First Kiss

First Kiss
Bunglon datar



Karin terus menikmati es krimnya tanpa perduli dengan Aldi di depannya yang masih menatapnya hingga pesanan laki-laki itu tiba pun. Aldi masih saja menatap Karin sembari menikmati minumannya dengan pemandangan wajah imut Karin yang sedang makan es krim.


"Kalau kamu tetap lihatin aku, siap-siap aja biji mata kamu itu hilang dua-duanya" ucap Karin santai karena sudah risih dengan Aldi yang terus menatapnya.


Mata Aldi langsung mengalih ke arah minumannya dan ponsel yang ia keluarkan dari saku celananya. Aldi pura-pura melihat ponselnya sekalian mengirim pesan pada bundanya agar mendatanginya nanti ke tempatnya makan es krim.


Karin menatap Aldi yang sedang bermain ponsel dengan bibir yang di tempeli pipet dari minumannya. Bibir Aldi yang tipis itu tiba-tiba saja terlihat menggoda bagi Karin, Aldi yang menyedot minumannya dengan bibir yang sedikit monyong malah terlihat sedikit seksi di mata Karin.


Sial batin Karin sembari menggeleng kepalanya, mengapa ia jadi mesum pada hal biasanya tidak. Bahkan Karin terlalu cuek pada laki-laki yang mendekatinya atau ingin mengenalnya.


Tapi hanya dengan melihat bibir monyong itu saja kenapa bisa membuat Karin malah berpikiran mesum. Rasa-rasanya Karin tidak pernah berciuman atau apapun itu, tapi kenapa malah berpikiran mesum.


Gadis remaja itu menggelengkan kepalanya membuang pikiran mesumnya dari kepala lalu kembali menikmati es krimnya yang masih setengah cup lagi. Karin menikmati es krim itu dengan cepat agar bisa lekas pergi dari sana.


"Dasar mesum" celetuk Aldi menarik perhatian Karin yang merasa di sindir.


"Aku gak mesum, kamu kali yang mesum" sangkal Karin menatap Aldi.


Aldi malah menatap penuh tanya juga heran pada Karin yang mengatainya mesum. Pada hal tadi laki-laki itu melihat ponselnya dan sedang berbalas pesan pada seseorang di seberang sana.


"Apa maksudmu?" tanya Aldi bingung.


"Kamu tadi mengataiku mesumkan! ya kamu itu yang mesum" kata Karin menjelaskan.


Aldi mengangkat sebelah alisnya tidak mengerti, tapi sepertinya gadis remaja ini harus di kerjai karena sudah berani menuduhnya dan mengatainya mesum.


"Biasanya siapa yang duluan berucap berarti dia yang seperti itu" ucap Aldi santai.


"Mana ada aku begitu, kamu yang begitu"


"Kamu yang mengataiku duluan"


"Tapi tadi.."


"Aku berbalas pesan dengan teman tanpa melihatmu, kamu yang melihatku dan menuduhku"


"Eh, ehm..."


Karin jadi salah tingkah sendiri, benar juga kalau tadi laki-laki itu tidak melihatnya tapi bermain ponsel. Ah tidak dia pasti mengataiku pikir Karin.


"Ck, walaupun berbalas pesan tapi yang ada di hadapanmu dan dekatmu hanya aku, jadi ucapan kamu tadi itu pasti untukku bukan! da..."


"Bukan, itu kamu saja yang berpikiran begitu"


Karin menghela napas kasar, bicara dan berdebat dengan bunglon datar itu patsi tidak akan ada menangnya.


"Terserah sajalah" ucap Karin menghabiskan es krimnya dengan cepat lalu segera beranjak pergi.


Aldi yang sejak tadi hanya santai menatap Karin yang kesal padanya ikutan pergi ketika gadis remaja itu pergi juga. Aldi tersenyum tipis sekali sembari mengikuti langkah Karin.


"Dasar bunglon datar, pada hal jelas-jelas tadi dia ngatain aku mesum kenapa dia pula yang gak ngakui, malah semakin nuduh aku mesum pula" gerutu Karin sepanjang langkahnya.


"Awas aja kalau ketemu lagi nanti, ku habisi dia dengan jurus cakar ayam" lanjutnya tanpa menyadari siapa yang berada di belakangnya.


Aldi hampir saja mengeluarkan senyumannya mendengar gerutuan dan dumelan Karin, apa lagi ancamannya yang akan mengeluarkan jurus cakar ayam. Memangnya cakar ayam bisa apa selain di masak trus di makan batin Aldi masih menatap Karin di depannya.


