
Jam istirahat kembali selalu menjadi hal yang paling di tunggu oleh Aldi. Bagaimana tidak kalau dia selalu dapat makanan gratis yang enak setiap harinya dari Karin.
"Untukku?" Karin menyodorkan satu kotak pada Aldi dari dua kotak miliknya.
Sedikit heran Aldi melihat isinya yang bukan nasi goreng sosis seperti semalam.
"Kok lain?" tunjuk Aldi pada nasi di dalamnya yang berisi nasi putih dengan potongan daging ayam goreng serta serta tumis brokoli.
"Gak suka?" tanya Karin.
"Itu apa?"
"Sama"
"Semalam nasi goreng"
"Memangnya aku mau setiap hari makan nasi goreng aja apa? ya gak kali, tubuh juga butuh sayuran sama makanan seimbang lainnya" ucao Karin mulai menyendokkan makanannya.
Aldi masih menatap bekal di hadapannya dengan ekpresi datar seperti biasanya.
"Kalo gak suka tutup lagi aja, nanti ku makan sendiri"
"Enak aja" Aldi langsung melahap bekal di hadapannya begitu saja.
Aldi memang orang yang tidak terlalu suka sayur, iyatipe pemilih dalam hal sayuran. Dan yang biasanya akan di makan Aldi dari jenis sayuran hanya brokoli, wortel dan kangkung, ia sangat maniak dengan ketiga sayuran itu.
Maka tadi saat membuka kotak bekal dari Karin dan melihat ada brokoli ia merasa senang, tapi juga penasaran kenapa menunya lain dari biasanya yang selalu nasi goreng sosis atau ayam. Kalau tidak itu roti sandwich atau keju.
Tapi kali ini nasi dengan beberapa lauknya yang merupakan kesukaan Aldi. Jadilah dalam waktu beberapa menit saja kotak bekal sudah kosong.
"Eits enak aja mau minum punyaku, nanti habis lagi kayak yang udah-udah" ucap Karin memegang botol minumnya agar tidak di ambil Aldi.
"Pelit" ucap Aldi.
"Bodok, kalo mau minum beli sendiri sana"
"Sedikit aja" tangan Aldi terulur meraih botol milik Karin tapi di jauhkan oleh yang punya.
"Gak, tetap gak"
"Besok gantian"
"Apanya?"
"Yang bawa bekal"
Mata Karin menatap Aldi curiga dan merasa tidak percaya.
"Hm gak percaya tuh" kata Karin sembari mengangkat bahunya.
Aldi berdecak lalu bangkit dari duduknya dan berjalan keluar kelas, meski sikapnya datar dan terkesan dingin. Kalau bicara dengan Karin, Aldi masih mau mengeluarkan kalimatnya walau hanya tiga kata saja di luar aksi tegasnya pada setiap kejadian di sekolah.
Setelah kepergian Aldi, Karin meminum airnya lalu membereskan semua tempat bekalnya. Saat Karin sedang asik dengan urusannya sendiri, Neli masuk ke dalam kelas dengan beberapa siswi lainnya yang nasih anggota kelas itu juga.
"Hey teman-teman kalian lihat gak tadi pagi siapa yang dateng ke sekolah naik mobil mewah?" tanya Neli dengan suara yang keras.
"Lihat! Karin yang keluar daei mobil mewah tadi pagi, mana turunnya di depan piket lagi" sahut seorang diantara mereka.
"Kalian lihat gak siapa orang yang ngaterin dia?" tanya Neli lagi.
"Orangnya udah tua" sahut yang lain.
"Iya nih si cupu, buat malu nama kelas tahu gak! penampilan aja sok alim tahunya jadi sugar baby" ucap yang lain pula.
"Pantesan aja bisa sekolah disini, rupanya punya sugar daddy yang sekolahin di sini, gak malu banget sih" ucap Neli.
Semua siswi yang ada di sana menatap penuh hina pada Karin dan merendahkannya.
"Kok gak malu ya dia, jadi ****** tapi masih berani sekolah, mending dirumah atau di klub aja nemenin om-om yang dateng kesana" ejek Neli.
"Oh iya! di bayar berapa kamu satu malam sama mereka di klub cupu? atau sugar daddy kamu itu ngasih kamu uang berapa? kamu punya tas brandit gak? kalo punya aku mau dong di kasih satu sebagai bukti kalo kamu itu simpanan om-om" tawa Neli menghina Karin di ikuti yang lainnya juga.
