
"Pelan-pelan makan Na" ucap Aldi karena Karin yang makan sangat lahap.
"Enak, udah lama gak makan seafood" seru Karin setelah menelan makanannya.
"Iya tapi tetap hati-hati makannya, Didi gak minta kok" ucap Aldi lalu makan miliknya juga.
Tati dan Desi hanya menjadi penonton saja akan kelakuan kedua anak mereka itu. Sejak tadi Karin dan Aldi memang terlihat mesra, dari Aldi yang suka membersihkan bibir Karin kalau makanannya belepotan atau Karin yang selalu menyodorkan sendoknya yang berisi makanan pada Aldi untuk di coba laki-laki itu.
Uh manisnya pikir mereka kala Aldi menyodorkan ikan bakar miliknya pada Karin yang sudah di sendoknya.
"Enakkan! gak kalah sama punya kamu" seru Aldi yang mendapat anggukan dari Karin.
"Karin mau lagi dong" ucapnya yang membuat Aldi tersenyum.
Aldi tidak mempermasalahkan Karin mau menyebut namanya apa, yang penting baginya ia tetap memanggil gadis itu Nana seperti dulu.
Karin dan Aldi makan saling berbagi walau lauk yang mereka pesan sama-sama ikan bakar walau beda ikannya saja. Aldi dan Karin menikmati semua hidangan tanpa perduli dengan yang lainnya bahkan orang tua merekapun seakan tidak terlihat di meja itu.
Selesai makan mereka keliar dari restoran untuk pulang, karena Aldi yang ingin ke toilet dulu jadi Tati dan Desi pergi lebih dulu. Apa lagi Karin yang masih menghabiskan minumannya. Aldi meminta Karin menunggunya di meja itu sebentar.
Sembari menunggu Aldi kembali Karin memainkan game di ponselnya supaya tidak bosan sampai seseorang datang menyapanya.
"Wah iya bener si cupu" seru Neli yang mendekati Karin bersama seorang perempuan lainnya.
Karin tidak perduli dengan keberadaan Neli yang menatap, bahkan Karin sama sekali tidak melihat kearah perempuan itu yang justru membuat Neli meradang.
"Heh! udah cupu budek lagi, gak denger apa kalo di panggil" seru Neli dengan suara sedikit kuat.
"Gak peduli dia, minta di beri kayanya tuh Nel" ucap wanita satu lagi.
Neli menatap sinis Karin yang masih bermain ponsel, tampang Neli langsung kaget saat melihat ponsel yang pegang Karin itu. Ponsel keluaran terbaru dengan harga yang tidak main-main. Bahkan Neli sendiri yang menginginkan ponsel seperti itu masih tidak bisa mendapatkannya.
"Heh cupu, rupaya kamu lama gak kelihatan karena jual diri ya! baru bisa pegang ponsel mahal aja udah budek di panggil gak nyahutin apa lagi kalo sampe kamu bisa naik pesawat, pasti bakalan buta juga tuh matanya" seru Neli yang sudah menjadi pusat perhatian orang di restoran itu.
Karin yang merasa terganggu menangkat kepalanya menatap datar orang yang sejak tadi berkoar tidak jelas.
"Siapa ya?" tanya Karin santai yang membuat Neli juga temannya shok.
"Jangan sok gak kenal ya cupu, kamu itu perempuan yang udah rebut pacarku dengan tampang sok polosmu itu, udah gitu godain om-om kaya lagi supaya bisa punya barang branded" kesal Neli karena ia mulai di tatap aneh oleh orang di sana.
"Kamu itu ngomong sama siapa sih? dari tadi cupu cupu, siapa yang cupu trus siapa pacarmu yang di rebut dan siapa pula yang sok polos, gak ngerti aku apa lagi om-om kaya maksud kamu itu apa?" ucap Karin lagi yang semakin membuat Neli melongo tidak percaya.
Sekalipun saat sekolah Karin bisa menjawab ucapannya bahkan pernah memalukannya di kelas juga kantin, tapi kali ini berbeda karena pandangan Karin memang terlihat bingung dengan kehadirannya. Namun begitu Neli tetap tidak menyerah untuk memalukan Karin, kali ini harus dia yang malu pikirnya.
"Denger ya, aku itu lagi ngomong sama kamu da.."
"Aku gak mau ngomong sama kamu" sela Karin begitu saja sebelum Neli menyelesaikan kalimatnya.
Neli mengepalkan tangannya benar-benar kesal dan marah.
