First Kiss

First Kiss
Bekas apa?



Aldi melihat ke sana sini mencari sesuatu, tapi apa yang di carinya tidak juga di temukan. Dua jam sudah laki-laki itu berdiri di depan kelasnya hanya untuk menunggu seseorang.


Karin, ya Aldi sedang menunggu Karin yang biasanya selalu tepat waktu tapi kini sudah tiga hari sejak pertemuan terakhir mereka. Gadis remaja yang sering di ejeknya tukang gerutu itu tidak juga muncul di sekolah.


"Kemana dia?" gumam Aldi mulai gelisah.


Sepertinya hari ini pun Karin tidak akan datang karena bel masuk sekolah saja sudah 3 jam yang lalu. Aldi sudah menunggunya sejak datang tadi, kalau biasanya mereka akan bertemu di lorong atau parkiran sekarnag tidak lagi.


"Hah, apa aku harus kerumah tante Tati? tapi apa alasannya?" gumam Aldi berjalan menyusuri setiap lorong tanpa tujuan entah mau kemana dia pergi.


"Kalo ngajakin bunda alasannya apa? kan malu kalo bilang mau main kerumah tante Tati, bunda pasti bakallan langsung mikir aku mau ketemu sama si tukang gerutu itu, walaupun bener"


"Hah, apa alasannya ya? mikir Aldi mikir" gumaman Aldi terus berlanjut dengan segala pemikiran alasan apa yang harus di berikannya untuk mengajak sang bunda peegi bertandang ke rumah keluarga Banu.


Tidak terasa langkah Aldi terus berlanjut sampai tanpa terasa ia sudah mengelilingi seluruh lorong bahkan gedung sekolah itu. Bagai sedang patroli di gedung milik ayahnya Aldi mengelilingi gedung itu.


Sampai akhirnya langkah Aldi sampai melewati gudang penyimpanan alat kebersihan dan alat lainnya. Aldi yang melewati gudang itu berpikir untuk mengecek alat yang ada.


Tapi langkahnya terhenti saat mendengar suara dari arah dalam yang membuatnya cukup kaget. Awalnya Aldi tidak perduli tapi karena mereka membicara perempuan berbaju seksi Aldi jadi penasaran, biasanya baju seksi identik dengan terlihatnya beberapa bagian tubuh. Kali aja bahunya kelihatan pikirnya memasang pendengaran lebih gajam.


"Kamu tahu, semalam aku ketemu sama Neli di acara ulang tahun temenku, trus aku lihat dia pakek baju seksi banget tapi yang potongan bajunya kayak abis mandi itu"


"Kaya abis mandi gimana maksudmu?"


"Ya gimana gak kayak abis mandi orang bajunya cuma pinjungan aja, ala-ala perempuan kalo abis mandi pakek handuk di sangkutkan di dadanya"


"Oh iya aku tahu, trus gimana dadanya besar gak?"


Siapa sih di dalem? dari suaranya kaya masih muda tapi kok nanyain dada heran Aldi geleng kepala tapi tetap pada posisinya yang tidak jauh dari pintu.


"Dadanya ya! bolehlah, tapi keliahatan sedikit aneh karena montoknya itu kaya yang di paksa banget jadi kelihatan sesek"


"Mungkin dia rata tapi karena mau pakek baju seksi jadinya di pasang sesuatu di situnya supaya kelihatan besar dadanya"


"Bis ajadi sih, tapi tahu gak di punggungnya itu sampe ada bekas gitu"


"Oh ya! bekas apa?"


"Gak tahu, bekas tali kacamata dadanya kali"


Terdengar tawa dari kedua orang di dalam.


Aldi pergi meninggalkan gudang itu dengan pemikirannya sendiri, Aldi bahkan tidak jadi masuk ke dalam.


"Apa mungkin bener kalo dia punya bekas di punggungnya? tapi kalo dari apa kata mereka tadi apa iya bekas luka?"


"Gak mungkin dia Nana, Nana gak seagresif dia"


"Nana itu lembut trus sedikit cuek sama orang dan gak pernah mau ngurusin urusan orang apa lagi cari masalah"


Aldi terus bergumam lagi seperti tadi sembari menyusuri lorong-lorong sekolah.


"Tapi biasanya orang bisa berubah, kalo berubahnya sampe separah itu kayanya gak mungkin juga"


Aldi menghela napas lelah karena sejak tadi berjalan terus sembari mengerutu.


