
Mobil berhenti di depan warung yang di tunjuk Karin tadi, dengan sangat bersemangatnya Karin langsung turun dan masuk ke dalam warung di ikuti oleh Aldi yang sudah di belakang gadis itu.
Neli yang melihat mereka berhenti di depan warung pinggir jalan menatap jijik pada tempat itu.
"Ih mau ngapain tuh sih cupu masuk ke sana?" ucap Neli.
"Tempatnya iuh gak bangeh sih" lanjutnya lagi.
Pria di samping Neli yang masih duduk di sana menghembuskan napasnya malas.
"Silahkan keluar karena saya juga mau keluar" ucapnya tegas.
"Keluar aja sana kalo mau, aku sih ogah turun di tempat beginian" sahut Neli dengan pandangan jijiknya.
"Dasar orang sok gengsi, buruan kali laper nih tuh temen-temen saya udah pada keluar semua" tunjuk pria itu pada kelima temannya yang terlihat satu orang menunggunya keluar.
"Keluar ya keluar aja sana, kalian rombongan orang susahkan memang sukanya makan di temat begituan"
"Kalo saya keluar, mobil ini otomatis terkunci dan suhu di dalamnya jadi panas karena ac mati dengan sendirinya pula" jelasnya.
"Ck, berisik banget sih jadi orang! udah sana pergi aja kenapa sih, masa iya mobil semewah ini bakalan kaya gitu" keras kepala Neli tidak percaya.
"Selamat jadi manusia panggang" kata pria itu langsung membuka pintu di sampingnya.
Neli yang takut akan terkunci cepat-cepat membuka pintu pula dan keluar. Sedangkan si pria yang sudah mendatangi temannya bersorak dalam hati karena berhasil mengerjai si berisik.
Neli melihat sekelilingnya yang memang berada di pinggir jalan. Debu-debu dan asap kendaraan jelas banyak di sana, Neli merapatkan tubuhnya pada bodi mobil dan menutupi wajahnya untuk menghalau panas yang menyorot di atasnya.
"Ihs panas banget sih, neraka banget nih tempat" gerutu Neli yang bukannya masuk malah berdiri saja di dekat mobil bagaikan penjaga parkiran.
Sedangkan di dalam warung yang ternyata cukup sejuk karena kipas yang terus berputar, di tambah lagi dengan kebersihannya yang sangat baik membuat pelanggannya nyaman untuk makan.
"Kamu mau pesen apa?" tanya Aldi.
"Aku mau nasi uduk pake bebek goreng" ucap Karin.
"Minumnya?"
"Minumnya es jeruk aja"
Aldi mengangguk dan berdiri dari duduknya karena tadi begitu masuk mereka langsung duduk karena masih banyaknya orang yang pesan di dekat si penjual.
Pengawal mereka juga ikut masuk dan memesan makan untuk mereka sendiri. Duduk mereka juga tidak jauh dari meja Karin, tepat di meja sampingnya.
Setelah Aldi memesan barulah pengawal mereka yang memesan. Tadinya pengawal itu meminta agar ia saja yang memesan tapi Aldi menolaknya dan akhirnya memesan sendiri.
Aldi duduk kembali di samping Karin yang menatapnya sejak tadi.
"Kenapa?" tanya Aldi saat sudah duduk.
"Gak kenapa-kenapa" sahut Karin lalu meraih ikat rambutnya dan menyimpulnya di bagian tengkuk.
Tangan Aldi turut merapikan rambut Karin yang tidak kena ikat ke belakang telinga gadis itu. Karin yang mendapat perlakuan manis dari Aldi hanya bisa tersenyum senang saja, tapi sesaat kemudian senyumnya hilang.
"Oh iya, kenapa bisa perempuan itu ikut di mobil kita? bukannya harusnya dia ikut rombongan bus ya?" ucap Karin akhirnya mengeluarkan apa yang menjadi pertanyaan sekaligus kebingungannya.
Aldi menghela napas malas kala harus membahas ulet keket yang satu itu.
"Dia maksa mau ikut, katanya ada urusan penting yang mengharuskan dia segera pulang" Karin mengangguk.
"Oh iya ini kan busnya baru jalan jam 10 nanti ya, sedangkan sekarang masih jam 9 lewat" ucap Karin seraya memegang tangan Aldi yang memang memakai jam.
