First Kiss

First Kiss
Hukuman



"Ta tapi buk, salah saya apa?" tanya Sisi masih shok akan surat cinta yang di terimanya tiba-tiba.


"Orang bodoh akan bertanya apa salahnya dan orang yang salah selalu gak pernah mau menyadari kesalahannya dan mencari pembenaran supaya gak di salahkan trus melimpahkan keburukan terhadap orang lain" ucap Karin santai.


Sisi menatap marah pada Karin yang berani angkat suara dengan santainya.


"Kamu orang miskin jangan bicara sembarang, jangan sok pintar dan sok berpengetahuan, kamu hanya orang miskin yang ke.."


"Pergi" ucap Aldi dingin menatap tajam Sisi juga orang-orang yang ada di depan ruangan menatap mereka.


Semua teman sekelas Aldi bubar dan lari saat mendapat pelototan dari bu Sari yang baru menyadari kehadiran semua anak muridnya.


"BERHENTI" teriak bu Sari yang langsung menghentikan langkah semua siswanya.


"Siapa yang meminta kalian ke sini haah! apa kalian sudah bosan belajar! mau surat cinta dari saya!"


"Gak buk, kita tadi di ajak sama Sisi, Usi sama Yuni buk"


Mata orang-orang yang di sebutkan itu melotot tidak percaya kalau mereka akan di jadikan tumbal oleh teman-teman mereka atas bubarnya kelas mereka. Sedangkan di dalam kelas favorit itu guru yang masuk merasa heran dengan hilangnya seluruh siswa hingga satu kelas.


"Apa mereka ada kegiatan? tapi di lapangan hanya ada kelas delapan yang sedang olahraga" gumamnya menatap seluruh penjuru kelas siapa tahu ada yang tersisa muridnya.


Hingga akhirnya guru yang bingung itu mengangkat bahu acuh lalu pergi dari sana.


"Ya sudah kalau tidak ada muridnya, bukan aku yang rugi, gaji di bayar gak ngeluarin ilmu ya di kelas itu bukan salahku juga karena muridnya entah kemana" gumam si guru berlalu keluar kelas.


Sedangkan bu Sari sangat geram akan apa yang di dengarnya itu. Bagaimana bisa anak-anaknya berkelakuan konyol begitu, ia yang selalu mengatur murid agar tertib tapi muridnya sendiri malah berantakan.


"Pergi kelapangan bendera sekarang juga berdiri di sana sampai ibu datang bersama hukuman kalian semua" marah bu Sari melotot pada muridnya yang langsung pergi menuju tempat yang di katakan wali kelas mereka itu.


Bu Sari menghela napas lelah dan merasa pusing akan sikap kekanakan anak-anaknya. Kenapa mereka bisa masuk kelas unggulan dan favorit kalau sikap mereka saja seperti ini, astaga batin bu Sari kesal.


Pandangan wanita muda itu beralih pada yang masih di dalam ruangan itu, Jes dan teman-temannya juga Karin, salah satu anaknya yang sedang bermasalah juga.


"Apa yang kamu lakukan pada tas mereka Karin?" tanya bu Sari langsung.


"Secara logika bu, mereka delapan orang sedangkan aku sendiri dari mana bisa di katakan kalau aku merebut tas mereka bersamaan lalu membuangnya hanya karena mereka tidak memberiku uang" ucap Karin yang tidak ingin bertele-tele lagi.


Bu Sari nampak berpikir sejenak.


"Kau melakukan kekerasan pada kami dengan memukuli kami" ucap teman Jes ngotot.


"Coba kamu berpikir logis wahai nona muda kaya, bagaimana mungkin aku bisa berbuat kekerasan dan memukuli kalian sementara kalian ramai, apa kalian akan diam saja kalau aku memukul teman kalian hah" kata Karin santai menatap jutek Jes dan yang lain.


"Tapi kenapa kamu membuangnya pada hal kami menyuruhmu membawanya ke parkiran sampai mo..." Jes membungkam temannya yang keceplosan itu karena bu Sari sudah menatap tajam mereka.


