First Kiss

First Kiss
Jangan gegabah karena panik



Karin mengangkat kalung yang baru saja di berikan Banu pada Karin setelah di ambilkan dari atas nakas. Karin sendiri sednag duduk di kasur memandangi kalung yang baru di pegangnya itu.


Kalung yang cantik batin Karin.


Ada perasaan senang dan bahagia ketika Karin melihat kalung itu, dan bayangan duaa anak kecil laki-laki dan perempuanpun terlihat di benaknya. Senyum canda tawa kedua anak kecil itu bahkan terlihat jelas.


Dan ketika senyuman yang sangat familiar di matanya terbayang dan terlihat dengan jelas membuat kepala Karin pusing dan napasnya memburu.


"Kenapa sayang? mana yang sakit?" panik Banu dan Tati yang memang masih di dalam kamar Karin.


Karin hanya diam dan berusaha menenangkan pikirannya yang tiba-tiba berputar pada satu nama.


"Didi"


Setelah mengatakan itu Karin jatuh pingsan dan membuat orang tuanya serta Kara panik.


"Karin, bangun sayang"


"Bangun nak"


"Dek kamu kenapa dek astaga"


"Ayo pa kita bawa ke rumah sakit" ajak Tati yang sudah menangis melihat keadaan anaknya.


Kara langsung mengangkat tubuh adiknya dan membawanya keluar kamar.


"Pa bawa mobilnya" teriak Kara yang berjalan keluar rumah.


Banu dengan cepat bergerak menuju mobilnya lalu membukakan pintu untuk Karin dan Kara. Banu melajukan mobilnya dengan kecepatan yang sedikit di atas normal. Bagaimanapun juga sebagai kepala rumah tangga Banu tidak boleh ikut panik dan harus mencoba tenang agar suasana tidak semakin runyam.


"Pa lebih cepat pa, kasihan adek" panik Kara yang memang duduk di belakang bersama Karin.


"Iya pa lebih cepet lagi" ucap Tati pula seraya menatap Karin di belakang.


"Gak bisa ma, kalo papa bawa mobil ngebut nanti yang ada kita semua malah bahaya" ucap Banu yang masih fokus pada jalanan.


"Tapi kasihan Karin pa" ucap Tati menangis.


"Tapi nyawa kita juga harus di pikirkan ma" sahut Banu.


Tati dan Kara hanya diam dan terus menatap Karin yang masih belum sadarkan diri.


Sampai di rumah sakit Kara kembali membawa tubuh Karin keluar mobil dan masuk ke dalam rumah sakit.


"Dokter suster tolong putri saya" teriak Tati ketika memasuki rumah sakit mengikuti langkah Kara.


Beberapa suster yang sedang berjaga langsung turun tangan menghampiri.


"Ayo di bawa ke ICU mas" suster itu berjalan mengarah ke pintu yang berada di lorong sebelah tidak jauh dari pintu masuk.


"Silahkan tunggu di luar, kami akan menangani pasien" ucap suster lalu ikut masuk bersamaan dengan dokter jaga yang datang.


Banu, Tati dan Kara menunggu di depan pintu dengan perasaan sangat cemas dan khawatir. Apa lagi sejak seminggu setelah keluar dari rumah sakit baru kali ini Karin pingsan setelah melihat benda dari masa lalunya.


"Bagaimana ini pa? apa anak kita baik-baik aja?" ucap Tati menangis di pelukan suaminya.


Pandangan Banu beralih pada Kara yang terlihat frustasi dengan wajah sedihnya.


"Ini semua salah Aldi" gumam Kara menyalahkan Aldi karena akibat kalung itu adiknya jadi begini.


"Apa maksud kamu Kara?" tanya Banu heran.


Kara mengangkat kepalanya yang semula menunduk kini menatap kedua orang tuanya yang juga sedang menatapnya penuh tanya.


"Kalo aja Aldi gak bilang apa-apa tentang kalung itu, Karin gak bakalan nanyain kalungnya dan sekarang akibatnya Karin pingsan karena inget masa lalunya dari kalung itu" ucap Kara dengan pandangan penuh amarah.


"Lalu apa maumu?" tany Banu melepaskan pelukannya pada Tati.


"Kara harus kasih pelajaran sama Aldi pa, gara-gara dia Karin masuk rumah sakit lagi" kedua tangan Kara mengepal kuat di samping badannya.


Banu yang melihat itu langsung menatap tegas Kara yang sedang penuh emosi itu.


"Duduk" tunjuk Banu pada kursi yang ada di belakang Kara.


Kara mendudukkan dirinya karena bagaimanapun juga kalimat tegas papanya adalah hal yang paling tidak bisa du bantahnya sekalipun sedang marah.