Dari depan nampak pula dua orang wanita yang sedang berjalan bersama saling berbincang dan tertawa. Karin menghentikan langkahnya melihat sang mama mendekat bersama seorang wanita lain yang terlihat seumuran dengan sang mama.


"Karin" panggil Tati mendekati anaknya dengan senang.


"Mama sudah selesai?" tanya Karin yang di angguki mamanya.


"Ah iya kenalkan ini teman mama, tante Desi"


"Halo tante, Karin" sapa Karin ramah.


"Oh jadi ini putrimu, cantik dan manis ya" puji Desi.


"Biasa aja tante" segan Karin.


Pandangan Desi beralih pada objek lain di belakang Karin.


"Kamu disini juga Al" ucap Desi membuat Karin dan mamanya melihat kebelakangnya.


Mata Karin memicing melihat Aldi di belakangnya, apa jangan-jangan sejak tadi dia ngkutin aku ya tebak Karin.


"Hey bunglon datar, jangan-jangan dari tadi kamu ngikutin aku ya" tuding Karin terang-terangan menunjuk Aldi.


Aldi menurunkan tangan Karin yang menunjuknya dengan wajah penuh tuduhan.


"Kenapa kamu selalu menuduhku?" ucap Aldi tenang dengan wajah khasnya datar juga dingin.


"Siapa yang nuduh? kamu memang ngikutin aku kan dari tadi dii toko baju, tuh buktinya semua buku yang aku mau ada sama kamukan" tunjuk Karin pada bag yang di pegang Aldi.


Laki-laki itu menghela napas mendengar ucapan Karin yang benar adanya. Tapi Aldi tidak mau mengakui semua itu, kan malu kalau sampai ketahuan.


"G'r banget jadi orang" ucap Aldi membuat Karin melotot padanya.


"Jadi kalian sudah saling kenal ya" ucap Tati menyentuh bahu Karin.


"Wah bagus kalau begitu, kalau boleh tahu di mana kalian kenalnya?" tanya Desi.


"Dia bunglon pengganggu tante, bekalku dia yang habisin, kan kesel jadinya" Karin bersidekap dengan wajah cemberutnya.


"Hey sayang kenapa kamu harus cemberut begitu, kalau Aldi suka ya bagi saja dengannya" ucap Tati.


"Aldi juga gak boleh gitu dong nak, kalau kamu mau bekal juga besok bunda bawakan" ucap Desi juga pada Aldi.


"Gak usah bun, cuma anak kecil yang suka bawa bekal" kata Aldi menyindir Karin lagi sembari melirik gados remaja yang masih cemberut itu.


"Memang dasarnya kamu itu rakus" kesal Karin.


"Ucapan kamu Karin, mama gak pernah ya ajarin kamu ngomong gak sopan gitu" kata Tati mengingatkan Karin.


Hadis remaja itu menghela napas kesal lalu menatap Aldi tidak suka.


"Sudahlah, ayo kita pergi belanja, anak-anak sudah ketemu juga" ajak Desi semangat.


"Ayo cantik kita pergi belanja sama-sama" lanjut Desi menjawil hidung mancung Karin lalu menggandeng Tati berlalu.


"Ayo anak-anak" ajak kedua ibu itu.


Dengan malas Karin mengikuti langkah mamanya, lebih tepatnya malas karena adanya Aldi di sampingnya. Entah kenapa laki-laki tinggi itu membuat Karin sangat kesal hari ini.


Aldi hanya santai saja berjalan dengan wajahnya yang datar tanpa senyum atau apapun. Keduanya berjalan berdampingan di belakang kedua wanita yang terus berjalan dengan riang itu.


Dua jam kemudian acara belanja selesai, Karin dan mamanya sudah akan pulang. Begitupun Aldi dan bundanya.


"Kapan-kapan kita belanja sama-sama lagi ya cantik" ucap Desi kembali menjawil hidung Karin.


Desi memasuki mobilnya setelah salam perpisahan dengan Tati yang juga masuk kedalam mobil. Karin yang akan membuka pintu mobil tertahan oleh tangan seseorang yang membuatnya menoleh.


"Milikmu" ucap Aldi menyodorkan bag yang di bawanya sejak tadi, laki-laki itu memutuskan untuk mengembalikan buku-buku Karin karena dia sudah tahhu apa tema dari buku-buku itu.


Ketika Karin akan menolaknya, Aldi menarik tangan Karin dan memberikan bag itu kemudian pergi memasuki mobilnya.


"Karin cepat" panggil Tati yang menghentikan langkah Karin mendatangi mobil Aldi.


Karin masuk kedalam mobil di mana mamanya sudah menunggu. Mungkin besok saja ku kembalikan semuanya, dasar nyusahin pikir Karin.