First Kiss

First Kiss
Kaget



Karin tertidur di pelukan Aldi aakibat kelelahan menangis. Aldi dengan lembut meletakkan tubuh Karin di ranjangnya yang masih dalam posisi terangkat bagian kepalanya.


Aldi menatap wajah Karin yang ternyata terdapat luka goresan di sana. Wajah putih itu tetap terlihat cantik bagi Aldi meski terdapat luka. Dengan pelan pula Aldi mengecup kening Karin lalu menekan tombol di bawah bed untuk kembali menurunkan posisi bed jadi tidur lagi.


Tanpa bosan pula Aldi menatap wajah Karin yang terlelap itu dengan air mata yang masih ada di wajahnya. Aldi mengangkat tangannya lalu menghapus air mata itu dengan lembut, ia takut kalau terlalu keras akan membuat Karin kesakitan.


Para orang tua yang melihat adegan romantis itu jadi terharu terutama para ibu yang sudah tersenyum sangat bahagia.


Pintu kembali di buka dan masuklah Kara yang terlihat bahagia dengan senyumannya.


"Mana Karin ma? katanya dia udah sadar" Kara mendekati mamanya lalu melihat Aldi yang baru berdiri dari duduknya.


"Eh kamu yang waktu itu kan? yang pernah ngasih dua boneka buat Karin trus apa lagi lah waktu itu gak inget aku" ucap Kara kala mengingat wajah Aldi yang tidak mungkin ia lupakan karena laki-laki itu sudah membuat adiknya bahagia.


Aldi hanya tersenyum tipis lalu mengangguk pada Kara. Pandangan Kara beralih pada Karin yang tertidur, tapi Kara berpikir lain. Kara mengira adiknya belum sadar, jadi dia mendekati Karin dengan perasaan yang masih sedih.


"Karin, kamu belum sadar dek? tadi kata bude kamu udah sadar kok sekarang koma lagi sih dek, abang belum ngomong sama kamu, abang belum minta maaf sama kamu" sedih Kara memegang tangan Karin.


Ya kara memang datang kerunah sakit kala mendengar ucapan nenek dan budenya yang tidak sengaja ia dengar kala baru akan turun dari tangga. Kara yang dengar mereka mengatakan Karin adiknya sudah sadar langsung pergi diam-diam dari rumah.


Dengan membawa pergi motor securitynya Kara melaju meninggalkan rumah saat si security sedang lengah.


"Kara jangan janggu adek, biar adek tidur dulu" ucap Tati meraih tubuh Kara tapi pemuda itu tidak bergeming.


"Gak ma, mama jangan bohongin Kara lagi kaya waktu itu, Kara tahu adek belum sadar, kalian jangan bohongin Kara" tangis Kara yang masih sangat sedih melihat adiknya terbaring.


"Karin memang udah bangun bang, itu dia memang masih tidur karena baru makan tadi" ucap Banu pula berharap putranya mengerti agar tidak mengganggu Karin tidur.


"GAK JANGAN BOHONGI AKU LAGI" teriak Kara benar-benar marah dengan semua orang yang selalu mengatakan kalau Karin tidur.


Apa mereka tidak tahu kalau hatinya sangat sakit dan sedih melihat adik kesayangannya itu terluka. Hampir seluruh tubuhnya terdapat luka, ada yang di perban ada yang tidak karena sekedar goresan saja. Tapi itu sudah sangat membuatnya sangat menyesal karena lalai menjaga adiknya.


Orang yang ada di sana tersentak kaget mendengar teriakan Kara yang sangat kuat dan marah itu. Tak terkecuali Karin yang sedang tidur. Gadis remaja itu juga terbangun akibat kaget karena suara keras Kara.


"Mama papa" histris Karin langsung terduduk lalu meringis kala kakinya terasa mendenyut sakit.


"Ssthh"


Aldi yang melihat itu langsung mendekat dan memegang tangan Karin yang memegangi kaki kirinya.


"Kamu gak papa kan? mana yang sakit?" tanyanya.


"Kaki aku sakit" ucap Karin tanpa melihat siapa yang bertanya karena kepalanya juga masih pusing akibat terbangun tiba-tiba.


Aldi mengelus kaki Karin dari balik selimut dengan lembut untuk mengurangi rasa sakit kaki Karin.


