
"Apa ini? mana Aldi?" kaget Neli yang tidak mendapti Aldi melainkan tirai yang menghalangi pandangannya.
"Duduk diam di tempatmu nona" ucap pengawal yang sudah melajukan mobilnya meninggalkan vila.
"Aku tanya padamu dimana Aldi hah?" bentak Neli lalu tangannya kembali memegang tirai dan mencoba untuk membukanya.
"Diamlah nona sebelum tuan muda marah" ucap pengawal itu lagi yang sudah benar-benar pusing melihat sikap Neli yang tukang marah dan sombong itu.
"Masa bodo, aku ingin Aldi" keras kepala Neli masih berusaha menarik tirai di belakangnya yang panjangnya sampai bawah kursi.
Pengawal yang tidak ingin mendapat amukan dari tuannya itu lalu menekan tombol lainnya di mobil hingga tirai yang awalnya bisa di angkat kini jadi berat di tangan Neli.
Karena daya magnet yang menarik bagian besi di bawah tirai cukup membuat Neli akhirnya melepaskan tirai itu. Pandangan kesal Neli berikan pada pengawal yang terlihat biasa saja di balik kemudinya itu.
"Apa yang kau lakukan hah? aku kan sudah bilang kalau aku ingin bertemu dengan Aldi" bentaknya.
Tidak ada jawaban apa lagi respon dari pengawal itu yang lebih memilih untuk menulikan pendengarannya. Apa lagi saat ini kedua majikannya sedang istirahat, bisa bahaya kalau istirahat tuannya terganggu pikirnya.
Neli terus saja mengoceh tidak mau diam, semua kekesalannya di luapkan pada si pengawal sekaligus supir itu. Bagai radio rusak yang tahan berbunyi jika belum benar-benar soak, Neli terus saja mengeluarkan gerutuan dan ocehannya.
Nasib ya nasib mengapa harus aku yang dapet penumpang makhluk astral begini batin si pengawal yang telinganya mulai panas akibat ocahan Neli yang sudah hampir satu jam tidak berhenti.
Karin yang mulai merasa terusik dengan adanya suara berisik mulai membuka matanya pelan-pelan. Di perutnya ada sesuatu yang menimpanya, dan saat di lihat itu adalah tangan Aldi yang ternyata tidur juga sembari memeluknya.
Karin melihat tempatnya dan baru sadar kalau sedang di satu tempat yang baru di lihatnya. Karin melepaskan tangan Aldi lalu duduk dan melihat seklilingnya yang di tutup tirai. Samar-samar suara ribut itu terdengar dari arah depan.
Perasaan tadi masih di teras depan, kok udah di sini! dimana pula ini batin Karin yang mencoba mengangkat sisi tirai berharap bisa melihat di mana ia sednah berada.
"Apa ini di mobil ya makanya gerak? tapi kok tirainya susah di buka sih!" gerutu Karin karena memang ia tidak tahu apa-apa.
Mobil yang di gunakannya merupakan mobil baru yang di beli Banu seminggu setelah Karin keluar dari rumah sakit. Di mobil itu juga sudah modifikasi dengan safety yang sangat lengkap untuk mencegah segala kemungkinan terjadi.
Banu menyiapkan semuanya demi kenyamanan dan keamanan putrinya. Bukan ingin lagi tapi Banu hanya jaga-jaga saja jika terjadi hal tidak di inginkan lagi seperti waktu itu maka mobil itu akan ada sistem perlindungan untuk penumpangnya yang bisa meminimalisir cedera parah.
Dan Karin yang memang tidak bisa menyetir tidak tahu apa-apa tentang dirinya yang sudah di belikan mobil baru oleh papanya. Yang di ketahuinya hanya mobil yang tadi akan di naiki milik papanya saja.
"Kamu lagi apa?" tanya Aldi yang sudah membuka matanya karena memang ia tidak tidur, hanya rebahan saja sekalian mendengarkan musik melalui earphone nya agar suara berisik Neli tidak di dengarnya.
Saat Karin menyingkirkan tangannya Aldi langsung membuka mata tapi tidak bersuara apa lagi bergerak. Laki-laki itu hanya melihat saja apa yang di lakukan Karin.
Hingga kebingungan Karin yang malah menarik-narik tirai di sampingnya membuatnya harus angkat suara.
Karin melihat Aldi yang sudah duduk dan mengembalikan posisi kursinya seperti semula.
"Kita dimana?" tanya Karin.
"Di jalan" sahut Aldi singkat masih melihat Karin yang satu tangannya masih berusaha.