"Cih jatuh sudah harga dirimu Nel gara-gara dia, kalo aku jadi kamu udah ku habisi dia" hasut teman Neli.
"Siapa yang mau kalian habisi?" nada dingin itu membuat kedua perempuan yang mengganggu Karin menoleh.
Keduanya nampak berbinar melihat ke datangan Aldi yang berwajah datar itu. Apa lagi temannya Neli yang sangat terlihat bahagia.
"Aldi, kamu disini juga?" ucapnya mendekati Aldi dan hendak menggandeng tangan laki-laki itu tali segera di tepis.
Aldi mendekati Karin yang hanya menatapnya kesal dan sedikit cemberut.
Apa lagi Sopian yang memang di tahu Aldi suka main kasar, sebab dulu sewaktu mereka masih satu sekolah di tingkat pertama Sopia pernah memukul temannya hingga masuk rumah sakit hanya karena masalah sepele saja. Kenapa bisa ketemu nih makhluk dua sih? batin Aldi.
"Siapa mereka?" tanya Karin melihat Sopia dan Neli datar.
"Gak kenal" santai Aldi lalu mengankat tubuh Karin begitu saja membuat kedua perempuan du dekat mereka melotot kaget.
Bahkan pengunjung yang sejak tadi menontonpun ikut di buat kaget dengan aksi Aldi itu.
Karin sendiri yang gendong malah semakin memeluk leher Aldi manja. Karena kursi roda Karin sudah di bawa lebih dulu oleh Tati maka Aldi memutuskan untuk menggendong Karin saja.
Pada hal tadi Karin ingin belajar jalan keluar dari restoran karena ia sudah tidak betah di kursi rodanya itu.
"Aldi apa yang kamu lakukan? kenapa kamu gendong dia sih? seharusnya yang kamu gendong itu aku bukan dia" seru Sopia lalu menarik tangan Aldi untuk menurunkan Karin.
Karin yang melihat itu memukul keras tangan Sopia dengan tampang galaknya.
"Kamu siapa sih? dateng gak di undang cari masalah pula" ketus Karin.
Sopia bertolak pinggang dan menatap Karin galak balik.
"Aku ini pacarnya Aldi tahu kamu" tunjuk Sopia pada Karin.
"Maksud kamu apa bilang Aldi pacar kamu Pi? kamu tahukan kalo aku suka sama Aldi kok kamu nikung aku sih?" bukan Karin yang bicara melainkan Neli.
"Yang ada kamu yang nikung aku kalo gitu, karena aku sama Aldi udah kenal lama tahu gak" seru Sopia.
"Gak tahu dan gak mau tahu, yang aku tahu kamu udah nikung aku dan aku gak akan biarin itu" marah Neli pada Sopia.
"Trus kamu mau apa?" tantang Sopia.
Aldi yang melihat keributan itu langsung membawa Karin pergi menjauhi ke dua ulet yang sedang adu mulut pekara tikung menikung. Masa bodolah sama mereka batin Aldi.
Wah mau cakar-cakaran atau jambak-jambakan tuh kayanya, sayang Aldi bawa aku pergi kalo enggak pasti seru tuh di lihat gumam Karin dalam hati sembari masih melihat ke arah Neli dan Sopia yang terlihat mulai saling dorong.
"Jangan dilihat" ucap Aldi yang tahu arah pandang Karin.
"Kenapa? sayang kalo di lewatkan duo ulet berantem" kata Karin yang membuat Aldi semakin cepat melangkah keluar restoran.
Karin menghela napas saat perkelahian Neli dan Sopia di mulai. Udah mulai pada hal batin Karin lalu melihat ke arah depan.
Sedangkan di dalam setelah adu mulut kedua perempuan itu adu tarik rambut.
"Dasar tukang tikung" ucap Neli meraih rambut Sopia.
"Kamu yang penikung" sahut Sopia memegang pipi Neli dengan tangan kanannya lalu mencakarnya kuat sedangkan tangan kirinya memegangi tangan Neli dan di cengkram.
"Akh"
"Aww"
"Sakit bodoh"
"Kamu yang bodoh"
Suara kedua perempuan itu bersahutan merasakan sakit akibat perbuatan sendiri. Pengunjung lain juga tidak ada yang berminat melerai mereka dan lebih memilih merekam apa yang mereka lihat.
Sanpai datang pihak keamanan yang menghentikan dan malah kena cakaran tangan Sopia juga Neli. Akibatnya keduanya di bawa ke kantor keamanan restoran untuk mempertanggung jawabkan kelakuan mereka itu.