"Kalo di deketin nanti Karin menjauh lagi, kalo gak di deketin gimana aku bisa tahu, ah pelan-pelan aja lah, aku berharapnya sih dia bukan Nana, mending sama si tukang gerutu aja lalo Nana berubah sedrastis itu" gumam Aldi.


Langkah kakinya belok ke arah kantin karena ia sudah lelah dan merasa haus. Setelah memesan minumannya pada penjaga kantin, Aldi duduk di kursi yang pernah di gunakannya dengan Karin waktu itu.


"Heh lelah juga keliling sambil ngoceh" kata Aldi lalu mengekuarkan ponselnya.


Laki-laki itu menepuk keningnya merasa bodoh sendiri.


"Kenapa gak kirim pesan aja coba sama dia? pada hal aku punya nomornya" tangan Aldi dengan cepat mengetik dan mengirim pesan pada Karin di room chat pribadi.


"Kenapa gak dari semalam aja sih Aldi, dasar bego" gimamnya.


Baru akan mengunci layar ponselnya Aldi kembali membuka pesan yang di kirimkannya tadi tapi belum di baca.


"Malu-maluin gak ya!" Aldi menatap pesan yang dikirimkannya.


Walaau hanya berupa pertanyaan biasa saja tapi Aldi merasa malu sendiri melihat pesannya. Aldi merasa Karin pasti akan mengira kalau dia sednag merindukan perempuan itu karena Aldi mengirim pesan lebih dulu.


"Terserahlah" gumam Aldi lalu mengunci ponselnya saat bu kantin datang mengantarkan minumannya.


Setelah minum Aldi membuka room chatnya melihat pesannya yang tidak kunjung du balas apa lagi di baca oleh Karin. Kemana dia pikir Aldi lalu melihat kapan terakhir kali perempuan itu menggunakan sosmednya.


"Hah? gak salahkan ini ya" kaget Aldi saat melihat tanggal yang sudah tiga hari lalu pula.


Ternyata Karin tidak menggunakan sosmednya selama perempuan itu tidak terlihat. Biasanya Aldi dan Karin memang sering berkirim pesan, walau isi pesannya saling ejek atau masalah pelajaran.


Memang tiga hari ini mereka lost kontak karena Aldi yang merasa kesal saat melihat ada orang yang ingin sok akrab dengan Karin di toko buku waktu itu. Aldi tidak mengirim pesan pada Karin begitupun sebaliknya.


Kini Aldi merasa sedikit menyesal karena sudah mengabaikan Karin hingga kini mereka tidak saling berkirim pesan.


"Hay Aldi" sapa seorang perempuan yang membuat Aldi kaget karena sedang serius menatap tanggal yang tertera di ponselnya.


Aldi melihat Neli duduk di hadapannya dengan senyuman manis perempuan itu yang di tunjukkannya.


Laki-laki yang sedang dalam suasana hati kurang baik itu kembali melihat ponselnya saat tahu siapa yang menyapanya.


Tidak mau menyerah mendapatkan perhatian Aldi. Neli kembali memanggil laki-laki itu.


"Aldi" yang di panggil hanya diam saja berkutik dengan ponselnya.


"Al gimana kalo nanti waktu jalan-jalan kita satu vila aja, aku udah bilang loh sama papa aku supaya pesanin aku vila yang mewah dan fasilitas lengkap di puncak nanti, kita berdua aja di vila itu yang lain biar cari vila sendiri yang murah"


"Gak perlu ajak mereka ke vila kita, kita berduaan di vila itu, papa aku udah siapin vila yang ada kolam renangnya loh di dalem, trus kita bisa santai-santai deh nanti kalo sorenya di pinggir kolam sambil lihat mata hari terbenam, uh soswetnya, nanti kalo pagi kita juga bisa mandi pakek air panas loh, di kolam renangnya itu airnya bisa di atur ke air panas supaya bisa berenang pagi hari gak kedinginan"


Ocehan Neli semakin membuat mood Aldi down saja karena perempuan itu yang tidak bisa diam. Aldi berdiri dari duduknya sembari membalas ucapan Neli dengan nada dingin juga datarnya.


"Mandi sendiri pake air panas baru mendidih sana" Aldi peegi meninggalkan Neli setelah mengatakan itu.


Neli yang mendengar Aldi bicara langsung bersorak senang walau suara Aldi sangat ketus. Bagi Neli itu sesuatu yang harus ia banggakan dan pamerkan pada yang lain yang bahkan tidak pernah mendengar suara Aldi.


"Wah pangeran ngomong sama aku" ucapnya girang.