
"Wah toko bukunya besar" kagum Karin saat melihat bangunan di depannya.
"Ayo" ajak Aldi.
Keduanya memasuki toko buku bersama-sama, mereka memang tadi berencana ingin ketoko buku. Itulah sebabnya mereka cepat meninggalkan sekolah demi mencari refrensi lain untuk belajar.
Didalam toko buku lumayan ramai orang yang datang berkunjung. Bukan hanya anak sekolah seperti Aldi dan Karin saja, tetapi ada juga yang sepertinya pegawai kantoran dan para mahasiswa juga pemuda pemudi lainnya.
Aldi dan Karin berjalan beriringan menyusuri setiap rak di sana untuk mencari buku mereka. Hingga akhirnya Karin menemukan buku yang mereka cari.
"Itu bukunya Di" tunjuk Karin karena buku yang ada di barisan atas itu tidak bisa di raih Karin.
"Ini" ucap seorang laki-laki tapi bukan Aldi.
"Terimakas.."
"Tidak jadi" Aldi mengembalikan buku itu lagi pada tempatnya dan menarik Karin menjauh dari pemuda yang tadi mengambilkan buku untuk Karin.
Padahal tadi Aldi sudah akan mengulurkan tangannya mengambil buku itu, tapi entah bagaimana bisa jadi pemuda itu lebih dulu mengambilnya.
"Eh tapi kita butuh buku itukan" heran Karin yang terus mengikuti langkah Aldi.
"Yang lain aja" sahut Aldi.
"Ta.."
"Ini, sama ajakan" Aldi menyodorkan satu buku yang memiliki judul yang sama dengan yang inginkan Karin tadi.
Hanya saja warna sampul dan gambarnya berbeda dengan judul yang di tambahi sedikit saja.
"Eh cepet banget kamu nemuinnya" ucap Karin mengambil buku itu dari tangan Aldi.
"Ini yang edisi terbaru, pasti lebih lengkap"
"Ayo bayar" lagi Aldi menarik tangan Karin begitu saja membawa perempuan itu menuju kasir.
"Astaga jangan narik-narik juga dong, udah kayak teh aja"
"Itu teh tarik"
"Tuh tahu" kesal Karin karena sejak tadi Aldi terus menarik tangannya.
Hingga mereka sampai di kasir, Aldi menyerahkan buku itu dan akan membayarnya sampai ia mendengar suara seseorang yang menyapa Karin.
"Hey! ketemu lagi kita"
Aldi menoleh dan mendapati orang yang tadi menduluinya mengambilkan buku untuk Karin ada di belakang Karin.
"Iya" sahut Karin cuek.
Tiba-tiba saja tubuh Karin tersentak akibat tarikan Aldi. Posisi Karin berpindah jadi di depan Aldi dan berhadapan langsung dengan meja kasir.
"Harganya 90 ribu dek" ucap penjaga kasir sembari membungkus bukunya.
"Pekek ini aja mbak sekalian punya saya" ucap pemuda di belakang Aldi mengulurkan beberapa lembar uangnya.
"Gak butuh sumbangan" sarkas Aldi bernada dingin sembari menampol tangan pemuda itu yang terulur di samping Karin.
Aldi mengeluarkan uangnya lalu pergi begitu saja membawa Karin yang bengong akan sikap Aldi.
"Kembaliannya dek" teriak penjaga kasir karena Aldi memberikan uang 100 ribu tapi langsung pergi.
Aldi berhenti sejenak mendengar hal itu.
"Buat dia aja" Aldi menunjuk pemuda yang masih di depan kasir itu, yang menatap pada Karin.
Setelahnya Aldi benar-benar keluar dari toko buku itu bersama Karin dan rasa kesalnya yang akibat pemuda yang sok akrab itu. Cih mau sok cari perhatian pikir Aldi.
Tanpa bicara Aldi langsung melesatkan motornya meninggalkan parkiran toko buku bersama Karin yang juga masih diam saja. Walau sangat kebingungan akan perubahaan sikap Aldi yang terlihat jadi lebih dingin.
Beberapa menit kemudian motor Aldi sampai di depan gerbang rumah Karin. Bukan karena Karin tidak mengijinkan Aldi membawa masuk motornya, tapi Aldi sendiri yang katanya sedang buru-buru itu.
"Kenapa bukunya cuma satu kita beli tadi" ucap Karin saat baru menyadari hal itu.
"Buat kamu aja" Aldi langsung tancap gas setelah mengatakannya.
