
Aldi duduk di kursi belajarnya dengan banyak buku di hadapannya, setelah tadi ia menjelaskan pada ayahnya tentang apa yang terjadi di sekolah. Dudi sangat marah kala mendengar ada yang menyakiti bahkan menghina Karin.
Anak temannya yang sudah seperti anaknya sendiri itu, kalau sampai Banu tahu putrinya di rendahkan bahkan di hina begitu pasti sekolahnya akan terjadi kehebohan yang lebih besar. Dan masalah juga tidak akan selesai begitu saja.
Sudah jelas kalau Banu akan mempekarakan hal itu ke ranah hukum, karena bagi Banu ketenangan putrinya sangat berarti. Dudi juga sempat menelpon langsung kepala sekolah untuk lebih mengawasi segala aktifitas siswa di sekolah agar segala bentuk pembulyan dan penghinaan tidak terjadi di sekolah itu.
Yang nantinya malah akan membuat citra sekolah rusak dan ruputasi sebagai sekolah bertaraf internasional dan favorit akan hilang. Hal itu pula yang menjadi beban kepala sekolah sebagai atasan di sekolah, meski gajinya besar tapi tanggung jawabnya juga tidak main-main.
Kembali pada Aldi yang masih duduk di kursi belajarnya, bukan untuk belajar atau membaca buku Aldi duduk di situ. Melainkan termenung memikirkan sikapnya yang sering kali memperhatikan Karin.
"Kenapa juga aku lakukan itu? dia kan bukan siapa-siapa ku?" gumamnya.
"Apa istimewanya dia sampe ayah marah waktu dengar dia di hina sama di bully, sampe nelpon kepala sekolah segala"
"Walaupun bagus juga supaya pihak sekolah lebih bekerja tapi apa yang di lakukan ayah gak berlebihan ya?"
Aldi mencoba menerawang masa-masa pertama kali ia melihat Karin sampai akhirnya ia sering melakukan hal konyol dengan menjadi penguntit gadis remaja berkaca mata itu.
"Ck, untuk apa juga aku mikirkan dia, walaupun dia cantik tapi Nana ku jauh lebih baik, entah dimana dia sekarang" pandangan Aldi mengarah pada foto sepasang anak kecil yang berusia sekitar lima tahunan.
Tentu Akdi tidak akan melupakan gadis kecil manis itu, setelah berpisah tidak pernah sekalipun Aldi lupa wajah dan senyuman teman kecilnya itu. Bahkan Aldi juga yang meminta mamanya untuk mencetakkan foto itu saat melihat ada gambar dirinya danNana di ponsel ayahnya.
"Dimana kamu Nana?" gumam Aldi masih betah menatap foto itu.
Sedangkan di tempat lainnya lagi, gadis remaja berkacamata sedang fokus belajar dan membaca setiap buku yang ingin di bacanya. Beberapa saat kemudian Karin menyudahi membacanya dan beranjak keluar kamar.
Karin menuruni tangga dan mendapati orang tua serta abangnya yang duduk bersama di ruang keluarga sembari menonton tv. Pandangan mereka beralih pada Karin yang mendekat dan duduk di antara mama dan papanya.
"Bang, keluar yuk!" ajak Karin yang ingin jalan-jalan malam ini karena merasa bosan.
"Males" sahut Kara santai sembari main ponsel.
"Ish gitu kali sih bang" protes Karin yang tidak terima ajakannya di tolak.
Kara hanya mengangkat bahunya acuh. Karin menatap jahil pada abangnya saat punya ide agar keinginannya tidak di tolak.
Dengan melangkah kesal Karin pura-pura akan kembali kekamar padahal.
"Hup! dapat" teriak Karin setelah merampas ponsel Kara kemudian berlari kekamarnya dengan cepat.
Tentu saja Kara kaget karena ponselnya hilang dari tangan, tapi dia dengan cepat pula melihat Karin yang sudah memegang ponselnya lalu berlari.
"Karin kembalikan ponsel abang" teriak Kara mengejar Karin yang sudah naik.
Banu dan Tati hanya geleng kepala melihat kedua anaknya yang suka sekali ribut itu. Mereka tidak ingin ikutan dalam keributan itu karena Karin kalau sudah ingin dengan siapa yang di sebutnya maka dengan orang itu pula ia akan pergi atau apapun.
"Kembalikan ponsel abang Karin" Kara menggedor-gedor pintu kamar Karin dengan kencang dan mencoba membukanya tapi tidak bisa karena di kunci.