"Ini di mobil? kok tirainya susah di angkat sih!" Karin melihat sisi bawah tirainya lalu tangannya menjulur ingin meraih bagian bawahnya.
"Tunggu" Aldi menahan tangan Karin hingga gadis itu kembali tegak seperti semula.
"Kenapa?" tanya Karin heran.
Aldi tidak menjawab, hanya saja tangannya menyentuh bagian atas yang berwarna biru. Seketika tirai di samping mereka terbuka sebatas kaca saja. Aldi sudah di beritahu oleh Banu tentang mobil Karin yang akan mereka gunakan itu, jadi tidak sulit bagi Aldi untuk menggunakan safety yang ada.
Karin mengalihkan perhatiannya saat tirai bergeser, jalanan yang mereka lewati dapat terlihat oleh Karin dari balik kaca hitam.
"Nanti aja" sahut Aldi.
"Kenapa? aku mau lihat dari depan"
"Jangan"
"Tapi kenpaa?" penasaran Karin karena mendapat larangan dari Aldi.
"Udah jangan pokoknya"
Karin menghembuskan napasnya kesal.
"Aku laper tahu! aku pengen lihat dari depan siapa tahu aja ada warung yang buka" kata Karin dengan nada di tekan.
"Hah baru satu jam lebih yang lalu kamu sarapan sekarang udah laper lagi?" heran Aldi yang di angguki Karin dengan polosnya.
"Tadikan cuma makan roti sama minum susu aja, mana kenyang kalo belum makan nasi" cemberut Karin.
Aldi tersenyum tipis seraya geleng kepala, memaang Karin kalau perutnya belum di isi dengan nasi maka cemilan seberapapun tidak akan mampu menghalau laparnya. Sekalipun roti dan susu yang mengisi perutnya tetap tidak bertahan lama, hanya beberapa menit saja. Pengganjal lapar katanya dan menu utamanya tetap nasi.
Akhirnya Aldi menekan satu tombol lagi di atas dan terbukalah tirai di depan mereka yang langsung menampakan pemandangan di depan juga orang yang ada di depan.
Karin yang melihat bagian depan sudah terbuka langsung fokus mencari warung yang di inginkannya. Tanpa melihat siapa yang ada di samping supir, bagitupun dengan Aldi yang memang masa bodo dengan orang lain kecuali Karin tentunya.
"Pak, nanti berhenti di warung nasi uduk itu ya pak" ucap Karin pada si supir sembari menunjuk tempat yang di maksudnya.
Si supir yang memang tahu kalau tirai di belakangnya di buka biasa saja dan menjawab dengan santainya.
"Iya non" sahutnya.
Sedangkan Neli yang mendengar suara perempuan lain dari belakang langsung menoleh dengan cepat. Di lihatnya Karin dengan wajah senang dan inginnya akan permintaannya tadi. Lalu pandangan Neli beralih pada Aldi yang masih stay cool di belakangnya.
"Aldi kamu kenapa tutup tirainya sih? akukan mau ngomong sama kamu, pengen ngobrol sama kamu juga" manja Neli saat itu juga.
Karin yang mendengar suara Neli langsung melihatnya.
"Loh! kamu di sini juga?" kaget Karin yang memang tidak tahu kalau ada Neli satu mobil dengannya.
"Iya kenapa? memangnya kamu aja yang bisa satu mobil sama Aldi apa? heh aku tuh lebih segalanya dari kamu ya cupu jadi jelas aja kalo aki bisa ikut mobilnya Aldi" kata Neli dengan gaya sombongnya.
Bertambah lagi makhluknya batin si supir.
Karin melihat Aldi di sampingnya yang sama sekali tidak memperdulikann Neli dan malah memainkan rambut panjang Karin yang di belakang. Karena rambut Karin yang memang tergerai.
"Harusnya kamu tuh duduk di sini sama supir tahu gak? kamu itu pantesnya sama supir" judes Neli kembali biacara pada Karin.
"Diem aja ya kamu perempuan toak, berisik tahu gak! dari tadi gak bisa diem mana ngejek nina muda saya lagi" ucap supir yang memang pengawal Karin itu geram karena sudah tidak tahan dengan semua ocehan Neli.
"Apa? nona muda? yang bener aja, nona jalanan kali" ejek Neli yang kaget dan tidak percaya dengan apa yang di ucapkan si supir.
"Kamu itu numpang di mobil nona Karin, jadi diem aja deh gak usah berisik sebelum saya tendang kamu jauh-jauh" kata si supir.
"Kamu ber..."
"Diam atau turun" kata Aldi tegas dan bernada dingin yang membuat Neli langsung diam dan mendengus kesal.