First Kiss

First Kiss
Anak yang malang



Kara pergi ke suatu tempat di mana ia sering menghabiskan waktunya akhir-akhir ini sejak beberapa minggu terakhir. Melihat banyaknya anak kecil yang bermain bersama dengan bahagianya di taman itu membuat suasana hati Kara membaik dan bahagia.


Dengan pakaian santainya yang hanya kaos tangan panjang juga jeans panjang, Kara duduk di salah satu kursi yang selalu di dudukinya setiap mengunjungi tempat itu. Tadi setelah mengantarkan Karin ke kamarnya, Kara menyempatkan diri untuk mengganti pakaiannya agar tidak terlihat formal.


Belum banyak anak-anak di taman itu karena memang Kara datangnya lebih cepat dari biasanya. Dari beberapa anak yang sedang bermain di sana, ada satu anak kecil yang menarik perhatian Kara.


Keningnya terlihat mengkerut kala memperhatikan anak itu yang hanya diam saja di tempat duduknya dengan sesekali tersenyum tipis melihat yang lainnya bermain. Kenapa anak itu batin Kara.


Keheranan pemuda itu semakin bertambah kala ia semakin memperhatikan anak yang perkiraan usianya masih 3 atau 4 tahunan itu yang bahkan hanya diam saja saat ada beberapa anak yang mengajaknya untuk bermai.


Hingga akhirnya beberapa anak itu mengejeknya lalu pergi. Anak kecil itu menangis di sembari menunduk dalam diamnya. Kasihan melihat hal itu Kara berjalan menghampirinya.


"Hay adik kecil, kenapa nangis?" tanya Kara dengan suara lembutnya.


Anak kecil itu mendongan dengan wajah ketakutan sembari beringsut menjauhi Kara.


"Eh jangan takut ya om gak gigit kok, om orang baik, om cuma mau kenal aja sama kamu boleh ya!" bujuk Kara agar anak laki-laki itu tidak ketakutan lagi.


Wajah polos anak itu mulai menatap Kara dengan serius walau wajahnya masih menampakkan ketakutan.


"Om gak punya di sini, om kesepian, boleh gak kalo om temenan sama kamu" bujuk Kara dengan wajah memelasnya untuk menarik simpati si anak kecil itu.


Wajah takut tadi berangsur surut dan terlihat mengangguk samar masih dengan menatap serius pada Kara. Melihat anggukan itu tentu membuat Kara senang dan lebih semangat lagi untuk mendekati anak kecil yang rupawan di dekatnya itu.


"Kenalin nama om Kara, kalo kamu namanya siapa ganteng?" tanya Kara menatap anak di sampingnya.


Anak laki-laki itu tidak menjawab pertanyaan Kara, hanya tangannya bergerak ke depan dan seperti menulis di udara ia memberitahukan Kara sesuatu yang di pertanyakan pemuda iti.


Dengan kening mengkerut bingung Kara memperhatikan apa yang di lakukan anak laki-laki itu. Gerakan tangan mungilnya menuliskan beberapa huruf dengan pelan hingga Kara dapat mengerti.


"Kiko? nama kamu Kiko?" tanya Kara lagi memastikan dan di jawab anggukan senang oleh anak itu serta senyumnya yang mengembang sangat manis dan lucu.


"Astaga kamu lucu banget sih nak" gemas Kara lalu mencubit pelan pipi anak kecil bernama Kiko itu.


Yang masih jadi pertanyaan Kara dalam pikirannya adalah kenapa Kiko tidak berbicara dan malah menjawabnya dengan cara seperti itu.


"Umur Kiko berapa sih?" tanya Kara.


Kiko mengangkat tangannya dan menunjukkan 3 jarinya yang masih kecil dan mungil di hadapan Kara.


"Tiga tahun?" Kiko mengangguk.


"Kesini sama siapa?" kening Kara semakin mengkerut dalam kala Kiko menggelengkan kepalanya.


"Sendirian?" Kiko mengangguk.


"Mama kemana?" tidak ada respon apapyn dari abak itu kecuali wajah sedihnya lalu menarik lengan baju panjangnya dan memperlihatkan sesuatu pada Kara.


Mata pemuda itu terbelalak kaget dan shok saat melihat apa yang ada di depan matanya kini. Di tangan anak sekecil Kiko terdapat beberapa memar yang cukup parah dan membengkak.


