
Karena moodnya yang sudah buruk membuat Aldi memutuskan untuk pulang saja. Kali aja bunda mau ke rumah tante Tati pikirnya.
Aldi memacu motornya melintasi jalan raya, tapi ia belok dari jalur yang seharusnya menuju kerumahnya menjadi kearah rumah Karin. Aldi berharap dengan lewat kesana siapa tahu ia bisa melihat Karin walau sebentar saja.
Jadi Aldi memutar arah lewat perumahan Karin, sampai ia tiba di rumah yang ingin di lihatnya. Tampak sepi dan tidak ada aktivitas apapun di sana, hanya dua sekurity yang berjaga di pos gerbang.
Karena tidak melihat apa yang diinginkannya Aldipun kembali melajukan motornya, ada keinginan untuk mampir lalu bertanya. Tapi ia merasa malu melakukan itu, selama ini Aldi tidak peenah melakukan hal itu jadi dia merasa tidak gugup duluan sebelum maju.
Butuh waktu 46 menit untuk sampai di rumahnya sendiri karena Aldi memutar jalan tadi dari komplek perumahan Karin. Sampai di rumahnya Aldi berlari masuk ke dalam dan mencari bundanya.
"Bun bunda.." teriak Aldi mencari bundanya.
"Bunda bunda di mana?" langkahnya menuju dapur tempat di mana biasanya sang bunda suka buat kue di sana.
"Kemana bunda bi?" tanya Aldi karena tidak mendapati Desi di dapur.
"Oh den Aldi, ibu lagi peegi belanja den" sahut pelayannya.
"Udah dari tadi bi?"
Belum lama juga den, mungkin 15 menit yang lalu sebelum aden pulang"
"Ya udah makasih bi"
"Iya den"
Aldi berlari menuju kamarnya untuk ganti baju dan mencoba menghubungi mamanya setelahnya.
"Halo Al, kenapa sayang?" tanya Desi di seberang dan terdengar pula suara ramai di sana.
"Bunda di mana?"
"Masih belanja nih sama ayah"
"Tumben ayah ikut"
"Iya lagi gak kerja tadi jadi bunda ajakin belanja"
"Oh, bunda lama lagi pulangnya?"
"Bentar lagi kayaknya deh, memangnya kenapa sayang? kamu dimana? udah pulang ya?" cecar Desi menanyai Aldi.
"Iya Aldi udah pulang tapi rumah sepi"
"Ya namanya juga bunda pergi nak"
"Ya udah deh bun, Aldi mau turun dulu, bunda sama ayah hati-hati"
"Iya, bentar lagi bunda pulang, bye sayang"
Panggilan terputus dan Aldi langsung menghela napas panjang.
"Hah bunda bunda sebentarnya itu bisa dua jam kemudian" gumam Aldi yang tahu bagaimana kalau bundanya belanja karena sering di minta mengantarkan.
Apa lagi kalau bundanya itu harus ke salon dulu, Aldi bisa menunggu hingga 5 jam lamanya.
Aldi merebahkan tubuhnya di kasur dengan berbagai pertanyaan di benaknya tentang dimana Karin? kemana gadis itu berada? kenapa tidak sekolah dan sebagainya.
Hingga tanpa sadar mata Aldi mulai tertutup karena tidur.
Benar saja kata Aldi kalau 2 jam kemudian baru selesai belanja. Hingga Aldi bangun dari tidurnya dan turun ke bawah orang tuanya belum terlihaat di rumah.
"Bunda sama ayah belum pulang bi?" tanya Aldi pada pelayan di dapur karena ia sedang mengambil minum di kulkas.
"Eh, belum den, aden kok tahu ibu perginya sama bapak?" heran pelayan itu karena ia tidak merasa memberitahu Aldi bahkan majikan mudanya tidak bertanya.
"Tadi Aldi telpon bunda tanyak udah selesai apa belum, katanya sebentar lagi tapi sampe sekarnag belum pulang"
"Oh, wajar den kalo ibu sama bapak belum pulang, namanya juga wanita kalo belanja pasti lama, apa lagi ada temennya yang bayarin"
"Hehe iya den"
"Nanti pasti ayah ngerutu tuh sampe rumah" tebak Aldi geleng kepala.
15 menit kemudian terdengar suara orang masuk bersamaan dan mendekati dapur di mana Aldi sedang makan siang sendirian.
