
Rombongan bus dari sekolah favorit di kota besar itu tiba di puncak dengan selamat. Semua bus berjajar rapi di parkiran yang tersedia.
Para murid mulai terlihat turun dari bus dengan senangnya. Walaupun liburan di dalam negeri dan sangat dekat tapi mereka tetap antusias. Kebersamaan merekalah yang membuat liburan itu jadi terasa sangat menyenangkan.
Aldi yang tidak tega membangunkan Karin yang masih terlelap akhirnya menunggu hingga semua ornag turun lebih dulu. Setelahnya barulah Aldi mulai bergerak perlahan dan mengangkat tubuh Karin pelan-pelan sampai bisa ia gendong tanpa membangunkan Karin.
Aldi melangkah keluar dari bus pelan-pelan dan hati-hati supaya tidak jatuh. Hal itu tentu saja menjadi perhatian yang lainnya tapi sejenak mereka kembali sibuk pada kegiatan masing-masing karena sudah melihat pemandangan Aldi yang bersama Karin sejak tadi.
Langkah kaki Aldi mengarah pada tempat yang berbeda dengan yang lainnya namun masih di lingkungan yang sama.
Hanya vila yang di tuju Aldi merupakan vila paling mewah dengan fasilitas paling lengkap. Tentu saja vila itu milik keluarga Karin yang memang memiliki usaha yang bergerak di bidang perumahan dan perhotelan. Serta beberapa vila mewah dan berkelas yang ada di tempat-tempat wisata seperti ini.
Para penjaga yang di perintahkan oleh Banu langsung lari mendekati Aldi saat mereka melihat nona mudanya di gendong. Mereka takut terjadi apa-apa pada permata bos mereka itu yang justru akan berimbas pada mereka juga nantinya karena di anggap lalai dalam bekerja.
"Maaf den, non Karin kenapa ya?" tanya salah seorang dari tiga orang yang sejak awal tadi mengikuti bus.
"Gak papa" sahut Aldi singkat terus berjalan menuju vila.
Ketiga pria kekar itu mengangguk lalu mengikuti langkah kaki Aldi menuju vila tempat bos mereka.
Neli yang melihat Aldi berjalan ke arah yang berbeda bersama Karin di gendongannya dan ada pengawal yang menjaganya. Neli menghentakkan kakinya marah.
"Harusnya aku yang di gendong Aldi, harusnya aku yang di majain Aldi" gumamnya.
Neli menarik kopernya mengejar Aldi yang sudaj belok ke arah vila mewah yang tentunya semakin membuat Neli spaneng. Neli tidak terima kalau Karin yang di bawa ke sana sedangkan dirinya harus berada di vila biasa saja dengan fasilitas yang biasa pula.
Aldi tungguin aku dong" teriak Neli karena Aldi sudah mulai mendekati pintu.
"Al tunggu" ycap Neli lagi semakin mempercepat langkahnya saat Aldi sudah menghilang di balik pintu.
"Masih usaha aja si Neli" ucap teman sekelas Neli.
"Gak capek apa ngejar yang gak pasti gitu"
"Gimana mau capek kalo yang di kejar mempuni dalam segala hal"
"Pasti berusaha mati-matian dia"
Para perempuan itu tertawa geli melihat sikap Neli yang seperti tidak punya malu saat terus berusaha mencari perhatian Aldi. Sementara yang di inginkan perhatiannya tidak perduli sama sekali.
Aldi yang sudah masuk ke dalam lebih dulu berhenti di dekat pintu.
"Jangan sampe dia masuk" perintah Aldi dengan nada dingin juga wajah datarnya.
"Baik den" sahut keenam pengawal Karin yang sudah bersama di sana.
Aldi kembali melanjutkan langkah kakinya mengikuti seorang pelayan yang sudah di tugaskan Banu untuk melayani anaknya dan Aldi selama di vila itu.
Banu sengaja tidak menempatkan Karin di vila pribadi mereka yang ada di puncak itu. Karena Banu yakin kalau anaknya pasti ingin tetap bersosialisasi dengan yang lainnya. Dan Banu juga yakin kalau Karin pasti akan kesal jika di jauhkan dari tempat teman-temannya tinggal.
Karin di baringkan Aldi di tempat tidurnya yang empuk. Setelahnya Aldi menyelimuti tubuh Karin lalu keluar kamar itu untuk menuju kamarnya sendiri.
Kamar Aldi yang berada di sebelah Kamar Karin membuatnya tidak perlu repot harus berjalan jauh lagi. Jam yang sudah menunjukkan waktu makan siang membuat Aldi cepat-cepat berkemas karena barangnya memang masih di dalam tasnya.