Bu Sari kini tahu yang sebenarnya walau hanya dari keceplosan saja, bagaimanapun juga ucapan yang tidak sengaja itu 99% benar. Jadi kemungkinan yang salah memang Jes dan temannya, tapi bu Sari ingin mendengarkan ucapan Karin yang berani membuang tas anak orang kaya.


"Lalu kenapa kamu buang tas mereka Karin?" tanya bu Sari.


"Mereka memaksaku untuk membawa tas mereka semua setelah mengataiku, setelah memberikan tas itu mereka pergi gak bilang apa-apa lagi, trus harus di apakan tas itu? ya aku buanglah buk buat apa juga di bawa pulang rongsokan itu" jawab Karin santai membuat bu Sari dan yang lain melongo.


Tas mahal milik Jes dan teman-temannya itu di bilang Karin rongsokan? bahkan milik Jes berharga 5juta rupiah untuk sekedar tas sekolah saja yang paling brandit katanya. Lalu Karin yang terlihat biasa saja mengatakan tas itu rongsokan.


"Heh orang miskin, tas punya Jes itu harganya 5juta lebih dan milik kami di atas saru juta, kalau di gabungin itu tas bisa buat beli kamu tahu gak" ucap teman Jes menunjuk Karin.


PLAK


Bukan Karin yang memukul teman Jes itu juga bukan bu Sari yang melakukannya, melainkan anak si pemilik sekolah. Aldi memang tidak pergi dari ruangan bu Sari karena ingin mendengar apa yang terjadi di sana.


Amarahnya memuncak saat mendengar hinaan pada Karin yang seolah mengatakan harga diri Karin sangat murah hingga bisa di bandingkan dengan tas.


"Siapa kamu bicara soal harga diri? kamu bahkan lebih rendah dari wanita jalanan, pergi dari sekolah ini sekarang juga, jangan sampai aku melihatmu lagi" ucap Aldi dingin dan tajam pada teman Jes itu.


"Dia orang miskin yang tidak pantas di bela, kenapa kamu membelanya, aku tidak mau keluar dari sekolah ini"


"Kalau begitu panggil orang tuamu sekarang juga atau aku akan menendangmu detik ini juga"


Bu Sari memijat keningnya saat mendengar ucapan yang tidak pantas keluar dari anak muridnya. Bagaimana mungkin anak sekolah tahu memberi harga pada perempuan lain, sedangkan dirinya sendiri seorang perempuan juga. Apa yang diajarkan orang tuanya di rumah batin bu Sari.


Keberadaan Aldi juga membuat bu Sari tidak perlu repot-repot memberi hukuman atau sangsi pada anak muridnya. Aldi memang sudah di beri kuasa oleh ayahnya untuk mengatur sekolah itu juga jika ada yang tidak beres karena sikap tanggung jawab dan kemampuannya dalam memimpin walau masih muda.


"Dan untuk kalian, sebagai konsekuensi atas tuduhan pada Karin maka pergilah ke lapangan bersama yang lain hingga sekolah berakhir, juga jangan datang kesekolah satu minggu kedepan" ucap Aldi menatap tajam Jes dan teman-temannya dengan perasaan marah.


Aldi menarik tangan Karin keluar dari ruangan bu Sari setelah memberikan hukuman pada Jes dan teman-temannya. Karin hanya ikut dengan santai apa lagi arahnya kekelas mereka.


Sampai mereka bertemu dengan guru yang seharusnya mengajar di kelas mereka.


"Ajari kami pak" ucap Aldi singkat lalu kembali menarik Karin ke kelas mereka yang pastinya hanya akan di isi keduanya saja.


Sedangkan guru yang tadi sudah senang karena tidak mengajar akibat hilangnya semua siswa di kelas. Tapi kini malah ketemu dengan jonggolnya sekolah dan si pemilik kelas, jadilah guru itu kembali memutar langkahnya untuk kembali kekelas Aldi mengajar.


Dari pada di potong gaji, atau lebih para lagi di pecat! hih jangan sampai deh batin guru itu berjalan di belakang Aldi dan Karin yang sudah jauh di depannya.


"Anak muda jalan aja pegangan tangan, lah aku yang udah waktunya nikah malah masih jomblo" gumam guru itu saat melihat genggaman tangan Aldi pada Karin yang terlihat jutek.