"Non marah sama siapa?" tanya security yang baru membuka pintu gerbang untuk Karin itu merasa heran melihat nonanya berbicara sendiri.
"Eh, gak pak, Karin masuk dulu" sahut Karin lalu pergi masuk.
Sedangkan securityy itu hanya geleng kepala saja dan kembali menutup pintu gerbangnya.
"Udah pulang sayang" ucap Tati yang baru dari arah dapur.
"Iya ma" Karin menyalami tangan mamanya.
"Kok cepet!"
"Gak belajar lagi ma, tinggal persiapan buat ujian aja minggu depan, jadi kita bebas"
"Trus pulangnya sama siapa? abang udah jemput kamu? atau papa yang ngaterin kamu pulang?" cecar Tati sembari celingukan mencari anak dan suaminya.
"Ma, Karin tadi pulang di anterin bunglon datar bukan sama abang atau papa"
Kening Tati mengkerut mendengar ucapan Karin yang aneh menurutnya.
"Di anterin bunglon datar? caranya?" herannya.
"Iya ma, tadi kita ke toko buku dulu baru pulang naik motornya"
"Memangnya bunglon bisa naik motor? sejak kapan?"
"Gak tahulah, mama tanyak aja sama temen mama"
Semakin tidak mengertilah Tati dengan apa yang diucapkan anaknya itu.
"Maksud kamu apa sih nak? mama gak ngerti, setahu mama bunglon itu kecil dan gak bisa naik motor selain manjat pohon, apa lagi sampe nganterin kamu pulang trus ketoko buku juga, ada-ada aja kamu ini" ucap Tati geleng kepala.
Sedangkan Karin menepuk keningnya karena ucapannya yang di salah pahami mamanya, lagian diakan udah pernah kasih tahu mamanya siapa itu bunglon datar.
"Astaga mama, yang Karin maksud itu bukan bunglon yang hewan itu, tapi bunglon datar itu anaknya temen mama itu" geram Karin lalu beranjak untuk duduk di ruang tengah di ikuti Tati.
"Temen mama yang mana sih sayang! setahu mama semua teman mama anaknya manusia loh, bahkan yang cowok ganteng-ganteng anaknya" ucap Tati duduk di samping Karin.
"Ish mama ya jelaslah anak mereka manusia orang tuanya juga kan manusia"
"Trus siapa yang kamu maksud bunglon datar?" penasaran Tati bercampur gemas dengan anaknya yang tidak langsung menyebutkan namanya.
"Si Aldi ma, Karin manggilnya si bunglon datar"
Tati terperangah mendengar itu, bagaimana bisa dia lupa kalau anaknya ini pernah mengatakan jika ia memanggil putra semata wayangnya Desi itu dengan sebutan bunglon datar saat mereka bertemu dulu di mall.
"Astaga Karin, kenapa gak dari tadi aja kamu bilang kalo yang kamu maksud itu Aldi anaknya Desi, mamakan gak pusing-pusing mikirin siapa temen mama yang punya anak bunglon" ucap Tati.
"Lagian mama, waktu dulukan Karin udah pernah bilang sewaktu kita jumpa mereka di mall"
"Mama lupa, maklum udah tua" cengir Tati kemudian beranjak peegi.
"Cepat ganti baju trus makan siang ya" lanjutnya sembari terus berjalan.
Karin menghela napas lalu berdiri dari duduknya dan melangkah kearah tangga. Tapi baru kakinya melangkah mamanya sudah kembali mendekatinya dengan ucapan anehnya.
"Sayang, kalo kamu tadi pulangnya bareng Aldi trus sempat ketoko buku juga, itu artinya kalian dekat dong" ucap Tati tiba-tiba berada di belakang Karin.
"Ya ampun mama ngagetin aja deh" Karin mengelus dadanya akibat kaget.
"Gimana anaknya? gantengkan, kerenkan, uh mama seneng banget denger kalian bisa deket, udah sejauh mana hubungan kalian?" Tati menatap Karin yang juga menatapnya dengan pandangan anehnya.
"Mama kenapa sih? gak dapet jatah dari papa ya makanya aneh gini" Karin memegang kening mamanya tapi langsung di tarik lagi karena suara menggelegar mamanya.
"Apa kamu bilang?" kaget Tati mendengar pernyataan anaknya yang menohok.
Karena takut kena marah Karin langsung ngacir naik kelantai atas.
"Sory ma" teriak Karin dari atas.
Tati langsung cemberut sambil menatap anaknya yang naik keatas.
"Mama memang belum dapet jatah karena papa masih sibuk" lirihnya kemudian pergi.