First Kiss

First Kiss
Roti sobek



Sejam kemudian setelah yang lain selesai sarapan, kini mereka sudah kembali berkumpul dan melakukan diskusi.


"Sekarang kita mau kemana nih?" Boby pada yang lainnya.


"Kalo balik ke vila bosen gak ada kerjaan" seru Devi.


"Ya udah kita jalan-jalan aja" kata Rudi.


"Jalan-jalan kemana?" sahut Risti.


"Kemana kaki melangkah" santai Mona.


"Kalo ngikutin kemana kaki melangkah, kemanapun kakimu bisa melangkah" ucap Bagas.


"Melangkah ke gurun pasir aja sana Mon" kata Boby membuat Mona melotot pada laki-laki gemuk itu.


"Diem ya, buntelan kentut jangan ikutan ngomong" ketus Mona dengan wajah galaknya.


"Huhu si galak beraksi" ejek Boby yang langsung mendapat cubitan maut dari Mona.


"Aaakkh ampun ampun ampun Mona gak lagi deh" teriak Boby kesakitan sembari memegangi tangan Mona yang mencubit perut buncitnya.


"Makanya kalo ngomong jangan asal, dasar buntelan kentut" ketus Mona.


"Dasar singa betina" gumam Boby pelan.


"Apa katamu?" pelotot Mona yang mendengar samar gumaman Boby.


"Gak, cuma bilang burung kok mau jadi burung" asal Boby tanpa melihat Mona yang sudah berwajah garang itu.


Mata Mona menatap tajam Boby yang masih santai melihat-lihat. Sedangkan yang lainnya hanya geleng kepala akan keributan keduanya yang selalu saja terjadi. Tidak hanya di kelas tapi di manapun mereka bertemu pasti akan selalu ada keributan antara keduanya.


"Kalian ini ribut terus, jadi jodoh baru tahu rasa" celetuk Devi.


Mata Mona lebih melotot lagi dari sebelumnya menatap kaget pada Devi yang mendoakannya berjodoh dengan Boby.


"Apa? aku jodoh sama dia?" tunjuk Mona pada Boby yang sudah memicingkan matanya pada Mona.


"Gak lah ya, sorry level seleraku itu yang orangnya ganteng, tinggi, badannya kekar, ototnya bikin ngilu pengen cubit kalo lihat, lah dia lihat aja sendiri" ucap Mona menatap Boby dari atas sampai bawah.


"Gak boleh ngomong gitu Mona, sekarang mungkin Boby gemuk tapi siapa yang akan tahu dewasa nanti dia jadi kaya apa yang kamu bilang tadi" ucap Karin yang kurang suka ucapan Mona.


"Tahu Mona, ntar aja kalo udah dewasa kamu klepek-klepek sama Boby yang udah berubah jadi kaya apa yang kamu sebutin baru tahu rasa" ucap Devi pula.


"Kalo udah klepek klepek ya tinggalin aja Bob, jangan di ladenin" kata Bagas.


"Cewek yang sok jual mahal itu biasanya cewek plin plan Bob, jadi abaikan aja yang modelan begitu" kata Rudi.


"Buktikan kalo kamu mampu jadi lebih baik dari yang di sebutin Mona Bob" Bagas merangkul Boby yang hanya diam saja mendengar semua petuah dan dorongan semangat temannya agar ia tidak berkecil hati dengan tubuhnya yang gemuk.


Boby memang memiliki tubuh yang gemuk dan tinggi, wajahnya juga tampan tapi tersamarkan dengan pipinya yang chuby. Mona diam mendengar apa yang di ucapkan teman-temannya itu.


Mona juga merasa sedikit bersalah pada Boby karena ia menyadari ucapannya sangat keterlaluan. Dan terdengar sangat menyindir walau tidak langsung.


"Sudah jangan bahas lagi, sekarang kita jalan-jalan aja ke sana nanti sore balik lagi" lerai Aldi sembari menunjuk arah jalan kebawah.


Mereka menatap Aldi langsung yang baru mereka dengar berbicara dengan kalimat yang panjang selain ada masalah sekolah. Kalimat yang biasanya hanya terisi paling banyak 3 kata kini jadi kalimat panjang.


"Kenapa?" tanya Aldi dengan wajah datarnya.


"Gak papa bro, come on kita lets go" seru Boby semangat dan mulai melangkah di ikuti yang lainnya.


Mereka tidak mau membahas masalah Aldi yang mau bicara panjang pada mereka. Biarlah ini menjadi salah satu kejadian langka yang akan terus berlanjut.