"Dek kamu udah sadar dek, syukurlah" Kara langsung memeluk tubuh Karin dengan senangnya karena ternyata adiknya memang sudah sadar.


"Maafin abang dek maafin abang, abang salah gak jagain kamu abang gak nolongin kamu waktu itu maafin abang" isak Kara yang masih memeluk Karin.


Sedangkan keadaan yang di peluk hanya diam saja dalam kebingungannya, siapa dia ini batinnya. Karin tidak membalas pelukan Kara, sia hanya diam tanpa melakukan apapun lagi.


Karena tidak mendapat respon Kara melepaskan pelukannya melihat wajah Karin.


"Kok kamu gak bales ngomong apa-apa sih dek? kamu gak mau maafin abang ya? kamu masih marah sama abang ya?" lesu Kara.


Bagitupun dengan Aldi yang tak kalah kagetnya, ia menatap Karin lekat.


"Dek! ini abang, bang Kara kamu lupa sama abang dek? jangan bercanda ya gak lucu tau dek" ucap Kara.


"Tapi aku memang gak kenal kamu" ucap Karin dengan wajah polosnya.


Mulut Kara menganga mendengar ucapan Karin, ia semakin yakin kalau adiknya itu masih marah padanya.


"Dek pleas jangan bercanda ya, kalo mau bercanda nanti aja di rumah, kalo di sini malu dek banyak orang"


"Siapa yang bercanda? aku memang gak kenal kamu" kata Karin lebih heran dengan adanya Kara yang bertingkah aneh padanya.


Pandangan Karin beralih pada satu laki-laki lagi di depannya yang malah sedang memegang kaki kirinya yang sakit.


"Kamu juga siapa?" tanyanya menatap Aldi yang terheran-heran.


"Kamu gak inget aku juga?" tunjuk Aldi pada dirinya sendiri yang di angguki Karin.


Desi dan Dudi yang tidak tahu apa yang terjadipun ikut kaget dan bingung dengan situasi yang sedang terjadi di ruangan itu. Kenapa bisa begini, padahal Kara saudaranya dan Aldi teman satu kelasnya pikir mereka.


Banu yang menyadari situasi semakin tidak kondusif langsung mengambil jalan tengahnya saja. Pria itu menepuk bahu Kara hingga yang di tepuk menatapnya.


"Pa, Karin bercanda tuh, bilangin sama dia pa jangan sekarang bercandanya" adu Kara pada Banu yang mendekat.


Sedangkan Tati berusaha menahan air matanya yang akan jatuh kala melihat raut kecewa dan sedih putranya yang tidak di kenali adiknya sendiri.


"Sstt kamu tenang dulu bang, biar papa jelasin" ucap Banu.


Aldi berdiri dari duduknya dan menyingkir memberi tempat pada Banu untuk gantian duduk di tempat Aldi tadi.


Banu memegang tangan Karin lembut dengan tersenyum.


"Karin, Karin ingetkan waktu papa kasih tunjuk foto yang ada gambar kamu sama mama papa di situ" Karin mengangguk.


"Papa juga sempet bilangkan kalo kamu punya abang namanya Kara, nah ini dia abang kamu" tunjuk Bamu pada Kara yang melotot tidak percaya dengan napas memburu.


Pikiran Kara sudah menebak apa yang terjadi pada adiknya kini meski tidak ada yang menjelaskan. Tapi dari cara papanya bicara dan memberitahu Karin, Kara sudah dapat menyimpulkan kalau adiknya amnesia.


"Dia abangnya Karin" ucapnya menatap Kara yang sudah berkaca-kaca.


"Iya sayang dia abang kamu satu-satunya" sahut Tati mendekati Karin juga.


"Kalau ini nenek sayang" ucap suara dari arah pintu yang membuat semua orang mengalihkan perhatian dari Karin ke arah pintu.


"Bu" ucap Banu kaget kala melihat ibunya bersama yang lain datang ke sana dengan wajah yang masih terlihat panik dan khawatir.


Tapi ada satu orang yang lebih kaget dari semua orang di sana akan kehadiran nenek dan keluarganya. Matanya melotot tidak percaya dengan apa yang di lihatnya, bahkan rasanya ia seperti beemimpi akan bertemu dengan orang-orang itu lagi.


Siapa lagi kalau bukan Aldi orangnya.


"kakek nenek" ucapnya yang mengejutkan orang yang baru masuk.