"Kalo abang gak mau ngajakin Karin keluar malan ini gak bakal Karin kasih ponselnya" teriak Karin dari dalan.
"Abang capek males keluar, balikin ponsel abang" teriak Kara lagi.
"Gak"
"Balikin"
"Gak"
Kara berdecak kesal karena ia tahu tidak mudah mendapatkan apa yang sudah Karin ambil darinya sebelum yang di inginkan adiknya itu terpenuhi.
"Wah ada yang ngechat abang...cewek lagi" seru Karin kencang mengerjai Kara.
Pada hal ponsel milik Kara hanya di pegang saja tanpa di buka apa lagi di mainkan oleh Karin.
"Karin adeknya abang yang paling cantik dan manis balikin ponsel abang ya dek" bujuk Kara.
"Wih cantik loh ceweknya"
Semakin panik Kara mendengar ucapan Karin, ia takut adiknya itu melakukan hal-hal aneh dengan ponselnya. Apa lagi tadi ia sedang berbalas pesan dengan lebih dari satu gadis, bisa gawat kalau di lihat Karin pikirnya.
"Dek balikin ponsel abang ya, nanti abang kasih uang deh berapa yang adek mau" Kara masih mencoba membujuk Karin dengan kata-kata manisnya.
"Wah cantik-cantik"
"Dek, jangan coba-coba mainin ponsel abang ya! abang marah beneran loh ini" ancam Kara.
Karin hanya menahan tawanya saja di balik pintu karena berhasil mengerjai abangnya.
"Bang ada yang nelpon nih"
"Buka pintunya kalau gitu"
"Gak ah, nanti abang marahin Karin lagi" tolak Karin yang membuat Kara frustasi.
"Dek, ayolah balikin ponsel abang ya abis itu kita peegi deh kemana Karin mau, ya" bujuk Kara dengan suara lembut karena sudah menyerah dengan kejahilan adiknya itu.
Di balik pintu Karin tersenyum senang mendengar bujukan abangnya karena memang itu yang di inginkannya. Karin ingin ke pasar malam dan ingin di traktir abangnya juga, supaya uang jajanku bisa di tabung pikir Karin.
"Janji ya"
"Iya abang janji"
"Janji juga gak bakal marahin Karin kalau Karin buka pintunya"
"Iya abang janji, kalo kamu buka pintunya balikin ponsel abang kita bakalan peegi kemana yang kamu mau abang anterin deh" pasrah Kara.
Tidak terdengar suara sahutan dari Karin yang membuat Kara semakin gelisah. Pacar-pacarnya pasti sudah menunggu balasan pesan darinya pikirnya.
"Dek, kamu ngapain? buka pintunya trus kita pergi Karin" panggil Kara mengetok pintu tapi tidak kunjung mendengar suara Karin.
Kara menempelkan telinganya pada pintu kamar Karin dan mencoba mendengarkan apa yang terjadi di dalam sana. Tapi baru saja menempelkan telinganya Kara sudah tersungkur akibat pintu yang terbuka.
"Ngapain sih bang pake acara nyosor-nyosor segala? kayak bebek aja!" ejek Karin dengan wajah jahilnya.
"Ck, kamu ngapain aja di dalem kok gak ada suaranya? mana ponsel abang?" Kara menyodorkan tangannya pada Karin.
"Kalo kita udah jalan baru Karin kasih, soalnya abang sering bohongin Karin" ucap Karin santai berjalan keluar kamar meninggalkan Kara yang cengo di sana.
Kara memang kerap kali berbohong pada Karin soal akan mengajaknya jalan-jalan setiap kali Karin mengajaknya atau meminta di temani. Dan pada akhirnya Karin akan melihat abangnya bersama perempuan lain.
Bukan masalah marah karena abangnya yang jalan dengan perempuan lain, tapi menurut Karin jika abangnya memang tidak bisa menemaninya jangan berjanji. Ataupun kalau sudah janji dengan Karin lebih dulu jangan janji dengan yang lain lagi di waktu yang sama pula.
Bahkan Kara peenah meninggalkan Karin karena ada salah satu pacarnya yang melihatnya duduk bersama Karin dan mengira kalau Karin pacarnya. Hingga akhirnya perempuan itu marah dan Kara membawanya pergi.
Terpaksa Karin menghubungi papanya untuk minta jemput, dan akhirnya Kara di marahi habis-habisan oleh Banu akibat lalai meninggalkan adiknya sendirian. Walaupun Karin sudah besar, tapi karena perginya dengan Kara maka Kara harus menjaga adiknya dengan baik bukan meninggalkannya sendirian.