"Eh anak bunda lagi makan" ucap Desi yang membuat Aldi menoleh.
"Banyak banget bun?" tanya Aldi setelah menelan makanan dalam mulutnya.
"Iya bahan masakan kita kan udah habis" sahut Desi menyerahkan belanjaannya pada pelayan.
Dudi sendiri menyambar air minum di meja yang memang sudah tersedia di sana.
HAH
Pria paruh baya itu mendesah lalu duduk di kursinya sedikit kasar dan terlihat kelelahan.
"Kenapa yah?" tanya Aldi yang melihat ayahnya lesu.
"Cepek"
"Kenapa?"
"Nemenin bunda kamu belanja gak siap-siap, katanya aja sebentar tapi 2 jam kemudian baru selesai" gerutu Dudi.
"Apa sih yah, namanya juga banyak yang mau di beli gimana sih, gak iklas ya nemenin bunda belanja?" kesal Desi menatap suaminya.
"Iklas bun, cuma kalo masih lama belanjanya bilang dong supaya ayah bisa nyantai di kedai kopi gak capek ngikutin bunda keliling pasar" ucap Dudi.
"Itu namanya gak iklas ayah, iklas itu kaya Aldi kalo nemenin bunda ngikutin sekalian bawain belanjaan yang berat, gak ngeluh lagi, hebatkan anak bunda" bangga Desi melihat Aldi yang masih makan.
"Itukan Aldi bukan ayah" sahut Dudi santai yang langsung dapat pelototan dari Desi.
"Oh jadi ayah mau nungguin bunda belanja di kedai kopi yang penjuallnya pekek baju seksi itu ya! yang suka genit sama laki-laki kalo jualin, janda montok itu ya yah" marah Desi menatap tajam Dudi yang kincep.
"Gak bun gak, ayahkan cuma mau minum kopi aja bukan mau ketemu janda, lagian ayah gak tahu juga siapa yang jualan dan gimana orangnya" elak Dudi mengambil nasi menghindari tatapan tajam istrinya.
"Gak tahu ayah bilang! bukannya dulu ayah juga pernah minum kopi di situ waktu bunda belanja pas Aldi lagi di desa, ayah minum kopi di temenin sama perempuan genit itu yang godain ayah" kesal Desi masih marah.
Dudi diam dengan makanan yang mulai di makannya tanpa melihat istrinya yang sudah seperti petasan banting marah-marah sambil melotot dengan ributnya.
"Ayah kangen ya sama dia yang udah lama menjanda itu?" tuding Desi yang membuat Dudi angkat kepala menatap istrinya yang masih menatapnya tajam.
"Enggak bun, ayah gak kangen sama dia, lagian dulu itu juga dia baru aja ngajakin ayah ngobrol gak lama bunda dateng" ucap Dudi.
"Alasan, awas aja ya kalo ayah berani macam-macam sama bunda, tak sate sampean" ancam Desi melotot.
"Iya bunda iya, ayah gak macem-macem juga, cuma macam aja kok ini" jawab Dudi pelan berharap istrinya tidak dengar.
Tapi yang ada malah Desi denger.
"Iya satu macem jadi gampang ngabisinnya kalo main belakang dari bunda" ketus Desi.
Dudi lanjut makan dengan suapan penuh tanpa melihat Desi yang mengambil air untunya minum. Pasti habis tuh air satu teko kehausan habis marah-marah batin Dudi melirik Desi yang minum satu gelas air.
Aldi hanya geleng kepala saja melihat perdebatan orang tuanya. Ia tidak mau ambil pusing dengan hal itu karena sudah biasa baginya orang tuanya seperti itu.
Tapi masih dalam batas kewajaran perdebatan atara Dudi dan Desi, mereka berdebat itu juga tidak serius dan lebih menganggap itu sebagai bumbu rumah tangga supaya tidak monoton alias lempeng terus tanpa keributan yang bikin rame rumah pikir mereka.
Sedangkan di tempat lainnya, seorang perempuan baru membuka mata setelah tidak sadarkan diri beberapa hari.
"Sayang kamu bangun?" ucap wanita yang merupakan mamanya yang kebetulan di dekat anaknya itu.
"Siapa ibu?" tanyanya yang langsung membuat wanita itu shok mendengar ucapan anaknya.