Aldi tidak ingin barang-barangnya di bongkar orang lain. Ia akan merapikan sendiri pakaiannya tanpa merepotkan pelayan, jadi pelayan hanya meletakkan tas Aldi di depan lemari saja tanpa membuka tas itu.
Bertepatan saat Aldi membuka pintu kamarnya Karin juga membuka pintu kammarnya dengan keadaan yang jauh lebih segar dan fresh. Ketika Aldi menutup pintu kamar Karin tadi gadis itu terbangun dari tidurnya.
Karin tidak terlalu memusingkan suasana yang sudah berubah karena ia yakin kalau mereka pasti sudah sampai di tempat tujuan. Pasti Aldi pula yang membawanya ke kamar itu.
Karin langsung mandi setelah bangun untuk menyegarkan tubuhnya. Tidak heran dengan semua yang sudah tersedia di dalam kamar mandi yang sesuai apa yang di pakainya di rumah.
Sudah pasti itu juga kerjaan Banu papanya yang menyiapkan semuanya. Apa lagi saat melihat pakaiannya ada di dalam lemari membuat Karin semakin yakin kalau papanya bukan cuma memberinya pengawal. Tapi persiapan di tempat itu juga sudah di siapkan sebaik mungkin.
Karin hanya diam dan tidak ingin memikirkan apapun yang di lakukan papanya karena ia yakin kalau apa yang di lakukan orang tuanya pasti untuk kebaikannya. Mengingat ia yang baru pulih pasti orang tuanya ingin yabg terbaik baginya.
"Kamu udah bangun?" tanya Aldi dengan wajah yang terpesona dengan Karin.
Karin menggunakan rok selutut motif bunga-bunga dengan atasan kaos hitam yang pernah di belikan Aldi. Kaos yang bagian bawahnya di masukkan ke dalam membuat penampilan Karin terlihat rapi dan elegan.
Di tambah lagi rambutnya yang di kepang satu dengan cantiknya menyisakan beberapa rambut yang tertinggal. Semakin membuat Karin terlihat cantik mempesona.
"Iya, kamu dari mana?" Karin melihat Aldi yang masih nampak berdiri kaku di depan pintu.
"Dari dalam habis beresin barang" sahut Aldi menunjuk pintu di sampingnya.
Karin mengangguk dan tersenyum lalu mendekati Aldi.
"Cari makan siang yuk, aku laper nih" ucap Karin mengelus perutnya sembari tersenyum tipis.
Aldi tersenyum lalu mengangguk dan memegang tangan Karin. Keduanya berjalan bersama hendak menuju keluar vila cari makanan. Tapi langkah keduanya terhenti saat mendengar panggilan dari arah samping.
"Maaf den non, maau makan siang sekarang atau nanti?" tanya wanita dengan seragam pelayannya sedikit menunduk.
Kening Karin mengkerut heran. Ada pelayan juga? papa bukan cuma siapin tempat doang tapi lengkap semuanya pikir Karin geleng kepala.
"Kamu kenapa?" tanya Aldi saat menyadari Karin menggeleng.
"Gak papa" sahut Karin pelan lalu melihat pelayan yang masih setia menunggu itu.
"Sekarang aja, udah laper nih" Karin menarik Aldi untuk menuju ruangan yang memiliki aroma wangi masakan.
"Silahkan duduk nona, kami akan hidangkan makanannya" ucap pelayan itu yang di angguki Karin.
Setelah pelayan itu pergi Karin melihat Aldi yang sudah duduk di sampingnya.
"Papa siapin banyak hal di sini, bukan cuma tempat sama pria penjaga itu aja" ucap Karin pelan.
Aldi mengangguk.
"Iya, om Banu siapin semua ini untuk anak gadisnya yang cantik ini supaya nyaman selama di sini" laki-laki mencubit pelan pipi Karin.
"Hah harusnya gak perlu sampai begini sih, tapi kalo di tolak yang ada gak boleh ke sini sama yang lain juga" ucap Karin.
"Kenapa sih kamu pengen banget ikut ke sini sama teman yang lain? pada hal kamu juga bisa ke sini kapan aja selain sama mereka" penasaran Aldi dengan gadis di sampingnya.
"Pergi bareng temen sama bareng keluarga itu beda sensasinya tahu, kalo sama keluarga mungkin karena udah sering jadi kaya ya biasa aja apa lagi di keluarga cuma ada beberapa orang aja, tapi kalo sama temen rame-rame kan gak pernah jadi kayanya lebih serukan liburannya" jelas Karin.
Mendengar itu Aldi tersenyum manis pada Karin.