
Aldi mengerjapkan matanya melihat siapa yang ada di ruangan itu juga, sedangkan orang-orang yang bersama nenek tidak menyadari keberadaan Aldi. Tau lebih tepatnya sudah lupa akan wajah Aldi yang sudah besar itu.
Mereka sibuk mengkhawatirkan Kara yang kabur daei rumah, security yang melihat motornya di bawa oleh Kara langsung mengatakan pada tuan besarnya. Sontak saja hal itu membuat semua orang kalang kabut mencarinya.
Sampai akhirnya kakek mengajak mereka kerumah sakit karena yakin kalau Kara pasti ke rumah sakit. Dan benar saja kalau Kara memang ke rumah sakit, saat ini pemuda itu sedang di dekapan Tati mamanya.
Nenek dan yang lainnya bernapas lega melihat keberadaan Kara di sana. Sampai ucapan Aldi menarik perhatian mereka.
"Kakek nenek" ucap Aldi.
Kakek dan nenek Karin melihat ke arah yang memanggil mereka, begitupun dengan yang lainnya. Bude menatap intens laki-laki yang memanggil mertuanya itu, karena hanya para orang tua yang ada di sana.
"Kamu kenal nenek?" tunjuk nenek pada dirinya sendiri.
"Iya nek, kakek sama bude dan pakde juga kenal"
Mereka slaing pandang dalam kebingungan, tapi bude masih tetap menatap intens Aldi yang di rasanya seperti pernah di lihatnya.
"Kamu..." bude menunjuk Aldi sembari mengingat satu nama yang sudah ada di ujung lidahnya namun sulit keluar.
"Dia Aldi anakku mbak" seru Desi yang melihat kebingunga keluarga Karin.
Isa melihat Desi yang tersenyum padanya begitupun dengan Dudi.
"Loh kalian di sini juga? kok gak sadar ya tadi" seru bude Isa.
"Gimana mau sadar wong dari tadi pada khawatir sama Kara yang kabur" kata kakek.
"Jadi kamu Aldi! yang dulu sering main sama Karin kan, yanh di panggil Didi sama Karin" Aldi kaget mendengar ucapan pakde hingga membuat Aldi langsung melihat pada Karin yang hanya diam kebingungan dengan wajah polosnya.
"Maksud pakde, Karin itu Nana?" tanyanya yang di angguki pakde.
"Yo iyo toh le, Karin ini ya Nana kawanmu main dulu di desa sebelum kamu pergi" ucap nenek.
"Ja di..yang selama ini ku cari kamu Karin" Aldi mendekati Karin yang menatapnya polos.
"Kamu Nana, kamu Nanaku" Aldi memeluk tubuh Karin begitu saja dengan perasaan bahagia yang teramat sangat karena ternyata Nananya tidak lain itu Karin sendiri.
Benarlah perasaannya selama ini kalau ia merasa nyaman dan dekat selama bersama Karin. Karena Karin adalah Nana, orang yang selama ini di carinya.
"Maaf aku peegi gak bilang kamu waktu itu" lirih Aldi menahan air matanya, malu kalau sampai ia menangis hanya karena merindukan Nananya yang padaha ada di dekatnya selama ini.
Orang tua mereka yang tidak tahu siapa Didi dan Nana hanya diam dalam kebingungan saja.
"Jadi kamu gak tahu kalo Karin itu Nana?" tanya nenek yang di jawab gelengan oleh Aldi yang baru melepaskan pelukannya pada Karin.
"Gak nek, dari dulu Aldi tahunya cuma Nana tapi siapa nama Nana yang sebenernya Aldi gak tahu, gak inget"
"Gimana mau inget kalo kalian dari awal kenal aja manggilnya udah Didi sama Nana" celetuk kakek.
"Jadi kamu yang selama ini di tungguin Karin?" tunjuk Kara pada Aldi.
Kara melihat orang tuanya lalu kembali melihat Karin yang diam saja.
"Selama Karin tinggal sama kita, dia pernah nanyain satu nama sama Kara, dia juga minta Kara buat nyariin orang itu karena Karin gak tahu seluk beluk kota ini, waktu itu Kara nanyak siapa namanya, Karin bilang namanya Didi pas di Kara tanyak lagi siapa nama lengkapnya Karin bilang gak tahu karema cuma tahu nama Didi doang"
"Bahkan Karin punya fotonya di kamarnya, Kara pernah lihat sewaktu Karin nunjukin fotonya karena Kara yang minta supaya bisa nyariin orang itu, rupanya Didi itu kamu ya? wah padahal udah sering ketemu kita tapi kok beda ya sama yang di gambar" jelas Kara membuat orang tuanya mengerti.