"Astaga! kamu kenapa nak? siapa yang lakuin ini sama kamu hm?" tanya Kara sembari mengelus rambut Kiko lembut.


Mendapat perlakuan lembut dari Kara, Kiko semakin menunjukkan sesuatu lagi di bagian tubuhnya yang lain. Seperti perut kaki juga punggungnya yang terdapat lebam-lebam bahkan bekas pukulan tangan yang masih jelas kentara juga bekas cubitan yang merah.


"Siapa yang lakuin ini sama kamu sayang? bilang sama om ya biar om marahin orang itu" bujuk Kara agar Kiko mau bicara.


Dalam hati Kara sangat menyayangkan kelakuan tidak manusiawi pelaku yang menyebabkan Kiko kesakitan itu. Apa orang tuanya yang melakukan itu? batin Kara.


Kiko kembali menulis sesuatu di udara seperti sebelumnya dan Kara melihat dengan serius apa yang di tulis oleh Kiko.


"Tante? tante siapa?"


Kiko menggerakkan lagi jari mungilnya.


"Tante jahat? bener!" Kiko mengangguk pelan dengan mata yang mulai terlihat berkaca-kaca.


"Mama sama papa kamu kemana sayang? apa mereka tahu?" sedih Kara dengan pandangan prihatin.


Kiko tidak menjawab, hanya menangis dalam diam dengan air mata yang membasahi pipi gembulnya. Bibirnya yang kecil juga nelengkung kebawah, Kiko menatap Kara.


Tidak tega melihat Kiko menangis Kara memeluknya dan membawnaya kedalam pangkuan. Dengan lembut serta pelan Kara mengelus rambut anak kecil malang itu.


"Ssttt diem ya, sekarang Kiko ikut sama om ya! kita obatin sakitnya ya!" bujuk Kara pela agar Kiko mau ikut dengannya berobat.


Kara bersyukur karena ternyata Kiko mengangguk patuh dan mau ikut dengannya. Kara menggendong Kiko dan mendekapnya hati-hati karena takut ia menekan lebam yang ada di bagian belakang tubuh anak itu.


Di dalam mobil Kara mendudukkan Kiko di samping kemudi, Kara juga sempat menghapus air mata Kiko sebelum melajukan mobilnya dengan kecepatan yang sedikit pelan. Apa lagi Kiko yang tidak di pasangkan sabuk pengaman karena Kara takut menekan tubuh kecil Kiko.


Beberapa saat berjalan akhirnya Kara tiba di sebuah klinik ibu dan anak. Setelah memarkirkan mobilnya Kara langsung keluar bersama Kiko yang sudah dia pangku setelah mobilnya mati.


Kara merasakan Kiko yang memeluknya pelan dengan wajah yang bersandar di dadanya. Kara terus berjalan dengan mendekap tubuh kecil itu hingga masuk ke dalam klinik.


Setelah mendaftar dan menggu beberapa lama barulah giliran Kara yang masuk untuk melakukan pemeriksaan. Di dalam ada seorang dokter yang sedang menunggu di kursinya.


"Dokter tolong anak..."


Kalimat dan langkah Kara terhenti saat melihat siapa yang ada di hadapannya kini. Begitupun dengan orang yang masih duduk di sana menatap tidak percaya pada Kara yang baru masuk.


Kara menatap sendu wanita itu dengan perasana yang campur aduk, antara senang, sedih dan juga marah. Tapi pemuda itu langsung saadar dengan tujuannya datang ke tempat itu.


Setelah menghela napas sejenak Kara menampilkan wajah datarnyaa melihat sang dokter yang nampak masih terpaku padanya.


"Tolong periksa anak ini dokter" ucapnya menyadarkan si dokter.


Dengan batuk pelan dokter itu langsung bergerak dan meminta Kara mengikutinya menuju tempat pemeriksaan.


"Baringkan anaknya pak" ucap dokter wanita itu dengan suara yang di buat senormal mungkin dan mencoba tetap profesional.


Kara menurunkan Kiko dari pelukannya walau agak sulit.


"Turun dulu ya sayang biar di periksa ibu dokter, supaya sakitnya bisa sembuh ya!" bujuk Kara pelan sembari mengelus kepala Kiko yang masih enggan melepaskan pelukannya.


Setelah di bujuk barulah Kiko mau di dudukkan di ranjang pemeriksaan. Tapi hal aneh terjadi pada si dokter yang justru melotot tidak percaya saat melihat siapa anak kecil yang di bawa Kara.


"Kiko"