"Apa tujuan kita untuk Karin sekarang?" tanya Banu menatap tegas anak sulungnya yang menunduk itu.


"Balikin ingetan Karin pelan-pelan, sama semangatin dia supaya gak patah semangat buat sembuh pa" jawab Kara pelan.


"Trus apa yang di lakuin Aldi?" tanya Banu.


"Kara gak tahu pa, tapi Kara gak suka kalo dia ngasih tahu masa lalu Karin sebelum waktunya, akibatnya sekarang Karin masuk rumah sakit lagi"


Banu menghela napas panjang, sebenarnya dia juga tahu kalau anaknya itu khawatir pada Karin. Tapi jangan sampai ke khawatirannya itu malah akan menjadi penyebab permusuhan dan masalah baru nantinya.


"Apa kamu lupa apa yang pernah papa bilang waktu itu?" tanya Banu lagi yang tidak di jawab apa-apa oleh Kara.


"Karin pasti bakalan pingsan setiap kali dia inget masa lalunya bang, karena itu bagian dari kerja sistem sarafnya yang berusaha ngingat masa lalu, apa lagi kejadian yang udah terlalu lama itu" jelas Banu pelan agar anaknya dapat memahami maksudnya.


"Itulah buat Kara marah pa" Kara menatap Banu dengan wajah sendunya.


"Seharusnya Aldi jangan dulu ngomongin masa lalu mereka waktu kecil dengan kondisi Karin yang sekarang, seharusnya dia bisa nahan diri dulu" lanjutnya.


"Masa lalu yang paling berkesan bagi Karin ya waktu dia sama Aldi dulu, jadi papa rasa itu bukan masalah mencoba ngingetkan Karin pelan-pelan sama masa kecilnya yang bisa jadi potensi besar dia kembali inget, karena masa yang paling menyenangkan Karin sewaktu kecil dulu sedangkan sama kita dia gak punya kenangan seindah masa kecilnya itu, walaupun kita ajakin dia jalan-jalan keluar negeri aatu beli mainan mahal, hal yang pasti lebih mengesankan sewaktu ada orang bisa nemani dia sewaktu kesepian, dan Aldi orangnya begitupun sebaliknya" jelas Banu.


Kara diam menunduk merasa bersalah, bagaimanapun juga Aldi adalah orang yang paling berkesan bagi Karin. Nenek sudah menceritakan semuanya pada mereka bagaimana kedekatan Karin dan Aldi dulu sewaktu di desa.


Karena kesibukan mereka semua juga keluarga nenek yang saat itu juga sedang mengurusi sekolah anak mereka di luar desa. Dan Banu serta istri yang sibuk bekerja memulihkan perusahaan yang hampir bangkrut di tambah Kara yang sekolah dan masuk asrama.


Karin tinggal di desa tanpa teman selain nenek yang hanya bisa sesekali menemani. Dan pada saat yang sama Aldi juga sesih karena di tinggal orang tuanya pulang ke kota. Dari sanalah keduanya berkenalan dan selalu bersama bermain di halaman samping rumah yang berada di antara rumah kedua nenek mereka.


Wajar kalau adiknya itu akan berekasi lebih serius pada setiap kenangannya bersama Aldi di masa lalu. Meski hanya sesuatu yang kecil akan memberi dampak besar bagi Karin yang di ketahui Kara memang juga sednag menantikan sosok Didi teman masa kecilnya itu, yang tidak lain adalah Aldi sendiri.


"Papa harap kamu bisa memikirkan segalanya lebih dulu sebelum bertindak bang, jangan gegabah cuma karena panik atau khawatir, papa tahu kamu sayang sama Karin tapi pikirkan apa yang di lakukan Karin kalo dia inget semuanya trus nanyain tentang Aldi yang gak pernah nemui dia lagi, kamu mau bohong? gak selamanya kebohongan itu bisa mulus tertutup pasti akan ada selahnya kelihatan" nasehat Banu.


Tati hanya menatap ke dua pria yang di sayanginya itu dalam diam, dalam hati ia pun membenarkan segala ucapan Banu suaminya. Memang salah mereka yang lebih mementingkan pekerjaan dulu dari pada Karin sampai anak perempuan mereka itu lebih suka di desa saat akan di bawa ke kota kembali.


Dan kenangan yang mereka berikanpun tidak lebih berpengaruh di bandingkan dengan kenangan Karin bersama Aldi semasa kecil. Tati berharap dengan bantuan Aldi semoga anak gadisnya bisa cepat ingat kembali. Sembuhkanlah anakku ya tuhan doa Tati setulus hatinya dengan air mata yang menetes penuh harap seorang ibu untuk anaknya.