"Ya jelas beda toh Kar, wong nenek aja gak tanda lagi sama mukanya cucu tetangga nenek ini" seru nenek terkekeh pelan.
"Jangan bilamg kalo dia perempuan kecil yang dulu matanya pernah kamu tutupin waktu ayah mau pergi Al" seru Dudi yang bari mengingat masa dulu.
"Iya yah" sahut Aldi dengan wajah malunya yang berusaha ia tutupi.
Kini semuanya sudah jelas bagi Aldi, Nana yang di carinya ternyata sangat dekat dengannya. Bahkan tanpa ia sadari walau hatinya seakan memberi tahukannya tapi Aldi tidak peenah memperdulikan hal itu karena ia hanya ingin Nana saja. Sekarang Nana nya sudah ada di depan matanya, Aldi akan berusaha agar perempuan itu tidak ia tinggalkan lagi.
"Nana" panggil Aldi tersenyum manis untuk yang pertama kalinya setelah berpisah dengan Nana nya dulu.
"Kamu siapa?" tanya Karin yang langsung melunturkan senyuman manis Aldi dan berganti dengan wajah bingungnya juga keluarganya yang baru datang.
"Kamu gak dia toh nduk? dia itu Didi temen kecilmu dulu di desa" ucap nenek yang hanya mendapat tatapan tidak mengerti dari Karin.
Banu menghela napasnya sejenak lalu mengajak semua orang untuk dduduk karena ia akan menjelaskan semuanya supaya tidak pada bingung lagi.
"Jadi gini, kata dokter Karin amnesia karena benturan di kepalanya, apa lagi sempat ada pendarahan sama darah yang gumpal di kepalanya Karin, jadi menurut dokter Karin itu amnesia sementara" ucap Banu yang membuat kaget semua orang.
"Jadi cucuku amnesia, ya tuhan cucuku" sedih nenek menatap Karin yang duduk di bednya dengan Aldi dan Kara.
"Ia bu, Karin bisa sembuh kalo kita bawa dia ngingat semua masa lalunya tapi pelan-pelan aja, jangan paksa dia juga buat nginget masa lalunya nanti dia sakit kepala trus ngedrop lagi, karena tadi juga hammpir gitu" jelas Banu.
"Kalo gitu pulang dari rumah sakit nanti Karin biar ikut ayah aja ke desa, di sana banyak kenangannya ayah yakin dia bisa cepet sembuh" seru kakek.
"Iya Nu, biar nanti Karin ikut kami ke desa, kami pasti jagain putri kita itu baik-baik" sahut Beni pula yang memang Karin bagi mereka adalah putri sendiri.
"Gak mas, biar Karin di sini aja, udah cukup aku jauh dari putriku, biarlah Karin lama buat nginget masa lalunya yang penting dia tetep di sini, kami yang bakalan bantu dia pelan-pelan inget semuanya" tolak Tati yang tidak ingin berjauhan dari Karin.
Apa lagi dalam keadaan lupa ingatan begitu, bukannya tidak percaya pada keluarga suaminya yang selama ini juga sudah mengurus Karin. Hanya saja Tati juga ingin menciptakan momen kedekatan antara mereka selama Karin lupa ingatan hingga sembuh nanti.
"Tapi kalo di rumah ibu Karin bisa lebih cepet sembuh nduk, di sana dia tumbuh besarnya" ucap nenek.
"Gak bu, biar Karin di sini aja aku gak akan tenang kalo dia jauh dariku masih keadaan sakit gitu" ucap Tati yang tetap pada pendiriannya.
"Maaf semuanya" ucap Aldi yang menarik perhatian.
"Kalo boleh biar Nana di sini aja, Aldi juga bakalan bantuin Nana supaya bisa inget lagi" ucap Aldi hati-hati agar tidak menyinggung siapapun.
Karena bagaimanapun juga Aldi sadar dia tidak punya hak menahan Karin tetap tinggal jika keluarganya ingin membawanya pergi. Namun dalam hati terdalam Aldi, laki-laki itu ingin bersama Nana nya lebih lama dan membantunya kembali mengingat.
"Ya sudah kalo gitu, biar Karin di sini aja sama orang tuanya, perhatian orang tua memang lebih di butuhkan Karin sekarang, apa lagi kondisinya lagi kaya gitu" ucap kakek bijak sana sembari menatap Karin yang hanya diam.