Karin tersenyum sinis pada Neli yang sudah menghinanya habis-habisan. Karin berdiri dari duduknya lalu keluar dari meja mendekati Neli yang masih tertawa.
"Apa? kamu bawa tasnya Karin, lihat dong mahalan mana sama punya aku" ucap Neli lagi.
"Mending kamu keluar aja dari sekolah ini, jangan semakin buat malu dengan tingkah jalangmu itu, udah om-om kaya masih juga godain Aldi" wajah Neli berubah marah kala mengingat Aldi yang mengikuti Karin terus bahkan sampai ke toilet.
"Mau lihat tas branditnya?" tanya Karin santai tapi sinis.
"Iya dong, kalo kamu memang segitu dimanjanya sama sugar daddy kamu itu, dia pasti kasih kamu segalanyakan, bahkan tas mahalpun dia kasih" ucap Neli dengan gaya soknya.
"Apa lagi kamu bukan cuma ngelayanin satu pria ajakan? kamu pasti lunya banyak uang dong dari kerja lembur tiap malamnya" lanjut Neli.
Tanpa diduga sama sekali kalau Karin yang biasanya hanya membalas dengan ucapan jika di hina. Kali ini melakukan sesuatu yang sangat mengerikan.
Dengan kasar dan kejamnya Karin mencekik leher Neli hingga orangnya megap-megap akibat kesulitan bernapas dan ketakutan. Beberapa teman perempuan mereka yang tadinya ikut dengan Neli memilih mundur.
"To tolongin ak akuh.." ucap Neli kesulitan melihat teman-temannya yang menatap ngeri.
"Heh, tolong apa? tolong di hina gitu" sinis Karin tajam.
BRUK
Tubuh Neli terhempas jatuh hingga menabrak meja lalu terduduk di lantai sembari terbatuk-batuk. Neli juga menarik napas sebanyak-banyaknya.
Karin mendekati Neli dan melipat tangannya di dada dengan pandangan tajam pada Karin.
"Kamu tadi nanyak aku di bayar berapa? punya tas brandit gak? trus tiap malam ngelayani banyak pria, jadi sugar babynya om-om, bisa sekolah di sini karena punya sugar daddy dan segala macamnya"
"Satu pertanyaanku untukmu? kamu udah ngalami semua itu ya makanya sangat tahu?" Karin mencondongkan tubuhnya menatap tajam Neli dari balik kacamatanya.
Tubuh Neli terasa dingin dan bergetar karena tatapan Karin yang demikian.
"Kamu begitu hapalnya nyebutkan segala sesuatu yang berhubungan sama kegiatan orang dewasa, padahal kamu masih sekolah dan baru berumur 17 tahun, jangan-jangan kamu lagi yang kelakuannya kayak yang sedari tadi kamu sebutin" skak, Neli terdiam dan mencoba berpikir.
Apa lagi yang lainnya mulai menatapnya jijik juga dan membenarkan apa yang di ucapkan Karin, kenapa remaja sudah sangat mengerti begituan pikir mereka.
"Ta tapi tadi pagi kamu yang jelas-jelas di antarkan sama om-om yang jadiin kamu simpanan itukan! jangan ngelak kalo kamu sendiri kayak gitu, bahkan banyak saksinya" teriak Neli sebisanya.
"And see, ucapan kamu barusan udah jadi bukti kalo sebenarnya kamu itu perempuan malam yang sering sama om-om atau pria lainnya, jadi jangan lempar batu sembunyi tangan"
Ucapan Karin itu semakin membuat Neli merasa terpojok saja. Entah benar atau tidak yang diucapkan Karin yang pasti wajah Neli sekarang sudah pucat.
"Lagian kamu gak kenal siapa aku, kalian gak kenal siapa aku, jadi jangan suka menghakimi seseorang yang gak kalian kenal kalo lihat dia tampil beda"
"Kalian cuma tahu manggil aku si cupu tanpa kalian tahu siapa aku, jadi jangan ikut campur sama urusan pribadiku, gitupun aku yang gak perduli sama apa yang kalian lakukan tapi jangan ganggu aku"
Semua yang ada di kelas itu bungkam, bahkan yang mengintip di luarpun tidak bersuara.
"Apa kalian tahu? kalo aku mau detik ini juga kalian bisa ku hancurkan dengan tanganku sendiri" ucap Karin tajam dan penuh penekanan namun tetap menatap pada Neli.