Karin berjalan di gandeng Aldi tentunya, laki-laki itu tidak akan melepaskan Karin walau sedetik saja. Meskipun Karin terlihat mengobrol santai dengan beberapa teman perempuan.


Dan benar saja terjadi kejadian yang tidak di inginkan Aldi. Terdengar Devi mulai membahas seorang pria pda teman-temannya yang membuat Aldi pasang telinga lebih dulu.


"Kalian tahu gak! malam minggu kemaren aku ketemu sama cowok ganteng, dia kedipin mata sama aku..uh aku jadi deg?degan tahu gak" ucap Devi semangat dengan wajah senangnya.


"Masa sih! gimana penampilannya?" penasaran Risti.


"Penampilannya UWow its ganteng very very keren" kata Devi lagi.


"Bodinya gimana?" tanya Mona pula yang ikut penasaran.


"Uh mirip binaraga, ototnya ihhh bikin pengen gigit kaosnya deh" seru Devi heboh.


Kening Karin mengkerut mendengar ucapan Devi itu.


"Kok jadi pengen gigit kaosnya? bukannya seharusnya ototnya ya!" heran Karin yang malah membuat laki-laki di sampingnya semakin menajamkan pendengaran kala Karin mulai andil ikut membahas.


"Aduh Karin, kamu polos banget sih!" gemas Mona pada kepolosan Karin.


"Maksud Devi pengen gigit kaosnya itu, supaya bajunya sobek trus di lepas, nah kan jadi kelihatan tuh yang sobek beneran di perutnya" ucap Risti yang semakin membuat Karin kebingungan.


"Kaos yang di sobek trus di lepas supaya bisa lihat yang sobek beneran, bukannya kalian udah lihat ya yang beneran sobek di kaosnya" polos Karin yang membuat ketiga perempuan itu tepuk kening bersamaan.


Sedangkan Aldi di sampingnya menahan tawanya sekuat tenaga dengan kepolosan Karin itu.


"Astaga Karina, memangnya kamu gak pernah lihat roti sobek apa?" tanya Devi kaget.


"Pernahlah, mama sering beli kalo belanja karena abangku suka roti itu" ucap Karin.


Terdengar helaan napas dari ketiga perempuan di dekat Karin itu. Entah kenapa mereka bisa bertemu dengan gadis remaja sepolos Karin ini, otak Karin sepertinya masih sangat tidak tahu apapun tentang hal seperti itu.


"Bukan roti sobek yang versi makanan loh Karin" gemas Risti.


"Trus yang versi apa? memangnya ada berapa versi roti sobek?" tanya Karin lagi.


"Ini versi yang lebih hot, yang lebih wow, yang lebih menggiurkan, yang lebih menggoda" sahut Mona dengan wajah yang sangat senang dan menggambarkan dengan gerakan tangannya.


"Memangnya ada yang kaya gitu?" bingung Karin saat melihat gerakan tangan Mona.


"Ada dong, kamu mau lihat biar tahu gimana roti sobek versi lainnya?" tawar Devi.


"Bo.."


"Gak, kalian kalo mau lihat begitu pergi sendiri" ketus Aldi dengan wajah datarnya.


Aldi yang merasa Karin aka n setuju dengan ucapan Devi langsung menyela. Tentu saja Aldi tidak akan mengijinkan Karin melihat roti sobek pria lain.


Dan belum saatnya Karin melihat hal seperti itu, hanya milik Aldi yang boleh di lihat oleh Karin suatu saat nanti. Tapi bukan sekarang dan bukan milik pria lain.


Aldi menarik tangan Karin menjauhi ketiga perempuan yang sudah dekat dengan Karin itu. Tali kalau cara bicara mereka tentang para pria lagi, lebih baik Aldi menjauhkan Karin dari ketiganya.


Bisa bahaya kalo sampe Karin beneran pengen lihat roti sobek tapi bukan punyaku gumam Aldi dalam hati.


"Kayanya Aldi cemburu" bisik Mona pada yang lainnya.


"Iya, pada hal kita gak mungkin bisa tunjukin jugakan kalo gak dari gambar" sahut Devi.


"Pasti Aldi beneran cinta sama Karin" kata Risti di angguki Mona dan Devi.


Di perjalanan mereka yang sangat santai menikmati waktu sampai sore nanti. Dari jauh terdengar teriakan seseorang yang begitu kuat.


"ALDI TUNGGUIN AKUUU"