar sama yang rencengan aja udah berapa, sampe yang punya warung tempat kita beli heran"


"Tapi tetep di kasih kan!"


"Iya, namanya juga pedagang, walaupun heran ya tetap di kasih, lumayankann rezeki"


Karin menganggku dengan senyumannya yang mengambang. Keduanya terus berbagi cerita sampai akhirnya ada seorang yang memanggil mereka, lebih tepatnya memanggil Aldi.


"Aldi" kedua orang yang masih berpelukan itu langsung melepaskan pelukan mereka dan menjarak duduk keduanya. Dan melihat siapa yang datang mengganggu.


"Kenapa?" tanya Aldi.


"Di cariin bu Sari, kalian di minta kumpul di kelas" ucap laki-laki itu.


Aldi mengangguk lalu menatap Karin yang tersenyum.


"Ayo" Aldi mengulurkan tangannya yang di sambut oleh Karin.


Mereka bertiga jalan bersama menuju lantai dua tempat dimana kelas 12 berada.


"Oh iya Al, makasih ya untuk bea siswanya, aku bakalan belajar giat supaya gak malu-maluin sekolah" ucap laki-laki itu yang ternyata dialah pengganti Aldi untuk bea siswa kuliah du luar negeri itu.


"Jadi kamu orangnya?" laki-laki itu mengangguk.


"Namaku Fikri dari kelas 12F, kita sama-sama di IPA" ucapnya mengulurkan tangan di sambut Aldi lalu mengangguk.


"Kata kepala sekolah kamu kehilangan bea siswa setahun ini, kenapa?"


Fikri menghela napas panjang.


"Itu karena aku jarang masuk tanpa kabar, sekalipun ada kabar tetap aja bea siswa itu bakalan di cabut" Aldi menoleh pada laki-laki di sampingnya.


"Kenapa gitu?" penasarannya.


"Karena aku gak masuk bisa sampe lima hari bahkan pernah waktu itu satu minggu dan di situlah bea siswaku di cabut"


"Alasan kamu gak sekolah apa?" tanya Karin pula yang ikut penasaran walau ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada kedua orang itu.


"Dulu itu ibuku sakit, sedangkan kami tinggal cuma berdua jadi gak ada yang jagain ibuku, kadang kalo pagi aku sekolah, siang jagain ibu malam kerja, apapun itu asal halal, aku juga seding menyempatkan diri untuk belajar supaya gak ketinggalan pelajaran, sampe yang aku gak sekolah seminggu itu ibuku meninggal" terlihat raut sedih di wajah Fìkri.


"Kenapa gak kamu jelaskan sama pihak sekolah penyebab absenmu?" tanya Aldi lagi.


"Hah, ketua kelas sama sekretaris di kelas kami itu orangnya sok hebat, apapun yang di bilangnya pasti bakalan di turuti sama wali kelas kami yang kebetulan saudara sekretaris itu, sekalipun ku jelaskan sama ibu itu gak bakalan di perdulikan karena pada dasarnya mereka gak suka aku sekolah di sini" Fikri menunduk.


Aldi kini paham akan keadaan Fikri dan sepertinya ia harus meminta ayahnya untuk membereskan masalah anak buahnya yang sudah bertindak tidak adil itu.


"Ya sudah itu nanti gampang di urus, sekarang kamu dapet kepercayaan lagi, jadi jangan buat kecewa apa lagi ibumu udah gak ada, buat dia bangga sama kamu dengan kesuksesanmu" ucap Aldi menepuk pundak Fikri yang tersenyum padanya.


Ternyata Aldi gak seburuk yang orang-orang bilang batin Fikri yang sudah merasa lega karena bebannya berkurang dengan bercerita pada Aldi apa yang menjadi masalah yang ia pikul sendiri.