"Kamu gak nyaman ya sama dia?" tanya Aldi menatap Karin.
"Eemmm gimana ya?" Karin mengetuk-ngetuk dagunya dengan jari telunjuk berpikir.
"Di bilang gak nyaman tapi apa yang bikin gak nyamannya? di bilang nyaman gak juga, jadi yaaa biasa aja sih" lanjut Karin.
Aldi yang gemas dengan tingkah Karin menarik pelan hidung Karin dengan sembari tersenyum tipis.
"Ada-ada aja kamu ini, ya udah nanti dia kita suruh naik mobil belakang aja" kata Aldi.
"Bukannya mobil belakang udah sempit ya karena mereka di situ, trus tas kita juga di situkan"
"Biarin aja, dari pada berisik di mobil kita biar dia sempit-sempitan di mobil belakang"
"Kalo dia ikut mobil yang belakang dia pasti gak bakalan berani berisik Di" ucap Karin sedikit berbisik.
"Kenapa?" penasaran Aldi.
"Karenakan yang di mobil belakang orangnya lebih serem-serem" kekeh Karin.
Aldi tersenyum dan mengelus kepala Karin lembut. Memang iya sih pengawal Karin yang di mobil satu lagi itu berbadan lebih besar dari yang jadi supir mereka. Di tambah lagi tampang mereka yang seram semakin membuat orang lain takut kalau melihat.
Untung saja saat ini para pengawal itu memakai baju kaos hitam dan celana jeans, jadi Aldi dan Karin tidak terlalu terlihat mencolok saat masuk ke warung sederhana itu.
Tidak pakai lama makanan yang di pesan Aldi datang dan langsung di hidangkan di meja mereka.
"Selamat menikmati" ucap wanita yang mengantarkan makanan itu yang di balas senyuman oleh Karin. Sedangkan Aldi membeku seperti biasanya kalau dengan orang lain.
Setelah makanan terhidang di meja, dengan penuh semangat pula Karin menyantapnya. Bebek goreng dengan sambal di tambah benerapa lalapan yang ada membuat makannya benar-benar lahap.
Aldi juga ikut makan dengan sesekali melihat Karin dan membersihkan bibir gadis itu yang kadang terdapat sisa sambal ataupun nasi. Aldi hanya senyum tipis saja melihat cara makan Karin yang lahap dan tidak penting tempat juga tidak memandang makanan apa yang di makannya.
Sekalipun itu makanan sederhana tetap di lahap dengan sangat senangnya oleh gadis cantik itu.
Di tengah acara makan yang sedang hikmat-hikmatnya itu, datanglah Neli yang wajahnya sudah memerah akibat kepanasan. Neli yang sudah tidak tahan kepanasan di luar memilih masuk saja.
Tapi di dalam ia tidak cukup sulit menemukan di mana orang yang di carinya. Sampai Akhinya matanya menangkat sosok Aldi yang terlihat sedang bermesraan dengan Karin membuat kepalanya semakin panas.
Gelas yang ada di hadapan Aldi juga di ambilnya dan di minum begitu saja. Karin dan Aldi saling pandang lalu melihat Neli yang minum bagai baru keluar dari gurun pasir.
"Ah segarnya" ucapnya lalu meletakkan gelas itu lagi dan duduk di depan Aldi.
"Terimakasih ya Al minumannya, es jeruknya seger banget, seseger hatimu kala memandangmu" lanjutnya dengan senyum menggoda.
Aldi memutar bola matanya malas sedangkan Karin melongo karena minumannya di habiskan. Sedangkan dirinya sendiri kepedesan akibat sambal.
"Es aku" lirih Karin pelan yang dapat di dengar Aldi.
"Ini non es nya" ucap salah satu pengawal Karin yang langsung gercep memesankan nonanya es yang baru.
Karin menerimanya dan mengucapkan terimakasih lalu minum.
Neli melihat kelompok pria berotot yang sedang bersama pria yang tadi di sampingnya di mobil. Memang pria itu juga berotot tapi tidak seseram yang lainnya.
"Mau cari ribut ya?" ucap pria yang lebih besar dengan kepala plontosnya melotot pada Neli.
Neli menelan liurnya kasar saat pelototan itu terlihat bagaikan malaikat pencabut nyawa baginya. Serem banget pikirnya. Neli geleng kepala dan duduk dengan damai di tempatnya tanpa berani melakukan apapun.